[Di Ujung Samudra] Maafkan Aku yang Telah Jatuh Cinta Padamu

Liana Safitri

 

原谅我已经爱上你…”

“Yuánliàng wŏ yĭjīng ài shàng nĭ…”

Maafkan Aku yang Telah Jatuh Cinta Padamu…

 

YOGYAKARTA, INDONESIA

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di pesawat, Lydia kini duduk di dalam taksi sambil memangku Louis. Seharusnya ia merasa senang karena bisa kembali ke tanah air, melihat negeri kelahirannya lagi. Namun ia tidak tahu apakah kepulangannya akan mendapat sambutan baik dari Pak Yudha dan Bu Yudha. Tian Ya meraih tangan Lydia dan menggenggamnya. Lydia mengangkat kepala menatap Tian Ya.

“Kita akan menghadapinya bersama-sama!”

“Aku tahu…”

“Kalau kau masih lelah, besok saja kita bertemu orangtuamu. Louis juga perlu istirahat.”

“Jadi malam ini kita menginap di hotel?” tanya Lydia.

“Tidak perlu ke hotel!” Tian Ya lalu memberi arahan pada sopir ke mana jalan yang harus dilalui.

Beberapa menit kemudian taksi berhenti di depan sebuah rumah yang membuat Lydia terpana. “Tian Ya, aku nyaris lupa dengan rumah ini… Rumahmu saat kita masih SMP…”

“Bukan hanya rumahku,” Tian Ya meralat sambil tersenyum. “sekarang rumah ini milikmu juga. Selamat datang, Nyonya Lydia! Oh, ya… dan Tuan Muda Louis!”

 

Lydia dan Tian Ya sibuk memilih baju yang akan mereka kenakan untuk mengunjungi Pak Yudha dan Bu Yudha. Mereka ingin memberikan kesan yang terbaik. Mungkin tak dapat memberi pengaruh banyak, namun setidaknya mereka sudah berusaha. Lydia dan Tian Ya juga menyiapkan oleh-oleh yang mereka bawa dari Taiwan. Karena tidak ada mobil, mereka kembali naik taksi. Tidak ada yang berbicara selama dalam perjalanan. Dua puluh menit kemudian, rumah dengan pohon mangga besar di halaman samping sudah terlihat dari jarak beberapa meter. Dulu cabang pohon mangga itu ada yang menjulur ke Kamar Merah Jambu Lydia. Tian Ya pernah menggunakannya untuk masuk ke kamar Lydia secara diam-diam. Saat itulah ciuman pertama mereka terjadi.

Lydia dan Tian Ya sengaja meninggalkan oleh-oleh di dalam taksi dan meminta sopir menunggu. Mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Lalu Lydia melihat ibunya. Bu Yudha sedang berdiri di halaman merawat koleksi tanaman bonsai dalam pot-pot kecil miliknya. Membuang daun-daun kering dan merapikan bagian yang tidak rapi menggunakan gunting. Pemandangan ini membuat Lydia menghentikan langkah. Ia berdiri di luar pagar rumah lama sekali. Louis bergerak-gerak dalam gendongan Lydia. Louis mengeluarkan suara yang membuat Bu Yudha mengangkat kepala. Bu Yudha menajamkan penglihatannya, baru kemudian berjalan keluar pagar dengan tergesa.

Saat mereka berdiri berhadapan dalam jarak dua langkah, Bu Yudha berseru dengan suara bergetar, “Lydia!”

“Ibu!”

Ibu dan anak itu pun saling berpelukan diiringi hujan air mata.

“Maafkan aku, Bu! Maafkan aku! Maafkan aku…”

“Kau sudah pulang… akhirnya kau pulang juga…”

Tian Ya ikut terharu. Ia tahu, selama di Taiwan Lydia berusaha menyembunyikan perasaan rindunya pada keluarga yang ada di Indonesia rapat-rapat. Sering kali Lydia pura-pura tidak peduli. Sekarang kerinduan itu meluap. Tian Ya tidak ingin mengganggu dan hanya menunggu.

“Huaaa!” Tiba-tiba terdengar suara tangis yang lebih nyaring. Itu adalah tangisan Louis, ia terjepit di tengah-tengah saat Lydia berpelukan dengan Bu Yudha. Merasa tidak nyaman digendong mama, Louis minta digendong papa. “Papa! Papa! Papa… Papa… Huaaa…”

Lydia dan Bu Yudha saling melepaskan diri. Bu Yudha baru menyadari keberadaan Louis. Ia menatap Lydia lekat-lekat. “Anak ini…”

“Dia anakku!”

“Papa! Papa! Huaaa…” Louis menangis semakin keras.

Tian Ya mengambil Louis dari gendongan Lydia. “Iya, ini Papa, Sayang! Ini Papa!”

Papa? Mata Bu Yudha terbelalak selebar-lebarnya. Ia mengamati Tian Ya lalu mengamati Louis. Mereka sangat mirip, terlalu mirip! Tidak salah lagi, laki-laki itu adalah ayah dari si anak sekaligus suami Lydia!

Tian Ya maju ke hadapan Bu Yudha. Ia tersenyum dan menyapa, “Ibu!”

Orang Taiwan…

Kalau tidak salah, Franklin memang pernah beberapa kali memberi kabar kalau Lydia sudah menikah. Oya, juga foto-foto bayi yang langsung dihapus Pak Yudha dengan penuh amarah. Ternyata benar, Lydia menikah dengan pria asal Taiwan yang membawanya kabur. Sudah punya anak lagi! Kejutan yang dibawa pulang Lydia terlalu besar, sampai-sampai Bu Yudha kebingungan dan tidak mampu berkata-kata.

“Huhh!” Dengusan keras membuat semua orang menolehkan kepala. Ternyata Pak Yudha sudah sejak tadi berdiri di belakang mereka menyaksikan reuni tersebut. Keadaan mendadak menjadi tegang seperti senar yang ditarik kuat-kuat.

Lydia berjalan ke hadapan Pak Yudha dan memanggil dengan lirih, “Ayah…”

“Apa katamu? Ayah?” ulang Pak Yudha dingin. “Pergi meninggalkan rumah dan memutuskan pernikahan sendiri… apakah kau masih memerlukan seorang ayah?”

Bu Yudha buru-buru berkata, “Ayah, sudahlah! Lydia kan baru pulang…”

Pak Yudha langsung pergi meninggalkan mereka. Lydia menundukkan kepala dalam-dalam. Tian Ya malah sudah bersiap-siap membawa Lydia kembali ke taksi. Hanya Bu Yudha yang setelah menghapus air mata masih mencoba bersikap biasa. Ia memeluk bahu Lydia dengan hangat. “Ah, jangan berdiri di pinggir jalan seperti ini! Ayo kita masuk ke dalam! Ayo!”

Lydia mengikuti ibunya. Tian Ya masih terdiam ragu sampai Bu Yudha melihat padanya lagi. “Kau juga masuk!”

Pak Yudha tidak mau menemui Lydia dan Tian Ya. Jadi di ruang keluarga itu yang menemani mereka hanyalah Bu Yudha. Lydia sangat lega karena ibunya menunjukkan sambutan lebih baik. Louis terus saja menangis. Entah karena menginginkan sesuatu atau merasa dirinya sedang berada di tempat asing. Namun sesungguhnya tangisan Louis berhasil mencairkan suasana karena sekarang Bu Yudha sibuk mencari cara untuk menenangkan anak itu. “Bi Elis! Bi Elis! Bukankah kita punya puding di kulkas? Cepat bawa kemari! Sekalian buah pisang dan apelnya!” Bu Yudha kembali melihat Louis yang meronta dan menjerit-jerit di pangkuan Tian Ya. “Kenapa dia?”

“Tidak apa-apa, Bu. Louis hanya kepanasan dan sedikit mengantuk.” Lydia memberikan botol susu pada Louis.

“Mengantuk? Bawa ke kamarmu saja, Lydia! Tidurkan di sana!”

Tian Ya menyerahkan Louis pada Lydia lalu berkata, “Aku akan mengambil oleh-oleh di taksi.”

Lydia membawa Louis ke Kamar Merah Jambu. Louis tidak mau tidur, tapi ia berhenti menangis setelah Bu Yudha memberikan boneka lumba-lumba milik Lydia. “Sayang sekali di rumah ini tidak ada mainan untuk anak laki-laki…”

“Kamarku sama sekali tidak berubah…” gumam Lydia.

“Ya. Sejak kau pergi kakakmu selalu membersihkan kamar ini. Kadang-kadang tidur di sini.” Bu Yudha bertanya pada Lydia, “Kau bertemu Franklin, kan? Kenapa dia tidak pulang bersamamu? Bukankah urusan pekerjaannya sudah selesai?”

“Kakak…” Lydia kebingungan. Bagaimana kalau Pak Yudha dan Bu Yudha tahu bahwa Franklin berteman akrab dengan seorang gadis Taiwan? Mungkinkah akan menimbulkan masalah lain? “Kakak masih ingin jalan-jalan. Jadi dia menyuruhku pulang lebih dulu.”

Bu Yudha mengangguk-anggukkan kepala. Lalu ia mulai menceritakan apa yang terjadi semenjak Lydia pergi dari rumah. “Setelah tahu kau melarikan diri dengan orang Taiwan itu…”

“Namanya Tian Ya, Bu! Tian Ya!”

“Ah, iya! Tian Ya! Setelah kau melarikan diri dengan Tian Ya, ayahmu marah sekali. Dia berkata tidak mau memedulikanmu lagi. Tak lama kemudian Franklin ditugaskan pergi ke Taiwan. Franklin terang-terangan berkata pada ayahmu kalau dia akan menggunakan kesempatan ini untuk mencarimu, siapa tahu bisa membawamu pulang. Ayahmu diam saja. Kukira sebenarnya dia sudah memaafkanmu dan menginginkan kau pulang, tapi terlalu gengsi mengakuinya! Satu bulan kemudian Franklin memberi kabar kau akan menikah dengan Tian Ya. Franklin mengundang aku dan ayahmu. Jika kami tidak datang maka dia sendiri yang akan menjadi walimu. Kemarahan ayahmu kembali tersulut. Ayahmu melarangku menghadiri pesta pernikahan kalian, bahkan tidak mau menerima telepon dari Franklin selama beberapa waktu. Sampai akhirnya kau pulang…” Bu Yudha mengakhiri kalimat dengan satu tarikan napas panjang.

“Bu…” Lydia menggigit bibir. “Tapi Ibu… merestui pernikahanku dengan Tian Ya, kan? Ibu sudah tidak menentang kami lagi, kan?”

Bu Yudha tak segera menjawab. Ia mengalihkan pandangan pada Louis yang sedang duduk di lantai melempar-lempar boneka. “Mau bagaimana lagi?”

Lydia mengulurkan tangan memeluk ibunya dengan penuh kasih. “Terima kasih, Bu!”

Bu Yudha menahan Lydia dan Tian Ya bersama anak mereka untuk tetap tinggal di rumah itu. Tidak peduli meski Pak Yudha tidak mau berbicara dengan mereka. “Jangan pedulikan ayahmu! Dia mau bicara apa, biarkan saja! Tidak usah ditanggapi!”

Malam pertama di Indonesia, Lydia, Tian Ya, dan Louis berbaring di atas kasur warna merah jambu. Keempat sisi dinding berwarna merah jambu, lantai ditutupi warna merah jambu, bahkan semua barang-barang di kamar itu berwarna merah jambu. “Cat dan dekorasi kamar harus diubah. Louis anak laki-laki, tidak cocok dengan warna merah jambu!” kata Tian Ya.

“Ini kan kamarku, jangan diubah!” larang Lydia. “Kita bisa membeli banyak mainan untuk anak laki-laki lalu menaruhnya di sini. Tidak ada masalah dengan cat dan dekorasi. Louis tidak akan peduli!”

Tian Ya menatap Lydia lekat-lekat lalu berkata, “Benar juga. Biarkan kamar ini tetap menjadi Kamar Merah Jambu. Sebentar lagi kan, Louis akan punya adik perempuan!”

“Apa sih, maksudmu?”

Tian Ya tertawa. “Bukankah itu juga yang diharapkan kakakmu?”

 

“Maaf Ayah… tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Aku sedang mengejar gadis Taiwan!” Kemudian Franklin mengirimkan foto-fotonya bersama Fei Yang kepada Pak Yudha. Foto saat Franklin dan Fei Yang belajar bersama, saat menemani Fei Yang bermain piano, saat Franklin minum teh dan makan di rumah Fei Yang… Pak Yudha mengacung-ngacungkan poselnya ke hadapan sang istri.

“Rupanya Franklin sudah ketularan Lydia! Dia bilang sedang mengejar gadis Taiwan! Kenapa anak-anak kita jadi begini?”

“Kita tidak bisa selalu mengatur atau mendikte Franklin dan Lydia! Mereka sudah dewasa, biarkan mereka menentukan pilihannya sendiri. Apalagi Franklin hanya… anak angkat. Aku tidak bermaksud membeda-bedakan, tapi tanggung jawab kita padanya selesai setelah Franklin dewasa,” kata Bu Yudha.

“Aku sungguh tidak mengerti! Tadinya aku ingin Lydia menikah dengan Franklin, tapi mereka malah sama-sama menyukai orang Taiwan! Si Tian-tian itu, mengapa dia menikahi Lydia? Memangnya perempuan di Taiwan sudah habis? Lalu sekarang pemain piano ini… memangnya di Taiwan tidak ada laki-laki lagi, sampai dia mengganggu Franklin? Anak-anak zaman sekarang memang aneh, apa-apa sukanya dari luar negeri, apa-apa sukanya barang impor! Memilih pasangan pun harus dari luar negeri, pasangan impor!” Saking kesalnya dengan Tian Ya, mengingat nama menantunya pun tidak sudi. Bicaranya semakin lama semakin melantur.

“Marahlah sesukamu! Tapi kalau kau mempersulit Franklin, kali ini aku akan membelanya! Aku tidak mau kehilangan anak lagi!”

Lydia dan Tian Ya mendengarkan pertengkaran Pak Yudha dan Bu Yudha dari dalam kamar. Tapi yang bisa ditangkap hanya beberapa kata seperti “Franklin”, “Lydia”, “gadis Taiwan” dan “orang Taiwan”. Lydia berbisik pada Tian Ya, “Mereka sedang membicarakan kakak… Sepertinya kakak sudah memberitahu ayah dan ibu kalau dia menyukai orang Taiwan. Ayah pasti marah besar…”

“Kita jangan keluar kamar dulu,” ujar Tian Ya.

Untunglah pertengkaran itu tidak sampai berlarut-larut. Kata-kata Bu Yudha bahwa Franklin hanya anak angkat membuat Pak Yudha sadar. Bagaimanapun ia tidak bisa berbuat banyak jika Franklin memutuskan untuk menjalin hubungan dengan gadis Taiwan.

Pak Yudha masih tidak mau menyapa Lydia dan Tian Ya, juga tidak mau memandang Louis sedikit pun. Sangat menyakitkan, tentu saja. Bu Yudha berkali-kali membesarkan hati Lydia dan Tian Ya. “Kau tahu tabiat ayahmu memang keras. Tunggu sampai kakakmu pulang dan berbicara dengannya, ayahmu pasti berubah.”

Siang itu Lydia dan Tian Ya akan pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari.

“Sebaiknya kita naik taksi atau naik bus?” tanya Tian Ya.

“Sebentar!” Lydia berlari ke sebuah ruangan yang sudah lama tidak dimasukinya. Ruangan yang paling Lydia sukai di rumah ini setelah Kamar Merah Jambu. Ruangan paling akrab dan hangat yang menjadi tempat perlindungan Lydia dari berbagai masalah selama bertahun-tahun. Kamar Franklin. Kamar yang nyaris menjadi kamarnya jika Lydia tidak bersikeras menolak. Dan Franklin juga tidak pernah memaksa. Oleh karena itu kenangan Lydia terhadap kamar ini masih terasa indah sampai sekarang. Lydia bersandar di pintu. Ia seakan masih dapat mencium bau tubuh Franklin dan merasakan kehadirannya. Lydia membuka laci meja belajar Franklin pada susunan paling atas. Kunci motor Franklin ada di sana. Lydia menarik napas dalam-dalam. Letak barang-barang Franklin di kamar itu tidak ada yang berubah. Dulu Lydia sering merapikan kamar Franklin, jadi ia paling hafal di mana letak barang-barang Franklin.

Lydia menggenggam kunci motor di tangannya lalu menelepon Franklin. “Kakak!”

“Halo! Lydia? Ada apa? Kalian sudah sampai di Indonesia, kan?”

“Sudah. Apakah Kakak sudah bertemu Fei Yang?”

“Belum. Aku di rumah bibinya sekarang. Ada Fei Xiang, tapi Fei Yang sedang pergi.”

“Baiklah, Kakak! Aku percaya kalian pasti bisa bersama!”

Sebentar kemudian Franklin bertanya waswas, “Bagaimana dengan ayah dan ibu?”

“Bagaimana apanya? Tentu saja ayah marah sekali setelah kau mengiriminya foto-foto bersama Fei Yang!”

“Maksudku, apakah ayah dan ibu mempersulitmu? Apa mereka mau menerima Louis?”

“Mereka sangat terkejut setelah melihat Louis. Ayah tidak mau berbicara denganku dan Tian Ya. Tapi ibu lebih baik. Dia tidak menentang kami lagi, bahkan sering mengajak Louis jalan-jalan. Ibu juga menyuruh kami tinggal di sini dan berjanji akan membujuk ayah pelan-pelan. Hanya ayah yang dari hari ke hari tidak menunjukkan perubahan,” Lydia mengeluh.

Franklin lega mendengarnya. “Paling tidak ayah tidak mengusir kalian! Itu sudah bagus! Apalagi sekarang ibu berada di pihak kalian. Kau tidak perlu mencemaskan masalahku dan Fei Yang. Setelah pulang nanti aku sendiri yang akan bicara dengan ayah dan ibu.”

Spontan Lydia berkata, “Bawa pulang saja Fei Yang ke Indonesia bersamamu!”

“Kau ini! Orangnya saja masih belum ketemu, kok! Aku juga masih belum tahu dia mau denganku atau tidak!”

“Kakak, Fei Yang itu menyukaimu sejak dulu!”

“Sudah, sudah!” Tidak ingin menanggapi pembicaraan seputar Fei Yang, Franklin bertanya, “Jadi, untuk apa kau meneleponku?”

“Kak, aku pinjam motormu, ya!”

“Motor?” Franklin terdengar bingung.

“Motormu! Aku dan Tian Ya memerlukan kendaraan untuk bepergian!”

“Oh… ya, ya! Pakai saja sesuka kalian!”

“Kak…”

“Hmmm?”

“Aku senang kau menjadi kakakku…” Saat mengucapkan kalimat ini tenggorokan Lydia seperti tersumbat batu besar. Sakit sekali.

“Aku juga senang kau menjadi adikku!” Franklin menjawab dengan suara bergetar. “Tidak ada lagi yang ingin kaukatakan? Kalau sudah tutup teleponnya! Ini sambungan internasional, bisa habis pulsamu nanti! Lain kali kalau mau bicara denganku kau kirim pesan dulu, biar aku saja yang menelepon!”

Nun jauh di sana, Franklin menutup telepon sambil tersenyum penuh haru.

Louis terpaksa ditinggal di rumah bersama Bu Yudha. Anak itu berbaring di sofa sambil minum susu dari botol, kepalanya bersandar di pangkuan sang nenek. Mengira anak itu sudah mau tidur, Bu Yudha mengusap-usap punggungnya sambil bersenandung. Matanya menatap ke tempat lain, teringat waktu Lydia masih bayi dulu. Susu sudah habis. Louis mengulurkan botol pada Bu Yudha sambil mengoceh tidak jelas, “Uwawawa… wawa…”

Karena sedang melamun, Bu Yudha tidak memperhatikan. Louis lalu melempar botol susunya. Bu Yudha tersentak dan menoleh ke arah Louis, “Oh, susunya sudah habis? Tunggu sebentar ya, Nenek akan membuatkan susu lagi!” Bu Yudha memungut botol di lantai lalu pergi ke dapur.

Louis lalu merosot turun dari sofa. Pintu ruang tamu terbuka lebar, anak itu berjalan tertatih-tatih ke luar rumah. Ternyata Pak Yudha sedang duduk santai di beranda sambil membuka internet melalui ponsel. Wajahnya serius sekali. Louis berdiri diam di depan Pak Yudha, menatapnya tak berkedip. Lama sekali Pak Yudha baru sadar jika sedang diperhatikan. Ia mengangkat kepala sebentar dari layar ponsel, balas menatap Louis dengan dahi berkerut. “Kenapa kau ada di sini? Masuk sana dengan nenekmu!” Kemudian Pak Yudha kembali asyik dengan ponselnya. Namun Louis belum juga pergi. Anak itu malah semakin mendekati Pak Yudha. Louis mengamati Pak Yudha sampai memiringkan kepala, entah merasa heran dengan ekspresinya yang super serius, atau tertarik dengan ponsel yang dipegangnya. Pak Yudha melirik Louis lagi, ia merasa risih sekaligus geram, “Ada apa?”

Kenapa sih anak ini? Dia melihatku seperti makluk aneh saja!

“Masuk sana, main dengan nenekmu! Jangan menggangguku!”

Louis malah berteriak nyaring, “Waaaa…!” kemudian anak itu berlari ke luar halaman.

Pak Yudha terkejut. Ia berseru, “Hei… hei… mau ke mana? Aku kan, menyuruhmu masuk ke rumah, bukannya keluar rumah!” Louis tidak mau mendengar. Anak itu berlari semakin cepat keluar pagar menuju jalan umum sambil tertawa-tawa. Pak Yudha panik. Dan tampaklah pemandangan menggelikan, seorang pria setengah baya dengan gerakan terbatas mengejar bayi laki-laki yang sedang aktif-aktifnya. Akhirnya Pak Yudha berhasil menangkap dan menggendong Louis. “Jangan main di jalan, itu berbahaya!” katanya dengan napas turun naik kelelahan.

 

Pulang ke rumah, Lydia dan Tian Ya disambut oleh Bu Yudha yang sedang kebingungan. Wanita itu baru saja selesai membuat susu, tapi tidak menemukan Louis di ruang tamu. “Louis! Louis! Kau di mana, Sayang? Ini susunya sudah Nenek buatkan!”

“Ada apa, Bu?” tanya Lydia.

“Tadi aku meninggalkan Louis di ruang tamu untuk membuat susu, tapi sekarang dia tidak ada!” Bu Yudha mulai ketakutan. “Jangan-jangan dia lari keluar…”

“Tapi kami tidak melihat Louis di halaman,” kata Tian Ya.

Semua orang mulai mencari sambil memanggil-manggil, “Louis! Louis! Kau di mana?”

Tak lama kemudian Lydia menemukan ayahnya ada di belakang rumah sambil menggendong Louis. Pemandangan ini tampak begitu ajaib sampai membuatnya terpana. Lydia buru-buru menarik Tian Ya. “Tian Ya! Kemari!”

Tian Ya juga menatap Pak Yudha dan Louis tanpa berkedip. “Bagaimana bisa begitu?”

Namun “pemandangan ajaib” tersebut tak berlangsung lama karena tiba-tiba Pak Yudha mengibaskan salah satu tangannya, “Eh… apa ini? Kok hangat? Louis, kau mengompol, ya?”

Louis hanya menjawab dengan ocehan, “Uwawawa… wah… wah…”

Ketika akan masuk rumah, Pak Yudha berpapasan dengan Lydia dan Tian Ya di depan pintu. Ia langsung menyerahkan Louis kepada Lydia kemudian membentak galak sekali, “Ke mana saja kalian? Kalian sudah punya anak, jangan pergi seenaknya begitu!”

Ompol membawa hikmah. Barangkali itulah istilah yang cocok untuk menggambarkan apa yang terjadi dengan Pak Yudha. Setelah diompoli Louis, ia menjadi dekat dengan sang cucu. Mau menggendongnya dan mengajaknya bermain, meski tidak sesering Bu Yudha. Pak Yudha juga sudah mau berbicara dengan Lydia dan Tian Ya. Caranya mengajak bicara memang tidak dengan nada yang ramah atau obrolan hangat dari hati ke hati. Lebih sering sambil marah dan melotot.

“Kenapa pergi tidak memakai jaket? Anakmu bisa masuk angin!”

“Mandikan Louis dengan air hangat, jangan dengan air dingin!”

“Lydia, jangan memberinya makanan yang banyak mengandung pengawet dan pewarna, itu tidak bagus! Tidak sehat!”

“Tian-tian, eh… Tian Ya, kenapa kau membelikan mainan seperti ini? Louis sering memasukkan mainan ke mulut, kalau diberi mainan yang terlalu kecil bisa-bisa dia menelannya! Kau harus memilih mainan dengan teliti!”

Siapa yang tidak sebal mendengar omelan-omelan seperti itu setiap hari? Tapi Lydia, Tian Ya, dan Bu Yudha diam-diam merasa gembira. Sikap Pak Yudha yang cerewet justru menunjukkan kepedulian dan perhatiannya kepada Louis. Lydia jadi teringat dengan kata-kata yang diucapkan Franklin.

Anak ini punya kekuatan lebih besar daripada aku! Percayakah, kau?

Suatu saat Pak Yudha bertanya pada Tian Ya, “Apakah kau mencintai Lydia?”

“Bagaimana aku tidak mencintainya? Dia membangunkanku setiap pagi agar jangan sampai terlambat pergi ke kantor. Dia mengingatkanku untuk berhati-hati saat mengemudi. Dia selalu menelepon jika aku berada di luar rumah untuk menanyakan keadaanku. Dia akan menungguku dengan secangkir kopi hangat yang sangat aku sukai, tak peduli betapa malamnya aku pulang. Dia akan tersenyum di hadapanku meski sesungguhnya hatinya sedang menangis. Dia akan berkata tidak apa-apa, walau sebenarnya ada sesuatu yang sedang dikhawatirkan. Dia tahu sikapku sangat buruk, tapi selalu menahan diri menghadapinya. Dia juga tahu ada orang lain yang lebih baik daripada aku, tapi dia tetap memilihku! Dia telah melahirkan anakku!” Tian Ya menandaskan. “Aku akan menghabiskan seluruh hidupku bersamanya!”

Pak Yudha juga menanyakan hal yang sama pada Lydia secara terpisah.

“Bagaimana aku tidak mencintainya? Dia selalu menggandeng tanganku saat kami berjalan bersama. Dia tidak pernah lupa untuk berpamitan setiap akan pergi. Dia sering mengingatkanku agar jangan lupa makan. Dia membelikanku sesuatu setiap pulang dari kerja. Dia selalu menuruti permintaanku. Dia selalu memelukku jika aku sedih. Dia mengusap air mataku jika aku menangis. Dia menciumku setiap hari. Dia tidak akan membiarkan seorang pun menggangguku. Dia selalu bisa menenangkanku kalau aku merasa takut. Dia menciptakan rasa aman di sekelilingku. Dia tahu aku sangat merepotkan, tapi tidak pernah mengeluh. Dia sudah memberiku seorang anak! Aku akan memberikan seluruh hidupku untuknya!”

Barulah kemudian Pak Yudha benar-benar menerima Lydia dan Tian Ya. Ia masih tidak banyak bicara, tapi tidak lagi menunjukkan wajah bermusuhan. Semua orang seperti terlepas dari beban berat. Akhirnya mereka merasakan suasana rumah yang sesungguhnya, keluarga yang sesungguhnya. Ini juga merupakan saat di mana hubungan Lydia dengan kedua orangtuanya sendiri menjadi lebih dekat. Jauh lebih dekat daripada ketika Lydia masih menjadi anak tunggal, atau setelah Franklin hadir dalam keluarga mereka. Karena Louis…

Lydia dan Tian Ya ingin pergi ke tempat-tempat yang agak jauh dari rumah dengan mengajak Louis. Mereka tidak mungkin menggunakan motor Franklin, jadi Tian Ya memberanikan diri meminjam mobil pada mertuanya. “Ayah, bolehkah aku… meminjam mobil untuk jalan-jalan bersama Lydia dan Louis?”

Pak Yudha melirik Tian Ya sekilas. Di luar dugaan, ia langsung memberikan kunci mobil. “Jangan pulang terlalu malam!”

Tian Ya gembira sekali. “Aku tahu! Terima kasih, Ayah!”

Sejak kembali ke Indonesia satu minggu yang lalu, baru sekarang Lydia dan Tian Ya punya kesempatan mengunjungi teman-teman lama. Mereka memang sengaja tidak mengabarkan tentang rencana kunjungan ini kepada siapa pun. Tidak ada yang tahu jika Lydia dan Tian Ya berada di tanah air, sehingga kemunculan mereka ditambah dengan satu orang bayi membuat semuanya terkejut.

Lydia dan Tian Ya pergi ke Kaliurang lebih dulu. Sesudah Kakek Smith meninggal, ayah dan ibu Brenda pindah ke vila untuk menemani dan merawat Nenek Smith, karena orang tua itu bersikeras tidak mau meninggalkan tempat yang menyimpan banyak kenangan indah bersama suaminya. Nenek Smith senang mendapat kunjungan dari Lydia dan Tian Ya. “Jalan yang harus kalian lalui masih panjang. Apa pun yang terjadi kalian harus saling berpegangan tangan, jangan dilepaskan!”

Lydia dan Tian Ya juga datang ke tempat kursus bahasa asing SKY School. Brenda masih mengajar di sana bersama Johnny, Alice, Victor dan beberapa guru baru. James, orang yang dulu dimasukkan Franklin ke tempat kursus sebagai mata-mata, kini menjadi guru bahasa Mandarin. Pria itu menikah dengan Eugene dan mendapatkan seorang anak perempuan yang diberi nama Jeanne. Usia Jeanne setahun lebih tua daripada Louis. Di ruang istirahat SKY School, sementara para orang dewasa melepas rindu dengan mengobrol selama berjam-jam, Louis dan Jeanne dibiarkan bermain lego di atas karpet.

Lydia memandang kedua anak batita itu sambil tersenyum. “Senang sekali melihat Louis dan Jeanne bermain bersama, tidak bertengkar atau berebut.” Lalu ia berkata pada Eugene, “Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka?”

Mendengar ini Tian Ya langsung menyenggol Lydia. “Hati-hati, jangan sembarangan menjodoh-jodohkan! Memangnya kau mau anak kita mengulang sejarah?”

“Mengulang sejarah?” Sesaat kemudian suara tawa bergema ke seluruh ruangan.

Johnny bertanya terkejut, “Jadi Franklin belum pulang karena mengejar gadis Taiwan? Dan orang itu mantan kekasih Tian Ya? Kalian memang sepakat untuk bertukar pasangan atau bagaimana, sih?”

“Ya… anggap saja begitu,” ujar Tian Ya cuek.

“Wah, benar-benar! Kalian membawa virus menular!”

“Jangan menertawakan kakakku! Kau sendiri bagaimana? Kami baru saja bertemu nenekmu dan dia mengatakan ingin menimang cicit darimu!” seru Lydia.

“Aih! Kenapa jadi aku yang kena sasaran?” Brenda mengalihkan pembicaraan, “Lalu tempat kursus ini bagaimana?”

“Sebenarnya aku dan papa bermaksud memberikan tempat kursus pada Franklin. Meski Franklin sudah setuju, tapi masih sebatas pembicaraan. Realisasinya tetap harus menunggu sampai dia pulang ke Indonesia,” kata Tian Ya. “Mungkin nanti Franklin tidak datang sendiri dan sudah memiliki status baru.”

“Kalian yakin?” tanya Brenda.

“Itulah yang kami harapkan…”

“Maksudnya?” Victor masih tidak paham ke mana arah pembicaraan mereka.

Alice mendorong kepala Victor. “Tentu saja satu pesta pernikahan lagi!”

 

“Tidak ada bintang…” Lydia mengeluh menatap langit malam yang berawan.

Louis yang sudah lelah bermain mengulurkan tangan pada Lydia, minta dipangku. “Ma…”

Tian Ya mengangkat Louis ke pangkuannya lebih dulu dan mencium anak itu. “Tidak usah mencari bintang lagi! Bintangnya ada di sini! Louis adalah Bintang Kecil kita!”

“Bintang Kecil yang selalu bersinar di hati kita!” Lydia membelai kepala Louis dengan penuh kasih. Kemudian ia berkata pada Tian Ya, “Ada satu hal yang ingin kulakukan. Aku sudah memikirkannya sejak lama…”

“Apa?”

“Aku ingin menuliskan kisah kita menjadi sebuah buku. Kisah cinta Lydia dan Li Tian Ya!”

“Aku setuju! Kelak kisah itu bisa diwariskan kepada anak cucu kita. Walaupun kita sudah tidak ada, mereka masih bisa mengenang kita dengan membaca bukumu. Tapi…” Tian Ya melirik Lydia dengan sedikit waspada, “kau hanya boleh menuliskan yang baik-baik saja!”

“Tapi itu namanya tidak jujur!”

“Apa kau mau menyebarkan keburukan suamimu sendiri?”

Lydia tidak kehilangan akal. “Lebih dari sepuluh tahun yang lalu kau belum menjadi suamiku. Jadi aku bebas menuliskan apa saja yang terjadi sampai batas tanggal pernikahan kita!”

“Aiya!” Tian Ya menepuk dahi. “Ternyata menikah dengan penulis sangat berbahaya!”

Pagi harinya Lydia justru sama sekali tidak bisa tertawa. Bangun tidur perutnya terasa tidak enak. Hampir sebulan belakangan Lydia seperti itu. Lydia mengambil sesuatu dari dalam tas yang ia beli kemarin sore lalu masuk ke kamar mandi.

Tian Ya masih berbaring di tempat tidur sambil menonton berita di televisi. Tapi sejak tadi diam-diam mengawasi gerak-gerik istrinya yang tampak aneh. “Lydia, apa yang kaubawa itu?”

“Bukan apa-apa!” Lydia menyembunyikan tangannya dari pandangan Tian Ya, kemudian buru-buru menutup pintu kamar mandi.

Tian Ya bergumam heran. “Kenapa sih, dia?”

Beberapa menit kemudian Lydia berteriak histeris, “Aaaaa…! Tian Ya!”

Tian Ya terkejut sekali. Ia segera bangkit, berlari menerobos kamar mandi, dan bertanya cemas, “Ada apa? Kenapa?”

“Aku hamil!”

“Benarkah?”

“Lihat! Positif!”

“Yeah!” Terdengar suara teriakan lain yang lebih bersemangat sekaligus lebih bergembira. “Aku harap kali ini anak perempuan!”

Suara berisik yang ditimbulkan Lydia dan Tian Ya membuat tidur Louis terganggu. Anak itu bangun kemudian menangis keras-keras, “Huaaa!”

Di dinding kamar, tampaklah dua buah t-shirt warna pink dipajang dalam satu bingkai kaca. Pada t-shirt berukuran besar terdapat tulisan I ♥ U yang di belakangnya ditambah nama “Lydia”. Sedangkan pada t-shirt dengan ukuran lebih kecil terdapat tulisan I ♥ U yang di belakangnya ditambah nama “Leon”.

 

Taman Nasional Kenting

Fei Xiang menyarankan Franklin datang ke tempat ini untuk melepaskan beban di hati dan menyegarkan pikiran. Franklin menuruti saran tersebut. Dari pagi sampai siang ia sudah melihat-lihat hutan Kenting, Museum Nasional Biologi Laut dan Aquarium, Taman Alam Sheding, mercusuar Eluanbi dan Chufor, tempat api menyala di celah bebatuan karena semburan gas alam. Namun yang paling menarik baginya tetap saja pantai. Franklin melepas sepatu dan kaus kaki, membiarkan kaki telanjangnya tenggelam dalam pasir, kemudian diterpa pasang surut ombak berkali-kali. Dulu setelah menghadiri pesta pernikahan Lydia dan Tian Ya, untuk menghindari rasa sakit, pemuda itu juga pergi ke pantai terdekat dan melakukan hal serupa. Franklin memang menyukai laut, sedangkan Lydia menyukai gunung. Itu adalah satu-satunya perbedaan antara Lydia dengan Franklin.

Franklin meraba pergelangan tangan kirinya, tempat jam tangan pemberian Lydia selalu disematkan. Tidak tahu bagaimana, tiba-tiba jam tangan tersebut jatuh. Franklin menundukkan kepala, matanya berkeliaran mencari ke sana kemari. Jam tangan itu tersembul di balik pasir putih, tak jauh dari kaki Franklin. Namun saat Franklin membungkuk akan meraihnya, ombak tak berperasaan datang bergulung-gulung, membawa jam tangan itu ke tengah laut. Kejadiannya demikian cepat sehingga Franklin hanya bisa terpana sebelum menyadari apa yang terjadi. Jam tangan dari Lydia hanyut! Tanpa memedulikan apa pun lagi Franklin segera berlari mengejar. Sampai batas tinggi air laut mencapai leher, ia tidak dapat menemukan jam tangan itu. Franklin masih berdiri di tengah laut seperti orang tolol dengan hanya bagian kepala yang terlihat. Setengah dari jiwanya seolah telah diambil. Sekali lagi ombak datang menghantam Franklin, air laut masuk ke mata dan menimbulkan rasa pedih. Franklin tersadar dan kembali ke pantai dengan lemas.

Karena seluruh tubuhnya basah kuyup, Franklin mencari toilet untuk berganti pakaian. Ia membuka tas untuk mengambil baju, tapi justru menemukan benda lain. Jam tangan pemberian Fei Yang.

Di sebuah kios kecil Franklin membeli minuman ringan. Tenggorokannya kering karena tanpa sengaja menelan air garam saat masuk ke laut tadi. Ia duduk di sebuah kursi, membuka tutup kaleng dan langsung meminumnya.

“Sendirian saja?” tanya laki-laki tua pemilik kios.

“Ya.” Franklin mengamati laki-laki tua di hadapannya ini. Sebagian rambutnya sudah beruban. Usianya barangkali tak jauh beda dengan Pak Yudha, sekitar lima puluh tahunan. Franklin jadi ingat rumah. Sejak tadi pagi tak ada seorang pun yang mengajaknya bicara. Sekali ada yang mengajak bicara, pertanyaannya selalu sama—Sendirian saja? Apakah kau datang sendiri? Mengapa tidak mengajak teman? Franklin sering ditodong dengan pertanyaan demikian semenjak tiba di Taiwan. Ia jadi kesal. Jika seseorang ingin bepergian, apakah harus bersama teman? Ada masalah apa dengan “sendirian”, sehingga seolah-olah kata itu terdengar sangat aneh di telinga sebagian orang?

“Beberapa hari ini juga ada seorang gadis yang datang kemari sendirian. Seperti dirimu…” ujar laki-laki tua itu.

“Oya?” dengan sikap acuh tak acuh Franklin kembali meneguk minumannya.

Laki-laki tua itu mengangguk. “Seorang gadis yang cantik. Dia sering membeli makanan dan minuman di tempatku. Gadis itu berkata jika sebenarnya dia sangat menyukai laut tapi selalu merasa sedih saat melihat laut… Waktu kutanya kenapa, gadis itu tidak menjawab.”

Franklin tersedak.

Sekarang aku selalu merasa sedih saat melihat laut, padahal sebelumnya aku sangat menyukai laut…

“Paman!” Franklin mendadak berdiri. “Gadis yang Anda ceritakan itu, kapan terakhir kali dia datang kemari?”

“Kemarin sore.”

Tidak ada yang tahu apakah “gadis yang sangat menyukai laut namun selalu sedih saat melihat laut” itu akan datang lagi. Namun Franklin membiarkan sepercik harapan menyala di hatinya. Franklin meninggalkan kios dan kembali ke tepi pantai. Ada orang yang sedang berjemur, berenang, bermain pasir, duduk-duduk di tikar dan berfoto. Para pengunjung membentuk kelompok-kelompok sendiri karena mereka datang bersama keluarga atau teman. Laki-laki dan perempuan berdua saja pastilah pasangan kekasih atau suami istri. Yang sendirian adalah orang kesepian, Franklin menyimpulkan dalam hati. Mata Franklin menyapu seluruh pantai, mencari-cari apakah ada orang kesepian seperti dirinya di tempat seramai ini.

Franklin melihat seorang gadis sedang berjalan selangkah demi selangkah ke tengah laut. Apakah gadis itu akan bunuh diri karena kesepian? Dirinya saja lebih sayang nyawa daripada jam tangan, sekarang malah ada orang yang sengaja mau membuang nyawa karena tak tahan dengan kesendirian! Franklin berlari ke arah gadis itu lalu menarik tangannya. Gadis itu berbalik. Dan… oh, sungguh Franklin tidak tahu harus menangis atau tertawa! Orang yang dihampirinya adalah “gadis yang sangat menyukai laut namun selalu sedih saat melihat laut”!

Waktu seakan berhenti, deburan ombak menjadi sunyi, angin tak berembus lagi.

Franklin berseru dengan napas terengah-engah, “Jangan, Fei Yang!”

“Franklin! Kenapa kau ada di sini?” Sesaat kemudian Fei Yang mulai paham. Ia tertawa sumbang. “Kau mengira aku mau bunuh diri? Aku tidak sebodoh itu!”

“Lalu kenapa kau masuk ke laut?”

“Bukan urusanmu!” Fei Yang menjauhi Franklin.

Franklin kembali menangkap tangan Fei Yang. “Bukan urusanmu! Tidak usah mengurusiku! Urus saja dirimu sendiri!” Ditatapnya Fei Yang dengan tajam, “Kau tidak bisa lagi mengucapkan kalimat-kalimat itu padaku!”

“Mengapa tidak bisa?”

Tanpa merasa perlu menjawab, dengan gerakan cepat Franklin memeluk dan mencium Fei Yang.

Fei Yang terkejut setengah mati, menyentuh bibirnya dengan ujung jarinya sembari menatap Franklin lekat-lekat. Gadis itu pun bertanya seperti orang bodoh, “Siapa aku?”

“Fei Yang!”

Tiba-tiba Fei Yang marah. “Apa yang kaulakukan? Kau mau mempermainkanku atau melecehkanku? Waktu bermain putar botol kau menolak hukuman berciuman, tapi sekarang kau menciumku seenaknya! Dasar licik!”

“Maaf… aku tidak bermaksud seperti itu…”

“Maaf katamu? Apakah penghinaan seperti ini bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf?” sentak Fei Yang.

“Maaf…” Franklin menambahkan satu kalimat lagi dengan terbata-bata, “Yuánliàng wŏ yĭjīng ài shàng nĭ…” (原谅我已经爱上你…—Maafkan aku yang telah jatuh cinta padamu…)

sorry-i-love-you

Aku dan kau sama-sama menyukai laut. Apakah kita dapat bersama?

“Kau… bukankah kau menyukai Lydia?”

“Lydia adalah adikku. Mana ada seorang kakak yang menyukai adiknya sendiri?”

“Bagimu, aku hanyalah seorang teman dan guru yang baik…”

Kemudian Franklin mengembalikan kata-kata yang pernah diucapkan Fei Yang padanya, “Aku belajar bahasa Mandarin karena kau adalah orang Taiwan! Seandainya kau orang Jepang, maka aku akan belajar bahasa Jepang! Aku ingin mengenalmu, aku ingin kita bisa menjalin hubungan tanpa kesalahpahaman! Aku berbohong ketika mengatakan bahwa kau adalah teman dan guru yang baik! Karena sesungguhnya aku menganggapmu lebih dari itu! Tapi saat itu aku tidak mengatakannya karena belum memahami perasaanku yang sebenarnya. Dan pada waktu aku menolak hukuman berciuman dalam permainan putar botol, alasan utamaku adalah kau! Karena aku jatuh cinta padamu! Karena aku suka padamu!”

Biasanya orang belajar bahasa asing dengan tujuan agar mudah mendapatkan pekerjaan. Tapi Fei Yang maupun Franklin mememiliki alasan yang berbeda. Mereka belajar bahasa asing dengan motivasi agar mudah mendapatkan pasangan! Fei Yang dan Franklin juga yakin bahwa Lydia dan Tian Ya belajar bahasa Mandarin serta bahasa Indonesia karena digerakkan oleh cinta!

SorryILoveYou

Seperti baru terkena hipnotis, Fei Yang menatap Franklin tanpa berkedip. Ia jadi gugup lalu menundukkan kepala. Masih merasa tidak percaya, Fei Yang berucap lirih, “Kalau benar kau menyukaiku… seharusnya kau memberiku sepasang sepatu bunga lili juga. Sama dengan Lydia…”

“Aku baru tahu belakangan… bahwa Lydia menyukai bunga lili bukan hanya karena bunganya. Lebih dari itu, dia menyukai bunga lili karena LILY bisa dijadikan singkatan nama LI tian ya-LYdia…” Franklin tersenyum getir. “Leon, Lydia, Louis… Mereka itu keluarga L! Berani bertaruh, anak kedua Lydia dan Tian Ya nanti namanya juga akan diawali huruf L! Jadi sepatu dengan hiasan bunga lili sama sekali tidak cocok untukmu. Mungkin kita harus mencari bunga yang namanya diawali huruf F? Aku ingin membentuk keluarga F!”

Bunga yang namanya diawali huruf F? Keluarga F?

Fei Yang menunggu apa yang akan dikatakan pemuda itu selanjutnya dengan jantung berdebar.

“Bagaimana kalau bunga flamboyan—flamboyant?” Franklin menatap Fei Yang penuh arti. Sedetik kemudian ia mengibaskan tangan. “Ah, sudahlah! Lupakan saja bunga-bungaan itu! Aku tidak akan memberimu sepatu. Kau tidak membutuhkan sepatu, yang kaubutuhkan adalah sepasang sayap untuk terbang menemukan kebahagiaan. Selama ini kau tidak bisa terbang karena hanya memiliki satu sayap. Sekarang aku datang padamu dengan membawa pasangan sayapnya.” Franklin berdeham dan mulai bernyanyi, Xìngfú xūyào yī shuāng chìbǎng dài wǒ fēi wǎng yǒnggǎn de fāngxiàng…” (幸福需要一双翅膀,带我飞往勇敢的方向…— Kebahagiaan membutuhkan sepasang sayap, yang membuatku berani terbang ke arah tujuan…)

“Berhenti, berhenti! Suaramu sumbang, logatmu juga aneh!” Fei Yang berusaha menahan tawa. “Kau sudah mendengarkan lagu itu?”

“Sudah!” Franklin mengangguk.

“Jadi, untuk apa kau datang kemari?”

“Mencarimu!”

“…”

“Kita sudah tersesat terlalu lama, berjalan tanpa tujuan. Mencari sesuatu yang kita sendiri tidak tahu apa itu. Hanya karena terlalu sering menoleh ke belakang jadi tidak bisa melihat apa yang ada di depan mata. Setelah berhenti sebentar, barulah dapat melihatnya dengan jelas. Aku harap kali ini aku tidak terlambat lagi…” Franklin mengulurkan tangan pada Fei Yang, “Jangan terbang sendiri, terbanglah bersamaku!” Fei Yang melihat jam pemberiannya melingkar di tangan Franklin. Ia tersenyum lalu menyambut tangan pemuda itu.

Sore hari, saat warna langit berubah menjadi semburat kemerahan oleh matahari yang akan tenggelam, Fei Yang menerbangkan layang-layang bersama Franklin. Layang-layang mereka membumbung tinggi melintasi angkasa, menembus gumpalan awan di atas samudra. Sangat mengagumkan! Fei Yang akhirnya tahu mengapa selama ini ia selalu gagal saat mencoba menerbangkan layang-layang. Karena tidak ada orang yang membantunya.

Papa, lihatlah! Aku sudah bisa menerbangkan layang-layang! Pria yang ada di sampingku sekarang adalah pasangan sayapku. Dia akan membawaku terbang menuju tempat yang penuh dengan kebahagiaan dan cinta…

Kini, gadis yang sangat menyukai laut itu akan selalu merasa gembira saat melihat laut.

 

***

 

Franklin dan Fei Yang duduk bersisian di tepi pantai. Butiran pasir putih mengotori baju dan kaki mereka.

“Franklin, ceritakanlah sebuah dongeng untukku!”

“Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan?”

“Aku tidak suka cerita itu, akhirnya sedih sekali! Aku mau dongeng yang lain…”

“Aku lupa dongeng lain dan tidak bisa menceritakannya kembali kecuali ada bukunya di depanku!” kata Franklin. Sebentar kemudian matanya berkedip, “Tapi aku punya versi lain dari cerita Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan yang berakhir bahagia. Ciptaanku sendiri!”

“Seperti apa ceritanya? Aku mau dengar!”

“Jaka Tarub bertemu dengan seorang dewi dari kahyangan yang sedang mandi di sungai belakang rumahnya. Dia jatuh cinta dan melamar sang dewi menjadi istrinya. Sang dewi yang bernama Nawangwulan itu bersedia menikah dengan Jaka Tarub. Tak lama kemudian mereka mendapatkan seorang anak perempuan yang diberi nama Nawangsih. Nawangwulan lalu pergi ke kahyangan untuk mengabarkan peristiwa membahagiakan ini pada seluruh keluarga dan saudaranya. Namun Nawangwulan dianggap melakukan pelanggaran terhadap hukum langit. Karena keturunan dewa seharusnya tidak boleh menikah dengan manusia biasa. Para dewa menghilangkan seluruh kesaktian Nawangwulan lalu mengusirnya ke bumi, melarang dia kembali ke kahyangan untuk selama-lamanya. Nawangwulan tidak menyesali pengusiran itu, karena di bumi dia bisa hidup bahagia bersama suami dan anak perempuannya.”

“Wah… aku suka cerita Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan yang kaubuat! Berakhir bahagia dan indah!” Fei Yang bertopang dagu. “Ingin sekali rasanya memiliki hidup seindah dongeng…”

Franklin hanya tersenyum. “Seindah apa pun sebuah dongeng, dia tetaplah tidak nyata. Setiap orang memiliki kisah hidup berbeda-beda. Apakah bisa merangkai kisah menjadi indah seperti dongeng atau tidak, tergantung pada usahanya. Bahagia atau sedih, juga tergantung dari pemikirannya. Karena kebahagiaan pun bisa timbul dari hal paling sederhana. Sesederhana senyuman yang muncul usai membaca dongeng dengan akhir bahagia.”

Dan dongeng kita pun berakhir sampai di sini.

 

 

10 Comments to "[Di Ujung Samudra] Maafkan Aku yang Telah Jatuh Cinta Padamu"

  1. Alvina VB  23 March, 2016 at 12:03

    Kok komentar saya ilang ya….Liana, akhirnya…happy ending ya.
    Ditunggu cerita lainnya (kl ada lanjutan cerita kel. F sekarang, he..he…

  2. Lani  22 March, 2016 at 12:33

    James bener tuh kata Al klu kenthirs tamat artinya masuk keliang kubur…………jangan dunk msh ingin menikmati dunia selama masih bisa

  3. Lani  22 March, 2016 at 12:32

    Liana: lo? Tamat? Aku kira msh nyambung Franklin pulang ke Indonesia dan menikah sama Feiyang………waaah……..kuciwa daku

  4. Alvina VB  22 March, 2016 at 09:54

    Liana: akhirnya tamat juga dan happy ending ya….
    James: kenthirs sich gak bakalan tamat, kl tamat ya ada di liang kubur donk, he..he….

  5. Dj. 813  21 March, 2016 at 19:58

    Wadooooooh . . .
    Panjangnya rek . . . .
    Sampai harus ambil napas dulu dan nanti disambung lagi .
    terimakasih dan salam,

  6. Itsmi  21 March, 2016 at 16:57

    judulnya aneh… jatuh cinta koq minta maaf…

  7. James  21 March, 2016 at 14:37

    Kenthirs sih gak bakalan tamat deh

  8. elnino  21 March, 2016 at 13:04

    Yaaaaaah….tamat deh!
    terimaksih sudah menulis serial yang menarik ini Liana

  9. Liana  21 March, 2016 at 11:18

    DI UJUNG SAMUDRA sudah tamat. Terima kasih pada para pembaca yang sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir.
    (Itu gambarnya dari drama Korea I’m Sorry But I Love You-Mianhada, Saranghanda, So Ji Sub dan Im Soo Jung. Nggak matching sama cerita ini Haha!! )

  10. Liana  21 March, 2016 at 11:14

    Dan dongeng kita pun berakhir sampai di sini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.