Pesan-pesan Bapak dan Rape Culture

Endah Raharjo

 

“Hindari bertemu mata, terutama dengan laki-laki. Bertanya hanya pada yang berseragam dan di konter,” begitu pesan Bapak ketika aku kecil dan mulai pergi sendirian. Bapak ingin anak perempuannya yang mbeling dan bertubuh kecil-kerempeng itu selamat.

“Begitu memasuki aula atau ruang tunggu yang luas, menepi. Berhenti sebentar. Edarkan pandang secukupnya untuk membaca situasi. Usahakan tidak mondar-mandir tanpa tujuan. Mata fokus ke satu titik yang mau dituju.” Itu pesan beliau juga.

“Periksa barang-barang setelah duduk, jangan sambil berdiri. Selalu bawa buku yang kamu suka. Kalau harus menunggu, baca. Jangan tolah-toleh.” Pesan yang ini, masih kulakukan sampai sekarang. Kecuali tidak sendirian, selalu ada buku di dalam tas ketika bepergian. Menurutku, membaca buku terlihat jauh lebih ‘fokus, serius dan tidak menarik perhatian’ dibandingkan bermain gadget.

Masih ada beberapa ‘jangan’ dan ‘hindari’ lainnya, yang diwanti-wanti Bapak hingga aku menikah dan punya anak. Selain pesan-pesan bagaimana bersikap di tempat umum saat pergi sendirian, Bapak membekaliku dengan rangkaian doa. Bukan hanya saat keluar pintu rumah, tiap kali turun dari mobil, doa itu kurapal. Berulang. Sampai sekarang. Kuikuti semua pesan Bapak, hingga kini ketika rambutku berubah perak.

Pesan-pesan Bapak itu tiba-tiba berdentang ketika kubaca status Facebook sahabatku, Ida Fitri, yang menyuplik tulisan Melissa McEwan (sebagian kupotong) tentang rape culture: “Rape culture is telling girls and women to be careful about what you wear, how you wear it, how you carry yourself, where you walk, when you walk there, with whom you walk, whom you trust, what you do, where you do it, with whom you do it, what you drink, how much you drink, whether you make eye contact, if you’re alone, if you’re with a stranger, if you’re in a group, if you’re in a group of strangers, if it’s dark…. and if you don’t follow all the rules it’s your fault.”

Tulisan lengkapnya dapat dibaca di tautan ini: http://www.shakesville.com/2009/10/…

rape culture rape-culture

Sebagian dari pesan-pesan Bapak itu kemudian kupahami sebagai ‘menjinakkan pheromone betina agar tak terendus oleh pheromone jantan’ di saat aku tak menginginkan ada pejantan mendekatiku.

Bapak bukan feminis (bisa jadi aku keliru), namun beliau tahu bahwa begitu keluar pintu rumah, hanya malaikat utusan Tuhan yang menjamin anak gadisnya aman. Dan semua orang tahu, malaikat tak terlihat dan semua penjahat selalu nekat. Dan tragisnya, seperti kata Melissa, belakangan justru korban yang disalahkan.

Bapak mungkin juga tahu, seperti tulisan McEwan, meskipun angkanya tidak persis, bahwa 1 dari 6 perempuan mengalami kekerasan seksual. Atau Bapak sadar bahwa postur tubuh dan desain alat kelamin perempuan lebih rawan terhadap segala bentuk serangan fisik. Yang aku tahu, salah satunya karena aku menjalankan ‘terms of reference’ beliau, ke manapun aku pergi, syukur pada Tuhan, aku sehat-selamat sampai rumah kembali. Oh! Perhatikan bagaimana Tuhan kubawa serta dalam tulisan ini. Bukti bahwa aku tak percaya tubuh kecilku ini (5 tahun ini sudah menggemuk) mampu menolak bala, jika bukan karenaNYA.

Apakah itu berarti aku “tunduk” pada rape culture? Sebagai catatan, sungguh sulit menerjemahkan dan memahami istilah ini: rape culture. Pasti mudah mencari penjelasannya dengan mesin pencari. Namun terdengar asing dan sulit kupahami walaupun selama ini aku – ternyata – menjalankan semua terms of reference, seperti yang dijabarkan oleh McEwan, agar terhindar dari kekerasan yang jamak dialami perempuan terutama yang (bepergian) sendirian.

Dalam rape culture, kekerasan seksual dianggap sebagai kenyataan hidup oleh masyarakat, selayaknya kematian dan pajak (aduh!). Bahkan ketika perempuan sudah berusaha untuk selalu berhati-hati dan mempraktikkan “jurus-jurus jitu terhindar dari bahaya ketika pergi sendirian dalam gelap malam di tengah belantara hutan,” tak ada jaminan bakal aman.

Kekerasan yang pernah kualami ‘hanya’ mengusik harga diri, seperti: kedip mata, siulan, olok-olok pada tubuh kerempengku (dulu), atau tanda ‘muah-muah’ ketika berpapasan. Pernah di sebuah gampong di Aceh Tengah, seorang mantan panglima sago terang-terangan menolak mendengar penjelasanku dan meminta temanku satu tim (laki-laki) mengulang setiap kalimat yang kuucapkan. Namun perlakuan itu tidak kuanggap sebagai kekerasan (mental), lebih sebagai ungkapan kekecewaan orang yang terkalahkan.

Sebagai perempuan yang kerap pergi sendirian sampai ke negara-negara lain dan (dulu) sering menjadi satu-satunya perempuan di dalam tim kerja, saat ini, sambil menulis catatan ini, aku bertanya-tanya jika aku hanya beruntung. Bahwa pesan-pesan Bapak itu semacam vitamin penyubur keberanianku saja. Dan mungkin keberuntunganku berganda sebab selama ini aku disayangi oleh teman-teman lelakiku, suamiku, anak lelakiku dan terutama Bapak.

Akankah kita suka rela menerima kekerasan yang dianggap ‘wajar’ ini? Apakah bagi manusia lebih mudah terbang ke bulan daripada mengurangi frekuensi kekerasan?

Catatan ini nggrambyang, menunjukkan betapa bingung penulisnya, betapa sulit menarik benang putih – oh warna merah itu darah dan darah lambang kekerasan – dan berpikir jernih, saat kekerasan demi kekerasan tak pandang bulu mengejar perempuan.

 

 

18 Comments to "Pesan-pesan Bapak dan Rape Culture"

  1. J C  23 May, 2016 at 08:07

    Endaaahhh…baru bisa memecungulkan diri di sini…suwun ya…apik dan kudu wajib dibaca sama semua orang…

  2. Lani  14 May, 2016 at 03:45

    ER: yo mengko aku usahakan, aku kabari ngomong2 emailmu endi? apakah bs minta via lurahe?

  3. Endah Raharjo  13 May, 2016 at 09:20

    Itsmi: kalau gitu Itsmi aja, yaaa… nggak usah pakai embel2 Mbak atau Mas

  4. Itsmi  12 May, 2016 at 14:19

    Endah, saya transgender…

  5. Endah Raharjo  12 May, 2016 at 09:39

    Laniiii… kapan ke Yogya. email aja, ya. Siapa tahu waktunya cocok dan bisa ketemuan.

  6. Endah Raharjo  12 May, 2016 at 09:38

    @Mas Itsmi: waduuuuuh… maaf ya sungguh maaf, namanya Itsmi, jadi saya kira perempuan

  7. Lani  11 May, 2016 at 09:30

    Laniiiiiiiiiii… iyaaaa… aku lama ngilaaaang. Tulisan ini juga diculik sama Om Aji dari catatan FB-ku, awalnya tidak untuk konsumsi Baltyra. Lani sehat, ya.
    Salam penuh kasih sayang anti kekerasan untuk semua…
    ++++++++

    ER: la yo kenopo to ngilang suwe nemen? Sing penting wis mencungul meneh wlu artikel ini dicomot oleh ki Lurah dijadikan konsumsi member Baltyra.

    Ya puji syukur pd Tuhan, diparingi sehat, tp krn keblasuk kedunia perkenthiran jd malah semakin ndadi iki hahaha……………

    Apakah panjenengan msh di Yogya? Aku arep mudik apakah bisa ketemu yo? Wlu mudik kali ini sgt singkat hanya utk menghadiri wisuda salah satu keponakanku di Yogya.

    Salam kembali kasih sayang full cinta hehehe

  8. Itsmi  11 May, 2016 at 00:08

    Endah Raharjo, dulu saya Mbak, sekarang sudah berubah jadi Mas…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.