Dokter Ahmad

Ida Cholisa

 

-2001-

Ia satu di antara ribuan murid yang pernah kuajar. Ahmad, siswa kelas XII IPA 1.

Ia lain dari kebanyakan murid lain. Sebagai ketua kelas ia banyak berhubungan denganku, sang wali kelas.

Ia akan merundukkan badan saat menghadapku. Mencium tanganku, mendengarkan dengan takzim setiap perkataanku. Matanya akan lekat menatapku, bibirnya akan tersenyum saat berbicara denganku.

“Ya sudah, kembali ke kelas, ya,” aku memintanya meninggalkan ruang guru.

Ahmad acap mengajakku bicara. Ada saja bahan obrolan yang membuat kami betah berbincang-bincang. Di sela mengajar, saat aku berkeliling ke penjuru kelas untuk mengontrol pekerjaan siswa, Ahmad akan mengajakku bicara saat aku berjalan di dekatnya.

***

Aku tak pernah bertemu Ahmad sejak ia lulus dan meninggalkan sekolah. Aku pun tak pernah mengingatnya sebab ratusan siswa baru silih berganti menyedot perhatianku. Dunia guru, dunia yang telah menenggelamkanku dalam kesibukan bersama lautan muridku. Tahun demi tahun terlewati dengan seabreg aktivitas mengajarku.

***

dokter

-2011-

Sore ini aku kembali pulang usai berjibaku dengan pekerjaanku. Mengajar dari pagi hingga sore sungguh menguras tenagaku.

Aku ingin tidur barang sejenak. Sebentar saja, sekadar menghapus lelah yang begitu mendera.

Tiba-tiba…

Seseorang mengucap salam dari luar pagar. Agak malas kubuka pintu. Tamu tak tahu waktu, aku sedikit kesal.

Aku terperanjat.

Seorang lelaki tersenyum padaku. Tubuh tegapnya dibalut jas putih. Siapa ia?

“Ibu masih ingat saya?”

Aku diam terpaku, mencoba mengingat siapa gerangan lelaki di hadapanku.

“Saya Ahmad, Ibu. Ahmad Zubhi, murid Ibu…”

“Ahmad? Ahmad ketua kelas?” Aku masih tak percaya.

“Benar, Ibu…”

***

Ahmad telah bermetamorfosis menjadi seorang dokter. Di sebuah rumah sakit kini ia berpraktek.

“Saya sedang mengambil spesialis jantung, Ibu,” katanya

Aku berdecak kagum. Sejak dulu Ahmad memang berotak encer. Bukan main hebatnya mantan muridku. Ia sungguh berbeda dengan Ahmad sepuluh tahun lalu. Jas putihnya membuat lelaki muda itu terlihat semakin ganteng. Ah Ahmad… tiba-tiba pikiran nakalku melintas.

***

Ahmad mengajakku makan malam di sebuah restoran. Entah mengapa aku bagai kerbau dicocok hidungnya, mengikuti saja apa kemauan lelaki itu. Bukankah aku guru, tepatnya sang mantan guru?

Di bawah cahaya lampu temaram, di saat menunggu hidangan makan malam datang, Ahmad menyampaikan sesuatu padaku. Terlonjak aku, saat ia berkata bahwa ia jatuh cinta padaku…

***

Pesta pernikahan itu pun tiba. Aku tertunduk, tak berani menatap wajah lelaki yang menyalamiku.

“Selamat, Bu Shita. Semoga bahagia.”

Suaranya menikam jantungku. Rasa sedih merayapi hatiku. Kuberanikan diri menatapnya. Ia memandangku tanpa lagi mengucap kata.

Lelaki muda itu memiliki wajah yang mirip dengan lelaki yang bersanding di sampingku. Lelaki muda itu adalah Ahmad, mantan muridku…

Bambang, pengusaha rental mobil yang telah dua tahun menduda itu tak pernah bercerita padaku bahwa ia memiliki anak lelaki yang berprofesi dokter. Ia baru membuka semuanya usai kami menikah.

Ahmad tak pernah menghubungi ayahnya sejak perceraian terjadi di antara kedua orang tuanya. Perpisahan antara Bambang dan istrinya menyisakan permusuhan dan kebencian di antara anak-anaknya, Ahmad dan adik-adiknya. Ada alasan mendasar mengapa kebencian mereka begitu besar pada ayah kandung mereka. Bambang menceraikan ibu kandung Ahmad saat perempuan itu tengah sekarat berjuang melawan kanker ganas.

Tak seharusnya Bambang menyembunyikan keluarganya padaku. Tak seharusnya pula aku diam dan tak mencari tahu sebelum pernikahan itu tiba. Kupikir Bambang lelaki yang baik. Andai saja kutahu bahwa ia adalah ayah kandung Ahmad, mungkin aku akan berpikir ulang untuk bersedia menjadi istrinya…

***

Tiga tahun menjadi istri Bambang, aku tak pernah merasakan kebahagiaan. Suamiku banyak melakukan kekerasan fisik padaku.

Tekanan batin yang kualami berimbas pada kesehatanku. Aku jatuh sakit. Penyakit jantung menghinggapiku.

Pagi ini aku berobat ke rumah sakit. Aku terkejut saat bersitatap dengan sang dokter…

Ia adalah dr. Ahmad, mantan muridku…

Ini adalah kali pertama aku berobat jantung. Ini pula kali terakhir aku berobat hingga setahun kemudian kematian datang menjemputku.

 

 

8 Comments to "Dokter Ahmad"

  1. Lani  20 March, 2016 at 12:02

    James, EA : hehehe…………bisa aja yg di Kona dibilang dokter cinta……….nanti kalian berdua aku bikin mabok cinta kkk

  2. James  20 March, 2016 at 08:19

    Inakawa, Dokter Cinta di Kona itu hebring dong Dokter Aloha, asal jangan Dokter Ahmad Dhani aja karena itu keliru banget

  3. EA.Inakawa  18 March, 2016 at 16:49

    James, yang di KONA itu Dokter Cinta makanya betah di Hawai

  4. EA.Inakawa  18 March, 2016 at 16:45

    James, yang di KONA itu Dokter LOVE…..makanya dia betah di Hawai Sana

  5. James  18 March, 2016 at 09:13

    ci Lani, biar dibilang Kenthirs juga gak apa pokoknya asal keren aja getu

  6. Lani  18 March, 2016 at 09:06

    James: yg di Kona bukan dokter, akan ttp senasib dgn kamu kenthir hahaha……….

  7. James  17 March, 2016 at 17:05

    Dokter Kenthir kah ?

  8. J C  17 March, 2016 at 16:28

    Ehem…ehem…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.