WANITI

djas Merahputih

 

Kaum ini selalu menjadi tanda tanya. Identitasnya nggak jelas, paling tidak dalam dunia biner dan digital manusia mereka tak memiliki ruang dan tempat formil yang diakui secara administratif. Kaum ini serba salah. Mereka mengalami diskriminasi serta krisis identitas. Bagi yang tak kuat bisa saja mereka menyalahkan Tuhan atas kondisi mereka (nah lho..!!).

Keberanian mereka untuk menyalahkan Tuhan sesungguhnya bukanlah bentuk kesombongan. Ia lebih tepat disebut keputusasaan. Siapa sih yang berani-beraninya nyalahin Tuhan? Kesombongan justru perlu dialamatkan kepada manusia-manusia normal. Bisa saja pandangan sinis dan antipati pada kaum tersebut dianggap oleh Sang Pencipta sebagai sebuah pelecehan. Bagaimana tidak? Tuhan sendiri menyebut manusia sebagai ciptaan paling sempurna, kreasi terbaik atau maha karya tiada banding. Manusia jauh lebih sempurna dari hewan, tumbuhan, gunung, laut hingga bintang dan planet-planet. Merendahkan sesama manusia bukanlah sebuah bentuk sanjungan kepada Sang Pencipta. Siapakah yang berani berucap, “Ni orang nggak jelas banget, penciptanya siapa sih..??

img. 1 Human - Best Creation

img. 1 Human – Best Creation

Sejak kapan kaum tersebut merasakan posisi terjepit seperti ini? Ah, bisa saja ini adalah efek samping kemajuan peradaban manusia di bidang literasi, eh, maksudnya birokrasi. Segala hal harus tercatat dan teridentifikasi dengan jelas. Kita hidup dalam dunia hitam putih, dunia biner, dunia digital. Kalo bukan A berarti B, Kontra X artinya Y, tak berani adalah takut, tak setuju dipastikan menolak, ada penjahat ada pahlawan, di sini dekat di sana jauh, bla bla bla…  Semua berpasangan sekaligus kontras satu sama lain. Padahal kunci keberlangsungan hidup sesungguhnya adalah keseimbangan, sesuatu yang tidak keduanya atau sekaligus dua-duanya. Keseimbanganlah yang membuat bumi berputar pada porosnya dan menukar siang-malam secara bergantian. Manusia seharusnya mampu belajar dari watak benda-benda alam.

Konon suku Bugis kuno mengenal lima jenis gender, meskipun tentu saja tak bisa kita temukan pada kartu identitas mereka. Maklum, saat itu sistem administrasi kependudukan belumlah secanggih sekarang. Namun di masa itulah kaum tak jelas yang kita bahas ini memperoleh pengakuan (non formal) dari lingkungan dan para tokoh masyarakat di kampung mereka. Mereka bisa beraktifitas tanpa sedikitpun rasa rendah diri.

Segalanya berubah drastis ketika birokrasi muncul dan menjadi kebutuhan setiap negeri. Apalagi saat ajaran agama menghalalkan darah mereka untuk dibunuh. Setahu Ai, membunuh baru bisa diterima untuk membalas tindakan serupa. Seorang pembunuh pantas untuk dimatikan, bahkan cukup dengan korban satu nyawa, apalagi jika korban berjumlah banyak. Birokrasi dan agama telah membuat ruang gerak mereka semakin sempit dan terbatas. Birokrasi menata administrasi, agama menata kehidupan. Namun bagi mereka, birokrasi dan agama sedang membangun tempat sempah untuk menyingkirkan mereka. Manusia menyingkirkan sesamanya akibat birokrasi dan agama yang tak memiliki cukup ruang bagi kaum ini.

Bagi penganut agama, utamanya Islam, kehadiran mereka tak diinginkan di dunia ini. Mereka dianggap barang “reject”, malproduksi, cacat hukum dan tak teridentifikasi. Mereka ada namun dianggap tiada. Kaum mereka sering dibandingkan dengan gay dan homoseks yang mendapat murka Tuhan. Apakah kaum mereka bisa dipastikan seluruhnya adalah individu berorientasi seks menyimpang? Masih butuh data penelitian lebih banyak untuk menyimpulkan hal ini.

img. 2 G e n d e r

img. 2 G e n d e r

Dalam struktur sosial suku Bugis pra-Islam terdapat lima jenis gender yang secara “informal” eksis dalam masyarakat. Pria dan wanita jelas adalah dua di antaranya. Dua lainnya adalah Calabai (banci) dan Calalai (tomboi). Satu lagi yang paling unik adalah Bissu.

Secara sederhana Bissu adalah opposit (negasi) dari keempat gender yang ada. Sedikit sulit menjelaskannya. Bissu adalah gender khusus sebab mereka dikait-kaitkan dengan personifikasi Yang Maha Esa dalam kehidupan dunia. Nyatanya, kaum Bissulah yang dipercaya oleh raja dan seluruh rakyat untuk berkomunikasi dengan Sang pencipta. Bissu sebagai status gender adalah simbol karakter keesaan Tuhan. Ia tak memiliki gender, Ia tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Meskipun kenyataannya Bissu sebagai wujud manusia biasa tidaklah tunggal. Namun status gendernya melambangkan ketidakterikatan Tuhan pada konsep gender manusia.

Manusia dan hewan harus beranak pinak, untuk itulah Tuhan menetapkan sepasang gender pada manusia maupun hewan. Tuhan sendiri tak memerlukannya.  Patut disayangkan, struktur bahasa manusia sangat sulit menghindar dari penyertaan gender di setiap subyek maupun obyek kalimatnya, termasuk saat kita akan menunjuk kepada zat Tuhan.

Kisah Bissu adalah kisah tragis. Ketika Islam menyebar di tanah Bugis para Bissu tersingkir dan terdegradasi ke tempat terendah. Bahkan lebih rendah dari dua gender abu-abu yang ada. Mereka juga dianggap layak untuk dibunuh. Sulit membayangkan seorang pendeta agama dapat diperlakukan hampir setara dengan hewan ternak.

Kembali ke topik kaum abu-abu, dua gender yang dulu pernah eksis ini, kini lebih cenderung dipersepsesikan sebagai penyimpangan orientasi seksual dibanding penyimpangan perilaku biasa. Ini berakibat pada treatment atau perlakuan masyarakat terhadap eksistensi mereka. Tak seperti dalam agama-agama baru, cerita-cerita Sodom dan Gomorah tak populer dalam masyarakat Bugis kuno. Lagi pula calabai dan calalai sesungguhnya bukanlah pengelompokan seksual, melainkan penegasan ciri psikologis para pelakunya. Mereka dapat berkeluarga dan masing-masing memiliki pasangan. Dalam hal ini yang kebanyakan berlaku adalah pasangan psikologis, bukan pasangan biologis [baca]. Tentu saja berbeda halnya dengan persepsi masyarakat tentang LGBT saat ini.

Fenomena LGBT saat ini mengarah pada upaya memunculkan domba-domba aduan di tengah masyarakat. Orang juga tahu, dalam agama Islam kaum abu-abu ini tak mendapat tempat sama sekali. Doa dalam agama Islam itu berbahasa Arab dan celakanya tak ada kata yang bisa menunjuk orang ketiga tunggal dalam bentuk non gender. Bahkan Tuhanpun hanya bisa disebutkan dalam ungkapan kata berkarakter Maskulin (mohon dikoreksi jika salah). Bahasa Arab tak memiliki kata yang persis sama dengan kata “Dia” dalam bahasa Indonesia/Melayu, yang tak berkarakter gender sama sekali. Saat salah seorang kaum abu-abu ini meninggal, Imam shalat jenazah pasti bingung membacakan doa bagi mereka. Malaikatpun, yang dipersepsikan hanya bisa berbahasa Arab tentu akan bingung saat menginterogasi makhluk abu-abu ini di alam kubur. Jika sebuah komunitas membuat propaganda untuk melegalkan LGBT di Indonesia itu sama saja dengan menyulut api di pangkalan bensin. Tak perlu lagi menduga apa yang akan terjadi.

img. 3 Menolak Legalitas = Meniadakan (?)

img. 3 Menolak Legalitas = Meniadakan (?)

Jangan pernah menuntut legalitas negara untuk LGBT ini sebelum dialog budaya dan lintas agama telah dilakukan secara intens, damai dan terbuka. Meskipun manusia tercipta berpasang-pasangan, nyatanya alam semesta tak selalu harus didefenisikan dalam dua kutub yang berlawanan. Adalah benar bahwa Utara dan Selatan tak akan pernah bertemu, keduanya absolut, tapi bukankah Tuhan juga menciptakan Timur dan Barat? dan bukankah kepunyaan Tuhanlah apa yang ada di Timur maupun di Barat?

Seks bebas saja jelas bertentangan dengan norma agama apalagi seks sejenis? Namun menempatkan kaum LGBT dalam ranah seksualitas semata bukanlah sebuah solusi yang bijak. Bagaimanapun, diri manusia terdiri dari ruh (netral), jasad dan jiwa. Dalam banyak kasus Maskulinitas dan karakter Feminin tak dapat bertumbuh alami seperti biasa, baik oleh faktor lingkungan maupun faktor lain. Sulit dipercaya bahwa jiwa feminin dapat tersesat ke tubuh pria dan jiwa maskulin bisa nyasar ke badan wanita. Toh, nyatanya keanehan itu tetap ada di sekitar kita.

Media massa yang tentu saja memperoleh keuntungan paling besar dari kegaduhan ini diharapkan mampu menjadi ruang mediasi bagi pro-kontra kaum LGBT. Lagipula, LGBT sesungguhnya bukanlah istilah yang tepat bagi kaum abu-abu di nusantara. Terlalu fokus dan mengarah pada aktifitas seksual. Kita bukanlah negara penganut seks bebas, sehingga dalam konteks kesusilaan jelas LGBT “tergolong” sangat bertentangan dengan jati diri bangsa.

Nah, bagaimana jika kaum abu-abu itu kita beri saja sebuah sebutan yang lebih psikhis, Wa-ni-ti. Gabungan akhirat -wan dan -wati dalam kriteria gender profesi kita. Ada wartawan, wartawati dan akhirnya wartawaniti. Di luar konteks profesi, ya sebut saja mereka sebagai WANITI. Gimana? Ada yang setuju? Yang setuju ngacung, ya..!!?

*****

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "WANITI"

  1. djasMerahputih  7 April, 2016 at 16:38

    Ha ha ha… lain kali harus ngajak Kang Iwan dan om DJ kalo ke Makassar. Sehari nggak cukup buat jajal kuliner di Makassar. Yang lagi diet pikir-pikir dulu deh..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.