Kotbah Gereja

Nia

 

Ceritanya saya sudah agak lama menjauh dari gereja. Padahal dulu kalo jalan saya sempatkan ikut misa. Sekarang ngendon cantik di rumah aja malas banget ke gereja.

Kenapa? Banyak sebabnya. Salah satunya adalah saya merasa abis ikut misa malah nambah dosa.

kotbah

Banyak kali kebijakan yang diterapkan pengurus gereja yang gak cocok sama pemikiran saya. Juga kotbah romo yang sering ‘wagu’ di mata saya.

Contohnya siang tadi. Romo nampilin 3 foto perempuan. Foto 1 tanpa make up, foto 2 dengan make up setengah jadi, foto 3 full make up. Tulisan di bawah foto itu: contouring.

Menurut romo perempuan pake make up itu gak bisa dipahami karena cuma nambah warna ke muka. Tapi contouring itu menipu. Karena merubah bentuk wajah, lanjut romo.

Saya sudah jengkel tuh pas denger awal kotbah itu. Tapi saya sabar-sabarin pengen tau kelanjutan isi kotbahnya. Dan ternyata intinya adalah ‘jadilah seperti Tuhan yang melihat manusia dari hatinya, bukan dari penampilannya.’

Trus mo… kalo gitu apa yang salah dengan contouring? Kalo kita diajar untuk melihat hati mau orang permak muka pake ember juga gak bakal ketipu kan??!!

Saya memang gak suka pake make up tapi respect sama orang yang bermake up dan menjaga penampilannya. Lu kira gampang make up an?

Pake make up itu gak cuma butuh skill tapi juga disiplin. Harus meluangkan waktu untuk memoles muka. Entah buat anda… tapi bagi saya ini susah banget. Saya masih belum mau ngorbanin waktu tidur demi memoles muka pagi-pagi.

Itu cuma make up lho… contouring lebih susah lagi… dan lebih butuh waktu. Dan butuh kesabaran untuk belajar contouring yang baik. Coba aja asal niru tutorial di yutub. Ntar jadinya kayak lenong… coba aja.

Pake gak pake make up itu hak setiap manusia. Perempuan… dan laki-laki… dan di antaranya. Suka-suka mereka.

Kalo bisa melihat manusia dari hatinya… apa yang dikawatirkan ketika melihat orang pake foundation tebal?

 

-sekian nyinyir hari ini-

 

 

About Nia

Don't judge the book by its cover benar-benar berlaku untuk Nia ini. Posturnya sama sekali tidak menggambarkan nyalinya. Blusukan sendirian ke seluruh dunia dilakoninya tanpa gentar. Mungkin hanya North Pole dan South Pole yang belum dirambahnya. Catatan perjalanannya memerkaya wawasan bahwa dunia ini benar-benar luas dan indah!

My Facebook Arsip Artikel

22 Comments to "Kotbah Gereja"

  1. Itsmi  17 March, 2016 at 23:31

    JC, kamu tidak akan masuk surga……..

  2. J C  17 March, 2016 at 15:45

    Hahahaha…komentar paling jleeebbb adalah komentar Itsmi…dan memang ada benarnya…(komentar Itsmi adalah komentar seorang eks pastor… )

  3. Alvina VB  17 March, 2016 at 04:54

    Nia, memang gereja katolik itu penuh politik, lah Vatican itu sebuah negara kan. Kl mau fairnya aja, politik harus dipisahkan dengan jlnnya negara. Untung dah Indonesia gak kaya Saudi yg gak bisa misahin urusan negaranya sama agamanya campur aduk, sama halnya dgn Vatican. Paus sbg kepala gereja katolik seluruh dunia merupakan kepala negara Vatican juga kan? Silahkan dikoreksi kl saya salah ya…Gak heran kl dari atas ada permainan politik, sampe ke bawahannya, org awam yg ngurusin jalannya misa, misalnya, juga main politik. Semua kan tergantung dari pimpinannya.
    Mengenai dipindah-pindahkannya Romo kl melakukan kesalahan sudah terjadi dari jaman duluuuuu, bukannya diskors atau direhabilitasikan, ini malah dipindah-pindahin ke paroki yg lainnya, sehingga masalah yg sudah ada yg dimulai lagi di tempat yg baru, dgn pikiran lah siapa yg mau ngecek dulu bikin begini-begitu di tempat yg terdahulu; dulu kan gak ada internet. Itu yg terjadi di Boston jadul yg bersangkutan dgn pelecehan seksual. Kepala gereja waktu itu tahu ada kesalahan yg dilakukan pastornya, bukannya diskors atau direhabilisasikan, ini malah dipindah ke paroki yg baru dan terjadi lagi, ketahuan, dipindahin lagi ke paroki yg lainnya, jadi sporadik kesalahan tsb tidak pernah diperbaiki atau at least dihindari spy gak terjadi lagi. Saat terekspos di media semua cuci tangan, termasuk pimpinan yg tertinggi di Vatican. Setelah didesak sana-sini gak mampu nanganin masalah berat spt ini, Paus Benedictus XVI ya mundur teratur.

  4. Itsmi  16 March, 2016 at 16:10

    Nia, tambahan… bilamana anak sering di pukul dan ortu keras pada anak… kalau dewasa hubungan antara ortu dan anak itu sangat kuat… tentu berdasar sambung..

  5. Itsmi  16 March, 2016 at 16:06

    Nia, katholiek banyak belajar dari suksesnya agama Islam dengan fundamentalisnya… biar muslim yang menyebut dirinya moderat tetapi kalau agamanya di kritik dia akan ngamuk… dan cintanya pada agama sangat kuat…

    Oleh karena itu kebijakan gereja sejak beberapa tahun merubah ke arah fundamentalis

    Dengan kebijakan ini mereka tahu bahwa akan kehilangan sebagian umat tapi akan kembali lagi dan jadi lebih kuat dari pada sekarang…

  6. nia  16 March, 2016 at 12:12

    Itsmi… memang apa kebijakan baru dari Vatican?

    Pak Inakawa… seperti juru kampanye yang kewajibannya kampanye ya. kalo asbun ya suporter bukannya cuma gak mau datang di kampanyenya tapi bisa juga lama-lama males sama partainya

  7. nia  16 March, 2016 at 12:09

    Thank you James

  8. EA.Inakawa  15 March, 2016 at 18:40

    Romo ber Kotbah di dalam Gereja, itu memang sudah kewajiban & hak nya…..suka atau tidak suka , mau mendengar atau tinggalkan , itu hak kita…..monggo

  9. Itsmi  15 March, 2016 at 16:49

    Kebijakannya si Romo itu sudah tepat. kata lain sesuai dengan kebijakan baru dari Vatikan… dan tentu pemimpin2 agama banyak yang berfrustrasi dengan seksualnya hehe

  10. Itsmi  15 March, 2016 at 15:58

    asosiasi dari bibir itu vagina. oleh karena itu bibir senang di aksen kan dengan warna merah/mudah… dalam agama seksual itu sudah di sakralkan.. jadi tidak heranlah kalau romo memprotes dari sisi dia benar…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.