Kekayaan Hutan Asia

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Kekayaan Hutan Asia

Editor: Citlalli Lopez dan Patricia Shanley

Tahun Terbit: 2005

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: xii + 120

ISBN: 979-22-1191-8

hutan asia

 

Pernahkah anda memikirkan darimana asal hiasan yang menambah keindahan ruang dan rumah anda, wewangian yang anda pakai, bumbu-bumbu yang membuat masakan anda bertambah lezat dan dupa atau sarana ibadah lainnya yang anda pakai? Pernahkan anda membayangkan bahwa sebagian dari barang-barang tersebut berasal dari hutan? Buku ini secara menarik menggambarkan kekayaan hutan Asia.

Hutan yang telah menyumbang kepada peradaban dunia sejak berabad-abad lalu. Termasuk peradaban Mesir kuno. Hutan Asia menghasilkan berbagai bahan yang telah menyumbang dalam perkembangan peradaban manusia. Damar, gaharu, cendana, dupa dan kapur barus telah disukai oleh orang Timur Tengah dan Eropa sejak jaman kuno. Bahkan cengkeh, bunga lawang, pala dan lada pernah menjadi perebutan bangsa Eropa di abad 16-18. Produk-produk tersebut adalah produk dari hutan yang lebih dulu mendunia sebelum kayu menjadi komoditas utama. Masih ada produk-produk yang berupa bumbu-bumbuan dan bahan makanan dari India dan China yang juga mendunia. Kapulaga contohnya. Jadi jelaslah bahwa hasil hutan bukan hanya kayu saja.

Manfaat hasil hutan bagi masyarakat sekitar hutan sangat beragam. Ada yang bermanfaat langsung untuk kehidupan sehari-hari, seperti bahan makanan dan kayu bakar serta obat-obatan. Ada masyarakat pinggir hutan atau yang hidup di dalam hutan yang memanfaatkan hasil hutan sebagai sumber penghasilan tambahan. Namun ada juga yang secara serius menggantungkan hidup ekonominya dari hasil hutan. Penduduk di pedesaan China ada yang seluruh ekonominya bergantung kepada mencari tumbuhan obat dan jamur.

Pasar dari produk hutan non kayu juga beragam. Ada yang hanya dikonsumsi secara lokal, ada pula yang dibutuhkan oleh masyarakat yang tempatnya sangat jauh dari asal produk tersebut dihasilkan. Beberapa produk yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam jumlah yang banyak telah merangsang orang untuk membudidayakannya. Produk madu misalnya. Selain madu yang dipanen dari lebah hutan, kini bisa didapat madu hasil ternakan. Jamur Shitike, durian, pala, cengkih juga sudah dibudidayakan karena kebutuhannya yang besar.

Namun sayang, sejak kebutuhan kayu untuk furniture dan bangunan serta untuk produksi kertas semakin besar, hutan lebih banyak dilihat sebagai sumber kayu saja. Akibatnya penebangan hutan untuk mengambil kayunya terjadi secara masif dan membahayakan kelangsungan hutan itu sendiri. Degradasi hutan terjadi secara cepat sejak pemanenan kayu dalam skala komersial mulai marak. Kerusakan hutan ini juga menyebabkan potensi hasil hutan non kayu menjadi berkurang bahkan menghilang.

Hutan masih memiliki potensi non kayu yang belum tergali. Fungsi beberapa tumbuhan yang mungkin memiliki khasiat di bidang kesehatan masih banyak tersimpan di dalamnya. Sayang sekali kalau potensi ini hilang karena kita terlalu rakus memanen kayu.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Kekayaan Hutan Asia"

  1. J C  15 June, 2016 at 05:25

    Aku jadi ingat waktu masih kerja “di situ” nyusun laporan tentang perkayuan Indonesia…sedih…

  2. Handoko Widagdo  2 June, 2016 at 15:34

    Nomor 2 setelah Amazon.

  3. EA.Inakawa  2 June, 2016 at 11:21

    ada yang tau, Hutan Indonesia termasuk peringkat keberapa yang menyumbangkan kebutuhan Oksigen untuk dunia ?

  4. Lani  1 June, 2016 at 11:17

    Hand: Gersang = Segeeeeeeeeer merangsang??? Hahahaha……….

  5. Handoko Widagdo  1 June, 2016 at 05:53

    Lani, segersang hati para kenthirs?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.