Dongeng Laut Nusantara: Berguru pada Lumba

Dwi Klik Santosa

 

Di Ujung Pangkah, luas laut dan angin kencang adalah kawan hidupnya sehari-hari. Mungkin panas dan dingin hawa yang menyerta bisa jadi penyebab bagi tubuhnya mengidap bengek, masuk angin, dan pilek. Tapi dari tempaan cuaca dan musim yang keras, ia tumbuh sebagai laki-laki yang kuat, berani dan punya kepekaan membaca gejala.

Raka Janu adalah bocah yang beranjak remaja. Ialah cucu Arya Tandur, mantan prajurit laut Wilwatikta yang agung. Hanya karena ganas angin prahara pernah menimpa seluruh daratan tepi pantai Lautan Jawa, ayah dan ibunya tewas tertimpa bencana. Dan karena sebuah kekecewaan pula kepada situasi, Arya Tandur mengundurkan diri dari keprajuritan Wilwatikta. Kemudian menjadi seorang nelayan dan mengasuh Raka Janu, dari bayi hingga tumbuh sebagai bocah perkasa.

“Tapi jauh di dalam hati kakek, masih sangat mencinta Wilwatikta, bukan?” tanya Raka Janu.

Ditatap bocah itu dengan tajam oleh Arya Tandur. Sorot mata itu mengingatkannya kepada seraut wajah. Seorang yang sangat ia kenal dan cintai betul. Karenanya, Arya Tandur pernah menjatuhkan prasetia dan akan mengikut kemana pun ia akan membawa. Raden Wijaya yang diyakini sebagai titis Dewa Wisnu dan hendak menegakkan panji Wilwatikta dengan gelar Kertarajasa Jayawardana, ialah sang kinasih itu. Kepada perjuangannya membuka peradaban yang cerlang di tengah Hutan Tarik yang angker itu, dalam suka dan duka hingga menjadi kota ramai Majapahit, telah mengikatkan kenangan yang melekat di dalam hatinya.

“Bagaimana mungkin hati Kakek berpaling, cucuku,” ujar Arya Tandur, “hanya saja, para ksatria pemimpin kami, terlampau mencinta sang perintis, sehingga saling dicekami kecurigaan antar sesama mereka. Siapa paling pantas menjadi kinasih di hati sang Rajasa? Sehingga Gusti Ranggalawe tega mengadakan pemberontakan, karena menganggap Gusti Nambi tidak pantas menjadi Patih mendampinginya di atas tahta Majapahit. Karena terlampau cinta Gustiku Kebo Anabrang kepada sang Rajasa, lantas pemberontakan ksatria Tuban yang perwira itu dipadamkan. Tewas Gusti Ranggalawe di tangan Gustiku Kebo Anabrang.”

“Oh, jadi itukah penyebab kekecewaan Kakek?”

“Kau tahu, cucu. Ksatria-ksatria kinasih sang Rajasa itu demikian perwira. Tidak saja memiliki kecintaan kepada sang Rajasa kekasih mereka. Tetapi, juga kepada antar sesama mereka. Ketika Gusti Ranggalawe tewas di tangan Gustiku Kebo Anabrang, tidak terima Gusti Lembu Sora, dan lalu membelanya. Ditusuk dengan keris, Gustiku Kebo Anabrang oleh Gusti Lembu Sora. Nah, semenjak itu, Kakek merasa sangat kecewa, dan berpikir, apa guna memertahankan prasetia? Sekalipun cinta ini kepada Raden Wijaya tak pernah padam, sekalipun kini beliau telah berpulang dipangggil Tuhan, rasa-rasanya masih tersemat kenangan itu di sepanjang usia Kakek.”

Masa lalu Arya Tandur yang suka dikisahkan dengan kelembutan bertutur menjelang tidur adalah dongengan yang berpengaruh nyata menghidupkan semangat Raka Janu. Ekspedisi Kapal Singasari ke Pamalayu adalah kisah hebat yang pernah didengarnya. Dimana keberadaan kakeknya sebagai prajurit setangguh Kebo Anabrang sang laksamana, yaitu pemimpin kapal yang penuh hormat dan setia kepada Pataka Sang Hyang Baruna, sebagai tonggak kejayaan angkatan laut di bawah pemerintahan Singasari.

Namun ketika Kertanegara, raja Singasari wafat karena pemberontakan Jayakatwang, maka pataka dewa penguasa samodera sebagai simbol kejayaan laut tersebut berusaha dipertahankan secara teguh keberadaannya oleh Kebo Anabrang. Bersama Raden Wijaya beliau gigih berjuang merontokkan kekuasaan Jayakatwang. Dan dengan panji-panji baru Majapahit, bergelar Getah Getih Samodera, gelora perjuangan laut pun diteruskan, hendak diperhebat pengaruhnya hingga ke negeri-negeri yang lain, kalau perlu.

“Saya ingin menjadi prajurit laut, Kek,” tanya Raka Janu, “boleh, ya, Kek?”

Arya Tandur tersenyum. Ia mengenal betul sifat anak itu. Sebagaimana keyakinannya ketika dulu melihat bagaimana Kebo Anabrang tuannya mengasuh pemuda Raden Wijaya. Raka Janu memiliki semangat layaknya dipunyai sang perintis itu.

“Saya ingin seperti Kakek. Menjadi prajurit Wilwatikta yang gagah. Menjadi seorang yang mampu menjanjikan harapan bagi kemenangan kerajaan. Boleh, bukan, Kek?”

“Tapi kamu masih teramat muda, Cucu. Masih terlampau empuk tulangmu untuk mengenal kerasnya senjata tajam. Masih terlampau hijau engkau mengenali rumitnya persoalan hidup yang kejam.”

“Ah, Kakek. Bukankah saya ini cucu Kakek, mantan prajurit kebanggaan sang laksamana? Bukankah cukup keras selama ini Kakek mengajari saya olah keprajuritan? Ayolah, Kek, izinkan saya menjadi prajurit Wilwatikta. Saya tidak takut menghadapi bahaya. Pasti saya akan mampu menjalankan apa saja perintah dari sang laksamana.”

Raka Janu adalah cucunya, betapapun Arya Tandur sangat paham dan mengenal sifatnya. Apa hak mencegah kemauan dan minatnya? Bukankah selama ini mengasuh dan mendidiknya, seringkali nasihatnya retak dipatahkan oleh keluguan sang cucu. Bagaimana ia menjelaskan ihwal persahabatan bocah itu dengan sekawanan lumba-lumba liar yang seringkali dijumpainya di pantai Tanjung Pangkah? Ia pikir, ketika Raka Janu ikut bersamanya mencari ikan di tengah laut kala itu, angin prahara akan mengirim ombak untuk menenggelamkan mereka, tewas dan tinggal nama sebagaimana halnya kedua orang tua Raka Janu pada peristiwa silam.

lumba-lumba

Tapi justru bocah itu yang membukakan mata dan mengenalkan makna dari sebuah keajaiban yang nyata. Entah darimana datangnya, lumba-lumba berdatangan mendukung bocah itu dan bahkan membawa pula sosoknya hingga ke pinggir pantai. Selamat pada akhirnya mereka berdua karena budi baik pertolongan hewan laut itu.

“Lumba-lumba itu kekasih Tuhan, bukan, Kakek? Bukankah karenanya kita diingatkan, harus lebih pandai bersyukur. Nah, jadi izinkan saya bermain-main dan belajar bersama mereka, ya, Kek.”

Raka Janu bisa jadi bocah yang aneh. Karena punya kebiasaan yang tidak lazim dipunyai oleh bocah seusianya. Sehari-hari betah bermain-main di pantai. Berenang-renang di lautan ditemani oleh sekawanan lumba-lumba, binatang laut yang diaku selama ini sebagai temannya. Sebagai bocah, memang bisa terbilang beda, karena kepandaiannya berenang barangkali di atas rata-rata pada umumnya. Sehingga seusia bocah sepertinya, nampak dewasa seolah-olah sepenampakan mata. Tinggi, tegap dan otot-ototnya liat bertonjolan. Terhadap kebiasaan cucunya itu, tak cukup Arya Tandur punya kata-kata yang baik sebagai nasihat.

“Semoga Tuhan senantiasa melindungimu, Nak.”

Berkaca-kaca kedua bola mata yang tua dan renta itu ketika menatap sang cucu telah berada jauh dari daratan Ujung Pangkah, pondok hidupnya. Dari kejauhan sosok bocah itu samar, berkilau-kilau dalam pantulan surya, tak ubahnya geliat ikan. Yakni ikan-ikan lumba-lumba yang menari-nari dan gembira mengisi hari.

Tiada hari tanpa gembira. Begitulah, kebiasaan Raka Janu yang sedang bermain-main dengan kawanan ikan lumba-lumba, karibnya.

“Lumba, ingin sekali aku menjadi prajurit laut Majapahit. Bukankah aku ini pantas? Bukankah aku ini sudah besar?” kata Raka Janu.

Sembari mengapung di permukaan Laut Tanjung Pangkah yang tenang, Raka Janu menatapi wajah lumba-lumba temannya yang berjumlah banyak itu. Yang ditatap adalah binatang cerdas. Yang bisa menggerak-gerakkan tubuhnya sebagai isyarat atau cara berkomunikasi dengan bocah dari daratan Pulau Ujung Pangkah itu.

“Oh, jadi kalian setuju,” ujar Raka Janu, “horeeeee … aku akan menjadi prajurit laut. Terima kasih, Lumba …. Horeee ..”

Berteriak-teriak kegirangan, Raka Janu melonjak-lonjak gembira. Geraknya itu adalah gairah lumba-lumba yang riang pula selama ini dikenal bocah itu. Sepanjang hari, jika hatinya senang, berenang-renang senang Raka Janu diiringkan ikan lumba-lumba temannya.

~

Di lapangan Sidayo, telah berkumpul banyak pemuda. Tegap-tegap perawakannya, gagah-gagah mengisyaratkan kelayakan menjadi prajurit bagi angkatan laut Kerajaan Majapahit. Para pemuda itu datang dari berbagai daerah, ingin memenuhi panggilan Laksamana Mpu Nala yang berkehendak ingin merekrut mereka sebagai prajurit dalam kesatuan angkatan lautnya.

Berbagai ujian dilaksanakan di lapangan itu untuk menakar kepantasan para pemuda, layakkah mereka menjadi prajurit laut yang mumpuni dan bisa diandalkan.

“Laut adalah maut yang setiap saat menguji. Hanya bagi yang tahan akan gempuran bahayanya, niscaya mengenali siapa terbaik menjadi temannya. Jika sudah ada perasaan takut terhadapnya, saya persilakan mulai sekarang keluar dari barisan. Daripada di tengah jalan hanya akan menjadi hambatan.”

Kata-kata itu keras dan lugas disampaikan Arya Panakung, yaitu lurah prajurit Wilwatikta yang ditugaskan untuk menguji mental para pemuda yang berminat mendaftar sebagai anggota angkatan laut Kerajaan Majapahit. Tapi lebih dari kata-kata itu, berbagai ujian berupa unjuk keahlian, baik secara moral, mental dan ketahanan serta keterampilan kanuragan diperagakan oleh masing-masing pemuda. Tak terkecuali Raka Janu.

Satu per satu pemuda yang berjumlah ribuan itu mendapatkan kesempatannya untuk unjuk kebisaan. Tapi ketika tiba pada giliran Raka Janu unjuk diri, sosoknya menarik perhatian Arya Panakung. Ia pun dibentak-bentak Ki Lurah prajurit yang keras dan tegas laksana batu. Tapi diam saja Raka Janu. Kukuh dan tak mengendurkan tekadnya.

Sosok Laksamana Mpu Nala yang tenang dan penuh karisma, cepat menangkap keganjilan di lapangan Sidayo yang panas itu.

“Ada apa Panakung?”

“Aduh, Paduka. Hari ini saya merasa malu karena teledor menjalankan tugas,” jawab Arya Panakung, “kenapa bisa lolos seorang bocah memasuki kancah perekrutan, ingin pula memanja mimpi memenuhi panggilan Paduka.”

“Oh, engkaukah bocah itu,” tanya Mpu Nala, “berani benar kamu.”

“Saya ingin menjadi prajurit dan mengabdi kepada kerajaan Wilwatikta, Paduka. Tak bolehkah?”

Jawaban Raka Janu lantang dan mantap. Hal itu mendapat perhatian sang laksamana.

“Tapi kamu masih teramat belia, Nak. Masih belum cukup umur untuk memenuhi syarat,” ujar Mpu Nala,”Nah, pulanglah engkau. Tunggulah kelak jika telah cukup dewasa, datanglah lagi kemari.”

Kata-kata Mpu Nala sang laksamana demikian ditaati dan menjadi seperti hukum bagi siapa pun mengaku sebagai prajurit setia Kerajaan Majapahit. Tapi betapa itu dirasakan ibaratnya pil pahit bagi Raka Janu. Kenapa tak ada yang mau mengerti dan menghormati keinginannya. Bukankah semua ujian yang diberikan telah dapat dilaluinya dengan baik? Bukankah semua yang dianggap sebagai nilai-nilai kepantasan menjadi seorang prajurit yang tangguh telah melekat menjadi kebisaannya?

Hari demi hari berjalan. Sekalipun kecewa, karena niatnya ingin menjadi prajurit angkatan laut Kerajaan Majapahit gagal, tapi tak mengurangi keceriaan Raka Janu. Kepada Arya Tandur, keras kepala ia ingin terus dilatih olah kanuragan dan keprajuritan. Pun ringan tangan dan tak segan ia mengambil alih apa saja pekerjaan Arya Tandur. Mencari ikan di laut dan menggotong ikan itu untuk dijual ke pasar dan mengerjakan apa saja yang selama ini menjadi rutinitas dilakukan sang kakek. Di waktu senggang, tak mengurangi pula kebiasaan Raka Janu, yaitu bermain-main dengan Lumba, ikan lumba-lumba kawan karibnya.

Tiga bulan lamanya semenjak ujian di Lapangan Sidayo itu, diumumkan lagi sayembara oleh Angkatan Laut Kerajaan Majapahit. Bagi siapa yang kuat berenang dari Pantai Sidayo dan paling dulu memegang tiang panji Getah Getih Samodera, yaitu bendera kebesaran Angkatan Laut Kerajaan Majapahit yang terpancang di atas Cet Bang, yaitu kapal tempur Kerajaan Majapahit di Pelabuhan Gresik, akan dinobatkan sebagai lurah muda yang mengepalai sekian prajurit laut. Sejauh empat puluh mil jarak antara Pantai Sidayo dan Pelabuhan Gresik, tentunya adalah rentang yang cukup jauh. Menjadikan ujian yang berat bagi siapa pun pemilik mimpi ingin menjadi yang terhebat dan pantas menjadi ki lurah muda angkatan laut Kerajaan Majapahit yang terhormat.

Ribuan pemuda, yang terdiri dari prajurit angkatan laut Kerajaan Majapahit bergelegak ingin memenuhi sayembara itu. Pagi itu, ketika surya telah sempurna wujudnya, memerah di ufuk Timur Pantai Sidayo, beriak-riak sepemandangan pantainya, dipenuhi para pemuda yang berenang dengan semangat, saling beradu cepat ingin mencapai Pelabuhan Gresik. Hendak meraih harapan siapa paling dulu merebut tiang panji Getah Getih Samodera yang merupakan bendera kejayaan angkatan Laut Kerajaan Majapahit.

Sebelum hari gelap, masih terasa panas matahari menyengat, tiang bendera yang dimaknakan sebagai denyut darahnya semangat angkatan laut Kerajaan Majapahit yang terpancang di atas Cet Bang, atau kapal besar, yang notabene adalah armada tempur kebanggaan Wilwatikta itu telah terenggut dari tempatnya. Diambil oleh tangan kokoh si pemenang dalam sayembara agung itu.

Sosok itu belia, dan berjalan tegap menuju sang laksamana yang gagah berdiri disertai para tamtama atau lurah-lurah prajurit kesatuan angkatan laut Wilwatikta yang menunggu di atas selasar Cet Bang. Bendera itu berkibar-kibar disangga tongkat yang erat dalam pegangannya.

“Saya serahkan panji gemilang ini kepada Paduka,” kata Raka Janu.

Terengah-engah nafas belia Raka Janu. Tak dapat dipungkiri, sekalipun perawakan itu tegap, namun masih nampak usianya yang bocah.

“Kamu telah membuktikan siapa dirimu, Nak. Engkau yang belia membawa panji cemerlang kebanggaan kita ini kepadaku,” ujar Mpu Nala, “ah, kau, Nak. Tak ada alasan lagi bagiku menahan niatmu untuk bergabung dalam kesatuan pasukan tempurku.”

Kata-kata Mpu Nala itu terasa bagaikan siraman hujan di musim kemarau dalam perasaan Raka Janu. Tak disangka jika kali ini ia akan mendapatkan kegembiraan yang seperti itu. Dengan mata berkaca-kaca ia memandangi sosok laksamana yang berdiri bagaikan mahadewa. Ialah sang laksamana yang dikatakan kakeknya adalah keturunan dari laksamana kecintaannya. Ialah si pewaris amanah memertahankan Pataka Sang Hyang Baruna itu dari leluhurnya, agar dilanjutkan kembali rohnya sebagai cita-cita yakni membawa kejayaan Wilwatikta sebagaimana dimimpikan Raden Wijaya ketika dahulu akan merintisnya di Hutan Tarik. Bahkan di bawah Sumpah Palapa yang diucapkan Mahapatih Gajah Mada di depan sang Raja Wilwatikta, Ratu Tribuana Tunggadewi dalam ikrarnya yang keramat, menyatukan nusantara adalah kehendak agung untuk mewujudkan cita-cita sang perintis itu.

“Bolehkah aku tahu, Nak,” kata Mpu Nala, “siapa mengajarimu berenang sehingga setangguh itu engkau bahkan melebihi prajurit-prajuritku yang gagah?”

“Iya, Paduka …. Saya belajar kepada Lumba, sahabat hamba.”

“Lumba?”

“Ikan lumba-lumba yang biasa hidup di Lautan Tanjung Pangkah dan berdekatan dengan pondok hamba di Ujung Pangkah.”

Jawaban Raka Janu yang lugu itu adalah hal yang tak terduga dan luar biasa dalam pemikiran Mpu Nala. Ia tersenyum lepas memandangi sosok Raka Janu yang polos tapi cemerlang. Mulai tumbuh rasa sayangnya, tatkala si bocah dari Ujung Pangkah itu menceritakan bagaimana ihwal kecintaannya yang berasal dari silsilah karena merupakan cucu dari seorang prajurit laut bernama Arya Tandur. Ialah prajurit kepercayaan kakeknya, Kebo Anabrang.

“Prajurit sepertimu akan selalu menjadi inspirasi bagi siapa pun berniat membuat kebijakan dan memenangkan pertempuran,” ujar Mpu Nala, “terima kasih atas kehadiranmu, Nak. Selamat datang, selamat bergabung dengan kesatuan tempur angkatan laut Wilwatikta.”

 

 

8 Comments to "Dongeng Laut Nusantara: Berguru pada Lumba"

  1. J C  27 April, 2016 at 08:47

    Apik sekali!

  2. djasMerahputih  19 April, 2016 at 16:43

    Selamat datang Raka Janu, selamat bergabung dengan Baltyra. Kami bangga pada anak muda sepertimu… #salahfokus

  3. Lani  19 April, 2016 at 01:15

    James: yang di Kona dan Canada udah hadir…………mahalo

  4. Lani  19 April, 2016 at 01:15

    Cerita yang menarik! Aku ingin menambahkan OOT spt biasanya dirumah ini tdk ada sangkut paut dgn artikelnya.

    Di Kona dan dilautan kepulauan Hawaii, yg namanya ikan lumba-lumba sptnya dekat sekali dan tdk takut sama yg namanya manusia, mereka bermunculan berkelompok beradu cepat berenang disisi kiri, kanan boat/perahu atau bahkan out rigger spt yg pernah saya alami, sambil unjuk acrobat spinning diudara nampaknya mereka bergembira ria.

    Menurutku lumba-lumba mamal yang sgt pandai

  5. Alvina VB  19 April, 2016 at 00:51

    Hebring….

  6. james  18 April, 2016 at 16:07

    foto Pesut nya keren deh, sembari melongok apa para Kenthirs lainnya sudah tiba ?

  7. Dj. 813  18 April, 2016 at 15:56

    Lumba-lumba ( Dolphine ) adalah ikan yang hidup sosialnya sangat tinggi di banding ikan yang lain .
    Terimakaksih dan salam,

  8. Handoko Widagdo  18 April, 2016 at 14:01

    Cerita yang bagus. Mungkin bentuk info grafis lebih menarik ya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.