Kadarwati, Perempuan dengan Lima Nama

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Kadarwati Perempuan Dengan Lima Nama

Penulis: Pandir Kelana (Slamet Danusudirdjo)

Tahun Terbit: 1982

Penerbit: Sinar Harapan

Tebal: 199

kadarwati

Apakah seorang perempuan cantik, pintar, dari keluarga baik-baik dan berpendidikan akan bernasib baik? Kadarwati, seorang perempuan yang dikaruniai wajah yang cantik, tubuh yang menggiurkan setiap lelaki, calon pendidikan dokter, anak seorang terpandang di desanya dan kakaknya adalah seorang dokter memiliki kesempatan untuk menjadi perempuan yang berhasil. Apalagi kesempatan untuk sekolah dokter ke Shontano, Singapore sudah di tangan. Namun kecantikan dan kemolekan tubuhnya itulah yang justru menjadi rintangan masa depannya. Jadi, apakah kecantikan dan kemolekan adalah sebuah anugerah untuk perempuan, atau sebaliknya sebuah kutuk?

Namun apa sebenarnya nasib itu? Apakah nasib sama dengan arti hidup? Ataukah nasib berbeda dari arti hidup? Jika nasib adalah berbeda dari arti hidup, bagaimanakah hubungan keduanya? Apakah nasib bisa mengalahkan arti hidup? Apakah seseorang yang bernasib buruk akan kehilangan arti hidup?

Ketika Kadarwati telah berada di Shontano untuk memulai pendidikan kedokteran, tiba-tiba dia harus menghadapi nasib yang sama sekali berbeda. Karena kecantikannya, dia dipilih untuk dididik menjadi kepala rumah tangga pembesar Jepang. Kepala Rumah Tangga Jepang berarti harus melayani apa saja yang dibutuhkan oleh tuannya. Dia harus membereskan rumah, menyiapkan makan, memandikan dan melayani di tempat tidur. Mula-mula dia ditugasi di sebuah perkebunan di Malaya. Beruntung Kadarwati mendapatkan tuan yang baik, yang tidak rakus akan perempuan. Karena kebaikan sang tuan, akhirnya Kadarwati malah jatuh cinta dan menyerahkan kegadisannya secara sukarela, tanpa paksaan.

Namun nasib menjadi lain saat tuannya berganti. Tuan yang baru ini sungguh kurang ajar dan memanfaatkan Kadarwati sesukanya. Kecerdikan Kadarwati membawanya berpindah kepada tuan lain yaitu Jenderal Nizisumi dan dibawa ke Saigon. Jenderal Nizisumi adalah seorang militer yang sangat berkuasa di Asia Tenggara pada saat perang Pasifik. Nizisumi hanya berada di bawah Jenderal Tanaka sang penguasa perang. Nizisumi adalah seorang jenderal yang terhormat dan memperlakukan Kadarwati dengan baik. Adalah umum seorang tuan meminjamkan seorang kepala rumah tangga kepada tamu-tamunya. Namun Nizisumi tidak melakukannya kepada Kadarwati.

Nasib berubah drastis saat Kadarwati mendapat cuti ke Jawa. Meski istilahnya cuti, sebenarnya Kadarwati tidak bisa kemana-mana sendiri. Dia berada di bawah pengawasan ketat Dinas Rahasia Jepang. Sebab Jepang tahu bahwa Kadarwati adalah seorang yang berpendidikan serta memiliki banyak informasi saat menjadi kepala rumah tangga Nizisumi. Dia diperlakukan sangat hormat oleh Dinas Rahasia Jepang karena Kadarwati adalah kepala rumah tangga Jenderal Nizisumi. Namun saat Nizisumi tewas di Burma, nasib Kadarwati berbalik arah. Dia tidak lagi diperlakukan dengan hormat, tetapi dijadikan mangsa oleh Mayor Sato, Kepala Dinas Rahasia. Bukan hanya dipakai oleh Mayor Sato, Kadarwati juga dipakai oleh tamu-tamunya. Melihat bahwa tubuhnya sudah tidak suci lagi, Kadarwati menganggap dirinya sudah mati. Dia memilih nama baru, yaitu Astusi. Astuti adalah nama seorang pelacur yang gantung diri di desanya dulu.

Nasib menjadi lebih buruk saat Mayor Sato dan para anggota Dinas Rahasia sudah bosan dengan Astuti. Dia dikirim ke Semarang, ke sebuah Kurabu, rumah pelacuran untuk para tentara Jepang. Astuti bukan seorang Kadarwati. Astuti adalah pelacur yang tidak terpelajar. Dia mengubah perilakunya supaya sosok Kadarwati tidak dikenal lagi. Astuti telah bertekat bulat untuk membalas dendam kepada Jepang yang telah merusak hidupnya. Membalas dendam kepada Jepang yang telah ‘membunuh’ Kadarwati.

Situasi Jepang yang mulai kalah perang dimanfaatkan Astuti untuk merekayasa kebakaran di Kurabu. Kebakaran ini membunuh banyak tentara Jepang yang sedang menikmati para perempuan. Astuti selanjutnya melarikan diri dengan menyamar sebagai seorang setengah gila bernama Mbok Jakem. Mbok Jakem melarikan diri ke Jogja.

Di Jogja Mbok Jakem memilih nama Mirah. Mirah menjadi pelindung sekaligus memberi pelatihan kepada para pelacur di Kampung Balokan sambil berdagang perhiasan. Mirah bersama Ibu Sinder mendidik para perempuan ini untuk bisa beralih profesi, meski tidak mudah dan tidak semuanya berhasil. Di Jogja inilah dia kembali bertemu dengan Bargowo, pemuda yang ditemuinya di kereta dalam perjalan ke Magelang saat Kadarwati hendak berpamitan menempuh pendidikan dokter kepada orang tuanya. Sebenarnya pertemuan Mirah dengan Bargowo juga terjadi saat Astuti menjadi pelacur di Kurabu di Semarang. Bibit cinta di antara mereka berdua tumbuh kembali. Bargowo yang telah berpangkat letnan sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Bargowo dan para tentara Indonesia melawan Jepang. Bargowo juga ikut berjuang berperang melawan sesama bangsa Indonesia saat PKI memberontak di Madiun.

Kedatangan Belanda kembali ke Indonesia membuat Jogja menjadi ajang pertempuran. Mirah dan para pelacur berjuang bersama dengan para tentara. Para pelacur yang dipaksa melayani tentara Belanda menjadikan dirinya mata-mata. Para pelacur ini mencari informasi tentang patroli yang akan dilaksanakan oleh Belanda. Para pelacur juga menyembunyikan senjata yang dipersiapkan untuk penyerbuan TNI kepada Belanda di Jogja.

Bagaimana hubungan Mirah dengan Bargowo selanjutnya? Apakah percintaan mereka berakhir bahagia? Bahagia yang bagaimana? Mengapa Mirah berganti nama lagi menjadi Ibu Basuki saat meneruskan karyanya di Balokan sebagai pengelola panti asuhan? Kisah dengan latar belakang era kedatangan Jepang sampai Indonesia terbebas dari agresi Belanda penuh ketegangan psikologis.

Dalam novel ini Pandir Kelana mendiskusikan bahwa seseorang yang bernasib buruk tetap bisa memiliki arti hidup. Kebahagiaan tetap bisa diraih meski nasib tak berpihak. Kadarwati, seorang perempuan yang cerdas, berpendidikan, cantik, seksi dan dari keluarga terpandang, karena situasi, mengalami nasib yang sangat buruk. Calon dokter menjadi gula-gula tentara Jepang dan kemudian Belanda. Namun Kadarwati yang menjelma menjadi Astuti, Mbok Jakem dan kemudian Ibu Mirah dan kemudian memakai nama Ibu Basuki tetap bisa memiliki arti hidup meski nasibnya berantakan.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Kadarwati, Perempuan dengan Lima Nama"

  1. Handoko Widagdo  27 April, 2016 at 16:58

    Betul…betul…betul…

  2. J C  27 April, 2016 at 08:40

    Lho? Ini artikel mbahas Nyai Kona tho?

  3. Handoko Widagdo  16 April, 2016 at 11:07

    Lani, Lina, Anil, Lian, dan Lain-lainnya…jadi lebih dari 5 nama.

  4. Handoko Widagdo  16 April, 2016 at 11:03

    E.A Inakawa, misteri itu hidup yang menjalani nasip.

  5. Lani  16 April, 2016 at 02:09

    Hand: bener juga……………tp aku mmg sejatinya punya 5 nama yg berbeda………..tp tak ada yg tau hehehe…………..

  6. EA.Inakawa  15 April, 2016 at 15:41

    Hidup itu : MISTERI diperjalanan NASIB

  7. Handoko Widagdo  13 April, 2016 at 11:06

    Avy, saya yakin Pandir Kelana menulis berdasarkan pengalaman pribadi seseorang.

  8. Handoko Widagdo  13 April, 2016 at 11:03

    Kenthir Kona dengan nama Lani, bukan lima nama.

  9. Handoko Widagdo  13 April, 2016 at 11:02

    Bella Kirana, saya tidak tahu apakah novel ini sudah ada bentuk e-booknya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *