The Year Without Summer

Handoko Widagdo – Solo

 

dalam rangka memperingati letusan dahsyat Gunung Tambora, 5 April 1815

 

Judul: The Year Without Summer

Penulis: William K. Klingaman and Nicholas P. Klingaman

Tahun Terbit: 2014

Penerbit: ST Martin’s Griffin

Tebal: 338

ISBN: 978-1-250-04275-0

tambora

Saat Tambora mulai meletus pada tanggal 5 April 1815, Raffles, yang saat itu adalah Gubernur Jendral di Jawa menyangka bahwa telah terjadi penyerangan. Suara dentuman dikiranya letusan meriam yang berasal dari kapal yang menyerang. Demikian pula kapten kapal Benares yang berada di Makassar, menyangka bahwa telah terjadi penyerangan. Namun mereka baru sadar bahwa itu adalah letusan gunung saat Tambora meletus dengan lebih hebat 5 hari kemudian, yaitu pada tanggal 10 April 1815. Letusan Tambora adalah letusan gunung berapi terbesar dalam 2.000 tahun terakhir. Letusan Tambora mencapai skala 7 dari 0 – 8 Indeks Letusan Gunung.

Letusan tanggal 10 April 1815 tersebut menimbulkan kerusakan yang amat sangat di Sumbawa. Ribuan orang terbakar akibat uap panas yang menyapu yang suhunya lebih dari 1.000 derajat Celsius. Kampung-kampung di kaki gunung semuanya terbakar. Bukan itu saja, akibat dari letusan ini juga mengakibatkan kelaparan di wilayah Dompu. Bahkan anak Sultan meninggal karena kelaparan. Pulau Jawa gelap gulita pada tanggal 11 April 1815. Orang-orang di Gresik menyangkan bahwa Nyi Roro Kidul sedang marah dan melepaskan senjatanya.

Perang Napoleon baru saja selesai. Eropa masih dilanda kemiskinan dan kekurangan pangan akibat perang. Pada bulan Desember 1985, terjadi hujan salju yang sangat lebat di Italia dan Hungaria. Salju yang turun bukannya berwarna putih, tetapi berwarna coklat, kuning atau merah. Fenomena ini mengejutkan semua pihak. Turunnya salju ini diikuti dengan suhu amat dingin di Eropa. Tahun 1816 adalah suhu kedua terdingin sejak tahun 1400. Suhu dingin di tahun 1816 ini hanya kalah dari suhu pada tahun 1601 saat gunung Huaynaputina di Peru meletus. Akibat dari suhu dingin ini adalah gagalnya semua tanaman pertanian di Eropa.

tambora-cover eruptions

Kegagalan panen mengakibatkan kelaparan di Eropa. Di Inggris terjadi kerusuhan karena harga pangan yang tak terbeli. Di Irlandia terjadi wabah tipus yang membunuh banyak warganya. Di Eropa daratan terjadi kelaparan yang sangat parah. Korban akibat kelaparan dan wabah tipus diperkirakan 200.000 orang meninggal.

Pada tanggal 29 April 1816, atau setahun setelah letusan, orang-orang di Amerika melihat noda hitam di matahari. Noda hitam tersebut adalah kumpulan debu yang terbawa ke atmosfir Amerika. Pada bulan Mei, yang seharusnya Amerika Utara dan Kanada masuk pada musim semi, ternyata malah turun salju. Wilayah Quebec, Vermont, New England, New Hampshire dilanda hujan salju dan angin kencang yang sangat dingin. Salju yang membeku telah merusak tanaman pertanian dan bahkan hutan. Tunas-tunas pohon yang seharusnya tumbuh di awal musim semi, semuanya rusak dan mati. Akibat perubahan suhu yang ekstrim ini tidak hanya terjadi di Amerika Utara, tetapi juga di wilayah yang lebih bawah. Tanaman jagung yang baru saja ditanam rusak, sehingga petani harus menanam ulang.

Selain mencari penjelasan melalui sains, banyak orang Amerika yang mencari penjelasan secara teologis. Meski mereka tetap percaya bahwa Tuhan bekerja melalui hukum alam, namun Tuhan bisa menggunakannya untuk memperingatkan umatnya. Itulah sebabnya gereja kembali penuh dengan umat karena cuaca yang sangat ekstrim dan kelaparan ini.

Akibat suhu yang amat dingin dan tiadanya makanan di Amerika bagian utara, membuat masyarakat berpindah ke arah selatan, ke wilayah Midwest. Selain perpindahan ini, pemerintah Amerika terpaksa membuat program pinjaman lunak kepada perusahaan-perusahaan yang mampu menyerap tenaga kerja.

Langit siang menjelang senja berwarna kuning-jingga. Fenomena alam yang unik ini diabadikan dalam sebuah lukisan oleh J. M. W Turner berjudul Chichester Canal. Akibat dari hujan terus menerus memaksa Mary Shelley, John William Polidori dan kawan-kawannya tetap tinggal di dalam Vila Diodati di tepi Danau Geneva. Mereka berlomba membuat cerita yang paling mengerikan. Shelley menghasilkan karya “Frankenstein”. Sedangkan Lord Bryon menghasilkan karya “A Fragment” dan sebuah puisi berjudul “Darkness”

Buku ini juga membahas perubahan jalannya sejarah di Eropa. Namun karena pengetahuan sejarah Eropa saya tak cukup banyak, maka saya tak membahasnya dalam tulisan ini.

Buku ini hanya membahas akibat letusan Tambora di Eropa dan Amerika saja. Padahal akibat dari letusan Tambora juga dialami oleh Asia, khususnya India dan China. Di India, wabah kolera melanda masyarakat di sepanjang sungai Gangga. Sedangkan di China, Sungai Yangtze meluap dan terjadi kegagalan panen di Provinsi Yunnan. Akibatnya terjadi kelaparan hebat di bagian selatan China.

Jadi layaklah disebut bahwa Tambora telah mengubah, iklim dan tatanan masyarakat di seluruh dunia.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "The Year Without Summer"

  1. J C  7 April, 2016 at 09:41

    Tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya waktu itu…

  2. Handoko Widagdo  6 April, 2016 at 08:02

    Mas Sumonggo, jika musim rambutan lenyap, rambutnya pada kemana?

  3. Handoko Widagdo  6 April, 2016 at 07:59

    Kangmas Djoko, tetapi alam tidak mendengarkan manusia. Alam memiliki hukumnya sendiri. Kisah tentang letusan Tambora adalah contohnya.

  4. Sumonggo  6 April, 2016 at 05:14

    Jika super volcano di bawah danau Toba meletus, musim rambutan juga bakal lenyap …

  5. Dj. 813  5 April, 2016 at 22:04

    Bila alam turut berbicara, maka manusia tidak berdaya .
    Semoga banyak menusia yang mau mendengar dan memelihara alam
    agar bisa hidup berdampingan .

    Salam Damai Sejahtera dari Mainz .

  6. Handoko Widagdo  5 April, 2016 at 15:45

    James, kentutnya di Sumbawa, akibatnya sampai Amerika Utara.

  7. James  5 April, 2016 at 15:43

    hadir ci Lani. artikel Tambora kentut nih

  8. Handoko Widagdo  5 April, 2016 at 12:18

    Lani, letusan Tambora memang lebih hebat dari Krakatau.

  9. Lani  5 April, 2016 at 12:01

    hand: mmgnya letusan gunung Tambora lebih hebat di bandingkan dgn Krakatau???

    Salam buat semua kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.