Konflik Antar Etnik di Pedesaan

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Konflik Antaretnik di Pedesaan – Pasang Surut Hubungan Cina-Jawa

Penulis: Dr. Achmad Habib, MA

Tahun Terbit: 2004

Penerbit: LKIS

Tebal: xxiv + 172

ISBN: 979-3381-65-5

konflik antar etnik

 

Hubungan antara etnis Cina dengan etnis Jawa dan ‘pribumi” Indonesia selalu dipersepsikan sebagai sebuah konflik. Hubungan yang berubah sejak jaman Hindia Belanda ini hampir selalu digambarkan sebagai sebuah ketegangan dan seringkali pertikaian. Etnis Cina selalu digambarkan sebagai pihak yang dominan secara ekonomi dan seringkali mempengaruhi kekuasaan politik untuk membuat kebijakan yang menguntungkannya. Di bedang ekonomi, etnis Cina diklaim menguasai 70-78% perekonomian Indonesia (hal 1). Di bidang sosial, etnis Cina dianggap tidak mau membaur dan cenderung hidup eksklusif. Dalam kasus-kasus kerusuhan, hampir selalu digambarkan bahwa aparat keamanan melindungi etnis Cina. Itulah sebabnya “Masalah Cina” menjadi sebuah frasa dalam kehidupan berbangsa di Indonesia.

Untuk mengatasi Masalah Cina, pemerintah dan etnis Cina sendiri telah melakukan berbagai upaya. Upaya untuk mengintegrasikan atau mengasimilasikan telah ditempuh dengan cara yang lunak maupun dengan cara yang intimidatif. Bahkan ketika upaya jangka panjang tersebut belum terlalu berhasil, pemerintah kadang memakai kebijakan instan untuk mencegah dominasi etnis Cina, khususnya di bidang ekonomi. Aturan-aturan yang melarang etnis Cina berdagang di pedesaan, program pengembangan eknomi pribumi pernah ditempuh, meski hasinya juga kurang menggembirakan. Pelarangan bagi etnis Cina untuk berdagang di pedesaan justru menimbulkan kekacauan dalam distribusi barang ke pedesaan. Sedangkan program di era Djuanda untuk mengutamakan pengembangan ekonomi bagi pribumi telah menimbulkan kronisme yang parah, karena para pribumi yang diberi hak monopoli “menjual” haknya kepada etnis Cina. Mereka yang diberi hak monopoli tidak mau bekerja keras dan sudah puas menerima rente saja.

Telah banyak ahli yang meneliti Masalah Cina di Indonesia. Namun sayangnya penelitian-penelitian yang ada lebih banyak berlatar-belakang perkotaan. Dengan fokus kepada masalah ekonomi, penelitian-penelitian yang dilakukan tentang masalah Cina memang mengarah ke perkotaan. Hal kedua yang menyebabkan banyak penelitian masalah Cina berlatar belakang perkotaan adalah karena kebanyakan orang Cina memang tinggal di perkotaan. Hal ini disebabkan karena kebijakan politik sejak jaman Hindia Belanda memang memaksa orang Cina meninggalkan pedesaan. Meski kebanyakan orang Cina memang tinggal di perkotaan, namun ada juga mereka yang tinggal di pedesaan. Sebab, sebelum negara campur tangan terhadap masalah Cina, orang Cina banyak bekerja di pedesaan. Mereka berdagang dan berusaha di pedesaan.

Apakah dengan demikian penelitian orang Cina di pedesaan tidak perlu? Tentu saja sangat penting. Selain kiprah orang Cina pada awalnya banyak di pedesaan, hubungan sosial di pedesaan terjadi lebih murni dan kurang mendapatkan pengaruh dari kebijakan-kebijakan negara yang sudah terbukti kurang berhasil. Pengetahuan akan relasi Cina-Jawa di pedesaan akan memberikan gambaran lain tentang masalah Cina.

Buku yang ditulis oleh Dr. Achmad Habib ini adalah salah satu dari sedikit penelitian masalah Cina di pedesaan. Penelitian dilakukan di Dusun Sumberwedi, sebuah pedusunan di pedesaan Malang. Kehadiran orang Cina di Dusun Sumberwedi melalui dua cara. Pertama adalah melalui kegiatan pertanian di wilayah tanah TNI. Mula-mula orang Cina menyewa lahan TNI untuk bertani. Lama-lama pertanian mereka meluas dengan menyewa lahan masyarakat di Dusun Sumberwedi. Lahan masyarakat yang sebelumnya tidak terurus berubah menjadi area pertanian yang produktif. Cara kedua adalah orang Cina menjual barang-barang di Dusun Sumberwedi.

Orang-orang Cina yang berusaha tani di Dusun Sumberwedi diterima baik oleh masyarakat. Sebab orang-orang Cina ini memiliki kesamaan dengan masyarakat dusun dalam hal spiritualitas. Orang-orang Cina ini membiayai upacara-upacara di makam keramat di dusun. Orang-orang Cina ini juga menikah dengan gadis dusun. Beberapa dari mereka pindah agama menjadi Islam yang menjadi agama mayoritas. Beberapa dari mereka tetap beragama Kristen, meski telah menikah dengan penduduk lokal. Masyarakat Sumberwedi juga ada yang beragama Kristen sebelum orang-orang Cina menetap di sana.

Usaha tani yang dilakukan oleh orang-orang Cina menggunakan masyarakat lokal sebagai buruh dan beberapa sebagai mandor. Lama-lama para mandor ini mengetahui cara bercocok tanam dan bagaimana memasarkan hasil panennya. Di tahap ini konflik mulai muncul. Orang Cina dianggap menyembunyikan ilmu pertaniannya supaya bisa memposisikan orang Jawa sebagai buruh. Sementara orang Cina merasa bahwa orang Jawa kurang tekun dalam berusaha dan kurang bisa dipercaya. Konflik berbuntut pada perubahan aturan-aturan di desa, dimana orang Cina tidak boleh lagi menyewa lahan (milik pamong) dan terjadi pengusiran usaha tani salah satu dari orang Cina.

Penelitian Dr. Achmad Habib berupaya menjawab empat pertanyaan utama tentang relasi etnik Jawa dan etnik Cina di pedesaan, yaitu: (1) bagaimanakah kelompok Etnik Jawa mengkonstruksi dan memposisikan kelompok etnik keturunan Cina? (2) bagaimanakah pola berperilaku dan perilaku terpola kelompok Etnik Jawa terhadap kelompok etnik keturunan Cina? (3) akibat-akibat sosial apa saja yang muncul karena pola berperilaku dan perilaku terpola dalam hubungan sosial antara kelompok Etnik Jawa dengan etnik keturunan Cina? Dan (4) bagaimanakah dimensi-dimensi konstruksi, posisi, pola interaksi, dengan fungsi sosial hubungan antara kelompok Etnik Jawa dengan etnik keturunan Cina? (hal. 8).

Secara teoritik, penelitian ini menggunakan pendekatan Simmel.  Simmel menegaskan konflik sebagai suatu variable yang menampilkan derajad intensitas interaksi (hal. xvi). Semakin tinggi derajad keterlibatan emosional pihat yang terlibat dalam suatu konflik, maka semakin kuat kecenderungannya untuk mengarah kepada kekerasan dan semakin tinggi solidaritas masing-masing kelompok. Simmel juga menjelaskan bahwa dialektika hubungan antaretnis membentuk pola hubungan yang dinamis. Dr. Achmad Habib menemukan bahwa pola interaksi antara etnik Jawa dan etnik Cina di pedesaan berubah dari pola penguasaan, menjadi kerja sama, persaingan dan akhirnya pertikaian (hal. 156). Dr. Achmad Habib juga menyimpulkan bahwa kepentingan yang paling menonjol dalam pertikaian sosial adalah materi.

Penelitian ini memberikan kesimpulan yang keluar dari steriotipe tentang relasi Cina- Jawa yang selama ini muncul. Relasi Cina-Jawa dalam penelitian Dr. Achmad Habib menunjukkan bahwa relasi ini membawa pemberdayaan kepada masyarakat desa dan sekaligus memberi keuntungan ekonomi kepada orang Cina. Namun hubungan yang diawali dengan saling percaya dan saling menguntungkan ini tidak berlangsung terus. Dinamika hubungan antaretnis dan persepsi satu terhadap yang lain menyebabkan konflik yang bemuara pada pertikaian.

Yang paling menarik bagi saya adalah kesimpulan bahwa pertikaian terjadi bukan karena masalah orang asing yang berjarak seperti yang disampaikan oleh Simmel, melainkan karena persepsi orang Jawa terhadap etnis Cina dan sebaliknya. Stereo-type masing-masing pihak telah menyebabkan persaingan menjadi konflik etnik.

Implikasi dari temuan Dr. Achmad Habib bagi saya, masalah Cina hanya bisa diselesaikan apabila stereo-typing masing-masing pihak harus dihilangkan. Upaya-upaya asimilasi (saling kawin dan pindah agama) ternyata tidak bisa mengubah relasi antar etnik Cina dan etnik Jawa. Meskin orang-orang Cina tersebut telah menikah dengan penduduk setempat dan berpindah agama, namun saat konflik menjadi pertikaian, mereka tetap diidentifikasikan sebagai etnik yang menindas dan mencari keuntungan sendiri. Demikian pula integrasi secara formal tidak memberi hasil. Namun upaya mengubah Stereo-type memang sebuah usaha yang melelahkan dan memerlukan waktu yang sangat panjang.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Konflik Antar Etnik di Pedesaan"

  1. Lani  16 May, 2016 at 10:04

    James: konflik cina sm Sunda dikatakan lebih parah, coba dijelaskan……….

  2. Handoko Widagdo  16 May, 2016 at 09:06

    Kang JC, coba hubungi Pak David Kwa. Setahu saya beliau punya beberapa copy dari buku ini.

    Buku lain yang dikau ingin miliki adalah seri Majapahit karya Slamet Moeljana. Saya sudah menyarankan untuk kontak Makin Sasradara untuk dapat yang asli.

  3. J C  16 May, 2016 at 08:51

    Pak Hand, boleh fotocopy buku ini? Tempo hari yang aku ingin copy yang mana ya, sampe lali…

  4. Alvina VB  3 May, 2016 at 23:14

    Han,
    Selama stereotyping and generalisasi kedua belah pihak masih dipelihara, konflik akan selalu ada. Disamping itu kebencian jangan diwariskan ke generasi berikutnya.

  5. Handoko Widagdo  3 May, 2016 at 11:57

    Banyak faktor yang membuat perbendaan menjadi konflik, persaingan, persengketaan dan akhirnya kekerasan Djas.

  6. djasMerahputih  3 May, 2016 at 09:31

    Ah, nggak suka konflik..
    Perbedaan seharusnya saling melengkapi. Tapi susah juga sih kalo salah satu ada yg arogan..

  7. Handoko Widagdo  2 May, 2016 at 11:17

    James, sayangnya belum banyak penelitian hubungan Cina – Sunda yang dipublikasikan.

  8. james  2 May, 2016 at 10:15

    1……para Kenthirs suka konflik gak ? damai selalu kok

    konflik antar Cina dan Sunda lebih parah dari konflik antara Cina dan Jawa

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.