Relijiusitas Jawa dan Islam

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Pemabuk

Penulis: Makinuddin Samin

Tahun Terbit: 2016

Penerbit: Fire Publisher

Tebal: viii + 167

ISBN: 978-602-1655-20-7

pemabuk

 

Orang Jawa adalah orang yang sudah paripurna dalam religiusitas. Orang Jawa telah sampai kepada harmoni, menyeimbangkan diri dengan diri sendiri, diri dengan sesama, diri dengan alam dan diri dengan Yang Esa. Modal spiritualitas yang paripurna tersebut membuat orang Jawa bisa memeluk agama apapun tanpa harus mengganti religiusitasnya. Religiusitas adalah cara pandang dan sikap, sementara ritual dan simbol-simbol adalah sesuatu yang ada di luar dan dipermukaan. Dua belas cerpen dalam buku ini bertemakan perjumpaan Islam dengan Jawa. Sebuah perjumpaan yang menemukan keselarasan, tetapi juga singgungan.

Dalam cerpen “Pemabuk” Makinuddin menggambarkan bagaimana cara orang Jawa menikmati hubungannya dengan Yang Esa. Sebuah hubungan yang penuh kerinduan untuk menyatu. Sebuah hubungan antara manusia dengan tuhannya yang penuh dengan kesukacitaan. Cerita pemabuk ini mengingatkan kita akan kisah Syeh Siti Jenar yang dianggap menyekutukan diri dengan Allah – mangunggaling kawula Gusti. Ajaran Manunggaling Kawula Gusti adalah ajaran religious Jawa (Zoetmulder, 1990). Sebauh ajaran yang sudah mengakar dalam budaya orang Jawa.

Orang Jawa bisa memeluk salah satu agama pendatang dengan cara religius Jawa. Namun penghayatan beragama (Islam) dengan cara menyatu dengan tuhannya dianggap sebagai praktik beragama yang menyimpang. Meski dianggap menyimpang – dan sering mendapatkan perlakuan yang menyakitkan, penghayatan yang didasarkan pandangan religiusitas ini tak mempan diintimidasi. Bahkan mautpun tak membuat kesukacitaan akan Allah dari sosok dengan identitas Pemabuk berkurang. Maut tak kuasa untuk menghalangi kecintaannya kepada Allah dengan cara menyatu. Karena Allah telah mengambilnya sebelum maut berkuasa.

Kisah lain tentang kepasrahan hidup ditunjukkan dalam cerpen lainnya. Kesiapan untuk menghadap Allah secara pasrah juga ditunjukkan oleh Mbah Dongkol tokoh dalam cerpen berjudul “Pindah Rumah”. Mbak Dongkol, seorang Jawa sudah tahu kapan waktunya di dunia habis. Mbah Dongkol bisa mempersiapkan diri saat Yang Esa memanggilnya untuk kembali menyatu. Kematian dimaknai sebagai sebuah proses pindah rumah. Persiapan menunggu jemputan Sang Khalik adalah bagaikan persiapan untuk pindah rumah, dimana semuanya harus sudah siap ketika rumah lama dibongkar.

Hal lain yang dibahas oleh Makinuddin dalam kumpulan cerpen ini adalah tentang pengendalian hawa nafsu untuk mencapai keberhasilan hidup. Makinuddin melihat pengendalian nafsu ada di religiusitas Jawa dan juga ada di Islam. Keduanya memiliki keserasian. Dalam ajaran Islam dikenal pengendalian hawa nafsu. Nafsu buruk: amarah, lawamah dan marhamah harus dikendalikan. Dalam budaya Jawa pengendalian nafsu adalah salah satu hal yang harus dilakukan untuk mencapai sebuah keberhasilan hidup. Dalam cerpen berjudul “Kurban” dan “Maling” Makinuddin menunjukkan keselarasan antara Islam dengan Jawa.

Dalam cerpen berjudul “Kurban” Makinuddin memberi tafsir Jawa terhadap perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk mengorbankan Ismail anaknya. Allah tidak sedang menguji kesetiaan Ibrahim kepadaNya, apalagi Allah dirundung cemburu akan cinta Ibrahim kepada anaknya. Tafsir Jawa akan kisah Ibrahim adalah Allah ingin memberi tahu Ibrahim agar berani meninggalkan penghalang-penghalang cinta akan Allah. Penghalang-penghalang itu adalah cinta, kebanggaan dan harapan akan dunia. Seseorang yang ingin mencapai keberhasilan sejati harus bisa mengatasi penghalang-penghalang tersebut. Dalam cerpen berjudul “Maling”, Makinuddin secara kreatif mengisahkan seorang cucu yang menagih warisan kepada teman kakeknya. Untuk mendapatkan warisan tersebut sang cucu harus menggunakan sirep supaya bisa mengambil barang yang diwariskan tersebut. Warisan tersebut ternyata bukan sebuah barang, melainkan sebuah wejangan untuk mencapai keberhasilan keberhasilan hidup.

Makinuddin tidak hanya menyampaikan keselarasan religiusitas Jawa dengan Islam (yang literalis – pinjam istilah K. H. Husein Muhammad). Dia juga sangat terbuka menyampaikan ketegangan bahkan tabrakan antara keduanya. Kisah tradisi tedhun dan pembangunan masjid di lokasi cungkup desa dalam cerpen berjudul “Kuncen” adalah contoh benturan yang digambarkan oleh Makinnudin. Dalam cerpen “Tedhun” Makinuddin menggambarkan ketegangan masyarakat yang akan melaksanakan tradisi tetapi mendapat tentangan. Sekelompok warga (pendatang) yang membawa ajaran Islam baru menyampaikan dan bahkan mengancam supaya kegiatan tradisi tersebut tidak dilaksanakan. Sebab tradisi tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Berbeda dengan akhir cerita di cerpen “Tedhun” yang memberi kemenangan kepada tradisi, dalam cerpen “Kuncen” tradisi harus mengalah kepada ajaran baru. Karto Rejo sang juru kunci harus menghilang dari desa karena tidak mau bersengketa dengan pemuda-pemuda desa yang menggunakan kekerasan dalam membongkar cungkup untuk mendirikan masjid.

Pertentangan antara tradisi dan ajaran (Islam) baru juga terjadi dalam keluarga. Dalam cerpen berjudul “Dukun” Makinuddin menunjukkan perubahan pemahaman generasi nenek, paman dan cucu. Pertentangan antar generasi ini diakibatkan paham yang sudah mulai berubah pada generasi Jawa yang lebih kini. Atau antara suami istri dalam Cerpen “Kemenyan I” dan “Kemenyan II”. Cerpen-cerpen yang menggambarkan perubahan pandangan dari generasi yang lebih muda ini secara apik dipakai oleh Makinuddin untuk merefleksikan orang Jawa di masa kini.

Dalam dua belas cerpen yang diusungnya, Makinuddin membersitkan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat Jawa. Generasi-generasi yang lebih muda telah meninggalkan ajaran Jawa dan beralih kepada ajaran Islam dan beberapa literal. Meski dalam cerpen-cerpennya orang radikal digambarkan orang-orang dari luar desa, atau para pendatang, namun pengaruh mereka untuk menghilangkan pandangan Jawa dalam praktik beragama (Islam) semakin kentara.

Apakah Makinuddin pesimis dengan keberlanjutan tradisi Jawa? Dalam konflik rencana pendirian masjid di atas tanah cungkup desa, Makinuddin menggambarkan tegarnya sang juru kunci mempertahankan pandangannya tentang harmoni. Meski Karto Rejo, sang juru kunci harus menerima intidasi dan kekerasan, namun dia tetap tidak melawan. Pada akhir cerita, Karto Rejo memilih untuk meninggalkan desa dengan cara moksa. Mengapa Makinuddin memilih akhir kisah dengan Karto Rejo sang juru kunci harus moksa? Apakah ini menunjukkan bahwa pandangan Jawa harus rela untuk menghilang? Apakah tradisi Jawa memang tak akan berhasil dalam bersaing atau menyelaraskan diri dengan tradisi Islam dan budaya modern? Kenapa Karto Rejo harus memilih untuk meninggalkan cungkup desa? Makinuddin harus memberi penjelasan tentang ini.

Kumpulan cerpen yang mendapat endorsement dari sastrawan Ahmad Tohari, K.H Husein Muhammad Pengasuh Ponpes Dar al Tauhid Cirebon dan sastrawan Dino Umahuk ini merupakan karya sastra yang membawa kita pada sebuah perenungan. Apakah agama-agama yang datang ke Nusantara harus menghabisi tradisi-tradisi religi yang sudah menjadi bagian dari budaya Nusantara? Atau, apakah agama-agama tersebut bisa menyelaras dengan religiustitas lokal? Apakah akulturasi budaya lokal dengan agama adalah sebuah kemustahilan? Jangan sampai suatu saat salah satunya harus mati atau terusir.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "Relijiusitas Jawa dan Islam"

  1. J C  23 May, 2016 at 05:51

    Matur nuwun Sang Penulis dan yang resensi…saya sudah punya buku ini dan memang dahsyat…(dasar kapir )

  2. Dj. 813  6 May, 2016 at 00:11

    Kumpulan cerpen kenthir juga ada di Baltyra . . .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Bahkan sangat relejius . . .
    Terimakasih mas Handoko .

  3. Lani  5 May, 2016 at 00:02

    James: hahaha……….bisa aja

  4. djasMerahputih  4 May, 2016 at 16:48

    Nusantara adalah tempat sempurna melebur segala hal. Islam dan relijiusitas lokal (jawa dan luar jawa) pun bisa selaras, selama urusan spiritual tak dicerna secara kasat mata dan oleh akal semata.

    2.. nyusul bang James.

  5. james  4 May, 2016 at 15:25

    1……rilijiusitas para Kenthirs ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.