Religi dan Religiusitas Bung Karno

Handoko Widagdo – Solo

 

dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni

 

Judul: Religi dan Religiusitas Bung Karno

Penulis: Bambang Noorsena

Tahun Terbit: 2000

Penerbit: Bali Jagadhita Press

Tebal: xxx + 302

ISBN: 979-96218-0-1

bungkarno

 

Apakah Sukarno beragama Islam? Bukankah Bung Karno pernah menyampaikan bahwa dia adalah seorang Islam, Kristen sekaligus Hindu kepada seorang jurnalis Amerika (hal. 14)? Juga pernah menyatakan bahwa dia adalah seorang Panteis-Monoteis (hal. 105). Bukankah Sukarno meletakkan Islam hanya sebagai ideologi yang sejajar dengan nasionalisme dan komunisme, sehingga dia mencoba menyintesanya menjadi NASAKOM? Kalau Sukarno bukan seorang Islam, mengapa Sukarno mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Mesir dalam bidang filsafat dan dari Universitas Muhammadiah Jakarta di bidang Tauhid dan diberi gelar Waliyul Amri Bidldlaruri oleh NU? Mengapa dia justru shalat dan berdoa secara khusuk saat mendengar berita bahwa dia akan dieksekusi besok harinya saat ditahan di Berastagi? (hal. 172). Beberapa ahli agama Islam mengatakan bahwa Sukarno adalah seorang yang berpaham sinkretis Jawa (hal. 11).

Untuk memahami cara beragama dan religiusitas Sukarno, kita harus melihat latar belakang Sukarno. Sukarno dibesarkan dalam keluarga kejawen (kakek-neneknya), teosofisme (bapaknya) dan Hindu (ibunya). Sukarno belajar di sekolah Barat sehingga mengenal pemikiran Barat dan kekristenan. Sedangkan Islam baru dipelajarinya secara sungguh-sungguh saat dia sudah menginjak dewasa (hal. 44). Sukarno tidak dibesarkan dalam keluarga santri yang melakukan ritual Islam secara rutin di keluarganya. Itulah sebabnya keagamaan Sukarno terkesan campur-campur. Sukarno juga mengenal kekristenan dengan cukup intensif saat berada di Ende (hal. 127). Sukarno sangat fasih menggunakan ayat-ayat Quran, Injil sekaligus ajaran-ajaran Hindu. Bahkan Sukarno tak segan mengutip pendapat tokoh Ahmadiyah yang di kalangan Islam kebanyakan dianggap sesat.

Sukarno belajar Islam terutama dari Tjokroaminoto – politikus Islam (hal. 45), Ahmad Dahlan – Muhammadiah dan A Hasan tokoh PERSIS (hal 46). Saat Sukarno dipenjara di Sukamiskin, dia mempelajari Islam dari A Hasan. Saat diasingkan ke Ende, Sukarno minta kepada A Hasan untuk mengiriminya buku-buku Agama Islam. Sukarno mempelajari Islam adalah karena merenungkan mengapa Islam yang pernah jaya sekarang dianggap inferior (hal. 117). Menurut Sukarno keterpurukan Islam adalah karena ajaran Islam tidak berubah selama lebih dari 1000 tahun. Aturan-aturan hidup yang diajarkan dianggapnya sudah tidak relevan dengan perkembangan jaman. Oleh sebab itu Islam harus terbuka terhadap pemikiran baru. Pandangan ini secara terbuka ditentang oleh A Hasan. A Hasan mengritik Sukarno karena menekankan penggunaan ilmu barat untuk merevitalisasi Islam (hal 59). A Hasan mengatakan bahwa hal-hal yang sudah diatur dalam Quran dan Hadits mestinya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Sukarno dikenal sebagai seorang yang mengagungkan nasionalisme. Islam dalam penghayatan Sukarno adalah Islam yang mengajarkan nasionalisme. Nasionalisme dalam pandangan Sukarno adalah nasionalisme yang tidak sempit. Nasionalisme yang menghargai bangsa-bangsa lain. Dalam upaya membangun nasionalisme Indonesia ini seringkali Sukarno menggunakan agama, khususnya Islam. Sukarno mencari akar nasionalisme Arab yang menghargai Islam sebagai bagiannya. Namun Sukarno juga menggunakan ajaran Tat Twam Asi, untuk menjelaskan nasionalisme (hal. 93). Bagi Sukarno, nasionalisme dan internasionalisme tidak harus bertentangan. Saking cintanya kepada nasionalisme, beberapa pihak menuduh Sukarno memberhalakan nasionalisme. Agus Salim mengritik Sukarno yang dianggap mengarah kepada kemusrikan karena mengagung-agungkan keindahan Ibu Indonesia (nasionalisme) (hal. 78). M Natsir lebih memilih menjadi oposisi pemikiran Sukarno dalam hal agama.Terhadap kritik yang menganggap Sukarno memberhalakan nasionalisme, Sukarno menjawabnya: “Bukan saya berkata bahwa Tuhan adalah Indonesia (hal. 97).

Jiwa Kosmis adalah istilah yang mungkin tepat untuk memotret kesadaran religious Sukarno. Jiwa kosmis mencerminkan suasana batin eksistensial Bung Karno, “yang senantiasa menyadari diri sebagai bagian dari kosmos, cenderung menghargai seluruh kosmos dan mengangkat martabat makhluk ciptaan sebagaimana mestinya” (hal 91). Pandangan religious semacam ini sangat dipengaruhi oleh tat twam asi, akibat dari persinggungannya dengan ajaran Hindu, agama ibunya, Pandangan ini juga bisa dilacak dari ajaran kejawen, khususnya tentang kisah Dewa Ruci.

Bambang Noorsena menyimpulkan bahwa religi Sukarno adalah lintas batas (passing over). Religi yang berfokus kepada mencari Tuhan yang tidak terbatas. Mencari Tuhan yang tidak bisa dibatasi oleh sebuah agama. Dalam penghayatan agamanya, Sukarno memakai Islam sebagai titik berangkat. B. J. Boland mengatakan bahwa “Sukarno mempunyai pendapatnya sendiri tentang agama yang berbeda dari kebanyakan orang” (hal. 115). Hubungan Sukarno dengan Tuhan adalah sebuah hubungan pribadi yang sangat mesra. Keyakinannya yang teguh akan Tuhan telah membuat Sukarno sebagai sosok yang teguh memperjuangkan nasionalisme Indonesia.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Religi dan Religiusitas Bung Karno"

  1. Handoko Widagdo  16 February, 2019 at 12:39

    Pak Paul, mungkin bisa dicari di tokobuku online.

  2. Paul  16 February, 2019 at 12:09

    Bagaimana cara dan dimana saya bisa memesan buku ini

  3. Handoko Widagdo  1 June, 2016 at 19:22

    Awesome, James dan Kangmas Djoko terima kasih sudah ikut menikmati religi dan religiusitas Bung Karno. Beraga adalah sebuah proses pencarian.

  4. Handoko Widagdo  1 June, 2016 at 19:22

    Benar-benar betul Djas.

  5. djasMerahputih  1 June, 2016 at 18:53

    Awesome:
    Awalnya Bung Karno menikahi Utari yg masih di bawah umur. Dicerai dalam keadaan masih perawan. Kemudian Inggit yg “mapan” dan dewasa/keibuan. Mirip peran St. Khadijah bagi Muhammad.

  6. Dj. 813  1 June, 2016 at 18:00

    Dj. kira mas Iwan yang nulis ini artikel .
    Terimakasih mas Handoko .
    Salam manis dari Mainz untuk keluarga dirumah .

  7. James  1 June, 2016 at 15:13

    hadir bang Djas

  8. awesome  1 June, 2016 at 12:47

    menyegarkan seperti biasa
    terima kasih untuk ulasannya Pak Hand

    djas …. aku baru tahu kalau pernikahan awal Bung Karno dengan wanita mapan dan lebih dewasa, gimana ceritanya tu …

    Roso Daras dimana ya …..

  9. djasMerahputih  1 June, 2016 at 10:26

    Bung Karno menurut djas adalah bentuk universal dari seorang Muhammad yang sangat identik dengan Arab. Islam di benak Bung Karno adalah Islam Universal, Islam sebagai Rahmatan Lil Alamiin sebagaimana kehadiran Muhammad untuk menjadi rahmat buat semesta alam.

    Kisah pernikahan awal dengan wanita mapan dan lebih dewasa merupakan satu di antara beberapa kesamaan ciri tahapan perjalanan hidup Bung Karno dan Nabi Besar Muhammad saw.

    Thanks reviewnya Mas Hand..
    Salam Hari Pancasila buat para Kenthir

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.