Berita Buruk

Anwari Doel Arnowo

 

Sudah lama berlaku dan dilakukan: Bad news is NEWS. Berita buruk adalah BERITA yang sesungguhnya. Orang yang bekerja dan menerima honorarium atau gaji serta pendapatan lain dari dunia media pemberitaan, tentunya  bisa tegas-tegas saja membantahnya.

Meskipun saya sudah menulis ratusan judul berisi subyek soal kehidupan kita, manusia dan alam di sekitar, saya secara sengaja tidak pernah mau menerima imbalan apapun termasuk biarpun uang satu sen, yang ada hubungannya dengan  hasil saya menulis.Tetapi karena menurut pengamatan saya pribadi, 60 sampai 70 persen perihal itu, terpaksa saya dengan sedih hati mempercayai perilaku seperti itu memang ada.

Itu bukan hanya media di Indonesia saja, tetapi hampir semua merata di seluruh nrgara  lain di dunia. Berita buruk itu jelas amat laku dijual. Saya juga tidak ribut terikut-ikut menentangnya, apalagi secara sama beramai-ramai. Diam-diam saja bisa kok. Apa sebab? Ada ungkapan terkenal yang paling sesuai digunakan mengenai situasi seperti begitu, jakni: Anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Memang ada yang menggonggong ketika muncul berita buruk, jelas bahkan teramat jelas digemari oleh media. Baik yang cetak maupun yang elektronik, semua tanpa terkecuali telah dan sedang melakukannya. Saya tau bagian ini akan menimbulkan polemik yang sehat atau bahkan tidak. Sekali lagi Kafilah yang terdiri dari  onta-onta akan tetap berlalu sepanjang masa. Kami, termasuk juga diri saya, tetap menjadi para korban, karena selaku pemerhati dan pembaca dari BERITA yang seperti itu. Kan jumlah pembaca menentukan rating media? Jadi kita memang dimanfaatkan oleh keinginan tau diri kita sendiri. Untuk memenuhi keinginan tau itu kita kan harus mengeluarkan uang untuk membeli produk media berupa koran dan majalah baik yang dicetak maupun yang digital. Majalah Newsweek dan Readers’ Digest saja sudah menghentikan penerbitan cetaknya. Mereka sudah beralih total.

Oleh karena adanya digital itulah saya tidak pernah memuat tulisan saya di Media Cetak. Memang benar saya selalu pergi dan duduk berlama-lama di dalam Perpustakaan Besar yang ada di kota-kota besar di mana-mana. Favourite saya adalah yang ada di Yonge Street, di kota Toronto di propinsi Ontario, Kanada. Ratusan ribu volume buku di dalamnya dalam puluhan bahasa, termasuk Indonesia. Juga di Middle Road di Singapura yang lebih dari sepuluh tingkat. Di situ ada koran Kompas biarpun terlambat satu hari.

Saya yakin pada ratusan tahun yang akan datang, atau puluhan tahun lagi, semua media akan mengubah dirinya menjadi digital edition. Mau ataupun tidak mau!!

Apa sebab?

Semua yang dalam bentuk cetak itu rawan musnah karena umur karena waktu dan karena nilai ekonominya. Ingat sekian lembar kertas dihasilkan karena hasil menebang pohon sekian batang.Saya juga yakin sekali bahwa internet tidak akan musnah masuk dunia kiamat. Biarpun perpustakaan itu terkena gempa hebat dan atau kebakaran, buku-buku musnah, maka yang digital edition akan masih ada.

“Lucu”nya meskipun saya menuliskannya seperti tadi, pada saat ini saya malah masih berlangganan dua koran, satu berbahasa Indonesia dan satu lagi bahasa Inggris, serta televisi kabel, yang channel siarannya sekian ratus jumlahnya. Untuk apa? Kata mereka yang kebanyakan seperti saya begini, termasuk diri saya juga, tentu saja, untuk “menjaga” harkat hidup diri sendiri di dunia, di tengah-tengah hiruk pikuk lalu lalang adanya dinamika kehidupan makhluk seluruh kawasan penghuni Planet Bumi. Bukan saja benda-benda angkasa dan cuaca serta adanya  keperkasaan gravitasi, termasuk di dalamnya sinar Matahari dan sinar lembut dari satelit yang disebut dengan: Bulan, yang ikut mengatur ombak di seluruh samudera dan air laut yang bergelora atau bahkan juga heningnya permukaan air laut.

Juga kehidupan makhluk seperti semut dan bentuk lain-lain makhluk yang hidup di bawah air laut, sungai dan  danau yang belum pernah kita lihat dengan mata. Itulah yang membuat kita malah menjadi memiliki rasa tajam ingin tau apa yang terjadi.  Apa yang terjadi baru saja, yang juga terjadi di saat ini dan juga yang telah terjadi, menjadi sejarah. Masa yang akan datangpun tidak luput kita amati sehari-harinya. Bagi saya sendiri masa depan hanyalah sejak sekarang, saat saya masih hidup sampai saya mati nanti. Untuk masa setelah mati saya tidak mau terlibat apapun selama saya masih hidup di dunia nyata dan masih ikut menghuni Planet Bumi.

Bagi diri saya dunia setelah mati, akan menjadi masalah Tuhan saya. Tubuh saya pasti sudah tidak berdaya apa-apapun. Tubuh sudah decomposed (membusuk). Mau apa lagi? “Nyawa” yang sebelumnya ada di dalam tubuh saya, entah ke mana dia perginya, saya tidak tau. Saya juga tidak mau tau, sebab saya tidak bisa, tidak ingin, tidak minat  membuat prediksi apapun. Prediksi hal yang seperti inilah teramat rawan untuk bisa terbukti. Kita terima saja yang seperti ini dengan ikhlas. Mengapa masalah kepercayaan seperti ini saya kemukakan?? Utamanya karena media juga amat suka menyiarkan masalah dunia setelah kita mati. Dengan menggebu-gebu media melansir semua masalah ke”hidup”an setelah mati. Seharusnya media tau diri dan sebaiknya tidak ikut-ikut campur tangan dengan masalah kepercayaan setiap individu warga negara.

Media terlihat tampil dengan jelas memandang masalah kepercayaan ini seakan sebuah Keniscayaan untuk ikut. Ikut apa? Ikut menyebar luaskan dan mempromosikan secara kuat dan melembaga. Berbuat seperti itu, sama saja yang cetak maupun elektronik, sering dengan cara  berlebihan. Di negara Kekaisaran Jepang kepercayaan agama dan lain-lain tata cara pemujaan tentu boleh dilakukan di tempat-tempat tertentu, sehingga tidak mengganggu mereka yang tidak sefaham. Yang Muslim di Masjid, Yang Nasrani di Gereja dan yang Shinto di kuil sendiri masing-masing. Segala ritual kepercayaan dan agama tidak boleh dilakukan secara terbuka di depan umum, seperti di tempat bekerja, di sekolah dan media cetak maupun elektronik.

Peristiwa kepercayaan dan keagamaan tentu saja boleh disiarkan di media sebagai BERITA saja, bukan sebagai mimbar ritual melakukan kepercayaan ritual dan agama. Bandingkan di Negara kita bagaimana penuhnya berita agama dan kepercayaan selalu dikaitkan dengan mimbar syiar pelajaran, ceramah dan mengajarkan keagamaan. Berita kekacauan I S I S diberitakan sesuka selera sponsor penyiarannya. Berita buruk mengenai korban perbuatan buruk peperangan karena beda kepercayaan dan agama, amat mengemuka dengan pesat ke seluruh Tanah Air kita. Hampir merata. Banyak usaha dalam bidang Media sekarang berkembang menjadi bisnis yang menggiurkan. Hanya karena demi untuk mendapatkan sebagian keuntungan finansial dari semua kegiatan media, maka berita buruk digunakan.

Telah banyak tertampil mengutip dan mengcopy paste isi segala puja dan puji di dalam kepercayaan dan agama. Bukankah media yang mem”berita”kannya seperti begitu akan bisa berakibat timbul benturan-benturan fisik dan non fisik di masyarakat yang majemuk begini,  memihak ke berita yang satu dan berita yang isinya berlawanan? Sekali lagi rating memang memegang peran cukup besar, sehingga Presiden NKRI sendiri pernah terikut dan juga terdorong  menjelaskan agar media pandai memilih dan memilah untuk tidak bersikap sinis.

Memberitakan yang terlalu banyak yang buruk sehingga tidak bisa dibantah lagi hasilnya adalah: pessimisme yang membesar. Semua orang pasti bisa mafhum bahwa situasi seperti itu bisa meluas dengan leluasa. Pessimisme itu menjadikan situasi negative secara nasional. Saya simpulkan bahwa berita buruk itu menghasilkan uang banyak bagi media, menyebabkan rating naik tajam akan tetapi berpotensi  merugikan situasi yang baik, tanpa perduli ada turunnya mutu kinerja semua pihak karena meluas sisnismenya itu. Marilah kita sadari kelemahan ini dan marilah kita segera membangun situasi yang positif demi kepentingan nasional. Itu sungguh kita rindukan. Jagalah agar tidak terjadi  revolusi yang keras dan merugikan masyarakat umum.

 

Anwari Doel Arnowo – 25 Maret, 2016 

 

 

8 Comments to "Berita Buruk"

  1. J C  7 April, 2016 at 09:30

    Pak Anwari, kalau televisi Indonesia, saya nyaris tidak pernah nonton…hehehe…

  2. Anwari Doel Arnowo  6 April, 2016 at 21:31

    Ini sedang berlangsung beritaTV serorang komandan Kodim berpangkat kolonel dan satu lagi Letkol ditangkap bersama 5 orang sipil sedangmenggunakan Narkoba . Terjadi di sebuah tempat Karaoke di Makassar
    Masakan saya tidak mau melihat dan mendengarkannya??

  3. EA.Inakawa  1 April, 2016 at 18:51

    Setuju dengan Pak DJ,…..Pastinya ” BERITA ” itu sudah menjadi Bursa Komoditi

  4. Lani  1 April, 2016 at 09:01

    Al: mahalo sdh diingat………….begitulah adanya para pemburu berita lebih menyukai berita yg sensasional……………..klu berita jejeg ora payuuuuuuuu kkkkkkk

  5. djasMerahputih  1 April, 2016 at 07:39

    Media tanpa basis ideologi pasti cuma ngejar rating. Tak berperan mencerdaskan bangsa.

  6. Dj. 813  31 March, 2016 at 18:47

    Cak Doel . . . .
    Biasanya orang tidak suka dengan berita buruk .
    Namun tanpa disadari, selalu menantikan bertita tersebut .
    Coba saja, kalau di TV tidak ada berita tentang kejadian-kkejadian buruk .
    Maka orang akan malas melihatnya .
    tapi kalau ada berita buruk seperti pesawat jatuh, ada bom . . .
    Maka orang akan dengan semangat melihat atau membacanya .
    Olehnya, wartawan selalu mencari berita yang sebenarnya adalah berita buruk .

    Salam Damai dari Mainz .

  7. James  31 March, 2016 at 14:46

    good news aja lah

    halo Al, hadir nih

  8. Alvina VB  31 March, 2016 at 12:09

    Bad news terjual keras soalnya…semoga besok ada berita bagus yg bisa terjual
    Absenin para khentirs dulu…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.