Wisnu, Surga dan Rabi’ah

Chandra Sasadara

 

Teuku Wisnu ingin ganti nama (http://www.suaranetizen.com/2016/03/merasa-ngeri-dengan-namanya-sendiri.html). Biarin saja. Di kampung juga banyak yang ganti nama. Anak-anak yang sering sakit akan diganti namanya oleh orang tua mereka. Katanya nama sebelumnya terlalu berat, sehingga perlu nama yang ringan, menyenangkan dan nyaman. Jadilah nama-nama seperti Bejo, Seger, Waras, Rahayu, Widodo dll menjadi nama pasaran di kampung.

Di beberapa tradisi Jawa, orang yang telah menikah juga menambah atau mengganti nama. Nama nikah biasanya lebih gagah dan lebih ningrat. Misalnya Sentot, Kartajaya, Suryabrata dll. Jadi kalau nama aslinya hanya Bejo, setelah nikah menjadi Bejo Suryabrata. Gagah bukan?

Kalau Teuku Wisnu ganti nama pasti bukan karena alasan sakit-sakitan atau karena mau menambah nama setelah nikah. Menurut pengakuanya, ia ngeri dengan namanya sendiri, WISNU. Siapa yang tidak tahu Sang Hyang Wisnu? Lagi pula nama Wisnu adalah nama ajam (non-arab).

nama-arab

Tak pantas kan kalau ustadz hebat seperti beliau yang tiap hari tampil di TV dan menyampaikan hukum hahal, haram, syirik, bid’ah dll menggunakan nama non-arab. Siapa tahu dengan nama arab ustadz kita yang hebat ini bisa dimudahkan masuk surga. Apalagi kalau bisa berbahasa arab. Siapa tahu pula bahasa arab menjadi bahasa pengantar di surga.

Ahh.. Sudahlah, Teuku Wisnu bukan Rubi’ah al Adawiyah. Hanya perempuan “mabuk” seperti Rubi’ah yang berdo’a dengan kalimat aneh. “Tuhan, jika aku beribadah kepada-Mu hanya untuk mendapat surga-Mu, maka bakar surga itu untukku.” Tabik…

 

 

10 Comments to "Wisnu, Surga dan Rabi’ah"

  1. J C  7 April, 2016 at 09:30

    Yang nulis artikel ini dan sebagian besar komentar jelas-jelas TIDAK PAHAM AKIDAH…

  2. Handoko Widagdo  3 April, 2016 at 16:10

    Nama adalah pilihan.

  3. Chandra Sasadara  1 April, 2016 at 14:56

    Si Wisnu harus jadi ulama besar biar bisa mengeluarkan fatwa bahwa semua org islam harus pake nama arab. denngan begitu katering yang membuatt bekakak, bubur merah putih dan tumpeng ikut dapat limpahan rizki..hahahaha

  4. Lani  1 April, 2016 at 09:04

    Al: mahalo sdh diingat…………halah ngapain gonta-ganti nama mmgnya ada yg akan selamatan tiap diganti namanya……………hehehe klu setiap kali ganti nama trs ada bancak-an dan selamatan ya mauuuuuuuuuu……….hahaha ngga lah namaku sdh bagus artinya ndak mau diganti…………..

  5. djasMerahputih  1 April, 2016 at 07:23

    Waduh.. djas kok kebalik yah…
    Nama arabnya malah dilepas, kembali ke nama tradisional nusantara..

  6. Dj. 813  31 March, 2016 at 18:51

    Nama Dj. Djoko, tidak perlu diganti .
    Karena sudah punya cucu 3 orang pun masih tetap Djoko .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !
    Terimakasih dan salam,

  7. James  31 March, 2016 at 14:50

    kalau nama Jokowi pasaran gak ?

    hadir lagi Al, thank you

  8. HennieTriana Oberst  31 March, 2016 at 14:20

    Ada-ada aja ya manusia…

  9. wesiati  31 March, 2016 at 12:42

    ustad Wijayanto kok nggak merasa perlu ganti nama, ya? orang yang belajarnya barusan memang biasanya ‘mbanyaki’. (bahasa indonesianya apa tuh? saya ndak tau)

  10. Alvina VB  31 March, 2016 at 12:11

    Ha..ha….lagi2 arabisasi ya…
    Absenin para khentirs yg mau ganti nama gak?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *