Belajar Menenun di Desa Sukarara, Lombok

Wiwit Sri Arianti

 

Jelajah Nusantara kali ini dengan tujuan pulau Lombok. Beberapa tahun yang lalu aku memang pernah mendarat di Bandar Udara Mataram, Lombok namun langsung melanjutkan perjalanan ke Sumbawa, sehingga  tidak sempat menikmati Pulau Lombok yang terkenal dengan keindahan pantai dan pemandangan  alam yang menakjubkan. Sejak itu aku terus bermimpi suatu hari nanti akan menginjakkan kakiku ke Lombok dan blusukan untuk menikmati pesonanya. Dan, mimpi itu terwujud hari ini aku mendarat lagi di Mataram bersama teman-teman dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur. Sambal menyelam minum air, begitulah kira-kira ceritanya.

Lombok tidak hanya menjanjikan wisata alam, kuliner dan agama, namun juga ada adat istiadat yang khas, yang umum dilaksanakan beberapa suku besar yang ada di pulau seluas 5.435 km² ini. Salah satu bagian dari adat istiadat Lombok adalah terekpresikan dalam corak kain tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Banyak  suku di Indonesia yang memiliki kain tenun khas, termasuk suku Sasak di Lombok ini. Suku Sasak, merupakan  suku terbesar di pulau yang juga dijuluki pulau ‘Seribu Mesjid’. Ada 3 bagian besar corak kain tenun khas Sasak, yaitu sentra tenun desa Sukarara di Lombok Barat, sentra tenun sekaligus desa adat Sade di Lombok Tengah  dan sentra tenun desa Pringgasela di Lombok Timur.

Desa Sukarara yang terkenal sebagai desa penghasil kerajinan tenun songket Lombok ini lokasinya berjarak sekitar 25 km dari kota Mataram yang  berada di luar jalur jalan negara, termasuk dalam wilayah Kecamatan Jonggot, Lombok Tengah. Perjalananku bersama rombangan menggunakan kendaraan travel, namun kita juga bisa datang dengan  menggunakan angkutan umum dari Bertais ke Praya dan turun saat  menjelang sampai di Puyung. Kemudian dapat dilanjutkan dengan memakai jasa ojek menuju Sukarara, dan sampai di desa kami disambut dengan pemandangan dua ibu yang sedang tekun menenun.

tenun01

Setelah berbincang dengan para ibu yang sudah tidak muda lagi, aku berkeliling melihat-lihat tenun yang sudah jadi dan dipajang di beberapa etalase sampai akhirnya bertemu dengan Ibu Ani yang relatif lebih muda. Tenun Lombok memiliki beberapa motif khusus dan desain tradisional yang menggambarkan gaya hidup kuno pulau Lombok dengan motif rumah adat dan lumbung serta motif tokek, masih mereka pertahankan sampai saat ini. Ada juga motif Pengantin untuk pajangan, motif Rangrang untuk bahan pakaian, motif Keker dan motif Gecko untuk tenun pajangan juga satu set bahan pakaian (selendang dan bahan kain selebar 2,5m2).

Motif-motif songket yang ditawarkan pun sangat beragam, antara lain motif ayam, motif kembang delapan, motif kembang empat, motif begambar tokek yang merupakan simbol keberuntungan, motif pakerot yang berbentuk horizontal, motif trudak yang berwarna violet, dan masih banyak lagi. Masing-masing motif memiliki maknanya sendiri-sendiri. Sedikit dari tenunan bahan-bahan sarung, sebagian besar selimut (ukuran bahan jauh lebih panjang dan lebih lebar), juga Sasambo (tenunan khusus dengan motif-motif campuran khas Lombok –Gecko, cacing laut Nyale, berugaq, dan motif-motif Sumbawa Bima) menggunakan pewarna alami dengan warna-warna soft.

Di bawah ini beberapa contoh motif yang dipajang, aku juga mencoba memakai selendang hijau yang sangat indah dan menurut teman-teman sangat cocok kupakai.

tenun02 tenun03

“Motif Penganten”

“Motif Penganten”

tenun05

“Selendang Sade”

“Selendang Sade”

Tenun-tenun tersebut diproduksi dengan menggunakan alat tenun tradisional yang sangat sederhana, namun hasil tenunannya memiliki kualitas yang sangat baik dan mengagumkan. Desain kain tenun Desa Sukarara ini dari aplikasi pasangan warna-warna tanah dengan pola tradisional timur  Pulau Lombok. Bahan baku yang digunakan adalah benang katun, sutera, sutera emas dan benang sutera perak. Sedangkan untuk bahan pewarna mereka menggunakan bahan pewarna alami seperti  warna coklat kemerahan dari pohon mahoni, warna coklat muda dari batang jati, warna coklat tanah dari biji asam, warna coklat tua dari batang pisang busuk, dan warna ungu dari kulit manggis dan anggur.

Namun pada umumnya pewarnaan terbagi menjadi dua, pewarna alami dan pewarna pabrikan (kimia). Cara membedakan dua jenis pewarnaan ini sangat mudah, hasil pewarnaan alami biasanya lebih lembut, soft dan tidak mencolok. Sedangkan  warna-warna terang, mencolok dan cerah merupakan efek dari pewarnaan bahan pabrik. Bahan-bahan sarung, set selendang dan bahan pakaian, sebagian besar menggunakan pewarna pabrik.

Karena penasaran akhirnya aku mencoba belajar menenun dari ibu Ani, seorang ibu “single parent” yang setiap hari datang ke toko ini untuk menenun dari pagi sampai sore sekitar delapan dalam jam sehari.

“Diskusi dengan Ibu Ani tentang motif dan caranya menenun”

“Diskusi dengan Ibu Ani tentang motif dan caranya menenun”

Lihatlah kawan, aku sudah seperti bisa menenun meskipun pelan namun pasti dengan bimbingan dari Ibu Ani yang baik hati dan sabar. Tapi susah banget lho, butuh kesabaran tingkat tinggi hehehe….

Lihatlah kawan, aku sudah seperti bisa menenun meskipun pelan namun pasti dengan bimbingan dari Ibu Ani yang baik hati dan sabar. Tapi susah banget lho, butuh kesabaran tingkat tinggi hehehe….

Menurutnya, untuk memproduksi satu selendang yang bermotif seperti yang kupakai di foto atas membutuhkan waktu sekitar satu bulan dikerjakan setiap hari selama 8 jam dengan harga jual 500 – 700 ribu rupiah. Penentuan harga dihitung dari tingkat kerumitan motifnya, semakin rumit motifnya semakin mahal harganya, jika motifnya sangat rumit satu selendang bisa lebih dari satu juta rupiah. Penjualannya dilakukan di koperasi, dengan alasan koperasi tersebut di toko ini tidak memasang label harga di setiap barang, sehingga setiap kali kita tertarik kain atau barang lain harus bertanya harganya kepada penjaga toko. Aku sempat menyarankan kepada pimpinannya supaya diberi label harga sehingga orang bisa lebih mudah memilih yang sesuai dengan ketertarikan barang/kain dan dana yang tersedia.

Baiklah kawan, cukup sampai disini dulu ya cerita tentang belajar menenun di Desa Sukarara Lombok dan tunggu cerita berikutnya tentang jelajah Nusantara dengan obyek dan kota yang lainya di Republik tercinta. Selamat merencanakan petualangan Anda…

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

21 Comments to "Belajar Menenun di Desa Sukarara, Lombok"

  1. Wiwit  15 June, 2016 at 10:10

    Alhamdulillah,…trims bu Lani, saya kuatir bikin sedih dirimu hehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *