Kamu Islam, Kenapa Pelihara Anjing?

Prabu

 

Pertanyaan macam ini kerap aku terima dari saudara-saudara seiman, maupun dari beberapa gelintir kaum non Muslim yang kepo, “Katanya orang Islam enggak boleh pelihara anjing?” Siapa bilang, “Presiden Muslim yang lalu saja, 10 tahun melihara PSK di Kalijodo enggak ada yang protes. Kalau cuma satu anjing kupelihara kan enggak dosa toh?” ;))

Ok cius nih, aku akan jawab secara pengalamanku berinteraksi dengan peliharaanku. Jadi jika ada yang kurang puas setelah membaca postingan ini, kusarankan pergi ke Arab cari sumber asli.

Betul saya Muslim. Tapi sebelum memutuskan pelihara anjing, sebetulnya kami sudah cari info. Ada yang blogwalking, ada yang ke pet shop tak ketinggalan pula isteriku tanya kepada ustadz yang lagi ngetop di TV. Begitu pula study literature Islam soal peranjingan tak kami lewatkan. Bahwa mazab dan hadist yang menghalalkan Muslim memelihara anjing sama jumlahnya dengan yang mengharamkannya. Jadi saya tak akan menulis ulang di sini. Silakan googling sendiri. Namun semakin banyak informasi yang kami dapat, rupanya seluruh keluarga semakin lulung, eh linglung.

anjing

Maka ketika kegalauan datang di tengah kepentingan, solusi terbaik adalah SHOLAT. Minta petunjuk langsung dari Tuhan Maha Pencipta, Allah SWT. Lalu isteri sholat istikharah.

Singkatnya, beberapa hari kemudian, tiba-tiba ada orang membawa keranjang ke rumah kami sambil berkata, “Ibu, ini saya bawakan anjing. Mau pelihara?”

Belum sempat menjawab mau apa tidak, orang itu pergi begitu saja meninggalkan keranjangnya. Dan ketika kami buka, subhanallah…, didalam keranjang tergolek anjing dengan dua puppy alias kirik yang sedang menyusu! Galau antara mau ngebuang itu binatang najis atau memeliharanya? Ternyata sisi kebinatangan kami lebih dominan untuk menerima induk anjing dan kiriknya itu sebagai keluarga baru. Urusan dosa seperti dikhotbahkan para ustad yang anti anjing, untuk sementara hanya kami kantongi.

Saya tak paham tentang trah anjing, namun melihat tampangnya, sepertinya serupa anjing-anjing kampung yang kerap aku lihat berkeliaran di jalanan.

Sejak kami punya anjing, isteri punya kesibukan baru. Tiap pagi kasih makan nasi dicampur daging dan tulang ayam. Sementara anjing bersantap dengan lahap, tiap pagi aku sibuk munguti taik anjing yang teronggok di taman lalu kubuang ke tempat sampah. Sekedar paham, anjing ini dilepas dalam halaman rumah yang berpagar setinggi lebih dua meter, tak ada harapan bagi anjing ini melarikan diri dari halaman yang begitu luas.

doggie

Beberapa minggu berlalu, dua kirik terlihat gemuk dengan induknya yang sehat dan bugar dibanding pertama kali datang. Cuma kelakuan anjing ini yang tak bisa kupahami. Jika pada minggu pertama, terutama induknya, begitu alim dan pendiam. Namun setelah sebulan lebih menjadi sok jagoan. Ia berani mengonggong dengan kencang, terutama saat tengah malam. Untungnya kiri kanan depan rumah kami cuma kebon rambutan. Jadi aman dari cacian orang.

Sebulan lebih, kelakuan anjing ini semakin nglunjak. Enggak puppynya engak emaknya, mereka selalu gukguk kepada orang yang tidak dikenalnya. Pernah ada kerabat datang ke rumah, baru buka dikit pintu halaman, tiba-tiba anjingku ini menggonggong kencang dan berlari mendekatinya. Gubrak! Sang tamu kaget dan ngejungkel sebelum lari terbirit-birit. “Anjrittttt….anjritttt….. !” teriaknya.

Esoknya saya telpon minta maaf. Sejak itu dogie saya kandangin di siang harinya dan kulepas setelah magrib. Namun anehnya, si anjing tidak mau mengganggu kepada anak sulung kami meskipun ia baru pertama kali jumpa. Doggie hanya diam di tempat, mengamati saja. Mungkin ia paham orang baru tsb keluarga kami?

Bulan ke dua, interaksi kami dengan anjing makin mesra. Untuk mengakrabkan hubungan dengan keluarga baru ini maka aku usulkan nama. Sejumlah nama keren seperti nama-nama anjing punya bos orang-orang kaya yang tinggal di perumahan elit. Namun isteri kurang setuju.

Akhirnya kami cuma memanggilnya “Gi”. “Gigie… gigie.. come on!”, si anjing lalu menghampiri kami dengan ekor dikibas-kibaskan. Kami pun girang tiada kepalang. Pernah terlintas utk memanggil dog trainer terkenal. Namun kami cancel setelah menelponnya. Kami urungkan memakai dog trainer karena takut disumpahin ustadz-ustadz selebritis. Ingat kotbahnya, “Ciri-ciri orang masuk neraka, berani bayar pelatih anjing Rp.2.5 juta sebulan, sementara membayar guru ngaji cuma kasih Rp.100 ribu sekali datang!” Yo wis. Saya takut kualat. Akhirnya saya blogwalking utk belajar jadi ustadznya anjing. Dengan telaten tiap hari 15 menit, saya ajak anjing bermain-main. Ternyata saya bisa menyuruh anjing duduk, berdiri, diam, lari dan guling-guling…. Hehehe… wow keluarga senang.

Setelah hampir setahun berinteraksi dengan anjing, saya paham dengan karakter anjing. Anjing itu hewan yang penurut, tahan lapar, tidak dendaman, penyabar dan memiliki loyalitas tinggi. Dengan karakter yang demikian, saya ingat dengan guru ngaji waktu kecil yang suka mendongeng tentang junjungan kami Nabi Muhammad SAW serta sejarahnya dalam berjuang menyiarkan agama Islam. Beliau selalu berpesan, jadilah anak yang sholeh, nurut dengan orang tua, tahan derita, sabar ketika diolemin, tidak dendam ketika dizolimin dan selalu setia mengerjakan sholat.

Hampir dua tahun kami berinteraksi dengan Gigie. Ia anjing yang tak pernah menyakiti siapapun. Tak pernah berak di rumput tetangga. Tak suka kencing di ban mobil orang maupun di tiang listrik milik PLN. Ia hanya menggonggong kepada orang yang nyelonong masuk halaman. Ia anjing yang baik, sekaligus paham isi hati otang yang ingin berbuat kejahatan. Namun rupanya anjing dengan sifat-sifat seperti yang didongengkan guru ngajiku itu, tidak semua orang senang. Ketika subuh aku buka pintu, ternyata tak kulihat Gigie, yang biasanya selalu menunggu di depan pintu teras. Saat ku review CCTV, aAtagfirullah seseorang bermotor telah meracunnya. Lalu Gigie dimasukkan karung. Entah untuk apa? Selamat jalan dogie.

Ketika video yang berisi kronologis sekaratnya doggie ku upload di FB, hingga kini telah dilihat 128K nitizen dan di share 2000 lebih. Beragam komentar miring kepada si pembantai doggie, adalah ganjaran social psikis yang pantas diterimanya ketimbang aku mesti lapor polisi. Kami sudah ikhlaskan, Gigie tenang di alam sana. Andai ia dikuliti lalu dimutilasi, kemudian jadi konsumsi orang-orang yang hobi makan B2, saya yakin Gusti Allah Mboten Sare, seperti dalam firmannya;

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepada-Ku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-An’aam:6/145)

Meski ayat ini dengan jelas menyebut babi haram dimakan. Namun binatang apapun yang masih mengalir darahnya ketika mati (tidak disembelih dengan mengucap asma Allah SWT), adalah haram hukumnya disantap orang.

Sementara ayat yang menyebut “anjing” dalam kitab suci Al Qur’an dapat dijumpai dalam Surah Al-A’raf (ayat 176), “Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami angkat derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing; jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan juga lidahnya. Begitulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”.

Mengingat ayat tersebut maka tidak keliru jika kata “anjing” menjadi simbolisasi umpatan ketika seseorang marah dan kesal. Ngumpat demikian dibenarkan, sebab perkataan itu ada dalam Al Qur’an. Sebaliknya barang siapa yang mengumpat dengan berpaling pada kitab suci, niscaya sia-sialah sumpah serapahnya. Seperti misuh, jancuk! yang entah apa maknanya?

Lalu perkataan anjing dengan jelas juga disebut dalam Surah al-Kahfi (ayat18), “Kamu sangka mereka jaga, sedang mereka tidur, sementara Kami membalik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, dan anjing mereka menjulurkan lengannya di ambang. Sekiranya kamu lihat mereka, tentu kamu berpaling daripada mereka, melarikan diri, dan dipenuhi ketakutan yang amat sangat terhadap mereka”.

Ayat ini menceritakan Ashabul Kahfi adalah sekelompok orang beriman. Mereka lari lalu sembunyi di goa menghindar dari pasukan Raja Diqyanus di Romawi penyembah berhala, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya Nabi Isa as. Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT. Lalu siapa yang dijaga oleh anjing tersebut dalam kisah Al-Qur’an Ashkabul Kahfi? Yang dijaga oleh anjing adalah para pemuda beriman.

Saya bukan ulama, namun semua kakek saya telah berhaji ke Makkah waktu tahun 1920an. Menurut ayahku, kakek dulu juga pelihara anjing buat menjaga ratusan hektar kebonnya. Buset, berapa anjing yang dipelihara? Entahlah.

Maka dengan merujuk sejumlah ayat suci dan mengingat do’a isteri saat sholat istikharah, Kenapa aku pelihara anjing?

“Tuhan mengirimkan anjing untuk menjaga orang beriman”.**

 

 

About Prabu

Sosok misterius yang sejak kemunculannya tidak banyak orang yang mengenalnya. Walaupun misterius, sosok satu ini sekaligus ramah dan sangat terbuka pertemanannya. Sang Prabu dan Permaisuri sering blusukan menyapa kawula BALTYRA.com dan menggebrak dunia, kebanyakan dengan coretan karikaturnya sekaligus artikel-artikelnya yang bernas, tajam dan berani.

My Facebook Arsip Artikel

27 Comments to "Kamu Islam, Kenapa Pelihara Anjing?"

  1. Alvina VB  31 March, 2016 at 11:33

    Anak saya baru ngeh, kl temen2nya yg muslim gak ada yg punya anjing. Saya kasih tahu sebabnya dia baru tahu.

    Ha..ha…mbakyu Lani dulu rumahnya bak kebon binatang dunk? Kalau kel.saya dulu gak punya peliharaan binatang cukup lama krn gak ada yg telaten sama binatang dan bernasib tragis itu binatang peliharaan kita. Pertama kali punya peliharaan binatang burung cucak rawa yg nyanyi tiap pagi, sekali waktu kok gak terdengar nyanyian burung itu ya? begitu pembantu buka tutup kandangnya, ternyata burungnya dah gak ada lagi digondol maling. Trus punya peliharaan ikan mas di kolam dan kok makin berkurang jumlahnya ya…begitu diperhatikan, halah digondol kucing tetangga. Jadi kolam ikan selesai dah ceritanya. Trus punya bbrp kelinci putih yg imut2 dulu belinya di Bogor. Sama aja diitung-itung kok jumlahnya makin kurang ya…lah pembantu laporan ternyata kelincinya pada mati dibunuh anjing herder tetangga, ketemu bbrp badannya dipekarangan tanpa kepala. Halah…org tua punya keputusan gak usah pelihara binatang sementara waktu. Trus adik saya merengek minta dibeliin aquarium dan nasibnya sama aja, ikan pada mati satu persatu krn suka kebanyakan dikasih makan sama adik saya jadi bukannya sehat malah pada mati, jadi berakhir dah urusan sama binatang peliharaan, he..he….sampe sekarang gak ada yg minat punya binatang peliharaan.

  2. Lani  20 March, 2016 at 12:06

    Al: kenthir yg di Kona tdk pelihara binatang, krn mmg tdk diperbolehkan dikompl ku bawa binatang.

    Klu dulu ktk msh di Indonesia rumah ortu bak kebon binatang kucing, anjing, kambing, guinea pig, kelinci, ayam, burung kakak tua, bebek, ikan gurami, burung dara, burung perkutut………

    Tiap pagi ampyuuuuuuuun ramenya ½ mati, dr mengembik, menggonggong, burung berceloteh, kwek kwek dr bebek, meong kucing, dan guinea pig menjerit/melengking……….ayam berkokok dan berkotek mrk pd bercengkerama

  3. Prabu  19 March, 2016 at 21:51

    Mas Tok:
    saya pelihara anjing malah tidak satu… saya memelihara anjing-anjing buat jaga kebun bambu….berarti memelihara satu yang dilarang…. kalo lebih dari 5 boleh….. polisi ngunakan jasa Anjing pelacak… gimana Hukumnya>
    ==========================

    Dlm hukum Islam, dibolehkan.

  4. Alvina VB  19 March, 2016 at 10:58

    Gak tahu para kenthirs punya peliharaan anjing apa gak ya…. Saya seumur hidup gak pernah pelihara anjing krn duluuuuu adik saya ada yg punya alergi bulu anjing dan sekarang anak yg alergi bulu anjing, jadi aman dah gak repot2 punya peliharaan anjing, he..he….

  5. Dj. 813  18 March, 2016 at 20:46

    Prabu 18 March, 2016 at 07:47

    Kpn ke jakarta lg pakde. Ntar makan2 lg. Di bandar jakarta menu seafoodnya murah. Asal jgn makan lobster, ga tega. Ga tega sama dompetnya hehehe….
    —————————————————————————-

    Mas Prabu . . . .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !
    Paling bisa . . . .
    Ingat menikmati sop ikan bersama GMDj dan melihat taman dibelakang rumah yang begitu indah .
    Terutama pohon rambutan nya .
    Ooooo . . . ya . . .
    Karikaturnya masih tetap in, bahkan sudah disablon di kaos kami berdua .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !
    Sekali lagi terimakasih dan salam untuk keluarga dirumah, cium sayang untuk putri-putrinya .
    Mungkin sekarang sudha semakin besar dan dewasa .

  6. Ivana  18 March, 2016 at 15:44

    Saya dulu selalu pelihara anjing di rumah sejak kecil, jarang kami cuma punya 1, minimal punya 2. Pernah mengalami hal yang sama, anjing kami hilang diculik atau diracun.
    Pernah juga anjing kami dengan ras rottweiler stamboom, diculik orang untuk dijual lagi. Berhari2 kami cari di seputar Surabaya, juga di tempat penjualan anjing (ilegal) dekat sekolah kami, sampai membayar penjual anjing itu buat dikembalikan, tapi si anjing tidak pernah kembali.
    Sekarang, karena kesibukan dan tinggal di flat, saya tidak pelihara anjing lagi. Saya duma pelihara anjing2an yang pake battery, buat mainan anak2 saja sekarang hehehe….

  7. Mastok  18 March, 2016 at 14:58

    saya pelihara anjing malah tidak satu… saya memelihara anjing-anjing buat jaga kebun bambu….berarti memelihara satu yang dilarang…. kalo lebih dari 5 boleh….. polisi ngunakan jasa Anjing pelacak… gimana Hukumnya ?>

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *