Bersihkan Debu Jika Perlu

Dewi Aichi – Brazil

 

Suatu hari aku ngobrol sama temanku yang sejak beberapa bulan tidak bertemu. Dia itu janji-janji melulu mau main ke rumahku. Tapi jika sudah waktunya, pasti dia batalin. Ada-ada saja alasannya. Tapi yang paling sering aku dengar adalah, ” aduh..hari ini ngga bisa, rumahku berantakan, harus bersih-bersih rumah, cuma hari ini aku libur”.

Begitulah yang setiap kali aku dengar saat dia membatalkan janjinya. Padahal aku hafal betul keadaan rumahnya. Selalu mengkilap, tak berdebu. Dapur. Wow…semua kinclong…kulkas kinclong, microwave kinclong, panci-panci dan peralatan dapur lainnya kinclong, apalagi kompor, seperti baru diambil dari toko.

Kamar tamu, sofa, kamar tidur, toilet benar-benar kinclong. Jika anaknya bermain dan berantakan dikit, pasti temanku itu menyuruh anaknya berhenti bermain dan segera merapikan tempat bermain. Temanku ini merasa sangat terganggu dengan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya, rapi, bersih, dan mengkilat. Semua diatur serapi dan sebersih mungkin. Rumahnya wangi betul.

Aku bilang, ” kau ini sakit jiwa ya haha…rumah serapi begini kau bilang kotor dan berantakan, dan kau lebih memilih seharian berkutat di rumah beberes!”

Dia hanya ketawa sambil menjawab,”aaa maafkan aku, aku ngga bisa membiarkan keadaan berantakan!”

Yah..sudah, memang itu sudah menjadi kebiasaan dia. Aku ya hanya bisa memahami saja. Padahal dia bekerja sebagai perawat, yang hanya memiliki sedikit waktu untuk santai. Fokus dia hanya bersih..bersih..bersih…, lainnya tidak.

debu

Jangan biarkan panci lebih mengkilat dibanding dirimu. Jangan kau jadikan bersih-bersih rumah menjadi hal yang sangat serius dalam hidupmu. Pikir bahwa lapisan debu merupakan pelindung perabot rumah tangga. Pelindung perabot yang terbuat dari kayu. Sebuah rumah akan berubah menjadi tidak bermakna ketika kamu nekad mengatakan” aku mencintaimu” kepada barang-barang perabotan dan isi rumah.

Seorang teman lain menceritakan kebiasaannya dulu yang mirip temanku ini. Maniak bersih-bersih. Dia mengatur waktunya yaitu 8 jam per minggu hanya untuk membersihkan rumah. Karena dia pikir akan ada tamu yang datang ke rumahnya. Tapi setelah dia sadar bahwa tak pernah sekalipun teman atau sodara mengunjunginya, diapun mulai merenung.

Mereka yang diharapkan bertamu, sedang sibuk jalan-jalan, menemani anak di taman untuk bermain, dan menikmati hidupnya.

Dan sekarang, jika tiba-tiba ada tamu?

“Aku tak perlu repot-repot menjelaskan ke para tamu tentang keadaan rumahku”, kata temanku yang satu ini.

Orang-orang ngga akan tertarik, kepo, ingin tau tentang keadaan rumahku karena mereka sibuk berlibur, bermain, bersenang-senang, bertemu dengan teman-teman.

Mungkin saja dia ngga sadar bahwa hidup terlalu singkat jika hanya memikirkan bersih-bersih rumah melulu.

Bersihkan debu jika perlu. Tapi bukankah lebih baik melukis, menulis surat, jalan-jalan, mengunjungi sodara atau teman, bikin bolu, dan jilatin cokelat yang tersisa di panci, bertanam di kebun jika ada lahan. Pikir dengan baik antara kebutuhan dan keinginan.

Bersihkan debu jika perlu. Tapi kau tidak akan mempunyai banyak waktu. Untuk sekedar minum teh atau kopi bersama, ke pantai, renang, main ke gunung, bermain dengan anjing piaraan, membaca buku, main sama teman dan menikmati hidup.

Bersihkan debu jika perlu. Tapi hidup harus berlanjut di luar sana. Matahari bersinar cerah, angin semilir membelai rambut, atau menikmati setiap tetes hujan yang menyejukkan suasana. Pikir bahwa kesempatan ini tak akan terulang kembali.

Bersihkan debu jika perlu. Tapi ingat, kau akan menua, dan banyak sekali hal yang bisa kau lakukan sekarang. Jika kau mati, seperti semua juga akan mati suatu saat, juga akan berubah jadi debu. Tak akan ada yang mengingat seberapa besar kau telah membayar rekening-rekening tagihan. Juga tak akan ada yang mengingat betapa bersih dan kinclong rumahmu. Tapi yang mereka ingat adalah seberapa baik kau menjaga hubungan dengan teman-temanmu, keceriaan bersama, dan apa yang telah kau ajarkan kepada mereka.

Pada akhirnya…..

Bukan apa yang pernah kau kumpulkan, tetapi apa yang pernah kau tanamkan dan berikan, semua itu mencerminkan bagaimana kau memanfaatkan waktu hidup.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

12 Comments to "Bersihkan Debu Jika Perlu"

  1. J C  16 May, 2016 at 08:44

    Tumben nulis artikel model ngene iki…

    Memang bener banget!

  2. EA.Inakawa  28 April, 2016 at 16:35

    sesungguhnya kita semua BERDEBU, berdebu dalam dosa…..peace

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *