Palu, Arit dan Cangkul

Prabu

 

Ketiga benda ini, Palu, Arit dan Cangkul di bulan Mei menjadi burunon aparat TNI-Polri.

Di Jogja, seorang pemuda (23) ditangkap polisi gegara pakai topi beraksara “Palu Arit”.

Kanit Reskrim Polsekta Danurejan, Iptu Suwanto saat dikonfirmasi membenarkan adanya penangkapan tersebut. Ia diamankan petugas tak jauh dari Pasar Lempuyangan.

“Sempat diamankan namun segera diperbolehkan pulang. Dari hasil keterangannya tak menunjukkan yang bersangkutan terlibat (gerakan PKI),” tegasnya.

Benar, sang pemuda tsb dilepas. Namun topinya yang dibeli Rp.50.000, bernasib naas, disita pak polisi.

Sementara di Ibukota negeri ini, aparat gabungan TNI-Polri mengamankan pemilik toko kaos bergambar palu dan arit, di Lantai I Blok A No.29-30 Blok M Square dan Toko More Shop Blok M Mall, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Telah diamankan penjual kaos ‘KREATOR’ dengan logo palu arit di Blok M Square. Pemilik toko atas nama Mahdi Ismed,” ujar Kapolsek Metro Kebayoran Baru AKBP Ary Purwanto.

Nasib serupa juga dialami pedagang buku. Mereka kini galau. Sebab sejumlah buku bergambar “Palu Arit” akan di’sweeping. Maka untuk mengurangi kerugian yang besar, para pedagang menarik sementara dari rak-rak tokonya.

Sementara, di Tangerang. Polisi mencokok 3 pemuda pemerkosa dan pembunuh gadis Eno (18). Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang AKB Sutarmo menyebutkan tiga tersangka yaitu IH alias Bogel, RA alias Mamat, dan A. Dugaan sementara menyebutkan IH sebagai otak tindak pembunuhan tersebut.

Yang menarik bin biadab. Ketiga pemuda bau kencur ini setelah memperkosa berjamaah lalu membunuh korban dengan cangkul. Soal bagaimana detail pembunuhan dengan cangkul ini, sungguh, tidak elok untuk ditulis di sini. Silakan browsing dgn keyword “cangkul eno”.

Semua korban perkosaan, menurut hasil visum dokter selalu ditulis bahwa korban (wanita) mengalami luka/pendarahan di kelaminnya akibat benda tumpul.

Nah, kematian Eno ini memang akibat benda tumpul yang sebenarnya, yaitu gagang cangkul. Maka, dengan mudah para aparat membawa sang cangkul ke kantor polisi.

Entah dosa apa gerangan di republik ini. Nyaris sebulan ini, kasus perkosaan muncul tiap hari. Dari gadis Yuyun, Eno hingga bayi 2.5 tahun, dan korban-korban lainnya.

Baik korban dan pelaku adalah anak-anak bau kencur. Padahal mereka ini generasi yang lahir saat komunis sudah lama bangkrut. Mereka tidak kenal siapa Karl Max? Siapa Lenin? Siapa Mao? Siapa Ho Chi Min? Siapa Aidit? Siapa Muso? Tapi, bertanyalah soal Pancasila. Pasti mereka hapal.

palu arit

Inilah fakta, bahwa mereka bukan generasi “Palu Arit”, di mana simbol ini selalu menjadi sasaran aparat buat ditangkap.

Di saat dunia sudah tidak hirau lagi soal komunis, justru aparat kita begitu menggebu menangkap simbol2 palu arit. Sementara, anak-anak kita yang bau kencur terus bergelimpangan menjadi korban perkosaan yang pelakunya juga tidak mengenal palu arit.

Miris.*

 

 

About Prabu

Sosok misterius yang sejak kemunculannya tidak banyak orang yang mengenalnya. Walaupun misterius, sosok satu ini sekaligus ramah dan sangat terbuka pertemanannya. Sang Prabu dan Permaisuri sering blusukan menyapa kawula BALTYRA.com dan menggebrak dunia, kebanyakan dengan coretan karikaturnya sekaligus artikel-artikelnya yang bernas, tajam dan berani.

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "Palu, Arit dan Cangkul"

  1. Dj. 813  23 May, 2016 at 20:54

    Mas Prabu . . .
    Terimakasih mas . . .
    Sangat menarik , kalau palu ada dirumah .
    Kalau arit . . . . ? ? ?
    Bisa lah dibeli, tapi Dj. tidak memilikinya .
    Cankul . . . cangkul . . . cangkul yang dalam . . .
    Menanam jagung dikebun orang .

    Nah ini dia . . .
    Barang yang pernah kami miliki, tapi entah raib kemana . . .

    Sedangkan bangsa kita sekarang dimana-mana orang giat bicara soal agama .
    Tapiiii . . .
    Yang terjadi sebaliknya, diluar perintah agama.
    Subgguh sangat ironis .

    Salam Sejahtera untuk keluarga dirumah .

  2. James  23 May, 2016 at 15:14

    palu, Arit, Cangkul dan Obeng

    halo para Kenthirs ?

  3. Bella Kirana  23 May, 2016 at 14:23

    prihatin …

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.