Tawur Kesanga di Pura Agung Jaganatha

Pura Agung Jaganatha Pekanbaru

Banten yang disajikan Pada Upacara Tawur Kesanga

Persiapan ogoh-ogoh dan alat musik yang ditampilkan pada Upacara Tawur Kesanga

Pandita Agung berdoa guna kelancaran Upacara Tawur Kesanga

Umat Hindu Pekanbaru berdoa sebelum ogoh-ogoh di arak keliling Pura Agung Jaganatha Pekanbaru

Ogoh-ogoh diarak, dibawa anak-anak muda mengelilingi wilayah sekitar Pura Agung Jaganatha

Antusias warga sekitar wilayah Pura Agung Jaganatha melihat arak-arakan ogoh-ogoh pada Upacara Tawur Kesanga

Setelah diarak, ogoh-ogoh kemudian dipersiapkan untuk dibakar di halaman belakang Pura Agung Jaganatha

Ogoh-ogoh yang dibakar menunjukkan sifat negatif yang banyak dalam energi kehidupan seseorang, hilang dan siap memulai dengan energi yang baru

Bayu Winata

 

Sesajen berupa ayam, dan makanan yang dibungkus dengan daun kelapa muda, sudah diletakkan di pelataran depan pura.  Ogoh-ogoh atau perwujudan Buta Kala yang tadinya berada di halaman dalam Pura Agung, sudah dipindahkan ke depan pintu masuk. Pendita Agung, sudah duduk sembari berdoa di depan pintu masuk pura. Doa-doa kepada Dewa yang disampaikan oleh umat juga terdengar.

Sore hari, di Pura Agung Jaganatha yang terletak di Jalan Rawa Sari, Pekanbaru sedang berlangung ritual Tawur Kesanga. Tawur Kesanga merupakan Upacara Pecaruan yang diadakan setahun sekali tepat pada Tilem Kesanga yaitu setiap akhir pergantian Tahun Çaka sebagai akhir dari perputaran waktu tahun kalender umat Hindu Dharma. Tawur Kesanga merupakan  bagian dari upacara Bhuta Yadnya, upacara ini merupakan Upacara Yadnya yang dilaksanakan untuk menjaga keharmonisan Bhuta Hita yang dibangun dari Panca Maha Bhuta, yang merupakan unsur-unsur dasar dari Bhuwana Agung (alam semesta) maupun Bhuwana Alit itu sendiri., ritual ini akan diadakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi.

Pura Agung Jaganatha Pekanbaru

Pura Agung Jaganatha Pekanbaru

Persiapan ogoh-ogoh dan alat musik yang ditampilkan pada Upacara Tawur Kesanga

Persiapan ogoh-ogoh dan alat musik yang ditampilkan pada Upacara Tawur Kesanga

Sejak pagi, sesajen sudah disiapkan di halaman dalam dari pura. Di sore hari, sesajen ini dibawa untuk didoakan. Prosesi ritual berlangsung di halaman depan pura, yang berlangsung sektar satu jam. Alat-alat musik yang berada pada bangunan besar di sebelah kiri pintu masuk dari pura yang di resmikan oleh Gubernur Riau Saleh Djasit pada tahun 2001 juga dikeluarkan. Alat-alat musik seperti gendang, gong, simbal dipegang satu persatu oleh anak-anak muda. Mereka memainkan musik dengan nada yang mirip dengan irama pengiring tarian kecak.

Setelah Pendita Agung selesai membacakan doa-doa. Tirta yang berada di dalam mangkuk perak, mulai dipercikkan kepada semua umat yang berada di halaman masuk pura. Tepat pukul 18.00 WIB umat Hindu yang berada di halaman pura, mulai berbaris. Perempuan berada di depan. Rombongan ini  membawa obor yang terbuat dari bambu. Sedangkan anak laki-laki dan pria, berada dibelakang. Rombongan ini membawa ogoh-ogoh yang berjumlah dua.

Rombongan ini berjalan mengelilingi lingkungan di sekitar wilayah pura yang kebetulan berlokasi di seputaran Jalan Sudirman dan Bandara Sultan Syarif Qasim II. Di perempatan lampu merah ini, mereka memutar ogoh-ogoh sebanyak tiga kali. “Putaaaar” teriak pemimpin rombongan ogoh-ogoh. Gamelan pada mobil bak terbuka yang berada di belakang ogoh-ogoh terus memainkan musik. Jalan Sudirman Pekanbaru malam itu bernuansa Bali. Dua ogoh-ogoh yang dipanggul, bergoyang kesana kemari mengikuti alunan musik yang dimainkan.

Masyarakat Pekanbaru dengan antusias menonton  rombongan ini di kiri kanan jalan. Pada setiap persimpangan jalan yang mereka temui, rombongan ini kembali memutar ogoh-ogoh.

Saat rombongan tiba kembali di Pura Agung Jagatnatha. Rombongan langsung menuju halaman belakang pura, di halaman ini mereka  membakar ogoh-ogoh yang tadi dibawa. Makna dari pembakaran ogoh-ogoh untuk menghilangkan segala energi buruk dan jahat. Semoga di Tahun Çaka 1938 ini, kita bisa mendapatkan keselamatan dan kebaikan. Ini adalah perayaan untuk menyambut Hari Raya Nyepi yang baru lewat.

 

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

8 Comments to "Tawur Kesanga di Pura Agung Jaganatha"

  1. J C  7 April, 2016 at 09:22

    Mas Bayu, DASHYAT! Hahaha…setuju komentar mas Sumonggo…

  2. Budi Margomuljo  30 March, 2016 at 11:15

    Foto-fotonya keren…

  3. Dj. 813  28 March, 2016 at 19:21

    Terimakasih sudah mengajak dalam acara umat Hindu .
    Semakin mengenal keindahan kebersamaan .
    Salam Sejahtera dari Mainz .

  4. Sumonggo  28 March, 2016 at 10:42

    Terimakasih Mas Bayu, National Geographic edisi Baltyra … ha ha …..

  5. James  28 March, 2016 at 10:31

    halo ci Lani, salam kembali

  6. djasMerahputih  28 March, 2016 at 08:09

    Hadir tji Lani.
    Pernah mengalami langsung prosesi ogoh-ogoh. Thanks liputannya mas Bayu..

  7. Lani  28 March, 2016 at 08:00

    BAW: beautiful pictures

  8. Lani  28 March, 2016 at 07:59

    Hallo para kenthirs salam dr Kona

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *