Tidak Sama

Anwari Doel Arnowo

 

Beberapa minggu yang lalu saya membaca berita di surat khabar, ada pertemuan yang dihadiri antara lain oleh Wakil Presiden dan para Ketua tertinggi NU (Nahdathul Ulama) dan Muhammadiyah. Dalam pertemuan itu Wakil Presiden menunjukkan sewaktu Gerhana  Matahari yang lalu, amat menarik perhatian semua manusia di seluruh dunia. Sesuai ramalan para ahli maka terjadilah kejadian Gerhana itu, sesuai waktu, sehingga ukuran detik dan amat tepat bujur lintangnya dapat dideteksi di mana akan dapat disaksikan dengan mata telanjang. Juga di mana tepatnya tempat manusia dapat menyaksikan gerhana total. Itulah kemajuan ilmupengetauan dalam bidang Tata Surya. Itu semua jelas. Yang tidak jelas adalah jawaban apa yang didapat dari pertanyaan Wakil Presiden yang bunyinya, kira-kira:

“Mengapakah antara NU dan Muhammadiyah dalam menentukan hari tibanya mulai berpuasa Ramadhan dan juga berakhirnya setiap tahun selalu berbeda? Pada akhir masa berpuasa adalah Hari Raya Iedul Fitri Yang dimulai kapannya selalu terjadi perbedaan perhitungannya. Tidak adakah ahli Ilmu Tata Surya, Ilmu Perbintangan dan lain-lain Ilmu yang dapat dikategorikan bisa menunjang ikut menghilangkan perbedaan perhitungan itu?

Ditontonkan di muka masyarakat umum adalah adanya  kearogansian perbedaannya. Makin berbeda makin berbangga dan bertambah percaya diri sebagai paling benar sendiri. Saya memaklumi bahwa di dalam agama lain juga ada yang tidak mau sama mengenai Hari Natal yang pada 25 Desember atau apapun perbedaan kepercayaan yang teguh seperti batu gunung. Natal artinya lahir dan hari Natal adalah memperingati hari kelahiran Jesus.

Kalau berbeda seperti ini ada berapakah manusia Jesus yang Nabi Isa itu? Saya pribadi amat setuju kalau kita berbeda satu dengan yang lain. Hanya saja saya tidak ingin ada tonjolan perbedaan tersebut apalagi berpotensi sungguh amat mungkin meruncing menjadi pertengkaran yang sulit diurai akal sehat bagaimana penyelesaiannya. Berita pada saat itu akan masih ditambah dengan komunitas yang lebih kecil di Sumatera Barat atau di Aceh dan juga di Lampung.Mengapa saya setuju dengan perbedaan yang sifatnya pribadi? Saya sebagai seorang yang masih mempercayai adanya Tuhan (versi saya sendiri), tidak ikut menganut ajaran agama apapun, yaitu agnostic.

Saya agnostic Theis BUKAN Atheis. Saya percaya sekali bahwa seluruh jagad raya, seluruh triliunan benda angkasa di Milky Way (Bima Sakti) atau kumpulan benda angkasa lain yang jumlahnya tak terhingga itu termasuk makhluk-makhluk di dalamnya, adalah ciptaan Tuhan (yang di dalam bahasa Arabnya adalah Allah), sekali lagi versi saya sendiri. Anda, para pembaca tidak usah tau apa yang saya percayai sebagai Tuhan itu, karena itu adalah pikiran dan urusan saya sendiri, pribadi.

agnostic

Saya sama sekali tidak memerlukan pengikut dan saya juga tidak mau menjadi pengikut sesuatu yang berupa perkumpulan kepercayaan atau agama apapun. Yang orang lain boleh tau adalah saya mempercayai bahwa Tuhan itu hanya satu. Tidak lebih dari satu. Bahwa manusia itu memang mempunyai ciri-ciri utama yang amat jelas sekali amat berlain-lainan, dapat kita saksikan dengan kasat mata. Bayi kembar dari satu indung telur saja terbukti lahir berbeda sidik jarinya, bentuk daun telinganya, bentuk bibirnya, juga sinar matanya, genusnya dan lain-lain bagian tubuh. Tidak ada manusia yang  kembar identik dan sama. Itu telah diyakini secara ilmu identifikasi yang mutakhir. Semua makhluk dan flora maupun fauna yang ciptaan Tuhan itu tidak ada yang persis sama. Pesan yang saya terima dari hal itu berakibat saya diyakinkan bahwa kita harus menerima keberagaman dan bukan keseragaman. Seragam itu hanya sesuai untuk baju pakaian perangkat sekelompok militer saja.

Ada sebuah pegangan yang hasil renungan saya sendiri yang sudah sering saya sitir di banyak tulisan-tulisan saya yang lalu, yaitu : All Betterment Should Always Begin From Oneself.

Intinya adalah sebelum mengajak atau menganjurkan orang lain menjadi seperti anda, maka anda harus membuat diri sendiri patut bisa dianut oleh orang lain. Itulah arti pokok pesan tersebut yang mengindikasikan bahwa diri sendiri haruslah beres dulu baru berkomentar kepada dan menganjurkan orang lain agar begini atau begitu. Jadi hindarkanlah diri untuk menyeragamkan orang lain, baik secara lahir maupun batin.

Anda mau mengikuti ajaran, agama, undang-undang pemerintahan Negara yang manapun, itu bebas dan boleh saja. Menyembah Tuhanpun sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya, tiada larangan apapun. Saya sendiripun hanya mempercayai Tuhan tanpa harus diatur oleh orang lain di luar diri saya sendiri. Anggota keluarga sayapun tidak saya biarkan melarang apa yang saya lakukan. Demikianpun sebaliknya, saya tidak bersedia ikut-ikut mengatur orang lain. Hubungan sosial dengan manusia lain, baik  hitam kulitnya, putih, cokelat. merah atau kuning saya akan berusaha setiap hari akan berlangsung dengan damai dan saling menghormati martabat masing-masing.Semua itu saya lakukan setelah lebih dari 7 dekade saya menjalani hidup merasakan asam garam kehidupan sebagai orang Indonesia.

Oleh karena sebagian besar waktu saya ini menjalani hidup sebagai warga Negara Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka saya tidak akan melawan peraturan dan Undang-Undang Dasar NKRI. Saya tidak mau mengubah pola pikir (mind set) dengan yang berasal dari luar NKRI.

Pribadi saya hanya untuk NKRI, bukan akan berubah karena kepercayaan Tuhan yang asalnya dari luar NKRI. Tuhan hanya satu dan itu juga Tuhan-Tuhan  yang diakui  orang lain di luar NKRI. Agama Islam mengenal adanya 99 nama julukan dalam rangka memujaNya. Memuja Allah. Saya tidak memasalahkan dan tidak mempunyai masalah dengan itu.

Di dalam Agama Kriten juga ada yang mirip. Demikianpun di dalam ajaran agama lainnya. Yang penting dari semua perbedaan ajaran agama itu, HARUS TETAP ADA PERSATUAN ANTAR MANUSIA. Saya tidak menyoal makhluk yang namanya biota atau bakteri atau binatang yang lebih besar lainnya. Para anggota fauna ini tidak membuat peperangan karena gengsi, karena harta benda milik siapa, karena iri hati. Itu baru sebagian saja. Manusia nafsu serakahnya amat hebat dan tidak pernah terbatas. Bahkan yang berupa angan-angan saja ingin diwujudkannya menjadi kenyataan. Apakah adanya keributan dan perbedaan serta adanya peperangan manusia satu dengan yang lain itu membuat manusia berbahagia?? Saya berani mengatakan TIDAK PERNAH. Kalaupun ada maka sifatnya hanya sementara saja atau sesaat saja. Tetapi pengamatan saya itu sudah berlangsung dan terjadi di selama jutaan tahun lamanya.

Kita ciptakan ilusi semau dan sejauh kemampuan pikiran kita, meski akan memicu terjadinya perselisihan antar manusia. Dalam tulisan saya yang lama telah pernah  saya munculkan sebuah pertanyaan: “Pernahkah Planet Bumi ini tenang tanpa adanya perang, biarpun hanya dalam waktu dua minggu saja?” Jawaban yang muncul ternyata tidak ada. Mengejutkan!!

Bilamana hal ini menimbulkan pertanyaan lanjutan yang sulit dijawab saat ini, jangan terkejut! Apakah perbedaan dan peperangan itu menyebabkan keuntungan tertentu bagi seseorang atau segolongan lain? Jawabannya juga mengejutkan. Meskipun kerugian materi atau nyawa manusia amat menonjol, maka peperangan itu jelas membuat ada yang menikmati untung. Siapa? Banyak pihak. Yang jelas industri yang hidup keekonomiannya tergantung ada atau tidaknya peperangan!! Sekali lagi, siapa? Jawabya mudah sekali: pembuat dan juga para pebisnis senjata dan peralatan perang lain-lain.

Secara mengejutkan, termasuk di dalamnya para politikus dan pemuja idealism yang sering memaksakan kehendaknya agar begini dan begitu. Kita lawan sajalah dengan cara:  BIARKANLAH MANUSIA ITU BERBEDA BENTUK KHAYALAN DAN PIKIRANNYA. Yang utama itu harus diatur dengan undang-undang yang jelas dan terang benderang adalah mengenai tingkah laku dan budi pekerti baiknya. Sudah terbukti bahwa manusia itu tidak pernah berhasil membuat perdamaian yang meluas.

Yang terlihat sejak adanya bentuk pemerintahan Yunani kuno, Tiongkok, Mesir dan Timur Tengah, selalu ada perang. Yang paling sering membuat konflik adalah daerah Timur Tengah. Mereka senang hati menyebarkan ajaran yang mengungkit penajaman beda pemahaman yang menimbulkan peperangan. Khomeini malah menyebutkan agar mengekspor revolusi Islam dari Iran. Nah dengan rasa amat kecewa bangsa saya, Indonesia, sering suka sekali dengan yang berbau asing, import. Menikmati menjadi importir dari pada menjadi eksportir.

Ada yang menerjunkan dirinya ke mazhab ini dan itu yang bertentangan. Padahal pertentangan itu timbulnya adalah dalam masa segera setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. Maka timbullah ada Islam ini dan Islam itu. Kristen tidak terkecuali. NKRI saja dipandang berlain-lainan. Ada yang ingin memiripkan dengan USA (Amerika Serikat). Ada yang dengan Saudi Arabia atau malah salah satu Negara di Timur Tengah atau Eropa. Sampai dengan hari ini tercatat dan terlihat Timur Tengahlah yang sering berkonflik di intern mereka, tetapi juga seperti halnya virus biasa menularkan ke manapun, termasuk ke NKRI. Sungguh menyedihkan hati kita kalau menyaksikan kita sesama bangsa Indonesia merasa gagah perkasa karena membela sesuatu kepentingan bangsa lain. Ada yang secara terang-terangan mengabaikan dan anti Dasar Negara Republik Indonesia: PANCASILA. Tetapi sampai saat ini belum dituntut apapun.  Yang seperti ini ada yang karena ingin membela Negara Palestina.

Disangkanya Palestina itu adalah sebuah Negara Islam. Benarkah seperti itu? Bukankah Yasser Arafat almarhun yang Presiden Palestina mempunyai istri yang beragama Nasrani? Yasser Arafat sendiri duduk di dalam gereja untuk suatu acara Natalan. Seruan yang ingin sekali saya teriakkan adalah perang Israel dengan Palestina itu adalah murni perebutan wilayah. Agama hanyalah soal yang jauh di bawah tingkat urgensinya.  Teriakan lain adalah bahwa ibadah itu termasuk bekerja mencari nafkah halal bagi anggota keluarga kita sendiri. Adalah masalah bagi saya oleh karena sya ini tidak mempunyai dan tidak memiliki sarana untuk mengakses pemakaian LOUDSPEAKER. Saya menyadari bahwa saya ini amat minoritas, amat merindukan perdamaian dan persatuan. Untuk menuju ke arah situ saya tidak mempercayai bila democrazy system yang ada saat ini akan dapat dan mampu membantu apa yang menjadi kemauan saya.

Mungkin sekali saya harus tetap berdiam diri saja, tetapi tianpa henti menulis terus, demi kepentingan anak-anak  dan cucu-cucu dan keturunan saya di kemudian hari. Mereka bisa akan tetap bisa membaca tulisan saya ini yang pasti tidak hilang dari dunia maya saiber internet. Janganlah kita mengharapkan damai di akhirat, akan tetapi buatlah dunia nyata ini damai dan bersahabat baik. SEKARANG.

 

Anwari Doel Arnowo  –  12 Mei, 2016

 

 

4 Comments to "Tidak Sama"

  1. J C  23 May, 2016 at 08:19

    SETUJU 1000%!

  2. Lani  17 May, 2016 at 03:33

    James: betul serupa akan ttp tdk sama, mmg tiap orang itu diciptakan punya keunikan masing2, klu semuanya sama alangkah membosankan kehidupan didunia ini, setuju?

    Cak Doel Anwari: Setuju, pemahaman akan Tuhan itu adl urusan pribadi masing2 dgn Tuhan sang penciptanya, tdk bs dikaitkan hrs begini, begitu begono……….

    Yg penting percaya saja bhw Dia itu ada

  3. Itsmi  16 May, 2016 at 22:27

    Anwari, kamu benar. Mengenai pikiramu arti Tuhan itu tdk perlu orang tau krn setiap orang mempunyai pemikiran khayalan masing masing….

  4. James  16 May, 2016 at 16:04

    1…..kalau Tidak Sama ya pasti Beda

    para Kenthirs serupa tapi tidak sama

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.