Nasi vs Obesitas

Sasayu

 

“Sudah makan?”

“Lho kok ga pakai nasi?” “

“Ciyee, lagi diet ya?”

“Iya, soalnya makan nasi putih ga sehat dan bikin gemuk!”

Nasi VS Obesitas

Sobat Pembaca kemungkinan besar sering mendengar pernyataan bahwa nasi putih adalah penyebab melebarnya perut ke samping. Saya pribadi sih bisa makan tanpa harus selalu ada nasi putih, toh sumber karbohidrat alternatif masih melimpah di negeri ini. Tetapi, di sebagian besar negara Asia termasuk Indonesia, nasi putih merupakan makanan pokok yang harus selalu ada. Belum makan katanya kalau tidak ada nasi putih. Beberapa orang yang tetap mau makan nasi tetapi mencari alternatif yang lebih bergizi dengan serat lebih tinggi, akhirnya mengganti nasi putih dengan beras merah atau beras hitam. Cuma memang nasi padang akan kurang maknyus tanpa nasi putih hangat dengan butiran pulen.

Menurut penelitian dari Harvard School of Public Health [1,2], orang-orang yang mengkonsumsi nasi putih 3-4 kali sehari memiliki resiko 1.5 kali lebih besar terkena diabetes tipe 2 dibanding mereka yang mengkonsumsi lebih sedikit nasi putih. Dan setiap tambahan konsumsi satu porsi nasi putih akan meningkatkan resikonya 10%. Sebenarnya kenapa sih nasi putih dikaitkan dengan peningkatan resiko obesitas dan diabetes tipe 2?

Nasi putih termasuk makanan yang memiliki glycemic index (GI) yang tinggi; 89/150 g. GI mengukur bagaimana makanan mempengaruhi blood glucose (gula darah). Karena memilki GI yang tinggi, konsumsi nasi putih akan meningkatkan gula darah yang diasosiasikan dengan peningkatan resiko diabetes. Selain itu nasi putih juga memiliki kandungan serat yang rendah, dibandingkan dengan misalnya nasi merah atau singkong.

Tetapi resiko diabetes tipe 2 tentu tidak hanya dari konsumsi nasi putih. Nasi putih sudah menjadi makanan pokok di benua Asia selama ratusan tahun, toh pada jaman itu, resiko diabetes sangat rendah karena manusia lebih banyak beraktifitas. Gaya hidup modern dengan berkurangnya aktifitas fisik, diperparah dengan konsumsi makanan yang berlebihan lebih berperan dalam peningkatan resiko diabetes tipe 2 dan penyakit-penyakit lainnya. Perlu diingat yang paling penting dalam gaya hidup sehat adalah Eat in Moderation karena sumber gizi apapun ketika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan akan berpotensi menimbulkan efek negatif.

Referensi

 

Bisa juga dibaca di:

Nasi VS Obesitas

 

 

About Sasayu

Dari kecil passion'nya adalah makanan, bahkan sampai cicak pun dilahapnya tanpa basa-basi. Petualangannya melanglang buana, menjelajah benua Eropa mengantarnya meraih gelar dan ilmu dalam Food Technology dan Food Science. Setelah lulus dari Helsinki, kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan kerajaan kecil keluarga: PONDOL - Pondok Es Cendol, spesialis masakan Jawa Tengah yang cukup melegenda di Jakarta.

Arsip Artikel

10 Comments to "Nasi vs Obesitas"

  1. Swan Liong Be  27 May, 2016 at 16:46

    Orang indonesia atau Asia sudah ber-abad² makan nasi putih sbg. makanan pokok , ya tidak ada masalah, orang eropa dulu jarang makan nasi putih , ya perutnya besar juga,(karena banyak minum bier atau miras,ya?!). Yang penting , seperti sudah disinggung para pembaca, semua jangan berlebihan dan banyak jalan. Penelitian² itu ada baiknya tapi juga sering disalhgunakan industrie pharmasi untuk mensponsor produksinya. Contohnya yakni dengn kolesterol sampai orang “panik” kalo mau makan, apa bikin tambah cholesterol atau tidak, apalagi diIndonesia, wah, sedikit² selalu cholesterol, makan sate kambing takut cholesterol!

  2. J C  23 May, 2016 at 08:32

    Oaaalllaaahhh…mas Sumonggo, bukan hanya sa’bagor, sa’dunak, sa’pikul sekalian…

  3. Alvina VB  22 May, 2016 at 00:52

    Setuju dgn pendapat mbakyu Lani.
    Nasi putih bisa aja diasumsi tiap hari, ttp porsinya sesuap/dua suap aja, ha..ha…kel. kita dah ganti sama brown rice dan makannya juga gak tiap hari, nasi bisa digantikan sama kus-kus, quinoa, jagung, kentang atau sumber karbohidrat yg lainnya.

  4. James  21 May, 2016 at 06:26

    ci Lani, kenthir yang ini kalau makan nasi cuma satu dua sendok saja, jadi makan lebih banyak sayurnya saja ditambah buah2 an dan makanan lain yang lebih ringan dari nasi plus jalan kaki tiap hari, karena memang kenyataan terlampau banyak nasi itu tidak baik

  5. Lani  21 May, 2016 at 06:17

    hahaha…….kang Monggo bikin aku tergelak-gelak……..nasi kucing sak-bagor……..langsung mutah mblengeeeeeeeeer

  6. Sumonggo  21 May, 2016 at 05:03

    Nasi kucing juga bisa menimbulkan obesitas, makannya se-bagor …. ha ha ….

  7. Dj. 813  21 May, 2016 at 01:54

    Hallo Sasayu . . .
    Terimakasih untuk informasinya .
    Sehari 1 X, yaitu siang hari makan dengan nasi sudah lebih dari cukup .
    Pagi sarapan dengan roti dan malam banyak makan salat .
    Dan banyak bergerak, itu sangat penting .

    Salam Manis dar Mainz .

  8. Lani  21 May, 2016 at 00:55

    Bagaimana dengan para kenthirs apakah setuju dgn pendapatku atau punya pendpt lain/berbeda?

  9. Lani  21 May, 2016 at 00:54

    SASAYU: aku percaya saja apapun yg dimakan/dikonsumsi secara berlebihan/over dosis akan berdampak negatif………..jd kembali balance adl penting

  10. Itsmi  20 May, 2016 at 21:58

    Di Nederland, nasi putih juga sudah pokok…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.