Warung Sedekah dan Kisah Ceu Onah

Prabu

 

Namanya Ceu Onah. Perempuan setengah baya yang berprofesi sebagai penjaja nasi uduk. Ia menggelar lapaknya di depan ruko dekat komplek kawasan berikat. Suatu kawasan industri yang di dalamnya terdapat perusahaan besar yang terintegrasi dengan prasarana dan sarana resmi negara.

Di Jum’at pagi itu, ia sedang santai di teras rumah kontrakannya di sebuah gang sempit. Ketika aku lewat di depannya kusapa, “Tumben santai, ceu. Engga jualan?”

warung_sedekah

“Oh, asep… Nuhun, ceu teu dagang hari ini.”

Ah, perempuan ramah ini selalu menyebut asep kepada setiap lelaki. Jadi sapaan demikian tak kupersoalkan meskipun namaku bukan Asep.

“Kenapa. Modal habis?”

“Aya dikit. Tapi lami-lami sieuep (habis). Ayeuna mah aya warung sedekah.”

“Lha, emang apa hubungannya, ceu?”

“Kadieuk, asep. Di warung sedekah itu banyak jelma makan gratis. Sejak itu nasi uduk ceceu tidak laku.”

“Nah, warung sedekah kan buka cuma di hari Jum’at. Ceceu kan masih punya pendapatan di hari laen?”

“Kalo buka minggu sepi. Jelma karyawan masak sendiri di rumah. Buka Sabtu, sama juga sepi. Mereka terima gaji, langsung pergi ke mall.”

“Kalo Senin. Pasti ramai ya, ceu?”

“Saha teh ayang makan di hari Senin, asep? Senin lobak jelma puasa. Sama sepi juga kalo ceceu jualan pada hari Kamis. Kabeh jelma puasa Senin-Kamis. Lier… Lier… Pale berbie, asep?”

Beginilah enaknya orang marginal. Meskipun susah masih tersisa ruang buat mengeksprisikan rasa bahagia.

Ngobrol dengannya, sungguh bebanku sendiri terasa ringan. Meskipun sebenarnya yang dihadapi kaum marginal ini bukan persoalan sepele. Tapi, pendapatan atau mata pencarian yang tiba-tiba hilang dilindas kompetitor kuat. Kuat dalam segala hal. Dari modal hingga iman.

Di benak Ceceu Onah, sungguh terbersit tanda tanya besar, Bagaimana warung shodaqoh yang letaknya sama2 dipinggir jalan, bisa kasih orang makan tanpa bayar?

Dengan hadirnya warung demikian, sudah pasti pelanggan nasi uduknya ceu Onah lari. Dijual duaribu perak pun tentu tak laku.

Sayang ceu Onah memang tak hanya orang miskin secara materi. Soal iman ia pun hanya punya sedikit. Maka ia juga tak paham, jika warung sedekah di pinggir jalan sesungguhnya media menuju surga bagi orang-orang kaya baru sekaligus baru beriman.

Karena orang yang lama beriman, akan paham, bahwa shodaqoh yang diterima Allah itu ketika tangan kananmu memberi tangan kirimu tak mengetahui.

Betul, sedekah kepada kaum dhuafa besar pahalanya. Tapi jangan lupa; bersedekah di tempat yang salah, ceu Onah korbannya.*

 

@Kisah dari pojok tikungan Cikarang, April 2016. (Sok jadi cerpenis).

 

 

About Prabu

Sosok misterius yang sejak kemunculannya tidak banyak orang yang mengenalnya. Walaupun misterius, sosok satu ini sekaligus ramah dan sangat terbuka pertemanannya. Sang Prabu dan Permaisuri sering blusukan menyapa kawula BALTYRA.com dan menggebrak dunia, kebanyakan dengan coretan karikaturnya sekaligus artikel-artikelnya yang bernas, tajam dan berani.

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "Warung Sedekah dan Kisah Ceu Onah"

  1. J C  16 May, 2016 at 08:49

    Apik Dab tulisan iki!

  2. Lani  30 April, 2016 at 15:14

    James: mahalo sdh diingat…………

    Kang Djas: bingung juga mau pilih yg mana??? Klu semua warung buat sodaqoh kasihan org yg jualan dan butuh duit buat penyambung hidup dan dapur ngebul jd kaga laku………lalu gimana???

  3. Dj. 813  29 April, 2016 at 22:29

    Mas Prabu . . .
    Nuhun atuh . . .
    Karunya nya cue Onah teh . . .
    Bilangin, suruh jualan hari Selasa dan Rabu .
    Salam manis untuk keluarga dirumah .

  4. djasMerahputih  29 April, 2016 at 19:06

    Wah… ini mirip kisah buah similikiti…
    Sedekah juga ada efek negatifnya…
    Para kenthir milih yang mana..??
    Hadir bang James.

  5. james  29 April, 2016 at 15:19

    1……warung dan kisah Kenthirs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *