Telor

Dian Nugraheni

 

Lagi, ada yang dibilang organik, ada juga yang tanpa embel-embel kata organik. Jelas yang organik lebih mahal, bisa dua kali lipet harga dari yang bukan organik, bahkan lebih dari dua kali lipet harganya, untuk jumlah yang sama.

Ada lagi yang dibilang, telor dari happy Hens (ayam perempuan, babon), makan rumput, ga dikandangin (maka telornya jelas lebih bagus dan sehat, hixixixi, begitu kira-kira kalimat yang diharapkan akan tersimpul di otak calon pembeli ya..).

telor01 telor02 telor03

Bla..bla..bla.., si Mak ga ahli soal ginian, cuma sedang harus banyak teliti buat meningkatkan kualitas asupan anak-anak, biar nggak gampang sakit (trauma ngrawat Cedar yang cuma sakit flu tapi penampakannya udah kayak orang sakit apa, sampai ga bisa berdiri, jalan, dan hidung mimisan lumayan banyak, dan itu terjadi beberapa kali dalam setiap tahun, terutama ketika musim flu tiba).

Jadi, si Mak pilih telor dari happy Hens ini, buat dibikin rebus setengah matang. Kemaren dulu, mas Bule yang main ke rumah, ortunya punya farming di daerahnya sonoh, bilang, bahwa semua telor yang dijual di toko di Amrik, itu sudah dipasteurisasi, jadi proses itu untuk me’reduce dan kemudian meng’eliminated bahteri macam salmonella, maka orang-orang di Amrik santai aja bikin telor ceplok sunny side up (telor ceplok dengan putih matang dan yolk mongah-mongah cantik seperti matahari bundar pagi hari, gorengnya nggak dibalik ya..), atau runny egg (telor ceplok yang dibikin sedemikian rupa sehingga putihnya mateng sebentar lalu angkat, kalau runny egg, ceploknya boleh dibalik, tapi cuma beberapa detik. Jadi yolknya, kuningnya juga masih ambyar kalau telor ini dicocok garpu), karena telornya sudah melewati proses pasteurisasi tersebut.

Okay, teman-teman yang ahli perteloran, mohon dishare komen, bagaimanakah proses pasteurisasi untuk telor? Apakah proses pasteurisasi juga bisa dikerjakan sendiri di rumah untuk jumlah kecil, maksudnya.., biar bisa makan telor setengah matang, atau biar bisa digunakan dalam proses pembuatan kue atau sediaan hidangan yang memerlukan telor mentah, seperti bikin mayones sendiri, bikin puding busa yang pakai telor putih itu, dan lain-lain, dengan rasa aman.

Bla..bla..bla..keterangan lain soal ini, monggo teman-teman, ditunggu sharenya ya…

________
NB: Ketika dijual di toko, telor selalu ditaruh dalam refrigerator, maka sampai rumah juga harus langsung masuk kulkas buat simpannya…

 

 

10 Comments to "Telor"

  1. erny abigail  9 August, 2016 at 09:18

    keluargaku sangat suka makan telor, sepertinya tiada hari tanpa telor, diolah dengan cara apapun, telor setengah matang di makan panas2 uenak tenan tapi, udah lama ga berani makan seperti itu setelah dengar2 ada bakteri yang tidak mati kalau cuma dimasak setengah matang. so entah benar entah tidak, diolah cara lain ajah biar aman.

  2. Lani  15 June, 2016 at 07:13

    Ki Lurah: menurut pengertianku bukan jenis endog spt endog pitik, bebek, kiwi dan sgl burung lainnya………..

    Yg dimaksudkan disini adl endog pitik mana yg lebih sehat, yg berwarna putih/coklat kulitnya dan ditambah lagi endog dr pitik farm atau pitik buras…………mana yg lebih sehat

  3. J C  15 June, 2016 at 05:26

    Dian, kalau endog di sini juga lumayan banyak jenisnya. Mulai bermacam-macam lah…harga juga sangat bervariasi…

  4. Lani  1 June, 2016 at 04:59

    Dian: aku bukan ahli dlm hal ini, mana telur yg sehat dan terbebas dr sgl hama.

    Yg jelas aku tdk makan telor ½ mati opo meneh yg kuning telurnya msh meler2 wuiiiiiiih nggilani bs mutah!

    Mau diolah dgn cara apa saja asal welldone aku mau, opo meneh telur pindang………telur asin

    Di Hawaii dpt dibedakan 2, telor yg import dr mainland katanya kulitnya sdh di treated dgn telur local dr ayam wild ayam buras/di indo dinamakan telur ayam kampung, tentunya lebih sehat dan jelas harganya lebih mahal.

    Klu telur impor dr mainlad 1 dozen berkisar $ 3-$ 4 klu ayam local $ 5 and up

  5. Dj. 813  31 May, 2016 at 12:20

    Lho ini telur nya siapa . . . ? ? ?
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Salam telur dari Mainz.

  6. Alvina VB  31 May, 2016 at 12:13

    Ha..ha….James, jelas para kenthirs gak ada yg di kandang, semua sibuk wara-wiri di ladangnya sendiri.
    Betul/gak ya kl brown eggs itu lebih bagus dari yg white eggs? tentunya yg free range ya…dan ayamnya gak disuntik hormon tentunya. Kangen sama ayam kampung yg pitik2 dan telutrnya juga pitik, he..he…

  7. Budi Margomuljo  31 May, 2016 at 12:01

    Saya suka banget makan telor ceplok dan telor dadar.. salah satu makanan favorit…

  8. Sierli FP  31 May, 2016 at 11:37

    Aku mah doyan telor, mau dimasak apa juga, ta emplok..hehehhe..

  9. James  31 May, 2016 at 10:29

    telor = telur = endog = eggs, di Ozi harganya lebih mahal kalau itu Free Range Eggs yang berasala dari ayam yg dilepas di lapangan bukan di kandang, bisa dua kali lipat harganya

    free range Kenthirs

  10. Kita  31 May, 2016 at 08:32

    Kalo pasteurisasi belum paham Mbak; yg pasti utk telur organik, biasanya pencemar organiknya juga lebih tinggi. Kasus dioxin di beberapa negara EU paling banyak jadi referensi khususnya ketika “perikebinatangan” menjadi factor penting bagi sistem farm negara2x EU.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *