“GILA!” PELAYANAN RUMKITAL DR. RAMELAN

Prabu

 

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi saat ayah (96) yang tidak sadar, kami antar menuju IGD Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr. Ramelan, Surabaya.

Andai tulisan ini mengandung unsur fitnah dan pencemaran nama baik terhadap institusi rumah sakit maupun TNI AL, saya bertanggung jawab ditunut sesuai hukum yang berlaku di negeri ini. Bila masih kurang puas, silakan tembak kepala saya!

Begini kronologinya.

Jum’at malam 00:30 >> saya, isteri serta adik, membawa Ayah dengan taxi menuju IGD Rumkital Dr. Ramelan, Surabaya. Saat taxi sampai pintu utama IGD, tiba-tiba ada seorang pria (perawat?) membawa bed dorong ke arah taxi. Padahal pintu mobil belum saya buka. Dibantu adik, lalu ayah kami bopong untuk dinaikkan ke bed dorong. dengan tergesa pria itu membawa ayah menuju kamar IGD dan langsung menutup pintunya. Kami yang ada dibelakangnya tertahan di luar sambil bengong, dan hanya bisa membaca tulisan di pintu IGD, “KELUARGA PASIEN DILARANG MASUK”.

rumkital-drramelan

Hingga 3 menit, kami hanya diam berdiri depan pintu IGD. Berharap, entah perawat, dokter atau siapapun yang berkuasa di rumah sakit ini, untuk menghubungi dan bicara dengan kami. Tapi lebih 5 menit, ternyata pihak rumah sakit tak ada yang menghubungi kami yang ngejeglok dekat pintu.

Hingga, pas ada pasien lain menyusul masuk ruang IGD, saya melongok ke dalam ruangan tsb. Dalam ruangan ini telah terbaring 3 pasien IGD termasuk ayah saya. saya melihat suster sibuk mengambil darah ayah yang di lengannya juga sudah terpasang selang infus.

00:45 >> Ternyata tak satupun petugas rumah sakit yang menghubungi kami, maka adik saya berinisiatif mendatangi CS. Setelah antri lebih dua orang di counter, baru adik saya dapat dilayani. Kami berikan KTP ayah. Lalu kami mendapat kartu pasien untuk diberikan kepada perawat di ruang IGD. Setelah menyerahkan kartu ke petugas IGD, kami disuruh keluar dan menunggu di ruang tunggu. Tak sampai dua menit menunggu, kami dengar suster memanggil-manggil, “Keluarga Pak Sadik!”

Segera kami menghadap.

“Bapak ke Lab IGD di lorong sana”, kata suster sambil menyodorkan kertas lab, botol kecil berisi cairan kencing dan alat suntik yang berisi darah.

Saya bergegas menuju ke Laboratorium IGD. Setelah menyerahkan semua bahan tsb ke petugas lab, saya disuruh menunggu depan pintu. Sebenarnya saya mau protes, kenapa disuruh menunggu? Sebab pengalaman saya selama berhubungan dengan laboratorium kesehatan membutuhkan waktu 12-24 jam untuk mendapatkan hasilnya.

Belum sempat darah tinggi saya kumat, tiba-tiba petugas lab manggil saya, lalu menyerahkan hasilnya. Berkas-berkas dari lab saya antar kembali ke ruang IGD. Kemudian saya melepas penat di ruang tunggu. Di ruang tunggu ini, lebih 1 jam kami ngobrol.

01:45 >> ketika tengah tidur-tidur ayam di ruang tunggu, tiba-tiba saya dibangunkan isteri yang mengabarkan jika ayah sedang dimasukkan mobil ambulans. Saya panik. saya pikir ayah sudah mati. Namun pikiran itu sirna, ketika ponsel saya bunyi tut tut. Ternyata adik saya kirim pesan, “Ayah dibawa ke ruang ECU”. Segera saya dan isteri jalan kaki menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang luasnya 7x lapangan bola ini. Bayangkan jam 2 malam menelusuri lorong rumah sakit. Hanya suara kodok dan jangkrik yang saya dengar. Saya berharap ketemu orang untuk bertanya dimana ruang ECU?

Diterpa angin malam dan aroma khas rumah sakit, kami berjalan bolak balik belok kanan kiri, sebelum akhirnya ketemu juga poli ECU. Kamar ECU ini letaknya paling belakang dari gedung rumah sakit. Pantas, dibutuhkan mobil ambulans untuk membawa pasien dari IGD menuju ECU.

Sama seperti di kamar IGD, di ruang ECU ini keluarga pasien dilarang masuk. Juga tak bisa hanya sekedar ngintip. Kamar tertutup rapat. Pasien dan keluarga tak bisa komunikasi. Karena segala keluhan dan kebutuhan pasien menjadi tanggungjawab petugas medis.

Keluarga pasien hanya diperlukan ketika dokter ingin tahu riwayat kesehatan pasien. Seperti, pasien pernah sakit apa dan seterusnya.

Dua malam, saya tidur di lantai lorong depan ECU bersama keluarga pasien-pasien lainnya. Tiap malam kami ngobrol berbagi pengalaman dan saling memberi semangat. Dalam obrolan tsb, telah saya temukan pelajaran perihal kemanusiaan.

Bahwa, semua keluarga pasien merasa heran, hingga sudah berhari-hari ini pihak management Rumkital Dr. Ramelan, belum menyodorkan kwitansi atau bertanya, siapa yang bertanggung jawab terhadap biaya perawatan pasien ini?

Begitupun pengalaman seorang wanita, ia tak mengalami kesulitan saat mengantar ibunya yang lanjut usia ke rumah sakit ini, meskipun kartu BPJSnya telah mati, ga dibayar lebih 5 bulan, namun Ibunya yang sakit, tetap mendapatkan layanan yang setara VIP!

Servis gila yang diberikan Rumkital ini, ternyata tidak hanya dilaksanakan oleh para petugas medis saja. Di tingkat bawah, penjaga parkir pun tambah gila melayani pengunjung, kepada keluarga pasien ia sarankan, “Pak, karcisnya bawa saja. Kan bapak masih keluar-masuk untuk jaga pasien”. Demikian cerita seorang bapak yang sedang menunggui mertuanya yang sakit.

Saya paham maksud tukang parkir ini, agar bapak tsb cukup bayar sekali; seribu perak, untuk motor yang parkir sehari-semalam suntuk.

Begitulah pengalaman saya terhadap pelayanan Rumkital Dr. Ramelan, Surabaya. Pengalaman demikian tak saya dapatkan di rumah sakit di Jakarta dan Bekasi.

Meski pasien punya asuransi, rumah sakit di Bekasi melayani pasien dengan setengah hati. Contohnya, saya punya polis asuransi kesehatan produk “P”. Produk asuransi macam ini, hanya berlaku jika saya sakit dan dirawat di rumah sakit. Sialnya, ketika kita sakit, bukan pasien yang segera ditangani, tapi saya disuruh ke loket administrasi untuk verifikasi data. Apakah benar saya nasabah asuransi “P”. Dan berapa nilai klaimnya? Tololnya, verifikasi macam ini butuh waktu sejam. Sambil saya bolak balik ke berbagai kounter untuk menanyakan stock kamar yang sesuai. Jadi kalau Anda kronis penyakitnya, selesai verifikasi, keburu modiarrr… duluan.

Jika pasien yang punya polis asuransi saja diperlakukan macam itu, maka beginilah nasib korban kecelakaan ketika saya bawa ke rumah sakit.

Seorang wanita (PNS guru), diseruduk buskota. Hasilnya, kaki patah dan daging paha somplak. Ia masih sadar. Lalu saya bawa ke rumah sakit international di Jl. Daan Mogot, Jakarta, hanya beberapa meter dari TKP. Ketika mobil bak yang membawa korban masuk halaman, diarahkan satpam untuk parkir di tempat pengunjung. Lalu saya disuruh ke CS. Mbak CS yang wangi meminta kartu asuransi. Tapi, saya tak bisa menunjukkannya.

“Maaf, kalau bapak tidak punya asuransi, tidak bisa berobat di sini”, ujarnya acuh tak acuh.

Lalu saya ngemis-ngemis untuk nyewa mobil ambulansnya yang ngejogrok di depan lobby. Namun ditolak. Singkat cerita, setelah 2 jam dan mendatangi 3 rumah sakit, akhirnya korban kecelakaan mendapat pertolongan di sebuah klinik. Semua rumah sakit besar tidak mau menolong dan hanya merujuk, dengan bebagai alasan. Yang IGD penuh kek, tak ada alat kek dan sebagainya. Itu pengalaman saya mengantar korban ke rumah sakit di Jakarta, ketika gubernur DKI masih dipegang ahlinya, si kumis.

Kini, saya tidak tahu, apakah pelayanan rumah sakit di Jakarta telah berubah dan meniru servis “gila” yang diterapkan Rumah Sakit TNI AL Dr. Ramelan ini?

Mudah-mudahan para calon gubernur DKI bisa menjelaskannya.

 

*ditulis dari lorong Rumkital dr. Ramelan.

 

 

About Prabu

Sosok misterius yang sejak kemunculannya tidak banyak orang yang mengenalnya. Walaupun misterius, sosok satu ini sekaligus ramah dan sangat terbuka pertemanannya. Sang Prabu dan Permaisuri sering blusukan menyapa kawula BALTYRA.com dan menggebrak dunia, kebanyakan dengan coretan karikaturnya sekaligus artikel-artikelnya yang bernas, tajam dan berani.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "“GILA!” PELAYANAN RUMKITAL DR. RAMELAN"

  1. Farrel  1 March, 2018 at 23:37

    Belum lama saya dirawat inap selama 3 hari dan pelayanan serta perawatannya sangat memuaskan. Tidak ada rasa kecewa sedikitpun, kinerjanya cepat dan ramah pula

  2. Farrel  1 March, 2018 at 23:35

    Bodo amat! Kamu mungkin yang goblok? Saya dilayani 3 hari rawat inap perawatan dan pelayanannya sangat bagus. Terakreditasi A

  3. edo  30 January, 2018 at 17:14

    Sabar aza mas…. sabar ya…

  4. Alvina VB  29 March, 2016 at 10:00

    RS. Dr. Ramelan hebring…..kl di sini semua dilayanin di RS, (tergantung dr.nya juga sich…ada yg jutek banget krn long hours kerjanya) kan ada medicare card, ttp nunggunya itu loh…bisa jaman krn kita kekurangan dr. euy…(dokter pada kabur praktek ke US/ malah kerja di Dubai sana). Kl mau cepet ya ke private clinic dan pem. gak bayarin, yg bayar ya asuransi pribadi masing2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *