Catatan Singkat Sebuah Perjalanan

Sokanindya Pratiwi Wening

 

catatan perjalanan hidup

1.

Perempuan paruh baya itu tergolek di kasur tak beranjang, di kamar anaknya. Matanya memandang jauh menembusi langit-langit kamar, sambil tangannya mengarahkan botol minum berisi air hangat ke sekitar perut dan badannya. Ia mengerang menahan sakit di perutnya. Kedua putranya yang biasa riuh riang, hanya diam, pelan-pelan membersihkan lantai kamar mereka. Setelahnya, mereka duduk di dekat perempuan itu berbaring. Tetap hening, hanya sekali-sekali mata mereka mengamati perempuan itu, sambil menunggu kalau-kalau perempuan itu butuh sesuatu untuk mereka kerjakan.

Sesekali perempuan itu tertidur karena lemasnya dan tak lama terbangun karena kesakitan.

”Ke dokter, ya Ma?!” mata si sulung penuh iba.
”Ngga usah, sebentar lagi juga reda.”

Perempuan itu kembali tertidur, tak lama ia tersentak, samar di dengarnya si sulung berkata pada adiknya, ”Kau pergi ke mini market, beli beberapa butir telur asin. Aku akan memasak bubur buat mama! Ini ada uangku tiga puluh ribu. Belilah juga lauk untuk kita siang ini.”

Perempuan itu kembali memejamkan mata. Hatinya riuh. Ya, mereka hanya bertiga, sudah lama….

Perempuan itu terbangun lagi saat didengarnya sapa halus sebuah suara, ”Ma, ini Abang buatkan bubur nasi. Makanlah dulu, tapi sebelumnya minum dulu teh manis hangat ini.”

Perempuan itu duduk di kasur, dibantu anaknya. Diterimanya sepiring bubur berlauk telur asin. Dipandangnya bubur bersiram kecap encer itu. Diamatinya sejenak. ”Bubur ini sebenar tanak.” pikirnya.

Setelahnya, dipandangnya mata teduh berbulu mata lebat itu. Mulutnya berulang-ulang mengucapkan, ”Terima kasih, ya Nak. Murahlah rezekimu.”

Disuapnya bubur bertabur cinta itu. Matanya basah, penuh kesyukuran….

 

2.

Kupandangi wujud cintaku itu dari jarak beberapa meter. Wajah putih yang kemerahan terkena matahari yang menyengat…

Ia tampak tenang, matanya tetap teduh, makin dewasa….

Bicara kedewasaan, ini yang membuatku merasa tetap berutang. Entah dengan cara apa aku mesti membayarnya agar lunas utang-utangku padanya.

Aku mengaku mencintainya, namun tak kunjung berhasil mewujudkan surga buatnya. Aaah….

Si Mata Teduh itu telah mengambil terlalu banyak bebanku, atau tepatnya, akulah yang terlalu banyak meletakkan beban di pundaknya.

Ia tabah menerima nasibnya, menjadi sahabat sekaligus sandsack-ku melampiaskan amarah, ia juga menjadi ayah bagi adiknya.

Ia tak pernah mengeluh apalagi menyesali takdirnya. Ia makin tabah, makin tenang, makin dewasa. Ia punya gudang kesabaran yang luas.

Tanpa kuminta, ia siap menjadi apa yang kumau. Ini hari dia dokter, kemarin jadi tekhnisi listrik, besok jadi tukang ledeng. Apa saja….

Lusa umurnya dua puluh satu, namun banyak yang mengira ia telah di atas dua puluh tiga….

Kudekati Si Mata Teduh itu. Kuusap rambut ikalnya perlahan. Kucium lembut berulang ubun-ubunnya. Kuucap pelan, “Terima kasih, Nak. Betapa aku sangat mengasihimu!”

Airmataku jatuh satu dua. Kusembunyikan….
Dadaku sesak haru…!

 

 

7 Comments to "Catatan Singkat Sebuah Perjalanan"

  1. J C  16 May, 2016 at 08:45

    Apik banget!

  2. Lani  30 April, 2016 at 15:11

    James: mahalo sdh diingat…………kenthir di Kona baru saja menikmati teman2 berdansa ria………….

  3. djasMerahputih  30 April, 2016 at 07:18

    Ha ha ha… yang di Kona chefnya…

  4. Dj. 813  29 April, 2016 at 22:50

    No. 1 dan 2 penjual bubur kenthir .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !

  5. HennieTriana Oberst  29 April, 2016 at 21:16

    Terhanyut dalam tulisan ini, mengharukan.

  6. djasMerahputih  29 April, 2016 at 19:12

    Air mataku jatuh tiga empat…
    Nyusul bang James.

  7. james  29 April, 2016 at 15:20

    1…..perjalanan singkat Para Kenthirs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.