Kematian di Mata Fidelis

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Pulang

Penulis: Fidelis R. Situmorang

Tahun Terbit: 2013

Penerbit: Sinar David

Tebal: viii + 126

ISBN: 978-602-98618-4-6

pulang

Bagiku mati adalah keuntungan. Kalau aku hidup aku harus menghasilkan buah. Demikianlah ujaran salah seorang arif di masa lalu. Namun, benarkah kematian sesederhana itu? Benarkah kematian adalah sebuah keuntungan? Bukankah banyak orang yang takut akan kematian? Bagaimana kalau bekal tidak cukup? Apa yang harus kita sampaikan sebagai jawaban saat malaikat maut menanyai kita di liang kubur? Kematian memang sebuah misteri. Tak satu orangpun yang bisa menolak saat dia tiba. Saat kita harus pulang.

Menggunakan kisah Martha yang dinyatakan terkena kanker, Fidelis berkontemplasi tentang kematian. Kadang dia berperan sebagai Nathan, suami Martha, kadang dia menjadi Martha. Kisah-kisah tentang kematian dijalin dalam penantian hasil tes Martha dari laboratorium di sebuah rumah sakit.

Benarkan kematian adalah sebuah kesepian seperti si pohon randu di tepi kampung? Pohon randu yang dilukis oleh Ruben di atas atap rumah. Ruben yang cita-citanya menjadi duta besar. Namun Ruben harus berpulang karena sakit saat Ruben masih kecil. Fidelis dengan sangat cantik menggambarkan Ruben yang telah menjadi duta besar surge bagi keluarga Nathan.

Ataukah kematian menimbulkan sesal? Sesal ayah Nathan karena merasa tidak pernah memberi perhatian keapda bapak dan ibunya saat mereka masih hidup (hal. 21). Atau penyesalan di Patar yang merasa tidak diperhatikan oleh orangtuanya dan kemudian menyimpan dendam kepada mereka. Saat bapak Patar berpulang, Patar merasa menyesal (hal. 82).

Bagi Fidelis, hidup adalah menghasilkan buah. Menghasilkan buah-buah kebaikan. Buah-buah perjuangan untuk mereka yang tertindas. Seperti perjuangan Rasuna Said (hal. 56), yang hidupnya dipakai untuk memperjuangkan kaum perempuan yang tak mendapat kesempatan pendidikan. Atau perjuangan Amir Sjarifoeddin Harahap yang berjuang di jalan revolusi. Amir yang terbebas dari hukuman mati karena pembelaan Sukarno, tetapi akhirnya harus mati dieksekusi di era Sukarno menjadi presiden. Amir yang menyanyikan lagu Indonesia Raya sejenak sebelum peluru menembus dadanya (hal. 86). Atau Martha yang berjuang melawan kanker tetapi tetap mengasuh dua anaknya dengan kegembiraan. Hidup adalah menghasilkan buah.

Fidelis piawai mempermainkan waktu dan aktor. Gaya bertutur flash back tiba-tiba muncul dalam alur. Cara ini membuat saya menikmati novel pendek ini. Sebab saya tak harus tegang menyusur waktu yang linear. Gaya berganti aktor juga mewarnai cara bercerita Fidelis. Gaya bertukar cerita ini membuat saya teringat kepada Shan Sa dengan The Girl Who Played Go-nya.

Fidelis mengemas cerita dengan menggabungkan puisi dan prosa. Puisi-puisinya tak memerlukan penafsiran yang rumit. Sebab puisi memang hanya dipakai sebagai wahana menyampaikan cerita. Bentuk prosanya penuh lirik penuh melodi. Gaya bertutur dalam prosa yang “bernyanyi” mengingatkanku akan Linus A.G Suryadi. Kalimat-kalimatnya yang puitis dalam prosa membuat saya tak bisa melewatkan kata demi kata dalam menikmatinya. Di tangan Fidelis, puisi adalah prosa dan prosa adalah puisi. Prosa luruh?

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

12 Comments to "Kematian di Mata Fidelis"

  1. Handoko Widagdo  27 April, 2016 at 16:59

    Memang bagus.

  2. J C  27 April, 2016 at 08:49

    Buku ini memang APIK!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *