HURUF KECIL

Anwari Doel Arnowo

 

Ahaaaaa… Judul tulisan ini saya tulis dengan huruf jenis Verdana seperti biasanya tulisan saya selama ini. Yang perlu saya perhatikan adalah ukuran huruf di judulnya yang 48, itu besar untuk pandangan normal biasa, cukup besar untuk tanpa kacamata atau lensa baca. Akan tetapi arti kesan pesan judul ini adalah kebalikannya, yakni huruf kecil.

huruf-kecil

Suatu saat jaman ketika saya masih muda saya terlibat dalam penjualan produk berupa majalah dan buku TIME LIFE dari USA. Pernah saya baca bahwa para ahli huruf di penerbitan TIME itu sungguh sungguh mengikuti hasil-hasil penelitian dan semua data mulai mengenai kertas yang digunakan, tinta apa yang sesuai dan jenis huruf-huruf apa saja yang pas untuk keperluan pencetakannya. Itu telah diberlakukan bertahun-tahun lamanya.

Majalah LIFE yang terkenal di seluruh dunia telah mati dan hidup lagi sebentar tetapi sekarang sudah tidak nampak. Saya mempercayai bahwa barang cetak itu akan secara berangsur-angsur berkurang sampai minimum, entahlah, apakah sirna atau punah atau istilahnya adalah belum tau. Sudah pernah saya tuliskan bahwa era digital sekarang akan mengambil alih peran era huruf cetak yang dicetak di atas media kertas atau media lainnya. Adapun pertanda seperti ini sudah menjadi kenayataan terbukti dari telah menghilangnya majalah Newsweek dan Readers’ Digest (RD), karena pengelolanya telah merasakan sejak lama.

Saya sendiri menjadi seorang penggemar Readers’ Digest sejak tahun 1956 dan masih membaca copy terbitannya yang terakhir pada beberapa minggu yang lalu. Itu sudah sejak setengah abad yang lalu, ketika saya masih belajar di akhir kelas Sekolah Menengah Pertama – SMP Negeri 7 Jalan Perwira Jakarta. Sedikit sedih juga menyaksikan matinya raksasa penerbit karya-karya besar seperti kedua majalah tersebut. Salah satu dari tetua di dalam lingkungan keluarga istri saya ada yang mempunyai koleksi majalah RD ini sejak di masa mudanya. Saya lihat peninggalannya ini teratur sesuai urutan tanggal terbit disimpannya rapi di sebuah almari. Lebih dari sepuluh  tahun yang silam saya telah menulis yang menggunakan nama judul HURUF BESAR. Tulisan itu dipicu karena ada ratusan buku di Jepang yang berhasil dicetak kembali menggunakan huruf-huruf besar.

Itu memudahkan bagi seorang tua mampu membacanya dengan nyaman. Buku-buku tersebut laris manis habis terjual. Apa sebab? Pembaca yang membelinya kebanyakan mereka kaum berumur tua seperti saya, yang juga mempunyai waktu luang lebih banyak, dan jelas mereka mampu membeli buku-buku tersebut. Itu merupakan sebuah ungkapan diri saya yang sedang menjadi tua jua. Menjadi bertambah tua memang bagian akhir dari hidup saya. Saya yakin bahwa tidak penting bagi diri saya ini untuk memberi kesempatan menua seperti ini dengan cara menghentikan apa yang saya masih bisa.

Contoh  sederhana sekali. Dalam menyiapkan makan saya sendiri sejak dari tahap saya berbelanja bahan makanan sampai memasaknya, tanpa lupa memangsanya habis dengan secara mangkus (efisien). Maksudnya adalah saya tidak akan kebanyakan makan sampai kekenyangan, apa yang saya siapkan tadi. Juga tidak menyisakan dengan cara sembrono. Cuci piring dan alat makan bisa saya lakukan sendiri. Memang membersihkan rumah dan lain-lain hal perbaikan sedikit-sedikit apapun yang rusak, saya masih  terkadang bisa dan mau. Bahkan membersihkan selokan yang mengalir di depan rumah saya mau turun terjun ke saluran dalamnya. Masih bisa. Kenyataannya tidak secara seratus persen demikian. Anak-anak tidak  membiarkan saya sendirian, sejak istri saya meninggal dunia dua tahun yang lalu.. Ada dua pembantu laki-laki (44) sudah ikut saya telah lebih dari 20 tahunan.

Ada juga satu pembantu perempuan yang seumur dengan dia, masih ditambah ada seorang laki-laki pengemudi mobil (60). Dengan demikian saya harus mampu mengerjakan apa saja, yang mereka mungkin lalai mengerjakan tugasnya, tanpa perasaan mereka akan menjadi tersinggung. Dengan demikian bilamana tidak ada yang perlu saya kerjakan di luar menulis tulisan semacam ini, saya masih mampu dan suka menikmati memainkan electronic keyboard atau guitar.

Tentu saja kadang-kadang juga menyanyi yang pendengarnya cuma saya sendiri. Kalau ada acara bersama teman-teman dekat, saya mau dan mampu bila menyanyikan lagu kegemaran Let Me Try Again – Frank Sinatra. Hanya di depan teman-teman dekat yang sama umur saja. Tetapi bila saya sedang dan merasa tidak siap, jawaban saya biasanya adalah minta bayaran dengan upah one note one dollar. Dalam situasi begini lalu berubahlah menjadi tertawa dan mereka berteriak jangan dengan Dollar tetapi  dengan Yen saja, msih ada tetapinya: Yen dari kata bahasa Jawa, artinya yen ono duwite yang dapat diterjemahkan: Bila ada uangnya, atau Yen ora lali : Bila tidak lupa !! Oleh karena para pembantu dan pengemudi mobil di rumah sudah mengerjakan tugas dengan baik , beberapa bulan terakhir ini saya mulai memelihara anjing dari ras Golden Retriever, saya pilih yang jantan sejak umur dua bulan, sekarang sudah 6 hampir 7 bulan, sejak beratnya sekitar kurang dari 3 kilogram dan sekarang bertumbuh cepat menjadi 10 kilogram.

Tetangga saya ada yang memiliki jenis ras yang sama umurnya 3 tahun lebih dan saat ini berat badannya sekitar 45 KG. Dengan demikian nanti mungkin pada tahun depan saya harus amat berhati-hati agar tak terjatuh bila berjalan bersama anjing saya. Orang tua dilarang keras jatuh. Tulangnya bukan lagi seperti dulu. Sekarang saja sudah ada rasa kewalahan. Atas anjuran dokternya yang telah menyuntik segala yang diperlukan dia selama satu tahun, anjing ini hanya diberi makan nasi dan sayuran rebus serta semua buah-buahan.

Sudah saya lakukan selama 3 bulan ini lamanya, tanpa daging. Meskipun terkadang diberi juga tulang sapi untuk giginya yang baru tumbuh. Setiap hari saya ikut melatihnya seperti diajarkan oleh pelatihnya yang datang setiap minggu satu kali, dengan perintah-perintah umum seperti duduk, bersalaman dan juga menyuruhnya mengambil bola dan menyerahkannya kembali kepada saya. Saya beri dia nama lengkapnya: Raden Mas Boku. Boku adalah kata di dalam bahasa Jepang yang artinya SAYA dipakai hanya oleh kaum laki-laki. Belum ada orang lain yang marah oleh karena saya cantumkan Raden sebagai bagian dari nama anjing saya. Dituliskan nama lengkapnya di kandangnya, yang dibuat bertingkat 2 dan akan cukup menampung besar / berat badannya bilamana dia menjadi besar tiga tahun lagi. Begtulah kegiatan saya dalam merawat diri saya sehari–hari, antara lain berinteraksi dengan makhluk Tuhan yang bukan manusia.

Saya rasa sudah cukup berhati hati dalam merawat kesehatan saya, tetapi tetapi selalu ingat  favourite saya: The older I get the better I was. Terasa nyaman membuat hati saya tenang dan juga geli menyaksikan dan merasakan saya saat ini menjadi bertambah tua maupun bertambah kurang kemampuan. Kemampuan yangmacam-macam, yang begini dan begitu saya terima saja tanpa terlalu berkeluh yang berlebihan. Apa yang tidak mampu lagi, mungkin saja kan dapat dilupakan, yaaa tentu saya lupakan saja.

Saya gantikan dengan yang lain yang sesuai dengan umur, oleh karena mengingat ungkapan tadi, yakni: …. the better I was.  Yang agak menyulitkan saya adalah seperti tertera di judul tulisan ini. Meskipun sudah dianjurkan seorang dokter mata untuk tidak memanjakan kemampuan mata dengan terlalu sering menambah ukuran baca dengan yang lebih tinggi, sekarang saya memerlukan cahaya lebih terang dan huruf yang nyaman, adalah yang ukurannya 16 di layar computer. Saya membawa-bawa kaca pembesar yang ada lampunya. Sudah demikian upaya saya agar bisa membaca, tetapi, sungguh menyedihkan, koran yang  langganan saya setiap hari, Kompas dan The Jakarta Post, telah mengubah sebagian besar halamannya dengan mencetak huruf huruf yang menjadi amat kecil sekali. Menghemat biaya antara lain kertas? Itu dugaan saya terhadap tata cara keserakahan komersial. Saya duga para pengelola Koran ini kurang berpikir yang lebih menyeluruh dan melebar.

Apakah mereka tidak tau bahwa apa yang saya tulis soal huruf kecil ini, bisa memicu saya untuk secara serius berhenti berlangganan? Bukankah para baby boomers yakni mereka yang umurnya sudah di atas angka 55- 60-65  tahun, di banyak Negara sudah melampaui 50% (?) dari jumlah populasi keseluruhan?? Jangan-jangan mereka inilah, termasuk saya, akan jadi pionir beremigrasi ke era digital??  Saya masih dan ada alternative serta mampu membaca dan mengikuti berita apapun melalui fasilitas digital baik di TV maupun di gawai (gadget) computer.

Juga segala gawai yang lain-lainnya. Kadang-kadang saya juga pilah dan pilih tidak membaca koran sama sekali seharian karena sedang membosankan isinya. Sudah saya tulis di buku saya maupun di essai (lebih dari 1000 judul) yang tersebar di mana-mana di dunia digital, bahwa saya selalu berusaha tetap menggunakan huruf seukuran 16 hanya demi untuk mereka yang sebaya umur dengan saya. Ada komentar mereka yang masih muda dengan membuka mata sedikit lebih terbelalak mengucapkan wow (bukannya waduh!) hurufnya gede be’eng. Maklumlah kan mereka ini belum pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi tua ??!

 

Anwari Doel Arnowo – 8 April, 2016

 

 

4 Comments to "HURUF KECIL"

  1. J C  27 April, 2016 at 08:40

    Yang saya perhatikan adalah pak Anwari menulis “belanda” dan “dpr” selalu konsisten dengan huruf kecil. Ini sudah jelas merupakan “tanda penghormatan” luar biasa…

  2. Lani  13 April, 2016 at 10:01

    James: mahalo udah diingat

  3. Dj. 813  12 April, 2016 at 15:12

    Dengan menuliskan huruf yang befariasi bentuk nya .
    ” katanya ” orang bisa menilai kepribadian seseorang .
    Entahlah, apa benar atau tidak….
    Dj lebih suka dengan bentuk ” segoe print ” warna biru dan ukuran 12 . ( lebih kecil dp ukuran 16
    Indah Dj. pandang dan tidak bosan olehnya .
    Terimakasih cak dan salam sehat selalu .

  4. James  12 April, 2016 at 09:51

    1……sembari mengabsenkan para Kenthirs memakai huruf kecil

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.