MONOTON

djas Merahputih

 

Kenikmatan hidup di Nusantara akan segera berakhir dan menjadi hambar jika saja kita tak memili’i filter yang tepat dalam menyerap budaya luar. Kita tentu ingin bebas namun juga harus tetap respek dan manusiawi. Demikian pula tak akan ingin terkekang hingga memaksakan hanya ada dua rasa; manis dan pahit, dalam kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebuah hal yang mustahil terjadi pada kultur wilayah geografis sesempurna letak Nusantara.

Berbagai macam budaya telah lama berakulturasi dengan budaya Nusantara. Yang paling bungsu adalah budaya Barat; Eropa dan Amerika. Budaya Barat berangkat dari hasrat kebebasan individu. Kebebasan yang sering ditafsirkan sebagai bebas sebebas-bebasnya. Bebas berbikini dalam kontes kecantikan, bebas cipokan di area publik, seks bebas, bebas mengungkapkan dan menyebarkan kebencian, bebas memaki presiden bahkan bebas mempertuhankan apa saja. Tak ada nilai spiritual maupun norma tertentu yang dijadikan pedoman berperilaku secara nasional.

img. 1 Kebebasan

img. 1 Kebebasan

Dari padang pasir nampak budaya sebaliknya. Kaku, terlalu protektif, feodalistik, beragama secara sempit, kebebasan berekspresi adalah barang mahal, jodoh ada di tangan orang tua dan sesepuh, cenderung fasis dan radikal, memaksakan kehendak hingga tak sanggup menoleransi berbagai macam pilihan kehidupan. Ilmu terpenting hanyalah ilmu agama, ilmu lain dianggap mubazir dan filsafat dianggap membahayakan iman seseorang.

Ada juga budaya Tiongkok. Secara kultur, bisa dikata Tiongkok memiliki budaya dan sikap hidup yang paling mendekati karakter dan budaya asli Nusantara. Hal ini tentu saja tak lepas dari kedekatan geografis keduanya. Budaya Tiongkok kaya warna, penuh dengan simbol dan nilai spiritual, ketajaman melihat segala persoalan serta kearifan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Mungkin hanya tampilan fisik yang cukup signifikan membedakan mereka dengan leluhur Nusantara. Jarak semakin terasa oleh “dosa sejarah” Tiongkok sebagai pusat penyebaran faham komunisme di masa lalu.

Budaya Nusantara merupakan perpaduan ketiga unsur budaya tersebut ditambah budaya India yang seperti halnya Tiongkok, dekat secara geografis, juga memiliki banyak persamaan dengan budaya asli Nusantara. Mungkin sangat sulit mendefenisikan budaya asli Nusantara secara akurat, namun jika boleh disederhanakan, budaya kita adalah budaya yang kaya warna, bernilai seni tinggi, religius dan humanis. Yah, budaya kita sungguh-sungguh adalah gambaran kemuliaan dan keagungan martabat sebuah makhluk bernama manusia. Kita sangat menghargai manusia dan kemanusiaan, budaya dan kebudayaan, seni dan berbagai macam bentuk kesenian.

img. 2 Kaya Warna

img. 2 Kaya Warna

Nampaknya jaman kembali berputar. Fenomena budaya padang pasir yang cukup deras menyerbu tanah air akhir-akhir ini menimbulkan banyak kekhawatiran seperti disebutkan dalam paragraf awal tulisan ini. Segala kenikmatan hidup kita (manusia) selama ini akan tergerus dan terdegradasi hingga ke titik hambar, tawar dan monoton. Ibarat air laut yang kembali mengalir ke hulu sungai. Lautan yang asin ingin dikembalikan ke kemurniannya sebagai air tawar tanpa rasa di puncak-puncak pegunungan. Bukankah hal itu melawan hukum grafitasi?

Dengan kedok Islamisasi, pemurnian Islam, seluruh hal berbau padang pasir berusaha dipopulerkan dalam segala sisi dan segi kehidupan kita. Bahasa, cara berpakaian, selera makanan, musik hingga selera humor kita seakan didikte untuk “kembali pada kemurnian”. Tentu saja ritual ibadah umat Islam tak bisa lepas dari bahasa pengantarnya yang notabene adalah bahasa Arab. Namun begitu, memaksakan segala hal keduniawian hanya kepada satu bentuk saja adalah sebuah bentuk pengingkaran terhadap kreativitas penciptaan Sang Khalik. Mereka seakan ingin memaksa Tuhan untuk “cukup” menciptakan satu umat saja, tak perlu banyak-banyak. Mereka meremehkan imajinasi Sang Pencipta.

Kita mulai dari bahasa. Kata saya dan kamu, ane dan ente, abdi dan pajenengan, gue dan elo serta beratus-ratus perbedaan dialeg bahasa di Nusantara seketika hanya akan seragam menjadi ana dan antum; Pakaian. Kebaya, Batik, busana Aceh, Melayu, Batak, Bali, Dayak, Bugis, Toraja, Ambon hingga Papua pada akhirnya hanya akan menjadi dua macam pilihan saja, jubah hitam dan jubah putih (nah lho..!!). Berapa banyak potensi ekonomi yang bisa dihilangkan oleh egoisme kultural semacam itu? Industri batik dan tekstil umumnya sudah pasti akan mengalami pukulan sangat telak, kehilangan padi di lumbung sendiri.

img. 3 M o n o t o n e Rainbow

img. 3 M o n o t o n e Rainbow

Lanjut ke hal kuliner/makanan. Bisakah kita membayangkan kelak gado-gado hanya akan berisi dua macam sayuran? Mungkin namanyapun hanya akan menjadi “gado” saja tanpa perulangan kata. Atau es teler yang cuma berisi dua macam buah dan namanya akan berganti es eling… (nggak teler)? Bagaimana pulakah rasa nasi Padang yang hanya terdiri dari sepiring nasi putih + telur bulet saja? Apakah orang Padang masih menganggap anda waras? Atau bisakah anda membayangkan jika masuk ke supermarket atau toko buah namun anda-anda hanya mendapati satu jenis buah saja; kurma? Bukankah hidup terasa begitu hambar, monoton dan membosankan? Apalagi bagi kita yang telah terbiasa hidup dalam limpahan keragaman berbagai hal ini?

Apatah lagi tentang musik dan selera humor. Jangan tanya lagi betapa menderitanya para musikus dan penari saat alat musik hanya terdiri dari gitar gambus dan rebana saja? Bagaimanakah keroncong, dangdut, wayangan dan tarian Bali bisa dipentaskan? Bahan lawakan para komik pun tentu makin sulit dicari, sebab hanya akan berputar-putar antara masalah onta dan kurma. Betapa hambarnya panggung komedi kita kelak..!!?

Kehambaran hidup akan semakin menjadi-jadi sebab kita hanya akan terus berdebat tentang surga atau neraka saja. Tentang dunia dan akhirat saja. Mungkin saat teman anda bertanya, “Mau ke mana, bang?” Anda tak perlu pusing memikirkan jawabannya, “Mau ke surga, dek..!!” Atau ketika ditanya, “Dari mana saja, bang?” Langsung anda balas, “Dari neraka, dek..

Ahh.., gimana bisa menulis novel berkualitas jika dunia hanya terus berputar antara dua tema itu saja? Bukankah dunia ini terlalu indah, terlalu berwarna dan terlalu asyik untuk dilewatkan, apalagi disia-siakan? Dan lagi, katanya Tuhan itu indah dan menyukai keindahan. Trus, kalo gitu, mengapa hidup harus dibuat MONOTON, sih…? Aaah…, gitu aja kok repot…!!

 

*****

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

22 Comments to "MONOTON"

  1. djasMerahputih  22 March, 2016 at 08:31

    Wahhh…., sama dong kita….!!
    Sama2 bingung..

  2. Itsmi  20 March, 2016 at 22:51

    Djas, saya tdk mengerti apa yg kau tulis…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.