Peri Gigi

Hennie Triana Oberst

 

Chiara bangun sedikit lebih pagi. Seminggu terakhir, gadis kecil yang manis ini terlihat mulai rajin duduk menghadap meja rias mungilnya yang berwarna putih dengan pembuka laci yang berbentuk bunga berwarna merah jambu. Cermin yang terletak di bagian tengah meja berbentuk oval memantulkan wajahnya dari sisi seberang. Ia tersenyum.

Terdengar dari arah dapur suara Mama memanggilnya untuk segera sarapan. Ia harus bergegas turun menuju ruang makan, jika tak ingin ditinggal bus sekolah yang setiap pagi menunggu di halte bus di dekat tempat tinggal mereka. Chiara bersemangat hari ini karena mereka akan mengadakan ekperimen mengenai makanan di dapur sekolah. Mengenal jenis-jenis sayuran, buah-buahan dan memasak makanan tersebut bersama-sama di sekolah. Hal seperti ini, yang tidak dilakukan setiap hari, pasti sangat menyenangkan.

Mama, lihat nih gigiku sudah hampir copot”, seru Chiara, sedikit berteriak kegirangan. Sudah lama ia menantikan lepas gigi susu pertamanya.

~~000~~

Beberapa minggu yang lalu dia terlihat sedih, karena menyadari ada teman-temannya yang lebih muda usianya tetapi sudah ompong dan menanti tumbuhnya gigi baru. Sementara dia sendiri, gigi yang goyangpun belum ada. Mama menghiburnya, dan mengatakan bahwa tumbuhnya gigi tidak selalu sama pada setiap orang, dan tidak juga berdasarkan tepatnya bilangan umur. Sama seperti dia dan teman-temannya, ada yang tinggi dan ada yang pendek. Walaupun masih terlihat sedih, tetapi sepertinya dia cukup mengerti.

Sepulang dari mengikuti kegiatan anak yang diadakan oleh perkumpulan gereja di tempat tinggalnya akhir bulan Oktober lalu, ia dengan bangga menunjukkan pada Mama bahwa satu gigi susunya sudah goyang. Tak henti-hentinya ia mendorong gigi yang goyang tersebut dengan lidahnya.

Biar cepat copot”, begitu katanya.

Masih harus menunggu beberapa minggu lagi, Chiara”, begitu Papanya berkata. Berusaha menenangkan putrinya yang terlihat tidak sabar.

~~000~~

Sejak minggu kedua di bulan November Chiara dan keluarganya pindah kembali ke Cina dan menetap untuk waktu tertentu di sana, tepatnya di kota Shanghai. Sudah berjalan beberapa minggu tetapi giginya yang goyang tak juga copot. Sementara teman-teman sekelasnya di sekolah yang baru juga sudah banyak yang ompong dan memiliki gigi baru. Begitu ia bercerita, pada hari-hari awalnya sekembali dari sekolah.

Kemarin sore saat memasuki rumah, setelah kembali dari bermain bersama di rumah seorang temannya, dengan girang Chiara menunjukkan giginya yang hampir copot.

Mungkin besok giginya copot” Mama berkata dalam hati.

Malamnya, saat baru saja berbaring, tiba-tiba ia berteriak kegirangan,

Gigiku copot, Mama

Ia kemudian memaksa Mama untuk cepat tidur.

Memangnya kenapa Mama harus cepat tidur?”, tanya Mama.

Peri Gigi itu datang ketika kita tertidur pulas, kalau Mama nggak tidur, mana mungkin Peri Gigi datang membawa hadiah untukku”.

Komentarnya membuat Mama tersenyum. Anak-anak selalu berkata dengan sederhana dan selalu masuk akal.

Mama akan tidur nanti setelah kamu pulas, seperti biasanya”, begitu Mama menenangkannya.

~~000~~

Legenda Peri Gigi (Zahnfee atau Tooth Fairy) ini sangat dipercayai anak-anak mungkin hampir di seluruh belahan dunia. Gigi yang copot tersebut pada malam harinya oleh Peri Gigi akan ditukar dengan koin emas.

Hadiah yang diberikan sang Peri ini (biasanya) berbentuk uang ataupun hadiah berupa barang. Diletakkan di bawah bantal anak tersebut.

Zahnfee Toothfairy

Chiara meletakkan gigi susunya tersebut setelah dicuci bersih di dalam sebuah kotak mungil yang telah ia siapkan jauh hari sebelumnya. Ia letakkan di samping tempat tidurnya dengan tutup kotak yang terbuka. Menurutnya, Peri Gigi akan lebih gampang mengambilnya jika kotak dibiarkan terbuka.

Pagi harinya ketika bangun tidur, tiba-tiba ia teringat akan kotak giginya. Tak didapatinya kotak gigi itu di meja samping tempat tidurnya.

Coba periksa di bawah bantalmu“, begitu sahut Mama sambil menyiapkan pakaiannya.

Wah, Mama, lihat nih Peri Gigi ternyata tadi malam datang. Lihat ini ada uang juga”, sahutnya gembira dengan mata yang berbinar-binar.

Pagi ini, acara bangun pagi jadi lebih semangat dan acara sarapan menjadi lebih singkat. Dia sudah tak sabar untuk pergi ke sekolah. Tentu ingin menceritakan dan menunjukkan bahwa sekarang ia pun memiliki “Zahlücke*”

 

Shanghai, 20131126

*Zahnlücke (German): celah di antara gigi, (biasanya) karena tanggalnya gigi.

 

 

14 Comments to "Peri Gigi"

  1. J C  7 April, 2016 at 09:20

    Sepertinya budaya Indonesia tidak ada dongeng seperti ini… Jadi khan? Tanggalnya jadi tanggal berapa?

    5-3

  2. HennieTriana Oberst  31 March, 2016 at 14:15

    Tammy, hahaha..iya bener aku juga taunya gitu kalau di Indonesia. Sepertinya nggak ada tradisi tooth fairy ini, paling tidak di daerahku nggak ada tradisi seperti ini.

  3. HennieTriana Oberst  31 March, 2016 at 14:13

    Danke schön mas Dj. Iya semoga dia tetap rajin merawat giginya, sehingga bersih dan kuat sampai dewasa nanti.
    Salam manis untuk keluarga Mainz.

  4. HennieTriana Oberst  31 March, 2016 at 14:11

    Lani, memang ya, kalau gigi ompong ketika kita dewasa merusak penampilan. Kalau anak-anak kan lucu giginya ompong.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *