Roti Putih

Anwari Doel Arnowo

 

Waktu saya “dengar” pertama kali ketika saya membaca di majalah Readers’ Digest  majalah kesukaan ketika sedang belajar di SMA, mengenai seseorang yang telah menemukan selembar roti putih di belakang kulkas di rumahnya sendiri. Dia imgat bahwa sudah lamaaaa sekali ketika dia membeli roti putih terakhir kali. Roti itu masih kelihatan tidak berjamur dan masih berwarna putih. Dia merasa ada sesuatu yang aneh dan mulai menggunakan pikirannya dan mengumpulkan informasi, bagaimana caranya yang memungkinkan dia bisa membuat kejadian ini menjadi terang. Dia mendapatkan informasi bahwa roti putih itu menggunakan sesuatu yang bisa membantu  “mencuci” dan membuat warna putih tepungnya lebih cemerlang dan menarik dipandang mata. Sejak sepuluh tahun yang lalu di Canada sudah terdengar gerakan sosial masyarakat yang menyiarkan hal ini.

Saya tetap saja kurang hirau. Masa bodoh, kan selama ini saya masih sehat padahal mengkonsumsinya. Akan tetapi ternyata tidak ada yang tetap di dunia ini. Saya menerima perubahan pikiran saya sendiri sesuai jaman. Waktu pun berjalan dan baru sekitar tahun 2006, ketika saya mulai bermukim di Canada, terdengar lagi masalah ini, akan tetapi disiarkan lebih lengkap dan memberikan pertanda adanya bahaya bila mengonsumsi roti putih.

Apa pendapat saya waktu itu? Bukankah sejak saya mengenal roti putih pada tahun 1947an, saya telah ribuan kali memakan roti seperti ini, dan waktu itu saya sehat walafiat saja karena sering sekali saya memangsa  habis makanan apapun yang ada roti putihnya. Dari Hot Dog dan sandwich, juga triple decker, termasuk roti selai atau keju dan lain-lain. Sekian puluh tahun lamanya saya tidak mengetaui dan juga tidak mau ikut-ikutan menuruti apa yang dikatakan oleh Pemerintah Canada mengenai masalah ini, saya juga belum pernah diberitau siapapun baik dokter atau mereka yang mendalami masalah ilmu  kesehatan tubuh kita. Saya baik-baik saja.

rotiputihcoklat

Setelah saya membaca : The Real Truth About White Bread, di:  (http://www.ba-bamail.com/content.aspx?emailid=19292&source=mobile_share ). Inilah isinya:

We know that there are many people around the world who enjoy eating white bread. But today, we’d like to give you some facts that may shock and surprise you.

It’s not only that white bread isn’t good for your health.

It can actually be a real danger to your health! 

The Swiss government has been aware of the dangers of eating white bread for decades and in order to get its populace to stop eating it, Switzerland has placed a tax on the purchase of white bread. The tax money is given to bakers to reduce the price of whole wheat bread to encourage people to switch.

The Canadian government passed a law prohibiting the “enrichment” of white bread with synthetic vitamins. Bread must contain the original vitamins found in the grain, and not imitations .

Essentially, white bread is dead bread. Frequently, consumers are not told the truth about this and the so-called “enriched” flour

Why is the color of white bread so white when the flour taken from wheat is not?

It’s because the flour used to make white bread is chemically bleached, just like you bleach your clothes. When you are eating white bread, you are also eating residual chemical bleach. Flour mills use different chemical bleaches, all of which are pretty bad.

Here are a few of them: Oxide of nitrogen, chlorine, chloride, nitrosyl and benzoyl peroxide mixed with various chemical salts.

One bleaching agent, chloride oxide, combined with whatever proteins are still left in the flour, produces alloxan. Alloxon is a poison and has been used to produce diabetes in laboratory animals. 

Chlorine oxide destroys the vital wheat germ oil. It will also shorten the flour’s shelf life.

Good Nutrition: You won’t find it in white bread. In the process of making flour white, half of the good unsaturated fatty acids, that are high in food value, are lost in the milling process alone, and virtually all the vitamin E is lost with the removal of wheat germ and bran.  

 As a result, the remaining flour in the white bread you buy, contains only poor quality proteins and fattening starch. But that is not the whole story as to the loss of nutrients. 

Here are some other statistics about the huge loss of nutrients when white bread is made:

· About 50% of all calcium is lost

· 70% of phosphorus

· 80% of iron

· 98% of  magnesium

· 75% of manganese

· 50% of potassium and

· 65% of copper is destroyed when white bread is made

· 80% of thiamin, 60% of riboflavin, 75% of niacin, 50% of pantothenic acid

About 50% of Pyridoxine is also lost.

Scientific study has confirmed what the Swiss have known for years. These horrific numbers are the results of a study run by the University of California, College of Agriculture. It is obvious, from what we have learned, that white bread should be avoided.   

Whole wheat, rye and grain breads made with whole wheat flour are a better way. 

It is a good idea to always read the labels and never buy foods that contain artificial flavors, colors, bleached flour, preservatives, hydrogenated or partially hydrogenated oils.

Selesai, dan saya renungkan beberapa hari sesudahnya dengan hati-hati. Sesungguhnya sebelum saya membaca inipun saya sudah amat mengurangi mengonsumsi roti putih selama sekitar dua bulan lebih. Setelah merenung dulu, saya pikir saya merasa masih beruntung telah pernah me”nikmat”i makan roti putih.

Ah, umur saya kan sudah melebihi separuh umur. Bila saya hentikan makan roti putih  itu saya tidak akan rugi-rugi amat. Sisa umur akan saya jalani, apapun perubahan yang saya duga menambah perbaikan, saya dengan senang hati akan melakukannya.

Kontroversi-kontroversi akan terjadi setiap waktu karena ada yang menulis bahwa manusia itu memang diciptakan berlain-lainan. Saya kutip dan terjemahan dari aslinya: Berpendapat begini atau begitu dan juga apapun boleh saja, bahkan juga untuk TIDAK berpendapat apa-apa.

Saya memutuskan bahwa yang tidak baik boleh saja yang dihindari sebisanya. Karena sudah puluhan tahun makan roti putih, bilamana tidak ada pilihan lain, boleh saja makan. Apalagi bila dijamu orang makanannya di dominasi oleh roti putih, dengan jangan sampai kentara, mengihindar saja adalah bijak dan sopan.

Sesungguhnya bukan roti putih saja, masih ada makanan lain yang jaman saya masih kecil adalah bebas-bebas saja, sekarang dihindari seperti mengonsumsi tahu yang katanya diberi formalin. Sejak tau soal tahu begini saya tidak terlalu perduli, karena terbukti tidak ada yang menjadi lain di dalam tubuh saya, hanya karena the so called FORMALIN. Zat ini memang dipakai sebagai mengawetkan jenazah sebelum dikubur dan lain-lain keperluan, yang saya tidak tau. Secara bergurau saya sering bilang, karena formalinlah saya belum pernah mengecat rambut saya yang masih hitam asli pada usia seperti ini. Awet hitam. Yang penting saya mendapatkan informasi lengkap setiap tahun dengan Annual Health General Check Up.

Selama ini saya bersyukur merasa sehat wal’afiat. Saya amat percaya bahwa umur itu memang hanyalah angka. Tetapi kita berhak melindungi diri dengan pikiran yang positif dan berani mengambil risiko, karena kita sendirilah yang paling mengenal kondisi tubuh sendiri.

Bukan orang lain, termasuk juga bukan dokter yang biasa hanya “sempat” beberapa jam saja bertemu dengan pasien. Tetap saja dokter “terpaksa” untuk memutuskan tindakan kedokteran yang antara lain harus operasi. Pengamatan dan pertimbangan sebaiknya tidak dilakukan oleh HANYA the so called para ahli kedokteran bagian dari tubuh yang tertentu. Sebaiknya sebelum melakukan tindakan operasi diadakan pengamatan yang lebih rinci dan teliti oleh sebuah team para ahli lainnya juga.

Belum lagi keluarga pasien yang harus diikut sertakan dengan pengertian-pengertian yang akan membuat tindakan para ahli tadi, bisa dilakukan dengan mulus, agar salah paham dalam bidang apapun tidak perlu terjadi. Kita semua tidak menginginkan gerutu dan caci maki terjadi apalagi tuntut menuntut di jalur hukum yang berlaku. Lalu apakah bila terjadi sesuatu di luar harapan akan bisa mengembalikan sang pasien yang “pergi” ??

 

Anwari Doel Arnowo –  8 Maret, 2016

 

 

6 Comments to "Roti Putih"

  1. Anwari Doel Arnowo  24 March, 2016 at 07:26

    Terima kasih semua comments yang intinya membuka pikiran kita bahwa yang bisa membela diri kita adalah diri sendiri. Bukan orang lain. Apalagi pemerintah yang manapun juga.
    Salam hangat buat anda semua.
    Anwari Doel Armowo

  2. Alvina VB  23 March, 2016 at 12:00

    Brown bread memang jauhhhh lebih sehat.
    Kita milih brown bread yg 12 grains punya mbakyu Lani.

  3. James  23 March, 2016 at 08:19

    maka bagi penderita Diabetes juga selalu disarankan diganti roti Wholemeal atau MultiGrain bread karena lebih sehat bagi penderita Diabet karena roti putih termasuk manis rasanya sedangkan roti Wholemeal/MultiGrain tidak begitu manis dan lbh baik utk tubuh, sduah lama saya mengganti dgn Wholemeal bread hany sesekali saja manyantap white bread jika keadaan mengharuskan demikian saja

  4. Dj. 813  23 March, 2016 at 00:32

    Terimakasih cak Doel . . .
    Untung di Jerman bisa mendapatkan roti yang bermacam-macam .
    Ada roti putih dan ada roti berwana coklat ( tapi bukan roti coklat ).
    Ada roti dengan macam-macam kacang-kacangan .
    Dulu memang sangat senang dengan rooti putih dan merasakan roti Jerman ( Bauernbrot ),
    selain sedikit keras dan rasanya lebih asam .
    Tapi setelah beberapa tahun membiasakan makan roti tersebut ( Bauernbrot ), ternyata malah ketagihan.
    Namun, kadang kangen juga dengan roti putih, jadi kadang makan roti putih juha .

    Sekali lagi, terimakasih dan salam.

  5. Lani  22 March, 2016 at 23:57

    Cak Doel Anwari: begitulah yg saya baca dan dengar mengenai white bread…….tp selama saya di Indonesia sll makan white bread krn setahuku dulu ktk msh di Indonesia tdk ada pilihan lain selain white bread itu tadi………….tp skrng hanya memilih wheat/brown bread

  6. Lani  22 March, 2016 at 23:09

    Aku pilih brown bread/wheat aja , klu para kenthirs lainnya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.