Labuan Bajo: Catatan Sosiologi Urban

Alfred Tuname

 

Labuan Bajo merupakan kawasan destinasi pariwisata baru yang berpotensi maju. Kota ini terletak di Pulau Flores dan  merupakan ibu kota kabupaten Manggarai Barat. Alam yang eksotik dan unik membuat kawasan ini mengembangkan sektor pariwisata. Keunggulannya komparatifnya adalah binatang langka komodo (Varanus komodoensis). Binatang “naga” komodo menjadi icon parwisata di kabupaten Manggarai Barat. Sebagai icon, komodo menjadi gapura pariwista Flores dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebagai gapura pariwisata, komodo memberikan multiplier effect yang tinggi pada lingkar bisnis pariwisata. Para wisatawan tidak hanya mengunjugi komodo, tetapi juga menikmati pulau, pantai, taman bawah laut, air terjun, danau, kreativatas budaya lokal (tarian, rumah adat, ritual) dan lain-lain. Semuanya bisa dinikmati dalam satu paket perjalanan pariwisata. Hal itu bermula dari kota Labuan Bajo. Labuan Bajo menjadi kota begitu ramai. Pelaku-pelaku periwista berkumpul di sana untuk berbisnis pariwisata. Labuan Bajo membawa masa depan bagi industri pariwisata.

labuan bajo

Labuan Bajo

Industri pariwista tersebut tentu saja berdampak pada kultur masyarakat kota Labuan Bajo. Masyarakat ter-fait accompli untuk selalu mendukung industri pariwista. Set of mind masyarakat Labuan Bajo adalah bagaimana mendapatkan manfaat dari sektor pariwisata. Sosio-ekonomi pariwisata cukup berkembang baik. Setidaknya, warga masyarakat yang datang ke Labuan Bajo mencari peruntungannya dari sektor pariwisata. Ada yang menjadi staf hotel, tour guide atau membuka usaha-usaha lain yang bersinergi dengan industri pariwisata. Masih banyak lagi kesempatan lain yang ditawarkan di Labuan Bajo, baik yang legal maupun yang “tak kudus”.

Tetapi sikap antusias masyarakat lokal Labuan Bajo masih terlepas dari cara berpikir jangka panjang. Menikmati kejaiban indutri pariwisata diikuti dengan penjualan tanah pribadi yang massal. Pilihannya adalah carpe diem. Nikmatilah hari ini. Mungkin seperti John Meyner Keynes, “in the long run, we are dead”. Ratusan Ha lahan tanah pribadi terjual laris manis di Labuan Bajo. Warga masyarakat yang menjual tanah tiba-tiba menjadi orang kaya baru (OKB). Dengan uang bermiliaran, mereka bisa menjadi apa saja; mereka bisa berbuat apa saja. Perilaku OKB itu pun menjadi aneh bin ajaib.

welcome to Labuan Bajo (dermaga)

Dermaga – Welcome to Labuan Bajo

Mereka seperti seekor singa yang bebas dari kerangkeng trali besi. Mereka memilik mobil mewah baru, gaya hidup mulai elitis dan berfoya-foya. Gengsi sosialnya mulai terangkat. Arogansinya cukup medapat penilaian dari masyarakat setempat. OKB ini menjadi seperti burung merak di ruang sosial. Meski tersingkir dari kota Labuan Bajo, mereka mengangkat dirinya dengan setumpuk uang. Penjualan tanah telah merelokasi posisi sosialnya, dari miskin menjadi  orang kaya. Obsesi menjadi orang kaya secara tiba-tiba, membuat masyarakat lokal menjual tanahnya kepada investor pariwisata. Maka tidak heran bila semua tanah-tanah strategis di Labuan Bajo sudah dibeli oleh pemodal dari Jakarta atau pun orang asing. Dari artis sampai advokat di Jakarta memiliki tanah di Labuan Bajo.

Tidak seperti para pemilik tanah di Labuan Bajo, iming kesejahteraan membuat warga dari luar Labuan Bajo memilih menjadi tour guide. Tidak semua, memang. Semua orang seakan hendak menjadi tour guide. Asal bisa (sedikit) bahasa asing, tahu tempat-tempat pariwista dan kenal rute jalan, seseorang bisa menjadi tour guide. Uniknya, penampilan tour guide persis sama. Umumnya mereka adalah pria muda, rambut kriting atau gimbal yang dilepas panjang. Makin tidak terurus, makin menegaskan identitas tour guide. Profesionalitas adalah urusan nomor dua. Cukup sulit kita membedakan mana yang profesional dan tidak. Tidak banyak tour guide yang menjadi anggota HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia).

wisatawan di pulau

Wisatawan di pulau

Padahal pengelolaan industri pariwisata yan baik menuntut para tour guide-nya harus profesional dan bersertifikat. Sebab selain hospitalitas, keselamatan wisatawan menjadi taruhan. Tetapi karena menjadi tour guide itu menggiurkan, orang tidak peduli dengan legilitas sertifikat. Bahkan tour guide mengambil risiko mengambil mobil dengan sistem kredit untuk me-manage tamu asing. Kalau di Bali, tour guide yang tidak bersertifikat ini pasti tidak akan bekerja nyaman, atau tidak bisa bekerja sama sekali. Mereka mungkin saja akan mendapatkan sanksi. Di balik semua itu, tujuan kualifikasi legal tour guide adalah keberlangsungan industri pariwisata. Karena semua itu perihal jasa, maka pertimbangan kualitas legal dan profesionalitas menjadi keharusan. Setitik nila jasa dan kesan akan membuat rusak belanga industri pariwisata suatu daerah. Para tour guide harus mempertimbangkan ini, dan bukan asal tahu dan berpenampilan bak tour guide sejati.

Selebihnya, para turis asing yang berwisata di Labuan Bajo tampak sangat menikmati suasana kota. Mereka dapat bepergian kemana saja tanpa harus takut soal keamanan. Tentu karena masyarakat lokal sangat ramah kepada pengunjung. Hospitalitas masyarakat  lokal itu membuat kesan industri pariwisata di Labuan Bajo baik adanya. Nyaris tak ada persoalan kekerasan terhadap warga asing. Masyarakat lokal tidak mengidap xenophobia. Di ruas-ruas jalan umum, turis asing begitu asiknya menikmati perjalanan. Tak peduli jalan itu baik atau rusak. Bahkan warga lokal justru menjadi “turis” bagi kampungnya sendiri. Sebagain besar kehidupan sosio-ekonomi masyarakat terjerat temali kesusahan. Krisis akses pelayanan publik begitu tinggi. Krisis air bersih, krisis listrik dan krisis pelayanan kesehatan yang layak. Di sudut-sudut kota, rakyat membeli air dari mobil tengki. Ada pemadaman listrik bergilir. Pembangunan rumah sakit umum terus terganjal korupsi. Sektor pariwista tak terlepas dari kualitas pembangunan daerah.

wisatawan

Wisatawan

Yang menikmati industri pariwisata adalah wisatawan asing itu sendiri. Mereka menjadi tuan rumah. Hidup terasa lebih enteng. Seakan alam dan manusia pariwisata lokal memanjakan mereka. Siang dan malam dinikmati dengan kesenangan dan kenikmatan jasmaniah dan (mungkin) rohaniah. Pemandangan alam, musik dan minuman apa saja tersedia. Mereka tak pernah mengeluh soal air atau pemadaman.

Mereka hanya mengeluh kepada biro jasa pariwisata yang sakarepe dewe menaikan harga. Selain itu, mereka begitu bebas. Di jalanan, mereka dimanjakan secara khusus oleh aparat kepolisian (Lantas). Tanpa surat resmi mengemudi dan tanpa menggunakan helm, mereka bebas menggunakan jalan denga sepeda motor. Di ruas-ruas jalan umum, turis asing bebas mengendari sepeda motor tanpa atribut keselamatan. Berbeda kepada masyarakat lokal, polisi-polisi lalulintas tampak begitu garang. Nyaris semua pasal dipakai untuk menjerat warga yang melanggar rambu-rambu atau tidak memakai atribut berkendaraan. Masyarakat lokal selalu menjadi obyek penderita.

Mereka yang tidak menderita adalah para pejabat pemerintah daerah dan para anggota dewan. Mereka adalah kelas bourjeois, kalau bukan raja kecil di daerah. Mereka memiliki banyak tanah, rumah mewah, mobil kelas atas dan privilese khusus bagi para investor. Mereka mengatur proyek pembangunan dan memutuskan pembangunan hotel sekaligus “menjual” pulau. Banyak upeti yang mereka dapat dari jabatan itu. Gaya hidup pajabat dan anggota dewan pun kian pongah. Mereka menekan warga lokal dan menyanjung para pemodal di industri pariwisata.

Proyek-proyek nasional terkait pariwisata mereka embat, dengan tetesan kecil yang dinikmati oleh masyarakat. Di Labuan Bajo, mobil-mobil mewah berplat hitam dan merah memadati ruas-ruas jalan. Semua itu milik pejabat, anggota dewan, OKB yang menjual tanah dan pemilik hotel yang tenaga kerjanya digaji di bawah UMR. Memang ada mobil pribadi lain berkedok angkutan travel, tetapi itu hanya sekelas mobil keluarga umumnya. Jangan berpikir soal angkutan publik yang layak di Labuan Bajo, sebab yang ditemukan hanya ojek-ojek liar.

Itulah etalase sosiologis Labuan Bajo di balik gemerlap industri pariwisatanya. Manusianya berubah seiring zamannya berubah. Tetapi nasib selalu diputuskan oleh para pembuat kebijakan yang berselingkuh para orang kaya dan pemodal. Ada aktivisme yang mencoba mengkoresksi setiap ketidakadilan yang terjadi. Tetapi itu harus berhadapan dengan kelompok status quo. Kelompok status quo masih mayoritas. Mungkin mereka akan juga terlibat dan bernyanyi bersama dalam akor aktivisme, tetapi menunggu kalau-kalau urusan perut mereka terganggu. Seperti masyarakat Bali, bergerjolak kalau urusan perut mereka terganggu. Maklum pakem lama: pariwisata butuh stabilitas.

 

Labuan Bajo,

Alfred Tuname

 

 

11 Comments to "Labuan Bajo: Catatan Sosiologi Urban"

  1. J C  27 April, 2016 at 08:58

    DAHSYAT! Ini kudu dikunjungi…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.