Perjalanan Sebuah Telepon Genggam

Awan Tenggara

 

Beberapa hari lalu saya kehilangan handphone. Itu bukan masalah besar, apalagi handphone itu punya casing yang tak layak pakai; retak di bagian depannya, dan keypad huruf ‘a’ mencelat entah di mana. Keadaannya seperti itu sudah dari dua bulan sebelum ia akhirnya hilang. Casing pengganti sebenarnya sudah saya sediakan di laci kamar saya, hanya barangkali karena tak sempat menggantinya, atau lebih tepat kalau disebut karena saya ini pemalas, handphone itu pun tetap berwajah tak rupawan hingga ajalnya. Walau bukan masalah besar, kalau dibilang kecewa, saya tentu saja iya—Kecewa.

telepon genggam

Saya kecewa bukan karena harga jualnya di pasaran sekarang. Tetapi karena kartu di dalamnya yang setelah ia hilang saya tidak bisa mengurusnya di gerai operator resminya lantaran dulu saya mendaftarkannya tidak sesuai identitas di KTP. Semprul tenan!. Kartu itu berisi nomor-nomor penting yang tentu saja tidak mudah bisa saya dapatkan kembali, sebab kebanyakan adalah nomor kenalan-kenalan yang banyak saya temui di berbagai petualangan yang saya jalani. Selain itu, handphone itu adalah handphone kenangan yang dulu saya beli pakai uang resign saya dari perusahaan tempat saya kerja dulu, telah menemani perjalanan saya, dan foto-foto jepretan saya di blog wonderfuljava.blogspot.com seluruhnya menggunakan kamera handphone itu. Itulah kenapa ketika beberapa kalihandphone itu mengalami kerusakan, saya tetap bersedia membawanya ke tempat servis walau biaya servisnya kalau ditotal melebihi harga jualnya sekarang.

Hampir seminggu sejak handphone itu hilang, saya mendadak terkejut ketika kakak saya bilang ke saya saat tadi saya baru saja pulang, bahwa orang yang menemukan handphonetersebut siang tadi menghubungi Ibu kami.

“Tolong hubungi orang itu. Bilang bawa saja handphone-nya, tapi jangan kartunya.” Saya langsung bilang ke kakak saya. Pernyataan itu tentu saja merupakan pertimbangan akhir. Tentu malu untuk meminta sekalian handphone-nya karena setelah handphone itu hilang, saya bilang ke teman saya—yang kebetulan bersama saya ketika itu—bahwa saya telah mengiklaskannya. Anggaplah itu nasib baik bagi yang menemukannya.

“Diberikan? Mending buatku saja handphone-nya.” Kata kakak.

“Tidak!”

Setelah melalui proses negosiasi yang akrab dengan si penemu via SMS, saya pun berangkat menemuinya untuk mengambil kembali kartu SIM dan memory card di dalamnya di tempat yang kami sudah janjikan.

Orang seperti apa, yang bersedia mengembalikan handphone butut yang ditemukannya, yang jelas terlihat bukan milik orang kaya? Minta tebusan? Saya pikir, tidak. Ketulusan hati macam apa yang dimiliki orang ini? Itulah yang di sepanjang perjalanan terus membuat saya penasaran.

“Maaf, Pak. Numpang tanya. Bapak kenal Pak Jamal?” tanya saya kepada seorang tukang becak di tempat saya janjian dengan si penemu handphone begitu sampai.

“Saya sendiri Jamal. Adik ini yang kehilangan handphone?”

“Iya, Pak. Saya.”

“Kalau begitu ini handphone adik. Tadi siang Ibunya telpun, katanya besok minggu mau pulang Semarang. Sampean disuruh menjemput.”

“Oh. Iya, Pak. Terimakasih sebelumnya. Handphone-nya buat bapak saja, saya cuma butuh kartunya.” Saya pun melepas kartu SIM di dalamnya. “Bapak merokok?”

“Iya. Tapi ini handphone-nya buat adik saja. Saya untuk apa?”

“Tidak apa-apa. Buat tilpun-tilpunan sama keluarga tho, Pak.” Kata saya sambil bercanda. Saya pun akhirnya membelikan beliau rokok sebelum kemudian pamit pergi.

“Ini, Pak.” Saya juga membawakan chasing handphone itu dari rumah. “Chasing-nya diganti yang ini saja, biar nanti kelihatan lebih bagus. Sekali lagi terima kasih lho, Pak.”

“Iya, sama-sama.” Kata beliau, “Dik, tadi ditelepon Ibu memanggil ‘nar’. Itu nama adik?”

“Nggih, Pak. Nar. Nama saya Jenar.”

Bibir beliau menggambarkan senyuman. Juga kedua matanya. Tak lama dari itu, saya pun akhirnya beranjak dari hadapannya.

Bukan jadi soal ketika pada akhirnya saya tidak bisa lagi memiliki handphone yang bagi saya keberadaannya begitu berarti. Karena hari itu, di depan saya, ada hal yang keberadaannya lebih berarti dari apa yang saya miliki itu, yakni kejujuran dan ketulusan hati bapak tukang becak tadi. Memberikan handphone itu sebagai hadiah bagi pemilik hati semacam itu, bagi saya adalah sebuah kegembiraan tersendiri.

Segala hal di dunia ini boleh saja tak abadi, tapi saya berharap, semoga semesta senantiasa memiliki satu keabadian ini: kebaikan hati yang dimiliki orang-orang semacam bapak itu tadi. Semoga.

 

Ditemani Gravity-nya Coldplay…

 

 

7 Comments to "Perjalanan Sebuah Telepon Genggam"

  1. Dj. 813  27 May, 2016 at 22:23

    Untung telepon genggam Dj. tidak bisa jalan-jalan .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !
    Terimakasih bung Tenggara dan salam,

  2. Lani  27 May, 2016 at 11:41

    AL: tosssssss! HP ku juga kuno jaman sepur lempung…….alasannya sama krn belum/tdk butuh yg pakai smart kkkkkkkk

    James: dr info yg aku dptkan katanya aku lebih baik pilih iphone krn tdk ribet.apalagi buat diriku yg gaptek kkkkkk

    Ternyata harga smartphone di OZ lebih mahal dibandingkan dgn di US ya

  3. James  27 May, 2016 at 09:30

    Alvina, tadinya saya juga yah cukuplah pake HP yg ada bekas istri semua saja toch msh bagus jalan semua, tapi akhir2 ini istri anjurkan beli touch screen krn dia bilang enjoy life dan jangan ketinggalan jaman terlalu jauh katanya, jadi akhir ini baru beli saja, malah dulu lama sekali saya gak punya HP krn pikir msh ada tlp umum, skrg malah HP lbh banyak dari pada tlp umumnya krn bnyk di vandal terus

  4. James  27 May, 2016 at 09:27

    ci Lani, Android juga bagus kok, kalau merek skrg sih semua mirip2 bersaing sih dan kebanyakan kan skrg Made in China semua sih, terakhir saya beli itu Huawei Y560 malah lbh murah dan lbh bagus dari Samsung Ji yang mana istri saya beli, yg paling mutahir adalah Samsung Galaxy 7 sama 7Edge, hanya harganya masih selangit sekitar 900-1000 AUD dah, kalau yg menengah ada sekitar dibawah 200 AUD sdh cukup canggih lah, yg paling murah dibawah 100 AUD itu basic sekali tapi ok juga hanya layarnya agak kecil

  5. Alvina VB  27 May, 2016 at 03:41

    James: cuman ngikutin perjalanan telp genggam punya anak dan suami. Saya pribadi gak punya dari jadul (yg modelnya gede banget kek ulekan) sampe sekarang (yg model tipis banget) dan gak peduli org bilang ndeso; merasa blm butuh kok. Kl nanti semisalnya butuh, baru beli dah, ttp gak tahu thn kapan.

  6. Lani  27 May, 2016 at 00:19

    James: aku itung2 baru pernah ganti HP 4 kali selama punya telpon genggam.

    Dan sampai skrng msh pegang HP kuno belum punya smart phone, lagi mikir, dan rencana beli bisa kasih info? Android? Atau iPhone?

    Jenar: menurutku bukan bapak yg menemukan telpmu dan mengembalikannya kpd sang pemilik yg kau sebut kejujuran itu akan tetapi kamu jg sdh pasti seneng menemukan masih ada orang jujur.

  7. James  26 May, 2016 at 12:22

    1…..ganti2 model HP jadi yang lama masih nangkring dan bagus sebagai cadangan, Nokia 3105, 2760 dan Nokia 100

    halo para Kenthirs apa masih punya HP jadul ? biar punya yang touch screen tapi yang lama jangan dilempar yah, siapa tau suatu waktu di butuhkan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.