Cacat Logika

djas Merahputih

 

untuk mengenang Peristiwa Mei 1998 – jangan sampai terjadi lagi kekelaman seperti ini di Bumi Pertiwi

 

Salah satu penyebab orang Indonesia mudah diadu domba adalah terjadinya penyimpangan dalam alur logika serta cara berpikir mereka. Maklum, budaya kita memang berasal dan tumbuh berkembang dalam lingkungan mistis dan alur irasional. Tan Malaka menyebutnya “Logika Mistika”. Mungkin itu sebabnya Tan Malaka merasa perlu menyusun sebuah buku berjudul Madilog; Materi, Dialektika, Logika. Madilog bertujuan membasmi atau paling tidak mengurangi cacat pikir masyarakat mistis dan irasional itu dalam menyikapi dunia materi.

Meski tak dibahas dalam Madilog, salah satu cacat pikir dalam logika masyarakat irasional adalah kegagalan mendefenisikan angka 1 (satu), 0 (nol) dan -1 (min satu). Para domba tak mengenal angka nol, mereka tak akan mampu mengembangkan teknologi digital yang justru hanya mengenal 0 dan 1. Domba memang mahir untuk diadu, sebab dalam benak domba hanya ada angka 1 dan -1.

Lagipula, banyak orang ternyata menikmati peran sebagai domba aduan tersebut. Tentu saja, sebab ia menarik banyak penonton dan juga cukup mudah mendatangkan uang. Meskipun uang tersebut pada akhirnya akan lebih banyak masuk ke dalam saku panitia pertandingan.

cacat logika

Dalam era pertentangan ideologi Kapitalis (Barat) dan Komunis (Timur), Bung Karno berhasil menempatkan Indonesia sebagai pelopor gerakan Non Blok. Bung Karno mengakomodasi keduanya namun tak akan membiarkan salah satu dari mereka tumbuh menjadi kekuatan dominan dalam negara. Apalagi tokoh komunis Indonesia, Semaun tak lain adalah sahabat lama dan teman seperguruan Bung Karno selama mondok di rumah Cokroaminoto.

Bung Karno faham bahwa Nasakom bukanlah jargon irasional. Ketiganya memiliki benang merah yang sama. Sayang, kebanyakan masyarakat kita tak memiliki bekal kemampuan matematika dan logika yang cukup untuk menampung tiga faham sekaligus. Mereka mewarisi cacat pikir dari budaya mistis dan irasional budaya asli tempo dulu. Ditambah lagi doktrin Islam yang sering ditafsirkan terbatas hanya ke dalam dua hal sederhana: Surga atau Neraka, cukup populer dan berurat akar dalam masyarakat.

Hal ini tentu bertentangan dengan kondisi aura geografis nusantara yang berada di persimpangan dua benua dan dua samudera. Nusantara adalah Nusa Antara, Negeri Kepulauan. Ia bukan benua bukan pula samudera. Bukan surga, bukan pula neraka. Nusantara adalah bukan dan sekaligus keduanya. “Kita mampu memadukan malaikat dengan setan dalam situasi sangat damai” (Kagum kepada orang Indonesia, Cak Nun). Nusantara sesungguhnya identik dengan angka nol. Mungkin para pendakwah lupa menjelaskan bahwa antara surga dan neraka itu ada jembatan yang dinamai Siratal Mustaqim, tapi bisa jadi kita sebagai umat muslimlah yang sering pura-pura lupa.

religion-disconnecting

Entah siapa yang mulai melekatkan angka 1 pada Islam dan -1 pada Komunis, nyatanya kedua faham itulah yang berperan sebagai domba aduan di sekitar tahun 1965. Tak banyak yang sadar dan faham bahwa di antara keduanya masih ada angka 0 (nol). Bisa dikata nol adalah simbol yang mewakili kelompok Nasionalis.

Domba aduan mengembangkan konsep 1 dan -1 yang saling meniadakan. Bung Karno menawarkan ide Nasakom sebagai alternatif kedua kutub. Sebab musuh paling nyata saat itu sebenarnya adalah para Kapitalis dan kaum Imperialis. Pengalaman politik sebagian besar masyarakat belum mampu memahami strategi yang ingin dijalankan Bung Karno. “Bebek jalan berbondong-bondong, elang terbang sendirian.” Hanya itulah kalimat kekecewaan yang bisa mewakili perasaan Bung Karno.

Kita bukannya tak faham dan tak menyadari strategi politik pecah belah dan adu domba, mungkin setiap orang terlalu sibuk dengan rencana kecil jangka pendek mereka saja. Akibat kecerobohan ini, kita keliru mendefenisikan Public Enemy yang sesungguhnya. Kawan dijadikan lawan sementara lawan kita sangka sebagai kawan. Ini mengingatkan kita pada ramalan leluhur Jawa. Ironis dan memilukan tapi tetap harus terjadi…!

Saat publik telah sepakat bahwa Islam mewakili angka 1 sedang PKI adalah -1 maka tinggal perkara waktu saja untuk membenturkan keduanya. Skenario pemberontakan PKI di beberapa tempat telah melengkapi citra antagonis yang ingin dibangun. Rakyat lupa bahwa Komunis tak membawa ideologi agama, ia adalah faham ekonomi, faham materi. “Komunis dan Islam itu satu jalan dalam pembelaannya pada kaum tertindas” (Tan Malaka). Dan untuk membenturkannya dengan Islam lewat terminologi agama akan nampak aneh sekaligus bias.

Menjadi semakin aneh mengingat beberapa tokoh PKI justru berasal dari Sarekat Islam. Pembantaian umat Islam adalah upaya untuk melegitimasi label komunis sebagai faham anti Agama (Islam), bukan lagi sebagai gerakan anti kapitalis sebagaimana asal mula ia lahir dan berkembang. Siapa saja yang berani membantai orang Islam sudah pasti anti Islam. Komunis harus dan sudah pasti anti Islam. Tidak boleh tidak. Siapapun di jaman itu tentu akan memiliki persepsi serupa. Sebuah hal yang sangat-sangat manusiawi. Namun begitu, sejarah pulalah kelak yang akan membuka kedoknya sendiri.

Saat sebuah bangsa tak pernah belajar dari sejarahnya, ia akan terjatuh berulang-ulang di lubang yang sama. Kita harus belajar bahwa logika berpikir kita sebagai bangsa tak boleh lagi plus-minus, hitam-putih dan surga-neraka saja. Akan selalu ada ruang antara (nol) di tengah dua kutub bertentangan sebagai konsekwensi letak geografis nusantara di persimpangan berbagai hal. Ruang itulah yang diabadikan para pendiri bangsa sebagai “Musyawarah untuk Mufakat”.

Jika saat ini kita masih menganggap ketidaksetujuan sebagai bentuk penolakan, tidak menolak sebagai wujud dukungan atau tak mendukung sudah pasti melambangkan kebencian, maka telah nyata seterang-terangnya bahwa kita masih tetap mewarisi cacat logika itu. Kita yakin dan percaya bahwa bukan 1 sudah pasti -1. Dan mungkin kita masih butuh waktu berabad-abad lagi untuk merealisasikan cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita masih akan terus berputar-putar pada area sila ketiga Pancasila, sila Persatuan Indonesia. Masih akan tetap rapuh dan mudah diadu domba.

Tapi, bukankah waktu 70 tahun itu sudah terlalu lama..?? Sudah lebih dari 14 tahun..?? Entah bagaimana kisah Cinta dan Rangga di usia 70 tahun itu. Mungkin, kelak Cinta akan bertanya pada bangsa ini dengan mimik kebingungan, “Helloow..!! Ada A**a..??!!”.

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

23 Comments to "Cacat Logika"

  1. Itsmi  24 May, 2016 at 14:59

    cacat logika dan gagal logika karena dalam pemikiran ada Tuhan yang tidak logis

  2. J C  23 May, 2016 at 08:17

    Memang semakin banyak di republik ini yang bukan saja cacat logika tapi sering juga gagal logika…

  3. djasMerahputih  20 May, 2016 at 17:59

    Anin:
    Hai Anin. Thanks komentnya. Salam kenal…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.