Bukan Gerhana Durian

Fire – Yogyakarta

 

Dulu pada tahun 1983, waktu GMT, sekolah libur. Kami berkumpul di dalam rumah. Pintu dan jendela tertutup rapat, juga korden.

Waktu itu, kami nggak berani keluar rumah untuk menengok situasi saat gerhana di luar. Kami hanya nonton gerhana dari pemberitaan di TVRI. Saking banyaknya “mitos” waktu itu, ada yang setiap celah pintu dan jendela juga diganjal, agar tidak ada cahaya matahari yang menyusup masuk ke dalam rumah, seolah-olah kalo sampe kemasukan cahaya bagaikan sinar kosmik penghancur. Mungkin begitu yang terpikir. Saya ingat juga di sebuah majalah anak-anak, pada suatu terbitan sebelumnya sempat ditulis untuk menonton gerhana dengan memanfaatkan air di baskom, tapi kemudian pada terbitan selanjutnya cara tersebut diralat sendiri oleh redaksi majalah.

Sekarang kondisinya berbeda. Saat kami sedang pergi keluar rumah, kebetulan bertepatan dengan proses berakhirnya gerhana. Melewati tugu, nampak keramaian para pemerhati gerhana yang sebagian sudah beranjak pergi.

G-1 G-2

Ini pasti kongkow-kongkow lagi ngrasani Brad Pritt.

G-3

“Sudah? Mari kita pulang?”
“Sebentar, aku mau update status dulu …”

G-4

“Piye kabare, dab? Iseh penak gerhana jamanku, tho?”
“Jamanmu aku belum lahir je …”

G-5

Ada yang masih asyik menonton gerhana dengan kacamata khusus gerhana.
“Pinjem kacamata gerhananya dong …”
“Tuh, ada andhong parkir. Coba pinjam kacamata kuda …”
Antusiasme warga cukup tinggi. Dari berbagai pemberitaan, ada yang memanfaatkan bekas slide foto rontgen, roll pilem bekas, bahkan ada yang pake plastik kresek. Katanya ada juga yang pake sarung.

“SSsttt, katanya nonton gerhana nggak boleh pake sarung…”
“Mau pake sarung boleh, pake celana boleh, pake rok juga boleh. Yang jelas kalo panjenengan nonton gerhana di tugu nggak kathokan, ya nggilani …”

G-6

Tapi bukan itu tujuan kami keluar rumah hari ini. Inilah yang hendak disasar.

G-7

Festival ini diadakan sekali setahun, saat musim durian.

G-8

Bapak, ibu, anak, sekeluarga berburu durian.

G-9

Lho, ini duren siapa ketinggalan?

G-10

“Nih, durenku, manteb tho?”
“Yang, gedhe belum tentu nikmat, Mbak … Yang penting rasanya …”

G-11

“Lho, kenapa Bu?”
“Tes mripat …”

G-12

“Gimana, Mas, durennya manis lho, kayak yang jual ….”

G-13

Mengais rejeki di tengah durian.

G-14 G-15 G-16Rame yang datang, tukang parkir juga hepi.

G-17

“Sudah siang, kok baru datang, Mbak?”
Ini kayaknya bukan pemburu durian, tapi mungkin sales durian, eh SPG sepeda motor.

G-18

Sabar menanti jadinya kerak telor, saking lamanya sampe bertelor …. eh berkerak ….

G-19

Lha ini bukan jual buah duren, tapi buah buat tikus, eh … ngusir tikus …

G-20 G-21

Mungkin ketimbang capek menjelaskan bolak-balik, sama penjualnya dipersilakan nyari di google. Jadilah tadinya kami mau cari durian, malah beli simpalak. Apa pula maksudnya tulisan “Hantu berat bagi tikus”?

G-22

Jadinya kami di festival cuma survai harga saja, tapi belinya di lapak-lapak di ruas jalan yang dilewati selama perjalanan pulang.

G-23

Baiklah teman-teman, jika sekali waktu berkunjung ke Candimulyo, jangan lupa untuk selpie di durian raksasa yang tetap bertahan meski nggak lagi musim durian dan nggak lagi gerhana.

G-24

Gerhana melintas lagi, perlu menunggu bertahun-tahun. Untungnya musim durian bukanlah gerhana, melintas tiap tahun.
Nih biar seger, saya lampirkan beberapa gambar meme gerhana yang beredar di internet dan social media:

meme_gerhana_dari_Internet-2 meme_gerhana_dari_Internet-3 meme_gerhana_dari-Internet-1

 

 

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

7 Comments to "Bukan Gerhana Durian"

  1. J C  17 March, 2016 at 15:52

    Woalaaaaahhh…gerhana juga iso dibahas sama mas Fire…hahaha…semakin yakin kita ini sejaman n seumuran yo…hahaha…

    Duren? Gak doyaaann…

  2. Alvina VB  17 March, 2016 at 05:42

    Mana foto gerhana mataharinya mas? cartoon nya lucu juga. Bisa2nya menghubungkan gerhana ama durian.
    James: kagak doyan durian yg mateng mau juga yg 1/2 mentah, he..he…

  3. Lani  16 March, 2016 at 22:59

    Kang Geni: ono2 wae apa hubungan antara gerhana dgn durian?????

    James: ini lagi apa mmgnya ada durian kenthir??? Kenthir yg di Kona ndak doyan durian………boleh kamu ambil semua tuh duriannya

  4. Linda Cheang  16 March, 2016 at 15:37

    teteup aku lebih suka berburu durian, hehehehe

  5. james  16 March, 2016 at 08:58

    Durian Kenthirs di absen dulu sebelum mencicipi durian gerhana

  6. Dewi Aichi  15 March, 2016 at 20:51

    Hahahahahhahahhahahhaa…ngakak ngakak, memenya juga lucu hahahahhaa…eh Kang..lha ngapain gerhana kok yak-yak’an tekan Mungkid…..lewat tugu, lewat ngarep omahku no……jauh2 ke Mungkid ngga beli duren huhhhhh

  7. Dj. 813  15 March, 2016 at 19:52

    Untung di Laptop bau durian nya tidak kekcium .
    Hahahahahahahaha . . . . ! ! !
    Terimakasih dan salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *