Durhaka HTML

Asrida Ulinnuha

 

Asem tenan, komik strip berikut ini menggambarkan dengan tepat kedurhakaan saya pada mereka, terutama html. Setelah kemunculan fitur flash yang fenomenal, segala hal terkait web design menjadi mudah, praktis, cepat, dan lebih wow. Html mulai saya tinggalkan, walaupun tidak benar-benar lupa. Sebagaimana juga peramban Internet Explorer yang dahulu pertama kali dipakai para internet-freaks. Seiring waktu semua orang mulai meninggalkan bahkan lupa karena lebih memilih berbagai macam peramban kekinian yang dianggap punya nilai lebih, sebagai contoh Opera-mini, Google Chrome, Fox, Safari, dan sebagainya. Namun bagaimana kita kita dapat menahan laju peradaban dalam teknologi?

Strip-La-vie-de-Flash1

Dahulu di akhir tahun 1999 waktu pertama kali belajar html betapa saya sebagai net-freaks merasa ‘I am a happy weirdo’. Dunia kecil dalam kotak yang kita sebut sebagai internet akan tampil bagai gadis paling cantik bila ditempeli dengan <html> <body> <a href ….. Dalam dunia Html, segala hal dimulakan dengan bahasa yang santun namun gamblang. Kalau tidak bisa tidur maka utak atik Html adalah kegiatan yang tepat untuk saya, duluu…

Beberapa kali saya menerima berkah karena Html, jaman segitu berapa banyak yang buat tampilan sebuah website? not much, apalagi perempuan. Yaahhh…bias gender saya rasakan sekali. They tend to under estimate me…doooh. Mereka pikir lelaki lebih mampu bikin karena programming dan sejenisnya dianggap bukan ranah perempuan *jedotin kepala ke monitor pacman emoticon

One day — suatu hari, di rental pengetikan tempat saya nyangkul jaman itu, saya nerima order pengerjaan halaman web. Cobalah anda cermati ketidak adilan gender di sini:

1 – – – – – –

“Mbak, masnya ada?”

“Ngga ada, Mas. Mau ambil ketikan?”

“Ngga, mau minta bantuin bikin website.”

“Oh gitu, sini saya bikinin aja. Mau yang bagaimana?”

“Oh iya, nanti aja deh tak omong-omong sama masnya.” Sejak itu saya tidak dengar kabar dari Si mas itu. Berhari-hari kemudian, daya terima order dari Mas yang punya rental untuk buatin website, kliennya adalah orang itu juga…huh, sebel eike. *cubit keyboard. – – – – – – – – – – – – – – –

2 – – – – – – Dari pengalaman pertama, saya belajar banyak untuk menghadapi klien berikutnya.

“Masnya ada, Mbak?”

“Ngga ada, Pak. Masnya jaga shift malam. Apa yang bisa saya bantu?”

“Mau bikin web, Mbak. Sekalian konsul, soalnya saya butuh agak cepat”

“Bapak sudah ada gambar-gambar atau logo? Kalau memang butuh cepat ditinggal dulu aja (gambarnya), biar bisa segera dikerjakan.”

“Ini, Mbak…” Hal-hal yang diperlukan diberikan pada saya untuk dipindahkan pada komputer tanpa si Bapak banyak tanya. Di akhir dia malah bilang, “Tolong sampaikan masnya. Besok pagi sekali jam 7 saya kesini sekalian konsul.”

Saya tidak banyak cakap, tidak ada urusan untuk kasih tau si Bapak siapa yang akan buat. Buat saya waktu itu, I don’t need to revealed the way I do, all I need is his money.

Jadi, keesokan harinya ketika si Bapak datang untuk menanyakan apakah pesanannya sudah dibuat ataukah belum, lagi-lagi dia hanya ketemu saya. Cermati juga bagaimana responnya waktu saya tunjukan hasilnya.

“…silahkan dilihat dulu” Saya mulai mempersilahkan si Bapak untuk klik langsung link yang sudah saya buat. Tampak sekali wajahnya puas.

“Sudah bagus, Mbak. Masnya ada?”

“Sebentar lagi datang, tadi katanya mau sarapan. Silahkan tunggu dulu.”

Nah, bisa diduga. Ketika si mas yang punya rental datang, Bapak tersebut langsung saja dengan sukacita menyalami,

“Mas, makasih ya. Wah, lembur nih semalam. Sudah bagus. Tapi, kalau ganti warna tampilan depan sama font judul bisa? Saya tunggu. Saya butuh cepat nih.” Lalu mereka berdua umak-umik sementara saya sibuk mengerjakan terjemahan. Selesai mereka diskusi, saya diserahi catatan untuk langsung mengerjakan karena si Mas harus pergi bekerja di tempat lain.

“Pak, langsung sama mbaknya ya. Dia yang buat, saya tak berangkat dulu.”

“Oh, lho…? Mbaknya yang bikin? Bukan masnya toh?”

“Saya ngga bisa bikin, Pak.”

Lalu tiba-tiba suasana menjadi…krik..krik…karena Mas yang punya rental nyengir doang dan si Bapak itu tanpa ekspresi cuma ngeliatin saya klak klik. Kejadiannya mirip seperti seorang anak kecil yang berusaha keras tidak mau mencoba makanan yang dia belum pernah makan sebelumnya, tapi begitu dicoba ternyata enak. Hari itu saya dapat bonus pembayaran karena si Bapak teramat heran pekerjaan ini diselesaikan oleh perempuan. Maunya saya bilang, “so what?!” tapi alih-alih saya malah bilang terimakasih.

Logika yang dibuat sendiri oleh manusia sering berbeda dengan kenyataan yang ada. Biarlah itu jadi pembelajaran, termasuk untuk saya. Sama kan seperti urusan masak-memasak yang katanya ranah perempuan. Tapi kenapa kebanyakan chef dan sous-chef adalah lelaki?

 

*Gambar milik commitstrip.com dengan judul Strip-La-vie-de-Flash1 atau A Brief History of Flash.

 

 

11 Comments to "Durhaka HTML"

  1. Lani  16 May, 2016 at 12:04

    Ulin: Belum pungkas tp sdh dekat dgn kepungkasan itu………..klu para kenthirs dibandingkan dgn dirimu msh pemula……..makane masih butuh banyak belajar……………..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *