Meretas Jalan, Menuai Waktu

Wina Rahayu

 

Banyak memori yang sudah mengendap tanpa tahu berada di mana saat ini. Namun bukan berarti lenyap tanpa mampu terurai kembali dalam ingatan. Rel kereta api dan bantalan rel dari kayu jati yang kokoh sudah tak berbekas dan tersisa, yang nampak adalah si hitam aspal yang menutup semua jejaknya. Jika Sunthi tidak salah mengingat  tahun 1987, jalur kereta Kradenan – Wirosari mulai tergusur oleh jalan aspal yang mulai di bangun untuk jalur bis dan mobil.

Kereta api ini membawa banyak memori. Saat panas menyerang tubuh Sunthi maka bapak memeriksakanku ke dokter Mul di Wirosari. Kereta api inilah yang membawa Sunthi dan bapak untuk sampai ke Wirosari. Ntah berapa harga karcinya…. Sunthi sudah lupa. Kereta berjalan pelan dan berhenti di beberapa stasiun kecil, jika tidak salah ingatan, kereta berhenti di stasiun Kuwu, Kalirejo dan sampailah terakhir di stasiun Wirosari.

Miniatur kereta, temapt karcis dan tuas  inilah yang menjembatani memori Sunthi yang sudah lama mengendap.

lawangsewu (1)

Semua ini tersimpan rapi di Lawang Sewu, sama seperti memori Sunthi

lawangsewu (2)

Semua ini tersimpan rapi di Lawang Sewu, sama seperti memori Sunthi

lawangsewu (3)

Semua ini tersimpan rapi di Lawang Sewu, sama seperti memori Sunthi

Memasuki halaman Lawang Sewu seperti menelusur masa lalu. Memori kecil Sunthi cukup  lekat dengan bangunan seperti ini. Saat periksa ke dokter Mul di Wirosari, Sunthi menginap di rumah Budhe yang kebetulan menempati rumah dinas Pegadaian. Bangunan rumah dinas pegadaian Wirosari mirip sekali dengan Lawang Sewu. Rumah dengan ruangan dan beberapa kamar yang luas dengan jendela yang menyerupai pintu, bahkan jika ingin keluar kamar tidak hanya lewat pintu tapi bisa juga loncat lewat jendela.

Jendela, pintu, koridor, pilar-pilar kokoh menyangga bangunan, tak ketinggalan aura seram membawa ingatan Sunthi saat menginap di rumah Budhe. Saat malam hari jika pingen pipis, harus ke kamar mandi dan melewati koridor panjang dengan suasana seram….tapi belum sekalipun Sunthi bertemu dengan yang seram-seram itu. Semua itu hanya imajinasi karena rasa ketakutan saja. Dan di Lawang semu, imajinasi Sunthi kembali diputar balik.

lawangsewu (4) lawangsewu (5) lawangsewu (6)

Di halaman Lawang Semu keseraman itu belum terasa, mari mulai menelusur ke dalam. Apakah benar “seram”? Atau …. sebaliknya banyak keindahan yang tersembunyi di sana…. mari kita melihat dan menjelajah bersama dari sudut ke sudut.

lawangsewu (7) lawangsewu (8) lawangsewu (9) lawangsewu (10) lawangsewu (11) lawangsewu (12) lawangsewu (13) lawangsewu (14) lawangsewu (15) lawangsewu (16)

Di antara yang seram ada juga yang indah….jendela ini yang tidak  Sunthi temukan di rumah dinas budhe.

lawangsewu (17) lawangsewu (18)

Di sudut jendela indah inilah Sunthi mengakhiri pemutaran balik memori masa lalu yang sudah mengendap.

 

 

5 Comments to "Meretas Jalan, Menuai Waktu"

  1. J C  23 May, 2016 at 05:53

    Wow! Sekarang Lawang Sewu bagus dan terawat ya. Awal 2000’an masih kotor dan berantakan. Bahkan pas outdoor weeding pictures, sang fotografer sempet nanya: “beneran?”. Hehehe…waktu itu sangat-sangat jarang yang mau outdoor wedding pictures di Lawang Sewu…

  2. Dj. 813  6 May, 2016 at 00:08

    Dj. o
    lahir di Semarang, sudah entah berapa puluh kali lewat ,
    tapi belum pernah mampir . . .
    Semoga mudik yang akan datang bisa mampir .
    Terimakaksih untuk reportasi nya dan salam,

  3. Lani  5 May, 2016 at 00:01

    James, Kang Djas: Hidup kenthirs………yg sll telat krn internetnya so sucks!

  4. djasMerahputih  4 May, 2016 at 16:52

    2. Menuai waktu meretas jalan kenthir…

    Keren foto2nya. Seramnya di mana?

  5. james  4 May, 2016 at 15:24

    1…..jalan dan waktu untuk Para Kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.