Tombol Merah

Nury Ris

 

Mahatma Gandhi pernah berkata, “Jika kita semua hidup menurut prinsip mata-ganti-mata, maka dengan cepat seluruh dunia akan menjadi buta.

Terlahir sebagai manusia, ada banyak ragam emosi yang dimiliki. Mulai dari marah, cemas, takut, cinta, sedih, bahagia, sayang, benci dan sebagainya. Begitu berbicara tentang emosi, semua tahu bahwa tiap orang memiliki tombol merahnya masing-masing. Tombol merah yang dimaksud adalah titik sensitif yang akan memancing ledakan emosi keluar dari dalam diri. Setiap orang, entah dipengaruhi oleh pengalaman, lingkungan, masa lalu atau apapun, tanpa sengaja membentuk tombol-tombol merah itu.

Katakanlah, seorang jomblo, kebanyakan akan uring-uringan bila ditanyai tentang kencan malam minggunya. Jangan sekali-kali mengatakan tentang indahnya pernikahan di depan seorang janda yang baru bercerai, atau ia akan langsung bermuram durja. Sama dengan menceritakan susahnya seorang langsing menggemukkan badan di depan orang gendut, maka ia akan makin rendah diri.

Adalah Gobind Vashdev, seorang heartworker –ia menolak disebut motivator- keturunan India-Pakistan yang mencontohkan tentang titik sensitif “kemarahan”, melalui pengalamannya sendiri. Suatu hari Rigpa, anaknya, tak sengaja menjatuhkan piring nasi. Gobind menanggapinya santai saja, namun istrinya Tika, merasa seperti sedang kebakaran jenggot. Rupanya Rigpa secara tak sengaja menekan tombol merah Tika.

Di lain waktu, saat Rigpa dengan tenang melemparkan mainannya di kolam depan rumah mereka, ganti Gobind yang meradang. Ia mengepalkan tangan, mengeluarkan nafas panas dari hidungnya dan menggertakkan gigi-giginya. Kali ini Rigpa tak sengaja menyalakan tombol merah Gobind. Keduanya hanya masalah sepele, namun tombol-tombol merah yang menyala membuat hal itu menjadi tidak lagi sederhana.

Apa yang dilakukan oleh seorang Gobind? Ia bercerita bahwa dahulu jika ada yang membuatnya marah, maka ia akan menghardik orang luar itu, agar berhenti mengganggunya. Dengan kata lain ia berusaha mengendalikan sesuatu di luar dirinya. Reaksi yang wajar dilakukan oleh semua orang, menurutku. Namun Gobind yang bertumbuh menjadi seperti sekarang, memiliki pandangan lain.

“Jika seseorang membakar rumahmu, apa yang pertama kali akan kau lakukan? Memadamkan api atau mengejar pelakunya?” ungkap Gobind mengandaikan emosi kemarahan sebagai rumah yang terbakar. Kita tahu, jawabannya adalah memadamkan api, bukan? Maka menurutnya, jika seseorang menekan tombol merahnya, yang pertama kali harus ditangani adalah dirinya sendiri.

Jadi, masih menurut cerita Gobind, ketika naga merah membara hampir meloncat keluar dari dalam dada kala Rigpa tak sengaja memencet tombol merah kemarahannya, ia segera mengenali emosi itu. Sebelum sang naga kembali bersembunyi, ia lebih dulu menangkap ekornya dan menelisik dari ruang hati sebelah mana ia berasal. Gobind kemudian bermeditasi, untuk mengenali di mana emosi itu pertama kali muncul.

red_button

Bagaimanapun, menurut Gobind, seseorang hanya bisa memberi apa yang ia punya. Seseorang tidak mungkin sering marah jika tak memiliki kemarahan di dalam. Seperti gunung berapi yang menyimpan lava pijar di perutnya, ia tak mungkin memuntahkan lahar jika tak memiliki bahan bakar di kedalaman jiwa. Jadi, tentang kemarahan, bukan orang lain di luar diri –seseorang yang membuat marah- yang harus dibereskan lebih dulu, tapi bagaimana memadamkan bara di dalam hati. Pahami orang lain, kenali diri sendiri.

 

-end-

 

 

About Nury Ris

Penyuka martabak yang jarang makan martabak saking takut gendut. Penyuka puisi yang gak gape bikin puisi. Penyuka cerpen yang masih terus belajar membuat cerpen. Berusaha meluangkan waktu untuk menulis setiap hari, walaupun hanya berupa status Facebook yang gak penting.

Arsip Artikel

12 Comments to "Tombol Merah"

  1. Lani  27 April, 2016 at 10:33

    Kang Monggo, James: wakakakak………..ngakak hampir njengkelit aku………..mmgnya ini ngomongin tombol apaan kok bahaya???

    James aku jg punya masalah spt kamu, setelah kirim komentar hrs di reload baru komentarnya keliatan

  2. J C  27 April, 2016 at 10:16

    James, ini dikarenakan memang CACHE system yang cukup intensif supaya pemirsa dan server lebih ringan. Sedikit repot untuk tekan F5 ya…refresh/reload…hehehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.