Yeni, Oh Yeni (4)

Jemy Haryanto

 

Artikel sebelumnya:

Yeni, Oh Yeni (1)

Yeni, Oh Yeni (2)

Yeni, Oh Yeni (3)

 

Aku tersentak. Jantungku seakan berhenti berdetak. Lututku juga gemetar saat pak Samsu, bapak Yeni, membentakku dengan suara keras. Dia melakukan itu, lantaran dari mulutku, tercium aroma alkohol begitu menyengat. Aku hanya bisa tertunduk lesu, juga malu karena semua mata tertuju ke arahku.

Yah, di ruang tengah itu, ada Yeni, sang ibu, dan salah satu adiknya yang sudah siap menunaikan ibadah sholat magrib berjamaah. Tapi aku tak berani melihat mereka lebih lama. Kepalaku tertunduk. Sementara kedua mataku di atas lantai.

“Nah sekarang, kamu boleh keluar dari rumah ini!” Ucap pak Samsu, tegas. Seperti tak hirau pada kondisi hatiku. Pada kondisi psikologisku. Dengan kepala masih tertunduk, aku segera melangkah meninggalkan mereka. Tapi saat aku tiba di balik gorden, …

“Heri, tunggu!” Suara Yeni menghentikan langkah. Dia bergegas mendekatiku. Wajahnya terlihat serius. “Heri, tolong katakan dengan jujur. Apa benar yang dikatakan ayah barusan?” Dia bertanya. Aku tidak menjawab, tapi terus saja melangkah kecil sambil tanganku menyingkap gorden menuju ruang tamu.

“Heri!” Kali ini Yeni menghadangku. Matanya tak berkedip. Sebagai isyarat jika dia sangat ingin mendapat jawaban dari mulutku, tentang kebenaran. Aku hanya merespon dengan menggelengkan kepala, sambil terus berlalu.

Sampai di teras rumah, langkahku benar-benar terhenti. Di situ, Yeni memaksa dengan keras. Karena terus didesak, akupun mengalah dan segera memberi penjelasan. Tapi tentu saja bukan kebenaran yang diampaikan, melainkan kebohongan lagi. Berdusta lagi.

“Apa benar yang dikatakan ayah?!” Tanya Yeni, memaksa.

“Aku tidak seperti yang ayahmu sangkakan, Yen. Sumpah!! Jika dia mencium bau alkohol dari mulutku, itu memang benar adanya. Tapi itu bukan bau minuman keras, melainkan bau parfum. Aku menyemprotkan parfum ke dalam mulut sebelum datang ke sini. Aku sangat mencintaimu, sehingga aku ingin terlihat sempurna,” ucapku, lirih. Yeni mendengar, antusias.

“Saat Jo memberi tahu bahwa kamu minta aku datang, itu waktunya sudah mepet. Aku tidak sempat mandi. Jadi, pulang dari bengkel, aku langsung ganti pakaian, seperti yang kamu lihat sekarang. Mulut, baju, semuanya ku semprot dengan parfum.”

“Tapi kenapa kamu tidak jelaskan ke ayah tadi?” Yeni bertanya.

“Bagaimana aku bisa jelaskan hal itu?! Aku grogi Yen. Kamu kan tahu penyakitku,” jawabku, singkat. Lalu menghela nafas panjang. Kedua mataku berada di atas lantai. Yeni yang sedari tadi menyimak seksama, bibirnya membentuk simpul. Sorot matanya tersimpan rasa iba.

“Aku mengerti, Her. Aku mengerti. Sekarang kamu tunggu di sini ya, aku akan jelaskan hal ini pada ayah. Aku harap dia bisa terima,” pinta Yeni. Dia bergegas masuk kembali ke ruang tengah dan berbicara pada pak Samsu.

Aku tak mendengar apapun yang Yeni katakan pada ayahnya. Jarak antara teras dan ruang tengah agak jauh. Ada skat-skat dinding juga yang membatasi. Tapi saat dia sudah berada di hadapanku lima menit kemudian, wajahnya sumringah. “Beres, Her. Ayah mengerti. Dia mengajak kamu ikut sholat berjamaah lagi sekarang.”

Aku terharu atas apa yang baru ku dengar dari mulut Yeni. Hatiku juga bergetar melihat kegigihannya membelaku, menyelamatkan mukaku di hadapan keluarganya. Di sinilah aku baru sadar dia sangat mencintaiku. Dia menyayangiku dengan tulus. Dia tidak meninggalkanku di saat-saat genting seperti ini.

Aku melangkah malu-malu menuju ruang tengah, di belakang Yeni. Di sana, pak Samsu sudah berdiri menunggu. Wajahnya tampak cerah, tak seperti sebelumnya, angker dan buas. Tanpa kuduga, dia langsung menepuk pundakku beberapa kali seraya minta maaf. “Maafkan bapak ya Her. Bapak tidak tahu,” ucap lelaki bermata sipit itu dengan bibir penuh simpul. “Tidak apa-apa, om, eh pak, hehehe,” responku, singkat, sambil cengengesan.

Kami lantas mendirikan sholat yang sempat tertunda tadi, bersama-sama, dengan perasaan lega. Setelah itu, kembali lagi ke ruang tamu untuk ngobrol tentang apa saja. Meskipun agak sulit bagiku mengimbangi Yeni berbicara, karena masih dipengaruhi alkohol, tapi syukurlah, semuanya baik-baik saja.

Aku hanya berusaha mengikuti Yeni. Ketika dia tertawa, aku ikut tertawa. Ketika dia serius, aku juga ikut serius. Hingga dua jam kami berduaan di atas sofa merah maron. Setelah itu, aku pamit pulang, dan muntah di jalan.

Di rumah, aku mencoba mereview kembali kejadian tadi. Membayangkan sesuatu yang mengerikan terjadi kalau saja Yeni tidak melakukan pembelaan. Kalau saja Yeni bersikap sama dengan pak Samsu. Sudah dipastikan hubungan cinta kami akan tamat. Selain itu, penilaian buruk juga akan lahir dari keluarganya. Yah ketika aku diusir, ketika aku meninggalkan rumah itu, mereka akan melihat aku sebagai sampah, tak berharga. Itu mengerikan!! Meskipun aku pribadi tak berani men-jugde orang lain. Salah benar seseorang adalah hak preogratif Tuhan. Bukan aku ataupun manusia yang lain.

Aku benar-benar tak bisa tidur dibuatnya, di malam kedua. Hatiku terus gelisah. Pikiranku melayang hingga menembus skat yang membungkus kepura-puraan menjadi sesuatu yang nyata. Berpura-pura sebagai orang baik di hadapan Yeni. Pada orang tua. Pada diriku sendiri. Di saat ketakutan itu mencapai puncaknya, tak disangka-sangka, pipiku telah basah oleh air mata yang jatuh akibat benturan kemarahan, rasa sakit dan penyesalan.

“Aku harus berubah,” teriakku, dalam hati, sembari bangkit dari tempat tidur. Kemudian melangkah menuju jendela, membukanya, untuk membiarkan angin malam masuk ke dalam ruangan yang pengap disebabkan asap rokok. Kedua tanganku bertekuk pada siku jendela. Sementara mataku menatap kosong menembus kegelapan.

Di situ aku berpikir lagi. Merenung lagi. Cukup lama. Hingga melahirkan sebuah keputusan dramatis untuk merubah kebiasaan lama. Meninggalkan semua kegilaan yang telah menjadi budaya. Demi menjaga hubunganku dengan Yeni. Juga demi nama baik orang tua. Tak lama adzan subuh berkumandang. Aku pun jatuh lenyap dalam peraduan.

Hari demi hari ku lalui dengan penuh suka cita. Kini, apakah aku telah berubah? Hmm tidak juga. Di atas tadi hanyalah tangisan gombal belaka. Tangisan anak ingusan. Air mata buaya. Cuma alkohol, tidak lagi ku kerjakan. Pulang sekolah pun, aku lebih sering di rumah. Meski tak pernah membuka buku pelajaran, cukuplah menghabiskan waktu sambil mendengar musik di dalam kamar.

Sementara, kegilaan bersama kawan-kawan sekolah terus berlanjut. Seperti hari ini. Di mana sekolah kami sedang mengadakan Maulid Nabi. Aku datang ke perayaan itu. Keinginannya sih mengikuti dengan khusuk, tapi apa daya, di situ sudah ada Narto, Jatmiko dan si Acai, sedang menunggu kedatanganku. Ustadz memberi ceramah di atas mimbar, kami sibuk di belakang, mencari strategi melarikan diri.

Ya kami harus melarikan diri. Karena si Acai, kawan chines kami, menang judi bola. Dia memang suka judi. Saking ketagihan, sampai-sampai cincin kawin mamaknya pun diembat dan digadainya untuk modal judi. Itu sih kata dia, benar atau tidak, aku tak tahulah. Tapi dia baik sekali, kalau menang, tak lupa kami selalu ditraktir makan.

Nah kali ini Acai menang besar. Banyak duit dikantong celananya. Sehingga dia ingin mengajak kami bersenang-senang. Dia bilang dia sedang horni. Waiiiss,, bukan kali ini saja mendengar si Acai dapat horni, tapi hampir tiap hari. Tandanya, duduknya selalu gelisah. Biasanya kalau sudah begitu habis tuh si Sri, cewek si Narto, jadi sasaran digoda-goda olehnya. Maklum di kelas kami, cuma si Sri yang perempuan.

Di mesjid, kami pun dapat akal supaya diberi izin keluar. Kemudian akal-akalan itu kami sampaikan ke bapak kepala sekolah, bahwa salah satu pamanku meninggal dunia. Sehingga kami harus pergi untuk melayat. Mendengar itu, terang saja kepala sekolah terharu. Bahkan meminta waktu untuk menyampaikan turut berduka cita di atas mimbar, dengan mikropon. Semua tampak sedih. Termasuk pak ustadz ikut juga mendoakan. Sementara kami, tertawa cekikikan di luar mesjid.

Kami memacu sepeda motor secepat kilat. Tujuan kali ini tak tanggung-tanggung, adalah lokalisasi. Si Acai jadi bosnya. Jujur, ini kali pertama aku akan datang ke tempat itu. “Kira-kira seperti apa ya bentuknya. Suasananya?” Tanyaku sepanjang jalan.

Tapi satu jam kemudian kami tiba di lokasi. Lokalisasi ini letaknya tersembunyi, di sebuah kampung, di luar kota. Bentuknya seperti kompleks dengan rumah-rumah berdinding papan dan dalam satu rumah ada tiga kamar, diisi tiga sampai empat orang Penjaja Seks Komersial.

Kami masuk ke rumah pertama, tapi kecewa. Karena psknya tua-tua. Akhirnya kami pilih rumah nomor empat. Ada empat perempuan di dalam. Dua orang umurnya sudah tua, satunya lumayan bertubuh gempal bahenol, satunya lagi tinggi semampai. Yang tinggi ini lumayan cantik. Semua mata pun cuma terfokus kearahnya.

Acai yang hari itu sedang horni, langsung melambaikan tangan, meminta wanita itu mendekat. Dia pun mendekat, duduk di antara kami, sambil meletakkan bir, lalu tertawa.

“Walahh. Iki bocah-bocah masih sekolah toh. Ga dicari gurumu? Hahaha,” ucap wanita itu, melihat kami mengenakan seragam sekolah.

“Ajak masuk sekalian saja semuanya. Koe pasti mampu. Wong itu ne cilek, kok. Hahaha,” teriak wanita tua di ruangan lain. Yang aku pikir dia cemburu, karena kami sama sekali tidak tertarik. Sudah tua sih. Hahaha.

Wanita itu mengenalkan diri dengan nama Lina. Entah benar atau tidak, tapi Linalah namanya. Dia kemudian melirik dan menatap kami satu persatu. Dimulai dari si Acai. “Kamu kok ga punya kumis? Ga seru ah,” ucap Lina pada Acai. Acai sendiri tak peduli pada cemoohan Lina. Dia sedang horni. Nafasnya terdengar ngos-ngosan. Keduanya matanya melotot, seperti akan tersembul keluar.

Selanjutnya Narto ditatapnya, dengan seksama. Tak lama, kening Lina berkerut. “Ih. Seram. Hahahaha,” celetuk Lina, membuat Narto salah tingkah. Lalu mengambil segelas bir dan meneguknya. Jatmiko juga tak luput dari pengamatan wanita berambut agak pirang itu. Tapi kali ini, dia tidak memberi komentar apa apa.

Saat matanya tiba padaku, lututku langsung gemetar. Badanku panas dingin dibuatnya. “Wow, yang ini punya kumis,” ucap Lina sembari manatapku. “Tapi,, sepertinya payah. Hahahaha,” dia tertawa lagi. Sementara mataku langsung jatuh di atas lantai. Semua jari-jemariku saling bertaut. Tubuhku mulai basah oleh keringat.

“Loh, kenapa Le? Walah, grogi toh. Asal jangan kencing dicelana yo. Hahaha,” ejek Lina sepertinya dia tahu kalau aku sedang grogi berat. Tapi tanpa dia sadari juga, tiba-tiba pipinya disambar oleh si Acai. Cup. Cup. Dua kali.

Si Acai memang terlihat tak bisa menahan keinginannya. Kalau lidahnya panjang, mungkin sudah terjulur keluar. Berkali-kali dia mencuri-curi kesempatan mencium wanita kurang lebih 28 tahun itu. Tapi Lina selalu menepisnya. “Eh, eh, eh, iki bocah. Kesambet opo toh?! Bayar dulu dong,” gerutu Lina.

Usai harga disepakati, Acai langsung menarik tangan Lina untuk dibawanya masuk ke dalam kamar. Pintu kamar dikunci. Lalu … gedubak gedebuk gedubak gedebuk, suara tempat tidur bergoyang menyentuh dinding kamar yang terbuat dari papan.

“Owalaaa. Kawan sampean itu kok kayak sapi,” terdengar suara dari ruangan lain. “Mbo ya pelan-pelan Le. Ambrokk nanti. Hahaha,” lanjut dia lagi. Sementara aku tegang, sambil berkeringat dingin dibuatnya.

Tak sampai 10 menit, Acai keluar. Kini, gantian Narto masuk ke dalam kamar menyusul Lina. Setelah itu Jatmiko. Nah dengan Jatmiko ini, durasi di kamar lumayan panjang. Sampai-sampai terdengar teriakan “heyy” dari mulut Lina. Kemudian dia keluar sambil marah-marah. Tubuhnya terbungkus oleh kain. “Sue’ iki bocah!!!” Ucapnya. Kedua kakinya melangkah buru-buru. “Opo mene?” Tanya wanita tua. Lina tak menjawab. Dia langsung masuk ke kamar mandi dan pintu dikunci.

“Amboii. Kau apakan mba cantik itu bro Jat?” Tanya Narto setengah berbisik, penasaran. Sementara si Acai yang terlihat masih horni, buru-buru merapat. Dengan seksama dia mendengarkan. Dari penuturan Jatmiko, ternyata dia menggunakan sesuatu agar tahan lama.. Setelah mendengar itu, kami pun tertawa cekikikan di ruang tamu.

Usai Jatmiko, sebenarnya giliranku. Sangat ingin sebenarnya. Rasanya horni ini sudah merayap sampai di ubun-ubun. Jika dibandingkan, mungkin komposisinya lebih besar dari si Acai. Tapi yaitu itu tadi, rasa grogi melenyapkan semua.

Saat itu bukan Lina sih sasaranku, tapi si mba yang bahenol itu. Haduuuh,, gemes aku dibuatnya. Sampai-sampai di atas motor pun, kepalaku isinya cuma wajahnya si mba. Lalu berkhayal dah yang bukan-bukan. Seandainya. Kalau aku dan si mba. Bla, bla, bla. Ahaiii. Kawan-kawan memberi gelar padaku gila bayang, tapi tak apalah. Yang penting hari itu, detik itu, keperjakaanku masih terjaga. Hahaha. Cukup meragukan.

Tiba pada suatu hari. Tepatnya jam istirahat di sekolah. Tak sengaja aku melihat murid-murid kelas tiga sedang ramai, mengerumuni sesatu, di muka kelas. Terbawa penasaran, akhirnya aku, Narto dan Jatmiko, bergegas mendekat pada kerumunan itu.

Di situ aku menemukan wajah murid-murid tampak tegang dan marah. Ada apa ini sebenarnya? Oh rupanya si Fait, satu kelas denganku sedang bertengkar mulut dengan pak Maning, guru olah raga di sekolah. Tanya punya tanya, ternyata pak Maning diam-diam merebut pacarnya si Fait, si Narti, murid perempuan di jurusan bangunan gedung.

Aku sebenarnya iba pada pak Maning ini. Diperlukukan sedemikian rupa, bahkan berani ditentang oleh si Fait di depan murid-murid. Dia ini orang rantau. Hidup sebatang kara di Pontianak. Tidak punya rumah dan tinggal di sekolah.

Tapi di sisi lain, aku juga tidak suka pak Maning ini. Kalau dia ngajar haduuh bahasanya tidak jelas, ngapek-ngapek gitu. Katanya sih dia orang Kebumen atau Tegal, tak tahulah aku. Yang jelas dia hobi ngapek-ngapek. Selain itu, dia dikenal penduduk sekolah sangat pelit, alias medit. Bahkan terkait sikap pelitnya ini, si Usman, kawan satu kelasku yang juga tinggal di sekolah, punya pengalaman.

Waktu itu, orang tua Usman terlambat mengirim uang, dengan alasan tidak jelas. Dia sendiri benar-benar tidak punya uang lagi seperser pun. Karena perlu makan, sambil menunggu kiriman dari kampung datang, besoknya dia beranikan diri menemui pak Maning, maksudnya ingin pinjam uang. Tapi apa lacur, meskipun si Usman berkali-kali memelas, bahkan dengan akting nangis-nangis segala, guru bertubuh gelap itu tetap bilang tidak ada uang.

“Tidak ada,” ucap dia, singkat, sambil ngapek-ngapek. Usman pun percaya saja. Kemudian berlalu dengan wajah kecewa.

Nah pada lusa, ibu kantin yang tinggal di situ juga, tiba-tiba menggedor pintu kamar Usman. Wajahnya terlihat panik sekali. Nafasnya juga ngos-ngosan. “Ada apa bu?” Tanya Usman, depan pintu. “Aa,,anu. Pak Maning, Us. Pak Maning!!” Ucap bu Susi, terbatah-batah. Tangannya gemetar.

“Iya. Memang ada apa Bu?” Tanya Usman lagi. Dia pun ikut-ikutan cemas. “Pak Maning, pak Maning sakit. Tiba-tiba wajahnya pucat,” jawab bu Susi.

“Sekarang dia dimana?” Tanya Usman. “Di kamar saya,” ucap bu Susi. Kening Usman berkerut. “Ayo cepat, Us!!” Pinta bu Susi, lalu berlari.

Usman bergegas mengikuti bu Susi dari belakang. Sampai di kamar, dia melihat pak Maning duduk lemas, di samping tempat tidur. Wajahnya pucat pasi, tapi sadar. Di situ dia meminta Usman diantar berobat ke puskesmas. Dia terus-terusan merasa ingin muntah. Usman pun mengiyakan. “Tapi sebelumnya, tolong ambilkan uang saya dulu di bawah kasur. Lalu carikan becak,” pinta pak Maning, lirih, sambil ngapek-ngapek.

Tak ingin buang waktu, Usman segera berlari ke kamar pak Maning. Di situ dia terkejut, saat melihat uang di bawah kasur dengan jumlah yang banyak, berserakan. Sempat menggigit lidah, kecewa dan marah juga si Usman ini. Mengingat dua hari yang lalu, pak Maning bilang tidak ada uang. Tapi nyatanya, banyak. Uang itu diikat-ikat dengan karet.

Setelah memberikan jumlah uang yang dipinta, Usman langsung mencari becak yang sering mangkal tak jauh dari sekolah. Hari itu hari minggu. Agak gerimis juga. Tapi demi pak guru Maning, dia rela membantu, itu pun semata-mata dilakukan demi nilai tentunya. Tidak lebih.

Begitu sampai, becak langsung diparkir di antara kantor guru dan kandang kambing. Ya dulu zaman ku sekolah, di depan kantor guru ada kandang kambing, milik kapala yayasan. Setelah itu, Usman dan bu Susi bergegas memapah pak Maning untuk dibawa ke atas becak. Namun saat dia hendak naik juga, maksud hati ingin duduk mendampingi pak guru …

“Kamu harus ikut, tapi ikuti saya di belakang saja ya,” pinta pak Maning, ngapek lagi. Usman pun melongok. Dengan berat hati, sedih juga, dia kemudian berlari mengikuti pak Maning di belakang becak sampai ke puskesmas. Pak Maning tak ingin Usman naik, karena dia takut ongkos becak jadi dobel.

