Cita-cita

Anwari Doel Arnowo

 

Saya pikir memang wajar bila seseorang memiliki cita-cita, keinginan atau target keinginan, itu normal saja. Yang kurang normal adalah tata cara mencapainya bila menggunakan segala macam cara sehingga nanti pada akhirnya toh tentu akan bisa menghasilkan hal-hal yang kurang menyenangkan. Hari ini di di koran Kompas pada  halaman 6 ada tulisan (lihat halaman terakhir tulisan ini) pak Satryo Soemantri Brodjonegoro yang berjudul  BOM  WAKTU  FAKULTAS  KEDOKTERAN. Tulisannya yang lain dan senada, pernah juga saya kutip di dalam tulisan saya dua tahun yang lalu berjudul DOKTER DOKTER OBAT OBAT TOBAT juga tulisan pak Satryo Soemantri Brodjonegoro berikut ini. Silakan buka link berikut ini:

cita-cita

http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003255285 

judulnya: Dehumanisasi Pendidikan Kedokteran .

Kedua-dua tulisan pak Satryo itu intinya menyampaikan kekhawatiran menjamurnya pendirian fakultas-fakultas  kedokteran di seluruh Negeri kita. Ditulis kembali karena adanya fakta kenyataan bahwa banyaknya fakultas kedokteran jumlahnya sudah berlebihan. Menurut angka hitungan statistik, jumlah dokter yang ada di Indonesia sudah cukup banyak bila dipandang dari perbandingan banyaknya penduduk pada saat ini.

Saya juga menyetujui apabila mutu para dokter yang akan datang mungkin menjadi lebih menurun mutunya, disebabkan  hanya oleh hadirnya komersialisme sejak merebaknya orang bercita-cita menjadi seorang dokter, yang nota bene penghasilannya dikirakan akan amat plus dan menjanjikan secara materi. Cita-cita begini bukanlah  negative, tetapi bila ditempatkan di lini paling depan, hal itu akan rawan salah. Sejak lama saya telah mengawasi dan meyakini bahwa untuk bisa berhasil menjadi seorang dokter, harus ada paling sedikit 3 (tiga) unsur utama:

a. SEHAT DAN PANDAI.

b. TEKUN DAN BERKEMAUAN KERAS

c. MEMILIKI AKSES BIAYA YANG CUKUP

Ternyata ada banyak sekali  yang terbalik-balik dan memulainya dari c.Kurang memperhatikan a. dan tidak menyadari serta malah melupakan b.

Hal ini saya tuliskan karena mengkhawatirkan adanya hal yang amat tidak dikehendaki. Contoh seorang mahasiswa kedokteran yang tidak berhasil lulus menyelesaikan masa belajarnya dengan tuntas, akan sulit mencari pekerjaan di luar bidang medis. Menjadi juru rawat ataukah tabib tentu akan canggung. Tidak demikian halnya dengan mahasiswa elektro atau mesin juga teknik sipil. Mereka akan dengan lebih mudah mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya. Yang mencuat di dalam tulisan saya berjudul DOKTER DOKTER OBAT OBAT TOBAT (lihat di http://balty.co./tag/anwari-doel-arnowo/   sempat saya sebutkan apa yang terjadi kepada banyak dokter yang utamanya mengandalkan ilmunya saja, yang berasal dari ilmu selama dia kuliah di fakultas dulu.

Seperti halnya semua ilmu dari detik demi detik akan selalu berubah, banyak yang mengungkapkan kebalikan dari hal-hal  yang dulunya dianggap sebagai kepastian. TIDAK ADA YANG PASTI DAN TETAP DI DUNIA KITA. Juga ilmu kedokteran dan ilmu apapun yang lain. Tetapi mengapa kali ini saya ingin berkonsentrasi terhadap ilmu kedokteran? Tiada lain kami YANG manusia ini, bukanlah seekor, sebuah atau seperangkat robot mekanis. Robot itu apabila salah jaringannya atau programnya bisa saja diperbaiki dengan mereparasi dan ganti perangkat apa-apa yang mala fungsi (kata baru ciptaan saya sendiri)  yang dalam bahasa Inggrisnya malfunction.

Penggantian organ jantung sudah sejak puluhan tahun yang lalu (Ingat dr. C Barnard) telah diupayakan. Akan tetapi pada tahun lalu saya membaca iklan yang mengatakan bahwa tersedia penggantian jantung bisa dilakukan di Negara Singapura. Jadi apapun yang dulu tidak atau belum bisa terpikirkan, sekarang bisa berubah menjadi kenyataan. Saya kemukakan hal ini agar keberhasilan seorang dokter berpraktek harus bisa diangkat serta dinaikkan pada setiap saat, bukan seperti dokter yang baru saja lulus kuliah. Tetapi yang dipelihara kesehatannya dan direparasi oleh dokter itu bukanlah sesuatu yang berupa  hasil ciptaan manusia dan sudah dikuasai dengan penuh sebesar 100%. Bahkan saya prediksi angka 100% inipun akan tidak pernah tercapai sampai bila serta kapanpun. Proses seperti itu memang kekal berkelanjutan .

Ini contoh paling akhir: kemarin (satu hari yang lalu) saya ke Rumah Sakit Pondok Indah menjenguk seorang yang jelas dicurigai terserang demam berdarah (dengue fever). Ternyata dia sudah pulang kemarinnya setelah dua hari dirawat inap.

Oleh karena bosan dirawat di kamar rumah sakit itu, dia bertemu saya ketika sedang menunggu dokternya yang akan mengambil darahnya, lagi lagi  memeriksakannya ke laboratorium. Saya tanyakan mengapa pulang? Dia ceritakan apa yang dia alami: diambil darah terus ke  laboratorium. Hasilnya begini begitu. Lalu apa jawab pertanyannya kepada dokter yang berbunyi:  “Saya akan menerima pemeriksaan apa lagi?”

Jawab dokter: Tidak ada, hanya makan yang banyak dan minum yang banyak, tidur saja. Kalau hanya itu kan bisa dilakukan tanpa harus menginap di rumah sakit? Dokter  menyetujui bila dia pulang. Waktu dia dinyatakan harus dirawat, ternyata kamar-kamarnya sedang penuh dan harus menunggu dulu 1 hari. Sesungguhnya rawat inap kan tidak perlu? Dengan fasilitas rawat inap penuh berarti tidak harus atau ada urgensinya dia dirawat inap, kan? Tanda tanda adanya unsur komersial di mana, ya?

Boleh anda pikir sendiri. Kata hati saya,bisa saja ada faktor merit (penghargaan) yang teresembunyi di sini antara dokter dan rumah sakit. Jelek ya pikiran saya? Prejudice? Mungkin sekali kan, oleh karena pengalaman saya yang telah membuktikan saya menjadi seperti itu. Saya pernah menunggu istri saya sakit sampai meninggal dunia dan hampir setahun lamanya pindah rumah-sakit rumah-sakit dan diperiksa dokter dokter ahli, mengalami pemeriksaan macam-macam di banyak  laboratorium-laboratorium  serta perlunya penggunaan alat-alat medis canggih lain yang saya tidak mampu mengerti. Mengamati dan berusaha mengerti melalui pendalaman menggunakan mesin pencari di Internet dan hanya pakai LapTop, ternyata saya juga menemukan hal-hal baru.

Setara penemuan-penemuan baru di bidang medis yang paling mutakhir atauTERBARU. Dan itu banyak sekali saya beritaukan kepada dokter yang membidangi, ternyata dia tidak atau belum pernah membacanya, alih-alih mengerti. Yaaaa begitulah nasib saya karena saya orang awam, bukan dokter. Saya tetap berkeyakinan bahwa tiada larangan ataupun halangan bagi seseorang yang awam, belajar melalui internet menggunakan Lap Top dan mendalami ilmu biologi dasar dan meneliti serta mengamati proses dan prosedur di rumah sakit.

Dengan demikian berakhirlah era di mana sang pasien atau para keluarganya, dianggap tidak perlunya tau mengenai apa yang dideritanya. Atau obat-obat untuk apa yang harus  diberikan kepada pasien serta tindakan apa yang akan dilakukan terhadapnya. Saya juga pernah membaca hal bahwa obat kanker itu adalah industri obat, aktivitas ekonominya meliputi angka ratusan juta USDollar setiap tahun tetapi angka bisa mampu menyembuhkanya hanya sebanyak 5% (lima persen) saja. Ini mengejutkan sekali.

Meskipun demikian halnya, saya pikir pemerintahan di mana ada berdiri industri pabrik pabrik itu tentu tidak akan pernah menutupnya. Bukankah ada masalah tenaga kerja dan pajak-pajak yang terjadi juga karena adanya kegiatan ini bagi Negara? Pabrik rokok, pabrik minuman keras juga seperti itu. Adalah patut yang dikhawatirkan oleh pak Satryo Soemantri Brodjonegoro untuk dicermati dan ditindak lanjuti dengan besar hati oleh kita semua. Silakan baca tulisan pak Satryo Soemantri Brojonegoro di halaman berikut ini.

surat kabar

 

Anwari Doel Arnowo – 22 April, 2016

 

 

5 Comments to "Cita-cita"

  1. J C  16 May, 2016 at 08:45

    Pendidikan di Indonesia memang masih puanjaaaannnggg jalan pembenahannya…

  2. EA.Inakawa  28 April, 2016 at 16:46

    ” Kembali ke Lap Top……Lap Top Universitas yang HARUS menyadari dengan memperketat Seleksi Penerimaan Mahasiswa Kedokterannya,peace

  3. djasMerahputih  27 April, 2016 at 19:52

    Bercita-cita menjadi pelayan. Melayani kehendak semesta…
    Nyusul para kenthir baltyra..

    Dilema dokter: abdi masyarakat atau abdi industri..??

  4. james  27 April, 2016 at 15:20

    hadir mbak Lani, ada saja hanya kali ini terlambat, cita2 cuma hidup tenang tenteram saja menikmati hidup ini

  5. Lani  27 April, 2016 at 10:46

    James………..kemana aja dirimu? Punya cita2 ngga?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.