Surat Pertemuan

Yuli Duryat

 

Burung pelikan berebut menyantap ikan di tepian danau dekat vila orang tuaku. Airnya tampak tenang kehijauan. Setiap weekend, aku pilih tempat ini untuk menenangkan diri. Apartemenku yang terletak jauh di tengah kota terlalu bising oleh kesibukan penduduk. Bulan-bulan ini aku memang rutin absen dari pertemuan dan makan bersama keluarga besar dari ibu, juga ayah.

Sayangnya hari ini tidak ada kegiatan yang menarik sehingga aku punya alasan untuk menghindar. Lebih tepatnya menghindar dari berbagai pertanyaan yang menjurus ke masalah yang sama, entah spontan dilontarkan atau tidak sengaja karena memang sudah terbiasa. Agaknya mereka telah lupa, bahwa orang bersio kerbau mempunyai ingatan yang tajam. Atau mungkin umur 45 tahun belum cukup membuat mereka pensiun bertanya, kapan aku menikah.

Aku sedang duduk di depan jendela ketika tiba-tiba hapeku berdering. Memandang ke arah bulan yang pucat di ufuk langit. Langkah aku seret ke arah meja di mana hapeku tergeletak. Seharusnya dia tidak berdering saat jarum jam baru menunjuk pukul tujuh. Terlebih, biasanya pada hari Minggu begini aku menutup semua koneksi dari luar, Sunday is me time. Tak akan aku biarkan orang luar mengganggu ketenanganku. Pekerjaan di toko kosmetik sudah membuatku penat setiap harinya, jadi Minggu adalah saatnya aku mundur dari keramaian. Membiarkan wajahku merasakan kealamiannya tanpa riasan.

Dengan malas aku mengangkat telpon, satu nomer yang tidak aku kenal berkedip-kedip. Aku mengerutkan keningku. Jangan-jangan hanya orang iseng atau petugas operator yang menawarkan produk baru. Ingin segera mengakhiri dering telpon tersebut akhirnya aku mengangkatnya. “Halo, siapa ini?” kata-kataku aku tekan. Bukannya menjawab, tapi suara di seberang justru memberiku perintah, “bisa bertemu dengan saya siang ini, di kafe dekat gedung Clp Power Shatin Centre?” “Siapa ini?” “Kita ketemu saja dulu, nanti saya jelaskan siapa saya.” “Tapi…” telpon ditutup dari seberang.

Mataku tertumbuk dengan dua buah tiket di atas meja, pertunjukan teater. Oh, bukankah tempat pertunjukannya tak jauh dari tempat yang disebut penelpon misterius barusan. Aku menelengkan muka, mengangkat bahu tak peduli. Sebenarnya aku memang malas untuk datang menyaksikan kisah yang sudah dihelat berulang-ulang, Romeo and Julietnya William Shakespeare.

Kalau bukan karena Tessa yang bersikeras untuk membelikan tiket sebab pemeran utamanya adalah sahabat kuliahnya. “Please, kau tahu sendiri aku tidak suka pertunjukan seperti ini, tapi aku tahu kalau Milly adalah pelaku yang bisa diandalkan. Percayalah, kau akan sesenggukan melihatnya berakting menangis. Aku bahkan pernah sampai tidak mengenalinya saat dia ada di panggung.” Rengek Tessa dua minggu lalu. Aku tak pernah tega melihatnya menampakkan muka semelas Bebe, anjing kesayanganku ketika lapar. Kepalaku mengangguk dengan sendirinya.

Baiklah, aku berdamai dengan diriku. Toh nanti sore aku juga harus keluar bersama Tessa, jadi aku memutuskan untuk menemui penelpon misterius. Tak ada salahnya mengenal orang baru, atau kalaupun si penelpon orang jahat, aku tahu kafe yang ia tunjuk bukan tempat yang tepat untuk melakukan tindak kejahatan. Aku meraih cardigan panjang yang tergelantung di balik pintu kamar. Tetap mengenakan pakaian yang telah menempel di tubuhku sejak semalam. Celana pendek dan kemeja tanpa lengan yang sudah lungsut. Meraih tas kecil dan mengenakan sendal jepit sambil menyisir rambut dengan tanganku yang bebas. Aku memutuskan untuk naik angkutan umum, hari Minggu gairah menyetirku sering anjlok, aku tidak mau kalau itu sampai terjadi di tengah perjalanan.

Naik angkutan umum di negara yang padat ini sering membuatku penat. Di saat-saat seperti ini, aku menginginkan seseorang berdiri di sebelahku, sehingga aku bisa bebas menggelayutkan badan. Aku sadar aku membutuhkan sandaran meskipun aku benci disebut cengeng. Tetapi itulah perempuan dengan segala keperkasaannya, ada sisi naluriah sebagaimana mestinya perempuan diciptakan.

Mungkin, aku termasuk perempuan yang membenci kemesraan di depan umum, tapi aku sering tidak menolak bila diperlakukan demikian asal masih dalam taraf wajar. Ah, berbicara mengenai ini, aku jadi teringat kekasih duapuluh lima tahunku. Ya, kaulah laki-laki yang berkencan denganku sejak kita berusia duapuluh tahun. Hingga kejenuhan memisahkan kita. Aku tidak mau mungkir dari kenyataan bahwa kita telah berbagi segalanya, dan perpisahan ini juga atas persetujuan kita berdua.

Rasanya kita telah melalui hubungan yang hidup segan mati tak mau, karena itulah kita memutuskan untuk berpisah. Walau kadang-kadang rasa sakit, sepi dan kehilangan itu menyembul-nyembul dari batinku, tapi egoku mengatakan bahwa aku harus melewati ini lebih baik darimu.

Duapuluh menit perjalanan kereta dari Tai Po Market tempat vila orang tuaku berdiri, menuju Shek Mun. Aku segera menuju kafe yang dimaksud penelpon misterius. Sebuah kafe yang terletak di dekat kota industri. Oh Godness, kenapa dadaku berdetak lebih kencang dari biasanya. Sudah bertahun-tahun aku tidak merasakan ini. Aku menyesal tidak mengganti pakaianku sebelum keluar rumah tadi. Ketika aku berjalan menyusuri eperan gedung-gedung dan berpapasan dengan kacanya yang besar, tanpa sadar aku membenahi pakaian dan rambut panjangku yang tak tersisir. Tinggal satu gedung lagi, dadaku kian kencang berdetak.

Aku berdiri di depan kafe mencari si penelpon misterius. Ketika aku menyeret satu kursi untuk duduk, kau tiba-tiba datang dari luar kafe dan langsung menghampiriku. Kau bekas kekasihku tersenyum lebar di depanku, sudah satu tahun kita tidak bertemu. Hatiku menolak keras mengapa kau berada di tempat ini, aku tidak merasa nyaman melakukan pertemuan dengan laki-laki lain di depanmu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku.
“Apa kabarmu?” tanyamu bersamaan dengan pertanyaanku.

“Kenapa kau di sini?”

“Untuk menemui seseorang, temanku tidak bisa menemuinya karena urusan mendadak.”

“Siapa?” Aku masih hapal nada bicaramu ketika berbohong, tapi aku pura-pura tidak peduli.

“Entahlah, aku juga tidak tahu siapa? Kau mau makan apa, biar aku pesankan.”

“Apa kau belum menikah?” Aku tidak percaya kalimat yang meluncur begitu saja dari mulutku, aku sungguh menyesal dan mendadak benci pada bibirku sendiri. Kau tidak menjawabku, hanya menelengkan muka, dengan matamu kau mengulang pertanyaanmu barusan.

“Kau lupa?”

“Siapa tahu kau berganti selera.” Kau berlalu meninggalkanku untuk memesan satu porsi roti bakar selai blueberry dan dua gelas kopi hitam, tentu saja kalau kau juga belum berubah selera.

letter

“Kau masih suka main teater?” tanyaku saat kau kembali dengan membawa nampan pesanan. Sama, ternyata kau belum berubah selera, hanya saja, ada dua susu dalam kemasan kecil tergeletak di atas nampan.

“Yup, kau mau lihat pertunjukanku nanti malam bersama Milly? Aku agak jenuh minum kopi pahit belakangan ini, kau mau?” aku menggeleng tak menjawab. Kau menuang susu ke dalam cangkir kopi. Ada yang panas dalam dadaku saat aku mendengar kata Milly. Minum kopi dibubuhi susu, bukankah itu kebiasaan Milly. Milly adalah sahabat Tessa seperti yang aku ceritakan di atas, dia memiliki paras yang sangat cantik. Bulu mata lentik dan mata bulatnya sering membuatku iri padanya. Aku tahu Milly menyukaimu sejak lama.

“Kalian berkencan?”

“No,” jawabmu santai. Ada satu kelegaan saat aku mendengar jawaban itu. “Bay the way, apa yang kau lakukan di sini?” tanyamu.

“Menemui seseorang.”

Kau manggut-manggut, aku kecewa saat kau tidak tertarik bertanya siapa yang akan aku temui.

“Apakah orang ini yang akan kau temui?” kau mengulurkan secarik kertas. Oh, bukankah itu kertas yang aku selipkan di belakang kursi tempatku duduk dalam seminar satu bulan yang lalu, dalam gedung yang sama dimana pertunjukan teater nanti malam dihelat, Heung Yee Kuk Building. Aku membubuhkan nama, dua gabungan kata dan nomer telponku di sana, lalu siapakah yang menelponku, aku yakin suara itu bukan suaramu. Aku bingung dan malu untuk menatap wajahmu. Surat aneh seperti itulah yang mempertemukan kita duapuluh lima tahun yang lalu.

“Temanku yang menemukan suratmu saat kami latihan tadi pagi, dan aku mengambilnya. Aku menyuruh adik perempuanku untuk bicara ditelpon, dia pandai berakting sebagai laki-laki.” Lanjutmu tanpa memedulikan mukaku yang memerah. Sammy: Somebody Somewhere, beserta nomer telponku yang aku tulis di atas secarik kertas kecil yang aku selipkan di belakang kursi itu melayang-layang dalam pikirku, membuatku ingin menariknya kembali.

“Jangan mencari orang lain, aku masih mencintai dan demi Tuhan aku merindukanmu sepanjang kita berpisah. Sudah lama aku memikirkan cara yang sama, aku tidak mengira kau melakukannya.”

 

Saturday, October 25, 2014
9:21 AM Fanling NT Hong Kong

 

 

4 Comments to "Surat Pertemuan"

  1. J C  23 May, 2016 at 08:19

    Apik dan keren seperti biasanya…

  2. Alvina VB  17 May, 2016 at 05:24

    Absen dulu dah…buntutin James dan mbakyu Lani, bacanya nanti ya…

  3. Lani  17 May, 2016 at 03:34

    James: setuju para kenthirs hrs bersatu dimanapun kita berada……..jarak bs memisahkan kita akan ttp sll dekat dihati…wuiiiiiiih jd jero iki

  4. James  16 May, 2016 at 16:06

    1…..bagus surat pertemuan dari pada surat perpisahan atau perceraian

    para Kenthirs surat persatuan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.