Kejadian lain juga pernah terjadi terkait pelit medit pak Maning ini. Itu saat pertandingan bola voli antar Sekolah Tingkat Atas digelar. Tapi tidak di sekolah kami. Melainkan di sebuah universitas swasta, di seberang kota. Karena dia tahu tidak ada kendaraan yang bisa membawa para atlit pergi ke sana, bahkan dia sendiri pun tak bisa mengendarai sepeda motor, akhirnya di kelas kami, dia menyampaikan permintaan.

Yaitu barang siapa yang memiliki sepeda motor dan mau mengantar atlit-atlitnya, termasuk dia, juga supporter, dijanjikan akan diberi uang bensin, full. Siapa yang tidak mau? Satu persatu murid-murid pun mendaftar, termasuk aku.

Kami berangkat ke lokasi pertandingan pagi itu. Aku sediri tak ingin risau dengan pertandingan bola voli karena memang tak hobi olah raga. Aku lebih memilih mengasingkan diri, duduk di bawah pohon sawit, sambil merokok dengan beberapa kawan. Dari situ aku melihat gelagat pak Maning ini. Geli geli sedap pula aku melihatnya. Selalu over akting di depan orang ramai. Apalagi di depan perempuan.

Seperti hari itu, penampilan pak Maning bak pelatih profesional dengan kaca mata hitam pula. Sok cemas. Sok memberi pengarahan. Sedikit sedikit teriak, kamu harus begini, kamu harus begitu. Sambil ngapek. Padahal ilmu olah raganya, biasa-biasa saja. Atau mungkin tidak ada guru yang mau mengajar di sekolahku ya, sampai-sampai dia terpilih. Ah masa bodohlah. Yang penting bensin dalam tangki motorku akan diisi penuh. Mengingat, itu tak cukup lagi untuk pulang ke sekolah.

Tapi nyatanya, pak Maning melarikan diri. Itu terjadi saat pertandingan bola voli selesai. Dari bawah pohon, aku melihat dia melangkah buru-buru, lalu bergegas naik ke atas sepeda motor murid yang membawanya. Dia juga memberi kode, meminta si murid untuk cepat-cepat meninggalkan lokasi, sebelum murid lain tahu. Posisisku yang jauh sulit mengejarnya. Akhirnya pak Maning sampai di sekolah dengan selamat, sedangkan aku harus berjuang dengan sepeda motor karena kehabisan bensin di jalan. Nasib. Nasib.

Kembali ke kerumunan tadi. Pak Maning dan Fait masih bertengkar mulut, di depan kelas. Tapi dalam kejadian ini, Fait yang lebih mendominasi. Pak Maning sendiri lebih banyak menunduk. Mungkin dia sadar sedang berada pada posisi yang salah. Bagiku ya dia memang salah. Masa’ pacar murid pun diembat juga. Bahkan dengar-dengar dari pertengkaran mereka, pak Maning sangat royal dengan Narti. Apa saja keinginan si Narti itu, selalu dituruti. Beda ceritanya kalau si Usman yang pinjam uang, sampai mampus pun, tak akan diberi.

Situasi pun semakin memanas. Pak Maning tetap pada pendiriannya, tidak mau mengakui kesalahan. Dia gengsi dong berkata jujur di depan murid-murid. Tapi si Fais tak tinggal diam. Dia naik pitam. Murid buangan dari sekolah lain, lantaran tak lulus ujian ini, langsung menantang pak Maning berduel. Puncaknya …

“Kamu berani melawan saya, Fait?!! Kamu tidak hormati saya, guru di sini?!!” Pak Maning emosi, ngapek lagi. Belum sempat dia lanjut bicara. Bugg. Wajahnya ditinju oleh Fait. Pak Maning ingin membalas, tapi sadar anak-anak berpihak pada Fait, dia pun segera melarikan diri ke kantor guru. Hampir semua murid kelas tiga mengejarnya, termasuk aku. Tapi ini sama sekali tak ada kaitannya dengan masalah Fait, tapi aku punya dendam pribadi pada janjinya soal bensin.

Di ruang guru, pak Maning langsung mengunci diri dalam toilet. Sementara guru lain pada ngacir semua, termasuk pak Randu dan kepala yayasan terlihat ikut-ikutan gemetar. Wajah mereka pucat. Aku pikir mereka shock karena murid-murid ternyata bisa ngamuk juga.

Tapi dari semua guru di sekolah itu, ada satu guru yang kami segani. Yaitu pak Muhlis. Dia ini tak pernah bertingkah macam-macam. Disiplin dengan waktu dan tidak asal-asalan dalam mengajar. Tidak seperti guru lain, lebih mengandalkan CBSA, catat buku sampai habis. Dia juga dikenal ramah pada murid tapi tegas, tidak kosong seperti yang lain.

Nah, saat kami mengamuk di kantor, pak Muhlis tiba-tiba hadir, berdiri di depan kami. Dia langsung memanggil anak-anak di barisan depan untuk ikut dia ke ruang lain. “Fait, ikut saya,” ucap pak Muhlis, dengan suara berat.

“Kamu, kamu, dan kamu,” dia menunjuk, salah satunya aku. “Juga ikut saya. Jangan anarkis. Nanti berhadapan dengan saya!!” Pinta dia, tegas.

Semua murid langsung melunak. Meskipun cuma beberapa orang diminta pak Muhlis untuk ikut, tapi murid-murid yang lain menyusul dari belakang. Mereka terlihat sangat kompak. Mereka ingin tahu juga apa yang akan dilakukan oleh guru bertubuh tinggi besar itu pada kami. Kami masuk ke ruang praktek, di ujung areal sekolah.

Di situ, kami tidak dinasehati oleh pak Muhlis. Melainkan dia cuma mengajak kami merenung sejenak. Setelah itu, dia bercerita masa-masa di STM dulu. Yang ternyata dia juga memiliki riwayat hidup yang nakal, lebih gila dari kami.

Kami termangu mendengar cerita itu. Terharu juga saat dia bercerita terkait proses perubahan prilakunya dari anak nakal menjadi anak baik. Hanya saja nakalnya dia dulu tidak pernah melawan pada guru. Dia kemudian memutuskan berubah setelah ditinggal wafat kedua orang tua dan harus tinggal di rumah pamannya.

“Hidup numpang itu benar-benar tidak enak. Kita harus bisa bawa diri. Ada aturan main juga yang harus kita ikuti. Nah, mumpung kawan-kawan di sini masih punya orang tua, saya cuma ingin mengajak, mengajak, ayo renungkan orang tua kita. Itu saja,” ucap pak Muhlis. Lalu berhenti sejenak.

“Oh iya. Ada yang mau rokok? Karena saya ingin merokok, jadi kalian saya izinkan merokok juga,” dia memberi tawaran. Tapi semua murid yang dipanggil di ruang itu menggelang dengan wajah tertunduk. Segan untuk mengatakan ingin, meskipun jujur aku sudah ingin merokok. Nikmatnya itu sudah sampai di tenggorokan.

“Ok, kalau begitu, saya hormati kawan-kawan, untuk tidak merokok juga,” ucap dia lagi. Lalu memasukkan kembali kotak rokok tersebut ke dalam saku celana.

Sekitar 30 menit kami bersama dengan pak Muhlis. Rasa senang, damai, benar-benar kami rasakan. Apalagi dia tak pernah menganggap kami sebagai murid, akan tetapi teman. Itu membuat hubungan kami begitu emosional.

Kami keluar dari ruang itu dengan wajah tenang. Lima belas menit kemudian Fait keluar sambil dirangkul oleh pak Muhlis. Dia terlihat menangis terisak-isak dan melangkah tanpa henti menuju ruang guru. Di sana, dimediasi oleh pak Muhlis, Fait, pak Maning dan Narti dipertemukan. Aku tak tahu lagi urusan mereka di dalam. Tapi dengar-dengar mereka akhirnya berdamai. Ah damai itu indah ternyata.

Lalu bagaimana hubungan asmaraku dengan Yeni di balik kenakalanku itu? Tenang. Semakin hari semakin membara. Ya seperti hubungan anak muda pada umumnya, kami juga tak pernah lepas dari pasang surut percintaan. Sering bertengkar. Sering lupa pada komitmen pacaran. Bahkan sering tak menepati janji yang akhirnya saling tak bertegur sapa hingga berhari-hari.

Tapi jujur, bukan Yeni yang menjadi pemicu. Aku pikir dia cukup bijaksana menyikapi semua masalah yang muncul di antara kami. Akulah sebenarnya si pembuat ulah. Yah umurku masih hijau. Masih labil. Untuk bisa sampai pada tingkat dewasa, dibutuhkan banyak waktu untuk belajar. Dan setelah aku paham, bahwa semua yang terjadi itu bagian dari dinamika hidup. Mereka adalah fase yang tak mungkin dihindari, kecuali harus dihadapi dengan segala konsekuensi.

Seperti hari ini, dimana aku akan menerima hasil ujian akhir di sekolah. Meskipun tak begitu mendebarkan, seperti saat aku menyatakan cinta pada Yeni, tapi di sinilah aku akan mendapat semua konsekuensi itu. Apakah nantinya aku lulus, ataukah tidak.

Dan ternyata, aku lulus. Sayangnya, nilaiku hancur. Dari total mata pelajaran yang diujikan, Nimku hanya terpatok pada angka 22,82, tidak lebih. Padahal, aku sebenarnya bisa mendapat nilai lebih dari itu. Kecewa, sudah pasti. Tapi yah, apa boleh buat. Ini adalah konsekuensi dari apa yang ku tanam dulu. Mengingat aku tak pernah serius mengikuti mata pelajaran.

“Gimana, bro?” Tanya Narto tiba-tiba. Saat itu aku mematung di areal parkir sekolah.

“Ah. Nilaiku hancur, bro. Lihat ini,” jawabku, singkat. Kemudian menyodorkan selembar ijasah bertuliskan angka-angka yang ada dalam tabel pada Narto. Dia mengambil kertas tersebut dan membacanya dengan antusias. Matanya mengecil. Keningnya berkerut.

“Kok bisa begini, bro?” Narto bertanya, heran. Aku tak menjawab. Hanya menggeleng kepala sambil mengangkat bahu. “Gimana dengan kau sendiri? Sri bilang nilai kau tinggi?!”

“Ya begitulah.”

“Boleh ku lihat?” Pintaku. Lalu ku ambil ijasah milik Narto yang sedari tadi tergenggam dalam tangannya. “Buseeettt. Nilai kau bagus ini. Maksudku, tak separah aku. Kok bisa gitu?”

“Mana ku tahu,” jawab Narto. “Tapi kata orang sih. Ujian itukan untung-untungan. Kalau nasib lagi baik, baik jugalah hasilnya. Tapi kalau nasib lagi apes, ya seperti kau itu contohnya. Hahaha,”

“Ah. Kurang ajar kau. Mau mulai lagi?” Ucapku. Setelah itu, kami tak bercakap-cakap hingga beberapa menit. Suasana terasa hening di antara kami.

“Oh iya, bro. Apa rencana kau setelah ini? Perguruan tinggi?” Aku bertanya. Narto diam saja. Hari itu dia terlihat tak seperti biasa, memang. Ada mendung pada wajahnya. “Ayolah bro,” aku memukul-mukul lengannya. “Nilai kau kan tinggi. Sayang kalau tak dilanjutkan.”

“Eh. Bisa juga kau memberiku nasehat. Ehemmm,” Narto merespon. Kedua tangannya bergerak, memiting-miting leherku, lalu berhenti. Matanya jejak di atas langit biru.

“Bro Her. Semua anak pasti punya mimpi untuk itu. Tapi sayang, anak itu bukan aku, tentunya,” ucap Narto, pesimis. “Maksudmu?” Aku bertanya lagi. “Aku akan kembali ke kampung, bro. Membantu ibu di sana. Aku pikir, padi-padinya di ladang sudah menguning sekarang. Usai panen, aku akan cari kerja.”

“Tapi,,,” Narto menggeleng, membuat aku tak ingin melanjutkan.

“Bro. Setelah bapakku meninggal, aku seperti tak diberi kesempatan untuk memilih. Kecuali yah, menggantikan tugasnya sebagai tulang punggung keluarga.”

“Sama seperti kau, bro Narto,” celetuk Jatmiko yang tiba-tiba saja sudah berada di antara kami. “Aku juga akan balik ke kampung. Boro-boro kuliah, bisa tamat dari STM ini saja aku sudah bersyukur. Kau sendiri, gimana bro Her?”

“Entahlah. Nilaiku hancur. Jika tak ku teruskan, tentu ijasah ini tak berguna. Tapi ngomong-ngomong, aku masih penasaran dengan nilai kalian. Kok bisa melebihi aku ya? Terutama, kau bro Narto. Mengingat kita punya tabiat yang sama,” aku bertanya, antusias. Narto terlihat senyam-senyum sambil punggungnya bersandar pada dinding ruang parkir.

“Eh, bro. Gila-gila begini, aku belajar. Makanya nilaiku tinggi,” dia merespon, dengan sedikit bercanda. Sementara keningku berkerut dibuatnya.

“Apa benar itu, bro Jat? Karena kau tinggal satu kos, bahkan sekamar lagi. Tentunya kau lebih tahu.”

“Benar, bro. Narto juga yang memaksa aku belajar.”

“Kampreettt,” ucapku sedikit berteriak, lalu mendorong Narto hingga tubuh gempalnya itu tersandar pada sepeda motor. Tapi setelah itu, aku langsung sadar, dan buru-buru meminta maaf. “Sori bro. Sori. Bukan maksudku demikian,” ucapku, sambil mengejar, lalu membantunya berdiri.

“Santai, bro. Anggap saja ini kenang-kenangan buatku. Sebentar lagi kan kita akan berpisah. Entah kapan bisa bertemu,” Narto berucap lirih. Wajahnya meringis menahan sakit akibat pantatnya membentur knalpot sepeda motor. Aku tak sampai hati melihatnya. Langsung saja dia kubawa pindah duduk di kantin sekolah.

“Gimana hubunganmu dengan Yeni, bro?” Tanya Jatmiko.

“Sampai hari ini sih baik-baik saja. Malah semakin pedas.”

“Sambal kali pedas,” celetuk Narto.

“Kalau sudah begitu, aku sarankan kawin sajalah. Dari pada pusing-pusing lanjutkan kuliah,” canda Jatmiko, membuat suasana di kantin itu kembali penuh dengan tawa.

Usai perpisahan kami yang mengharukan. Aku putuskan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebenarnya, sempat ragu, mengingat nilaiku yang buruk. Tapi Yeni tanpa henti memberi motivasi.

“Jangan malu untuk bersaing. Nilai itu tidak bisa dijadikan tolak ukur orang itu bodoh atau pintar loh, Her. Nilai itu kan sifatnya statistik. Aku setuju pada pandangan seorang profesor, dalam bukunya yang pernah ku baca, sesama subjek itu tidak bisa melakukan penilaian. Hasilnya yaitu tadi, statistik. Jauh dari absolute. Jadi saranku, kamu ikut tes ya. Aku yakin kamu pasti bisa,” Yeni memompa semangatku. Aku sendiri cuma bisa melongok, tidak mengerti.

“Hmmm. Kalau boleh tahu, subjek, absolute dan statistik itu apa ya? Maklumlah,,, Yang ku tahu cuma plastik, ya itu, untuk bungkus-bungkus belanjaan,” tanyaku, sambil nyengir. Tanganku menggaruk-garuk kepala hingga ketombe berguguran di atas lantai.

“Heriiii,” Yeni gelagapan. Bibirnya tersenyum. Tangannya memencet hidungku. Lalu memberi penjelasan. “Ooo,, gitu ya. Baiklah, akan ku coba.”

Aku mengikuti tes calon mahasiswa baru dua minggu berselang. Seperti keyakinan Yeni, aku dinyatakan lulus dan diterima di salah satu fakultas. Meski jurusan yang ku pilih bertolak belakang dari latar pendidikanku di STM, tapi aku senang kuliah di situ. Banyak tantangan baru yang ku temukan.

Waktu pun terus berlalu. Membawa hubungan asmara antara aku dan Yeni hingga menginjak satu tahun dua bulan. Kami senang karena semua berjalan baik. Meskipun terdapat sedikit hambatan. Kami mulai sama-sama sibuk. Aku kuliah. Yeni sendiri bekerja sebagai bidan pembantu di salah satu klinik bersalin swasta dengan jadwal yang cukup padat. Akan tetapi, kami selalu meluangkan waktu untuk bisa bertemu satu sama lain.

Kami sadar, intensitas pertemuan tak lagi sama seperti dulu. Sebelumnya, aku bisa berkunjung ke rumah Yeni tiga sampai empat kali dalam seminggu. Juga bisa berbicara panjang lebar hingga berjam-jam lamanya. Tapi bagi kami, dapat menikmati malam ataupun sore minggu bersama, sambil menikmati secangkir teh manis, itu sudah lebih dari cukup. Kalau lapar, kami biasanya pergi ke warung koko Cin Fun yang letaknya tak jauh dari rumah Yeni, membeli Kwie Tiau goreng, lalu makan bersama-sama.

Hubungan kami memang terlihat seperti perangko. Sulit terpisahkan. Namun, hingga detik ini, kedua orang tua Yeni belum tahu tentang status hubungan kami yang sebenarnya. Aku tidak berani berterus terang. Padahal, Yeni sering memintaku menjelaskan, tapi selalu ku tolak. Alasannya, malu. Aku belum punya pekerjaan dan masih bergantung pada orang tua.

Memang, dengan bersikap seperti ini kesalahan fatal bagi hubungan kami ke depan. Yeni cantik. Wajahnya chinese dari sang ibu. Tak sedikit laki-laki mapan berusaha mendekati, lewat pak Samsu. Biasanya, yang sering datang dan ngobrol dengan kedua orang tuanya di rumah, adalah para perwira muda di Angkatan Udara. Nah, terkait masalah ini, aku sering mencandai kekasihku. Cie cie kekasih. Hahaha. Seperti malam ini, contohnya.

“Tentu senang ya ditaksir banyak pria mapan, gagah lagi, amboii,” ucapku, dengan nada ejekan.

“Apa kamu meragukanku, Her? Cuma kamu yang ku cintai. Tapi entahlah jika kamu melakukan itu nanti,” Yeni membalikkan ucapanku.

“Mana ada yang mau denganku, Yen. Kamu adalah anugrah terbesar dalam hidupku. Entah apa jadinya kalau kita berpisah, bisa-bisa aku bakal jadi tengkuyung anyut, tak laku, tak ditoleh perempuan,” ucapku, sungguh-sungguh.

“Sudah ah, jangan bicara itu lagi. Jadi kapan kita berangkat?”

“Oh. Iya ya ya, sekarang, dong.”

Kami segera beranjak dari sofa. Kemudian melaju di atas sepeda motor menembus gelap. Malam ini, aku akan mengikuti Hard Rock Music Festival bersama band yang baru dibentuk, terdiri dari anak-anak kampus. Yeni sangat ingin melihat aksiku bermain gitar di atas stage. Itu sebabnya dia kubawa. Tapi kalau boleh jujur, malam ini adalah pertama kalinya aku bakal on the stage.

Sepuluh menit, kami pun tiba di pintu gerbang universitas swasta, dimana event itu digelar. Sudah banyak sepeda motor yang diparkir, bermacam jenis dan merk, di halaman. Begitu juga jumlah penonton, berjubel. Mereka begitu antusias menghadiri acara tahunan ini, sambil membawa pasangan mereka masing-masing tentunya.

Maklum. Masa itu tidak banyak hiburan digelar di kota Pontianak. Atau kata lain, sulit ditemukan. Pontianak bukan Jakarta, bukan Bandung, juga Medan. Dimana setiap malam kita bisa pilih, mana hiburan yang menarik untuk dinikmati, saking banyaknya. Nongkrong di cafe-cafe pun, ya itu-itu juga. Bahkan untuk berbelanja malam, tidak ada toko yang buka. Usai tragedi sara 1997 dan 1999 yang memalukan itu, semua toko-toko harus tutup pada jam lima sore hari. Jalan Tanjungpura sebagai central perbelanjaan, berubah sepi, lengang seperti kota mati. Cuma kedai-kedai kopi yang diberi izin beroperasi.

Tentu saja dengan adanya festival-festival musik seperti ini, tidak ingin disia-siakan oleh anak-anak muda, bahkan orang tua yang haus akan hiburan.

Aku menggenggam tangan Yeni di halaman parkir, lalu melangkah bersama-sama menembus kerumunan orang-orang. Di sisi panggung, sudah ada Ronald, Iwan, Nano, dan Pepeng, sedang menunggu. Mereka adalah para personil bandku yang baru.

“Kita undian berapa, bro?” tanyaku pada kawan-kawan.

“48. Yang sedang tampil ini peserta undian 39,” jawab Nano. “Oh. Masih jauh,” celetukku. Lalu mengajak Yeni duduk di atas kursi peserta yang sudah disiapkan panitia.

Di situ, mataku mulai fokus mengamati satu persatu band yang tampil, saling unjuk kebolehan. Semuanya bagus-bagus. Atraktif. Aku terkesima. Namun, saat masuk undian 43, konsentrasiku seketika membuyar. Perasaanku cemas. Jantungku dag dig dug. Perutku terasa mulas.

Kondisi itu makin bertambah parah, saat giliran kami tampil semakin dekat. Kawan-kawan tampak sibuk menyiapkan alat musik yang dibawa sendiri, seperti gitar, bass dan keybord. Sementara aku, tidak. Kedua tanganku sudah punya aktivitas lain. Yang satu berkokot kuat pada kursi. Satunya lagi menggenggam batu kecil yang ku dapat di bawah kaki.

“Kepala, pantat. Kepala, pantat. Kepala, pantat,” ucapku, cepat sekali, dengan mata terpejam. Begitu seterusnya, tanpa henti. Hingga tubuhku basah oleh keringat.

Apa yang ku lakukan ini mungkin terkesan aneh, memang. Mungkin juga dianggap jorok. Tapi, dalam kondisi emergenci, tak banyak lagi cara yang bisa ku tempuh, selain mencoba mengikuti petuah dari orang-orang tua tempo dulu.

Nenekku bilang, kalau perut kita mulas dan ingin buang air besar di tempat umum, genggam saja batu, lalu ucapkan kata di atas. Karena ketika kita menggenggam batu dengan kuat, maka rasa sakit yang tadinya berada di sekitar perut, akan berpindah ke area tangan. Begitu juga terkait penyebutan ‘kepala’ dan ‘pantat’, nenek bilang, itu untuk merubah sugesti kita. Syaratnya, dalam hitungan kesepuluh pada jari tangan, kata ‘kepala’ harus menjadi yang terakhir diucapkan. Sialnya, sudah berkali-kali hal itu dilakukan, rasa sakit ini tak mau hilang juga, malah semakin bertambah parah. Agak marah juga aku pada nenekku malam itu.

Karena tak bisa ditahan lagi, sesuatu itu pun sudah berada di ujung tanduk, aku langsung menghilangkan diri dari Yeni dan kawan-kawan tanpa pamit. Wajahku tegang. Tubuhku berkeringat. Emosiku meluap-luap. Itu terjadi saat aku bertanya keberadaan toilet pada salah satu panitia. Karena dia merespon dengan nada cuek, langsung saja kutarik baju pria itu dan kudorong tubuhnya hingga jatuh ke atas tanah. “Tenang, bang. Tenang, bang. Tenang,” ucap beberapa orang panita, yang datang untuk melerai.

“Wc ada di sana,” ucap salah satunya, sembari melempar telunjuk ke arah lorong yang gelap, di sisi kampus. “Tapi,,,,,.” Belum sempat dia selesai memberi keterangan, aku sudah berlari dengan kencang.

Gedubrakkk!!! Kakiku menabrak tong sampah. Tubuhku tersungkur di atas lantai, bukan main sakitnya. Tapi, aku tak peduli. Aku segera bangkit. Lalu melangkah kembali, terpincang-pincang menuju pintu toilet, membawa rasa sakit pada lutut.

Di dalam, kondisi ruangan sangat gelap. Kalau di lorong masih bisa ku dapatkan bias cahaya lampu, di bilik termenung (kata orang Malaysia) ini, sama sekali tidak ada. Semua gelap. Aku seperti hendak masuk pada gerbang dunia lain yang di dalamnya hidup berbagai macam makhluk astral dengan wajah mengerikan. Mungkin di situ ada kuntilanak, pocong, roh penasaran, dan lain-lain. Hiiii. Tapi ah. Tidak ada waktu lagi untuk khawatir.

Pintu toilet langsung kudorong, dengan tenaga. Seketika pintu pun terbuka. Anehnya, dia hanya mampu bergeser sedikit saja, seperti ada sesuatu yang menahan dari dalam. Kudorong lagi, hasilnya sama. Kudorong lagi, hasilnya sama. Yang terjadi, pintu itu malah terasa maju mundur.

Aku pun mulai berpikir horor. Mungkin saja ada makhluk lain di dalam sana yang ingin menampakkan wujudnya padaku. Ingin menakut-nakuti anak Adam seperti aku. Tapi, karena barang ini sudah mau keluar, pintu langsung kudobrak.

“Eh, bang, bang, bang,” terdengar suara dari dalam. Ternyata benar apa yang ku pikirkan tadi. Ada makhluk lain di dalam toilet. Dia laki-laki, dan sedang buang hajat. “Di sebelah, bang. Di sebelah. Haduhh, kau ini, mengganggu kenikmatan saja,” ucapnya, emosi.

Aku segera masuk ke dalam toilet sebelah. Dengan langkah buru-buru, lalu duduk di atas kloset untuk selesaikan urusan genting. Setelah itu, ademm. Ayemm. Dunia dirasa begitu indah. Aku merasa seperti baru bebas dari penjara yang dihuni orang-orang kejam. Tapi, belum sempat kunikmati kebebasan itu, beberapa detik berselang, muncul lagi masalah baru.

Ya saat berlari masuk ke dalam toilet tadi, aku lupa membuka tutup kloset. Yang terjadi…. alamakkk, mungkin tak perlu diceritakan di sini. Sudah pasti anda bisa menebak jika tutup kloset tidak dibuka. Yang jelas, aku sangat panik. Sampai nangis terisak-isak, setelah tahu bak air kosong, tidak ada isinya. Apalagi di luar, nama bandku sedang dipanggil. Mati aku.

“Bang. Ada air tidak?” Tanyaku, melas. Jari-jariku mengetuk-ngetuk dinding. Air mataku terus jatuh membasahi pipi. “Wah. Tidak ada. Aku cuma bawa sebotol nih,” jawab suara di toilet sebelah.

“Nah tuh. Bagi dikit dong, bang. Dikiiit saja.”

“Tidak bisa. Ini tinggal setengahnya. Buatku juga tidak cukup. Coba kau cari apa kek di situ. Kertas kek. Kain kotor kek.”

“Tidak ada, bang. Aku sudah cari. Sebenarnya sih, aku perlu banyak air.”

“Ah, bagaimana kau ini! Tadinya kau minta cuma sedikit, sekarang malah minta banyak. Tidak konsisten!”

“Iya, bang. Kalau di bagian itu, aku mungkin tidak terlalu risau. Tapi ini, di bagian yang lain juga. Aku lupa membuka tutup kloset tadi.”

“Kwkwkwk,” pria di toilet sebelah tertawa. Sikapnya itu seketika membuat emosiku meledak-ledak. Tapi aku mencoba untuk sabar saja. Dalam situasi begini, hanya dia satu-satunya yang bisa diharapkan untuk membantu.

“Iya deh, nanti aku carikan. Kalau tak ada air, arak mau?” Lanjut pria misteris itu.

“Mau, mau. Pokoknya apa saja deh, bang. Yang penting aku bisa keluar dari sini.”

“Ok sip. Kau tunggu saja di situ. Nanti aku kembali,” ucapnya. Kemudian terdengar suara pintu dibuka dan ditutup, sebagai tanda kalau lelaki itu sudah keluar dari toilet.

Aku menunggu pria misterius itu, antusias. Namun, sudah hampir lima puluh menit terkurung dalam ruang gelap ini, tidak ada satupun tanda-tanda menunjukkan dia akan kembali membawa sebotol air untukku. Kecewa, marah, sedih, sudah pasti, merasa dibohongi. Sadar pertolongan itu hanya semu, aku memberanikan diri keluar dari toilet, dengan lari sekencang-kencangnya menuju halaman parkir. Di situ, langsung saja ku hidupkan sepeda motor, memacunya secepat kilat, untuk kembali ke rumah.

Esok hari, Yeni telpon.

“Kamu seperti Superman, ya?! Tiba-tiba menghilang dari kerumunan orang-orang. Aku tidak enak sama Nano, tau tidak. Dia yang akhirnya antar aku pulang,” Yeni meluapkan kekesalannya, sembari meledekku, di seberang telpon.

“Oh. Kamu, yang. Baru saja aku mau telpon. Aku minta maaf ya,” pintaku, memelas. Kemudian dengan wajah menahan malu, ku ceritakan apa sebenarnya yang terjadi.

“Okey. Okey. Aku terima alasanmu itu. Tapi seharusnya, kamu minta ijin dulu dong, agar teman-teman kamu tidak panik, sehingga mereka bisa ngerti bagaimana kondisimu,” suara Yeni, mulai tinggi.

“Aku kembali lagi kok. Tapi kalian sudah tidak ada,” aku berbohong.

“Jelas kami sudah pergi. Kami malu, Her. Gara-gara tidak ada kamu, penampilan anak-anak tidak seperti yang diharapkan. Hancur. Jadi buat apa kami tunggu lama-lama di sana.”

“Tapi, Yen,,,,,,.”

“Tidak ada tapi tapi. Sekarang, kamu harus minta maaf pada teman-temanmu itu. Aku pikir mereka kecewa. Dan kamu, jangan lari seperti ini dong,” lanjut Yeni.

“Iya deh. Aku akan bertemu mereka besok, di kampus. Aku akan minta maaf pada mereka. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah ku lakukan.”

“Bagus. Aku tunggu kabar baiknya.”

“Kalu begitu, malam ini bisa kan aku ke rumahmu?” Aku mencoba merayu.

“Aku sibuk!”

“Loh. Ini kan hari Minggu?!”

“Heri. Di klinikku itu, ada ibu yang akan melahirkan. Aku diberi tugas oleh bidan kepala untuk menjaga dan mengontrol kondisinya hingga si jabang bayi lahir,” terang Yeni, ketus.

“Jadi kapan aku bisa ke rumah?”

“Nanti. Saat aku tidak sibuk. Udah ya. Bye.” Tuttt. Tuttt. Tuttt. Suara telpon diputus. Aku melongok, dengan punggung bersandar pada dinding ruang tamu. Sementara gagang telpon, masih dalam genggaman.

Usai dapat telpon dari Yeni, aku kembali ke kamar, sambil melangkah lunglai. Di situ, ku raih sebatang rokok yang tersimpan di balik kasur, membakarnya, lalu menariknya, cukup dalam. Aku tak habis pikir saja, dengan sikap Yeni berbicara seperti itu padaku. Padahal, dia wanita yang sangat lembut. Yang selalu mendahulukan perasaan orang lain sebelum berbicara. Tapi pagi ini, dia berubah ketus.

Aku sadar. Setelah kejadian malam itu, setelah telpon pagi itu, perlahan-lahan Yeni mulai menunjukkan sikap aneh, tak seperti biasa. Dia jadi sangat sulit diajak bertemu. Jika dihubungi, jika aku meminta waktu luang, dia selalu mengeluarkan alasan-alasan yang terkadang, alasan itu membuat aku harus menelan air ludah. Maaf ya, aku akan mengurus bayi. Maaf ya, aku ada rapat di klinik. Maaf ya, aku harus ikut bidan kepala ke sana sini, dan lain-lain. Yang pada akhirnya, aku mulai jenuh, karena hal itu terus berlangsung hingga tiga minggu lamanya.

Tiba pada suatu hari. Di mana keinginan hati untuk bertemu si buah hati sangat besar. Akibat dorongan rasa rindu yang terus memuncak. Aku pergi ke rumah Yeni, tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Malam ini, adalah malam Senin. Malam sebenarnya Yeni libur dari aktivitas kerja. Aku harap dia ada di rumah, sehingga bisa surprise atas kedatanganku.

Aku tiba di halaman rumah Yeni sekitar pukul.07.30, malam. Setelah mesin sepeda motor ku matikan, bebek besi itu ku parkir di samping teras. Aku tidak bisa menyimpannya tepat di halaman, seperti yang biasa dilakukan. Karena di situ, sudah ada dua buah mobil yang sedang terparkir. Jadinya, aku yang harus mengalah.

Sambil melepas jaket, membenahi rambut, aku segera melangkah menuju pintu rumah yang kondisinya terlihat sedikit menganga. Dengan perasaan tidak sabar, ku dorong pintu itu, lalu mengucap salam. Namun, saat mataku berada di ruang tamu, seketika darahku mendidih. Jantungku berdegub kencang. Hatiku seperti diiris-iris sembilu. Sangat sakit. Suatu pemandangan yang tak seharusnya dilihat.

Ya di ruang tamu itu. Di atas sofa di mana kami biasa bercengkrama, Yeni duduk bersama seorang pria. Posisi mereka sangat dekat. Saking dekatnya, lengan antara satu dan lainnya menempel. Mereka juga terlihat akrab. Bercengkrama, sambil membuka satu persatu album foto, di atas lutut.

Merasa sudah sakit di sini, di dada ini, segera saja aku berpaling dan berlari menuju sepeda motor. “Herii. Herii. Tunggu. Tunggu, Her!!” Yeni berteriak, sembari berlari mengejarku. Tapi aku tak peduli. Aku terus saja melaju meninggalkan rumah itu, membawa hati yang perih.

Di atas jalan, mataku berkaca-kaca. Tanganku tanpa henti memukul-mukul dada. Mulutku terus berceloteh. “Benar-benar tega kamu, Yen. Tega. Jadi ini yang kamu inginkan selama ini?!” ucapku, emosi. Selanjutnya …., prakkk!!!!!

 

…bersambung…

 

 

4 Comments to "Yeni, Oh Yeni (4)"

  1. Jemsyann  19 March, 2016 at 21:46

    Vina : aku juga miris rasanya hahahaha,,

  2. Alvina VB  19 March, 2016 at 21:16

    Hadir James!
    Wah ceritanya kl ini kejadian beneran miris banget dah…

  3. James  17 March, 2016 at 16:59

    Kenthirs oh Kenthirs dimana gerangan ?

  4. J C  17 March, 2016 at 16:31

    Asiiikkk..semakin seru ini cerita…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.