Mata Italia, Hati Indonesia: Potret Kehidupan Kampung dari Lensa Stefano Romano

Stefano Romano

 

KAMPUNGKU INDONESIA

Karya: Stefano Romano
Halaman: 172
Ukuran: 21×27.5 cm
ISBN:978-979-433-945-9

Harga: Rp 199,000
Juni, 2016

Cover 04_12_Depan

Mungkinkah seseorang merasakan suatu negeri sebagai kampung halamannya, padahal dia bukan berasal dari sana? Bagi Stefano Romano, seorang fotografer asal Italia, jawabannya adalah “ya” jika negeri itu adalah Indonesia.

Dan buku ini secara kuat menunjukkan hal tersebut melalui rekaman warna-warni portret kehidupan kampung yang dibidik melalui kamera Stefano dalam beberapa kunjungannya ke Indonesia.

Keistimewaan buku ini dalam merekam potret keseharian kehidupan kampung di Indonesia terletak pada keberhasilannya memberikan hasil yang tampak natural dan spontan, sederhana sekaligus sempurna.

Foto 1-Stefano Romano dan buku Kampungku Indonesia

Buku ini diberi pengantar oleh Bpk. Budiarman Bahar, mantan Duta Besar RI untuk Vatikan periode 2012-2016, yang menjalin persahabatan dekat dengan Stefano Romano selama masa tugasnya, lantaran seringnya Stefano berperan sebagai juru foto pada acara-acara yang diselenggarakan oleh KBRI Vatikan.

Dalam pengantarnya beliau menulis, “Saya menyukai foto-foto Stefano yang diambil di wilayah-wilayah perkampungan, yang menunjukkan kesederhanaan penduduk dan lingkungan kampung yang dipotretnya, dengan hasil yang terlihat natural.”

Scott Merrillees, penulis buku sejarah dan kumpulan  kartu pos tua tentang ibukota, mengapresiasi karya Stefano dengan mengatakan, “Lensa kamera Stefano Romano peka merekam corak kehidupan kampung yang nyaris tak berubah selama puluhan tahun sekaligus aspek-aspek tradisional yang tergerus modernitas. Foto-fotonya memancarkan kehangatan dan kemanusiaan, memantulkan kecintaannya pada Indonesia.”

Foto 2-Stefano Romano dan Scott Merrillees

Kampungku Indonesia akan diterbitkan oleh Mizan pada Juni 2016. Untuk ikut dalam program pre-order buku ini, Anda dapat mengirimkan email registrasi pre-order ke [email protected]. Program berlangsung hingga 10 Juni 2016. Untuk mendapatkan informasi silakan ikuti Fan Page Kampungku Indonesia di Facebook.

 

************************************************************************************

 

Italian Eyes, Indonesian Hearts:

Portrait of Kampung from the Lens of Stefano Romano

 

KAMPUNGKU INDONESIA

 

Details:

by Stefano Romano
Page: 172
Size: 21×27.5 cm (Hard Cover)
ISBN 978-979-433-945-9
Publisher: Mizan

Date of Publication: June, 2016

Price: Rp 199,000

 

Cover 04_12_Depan

Is it possible to feel a land our own land, without being one? For Stefano Romano, an Italian photographer, the answer is yes, if the land is Indonesia.

And this book show that compassion strongly through the colorful portraits of life in kampung, recorded through Stefano’s camera lens during his visits in Indonesia.

The uniqueness of this book in capturing daily life of Indonesian villagers can be seen in the natural and spontaneity of the portraits, showing simplicity as well as perfection.

Foto 1-Stefano Romano dan buku Kampungku Indonesia

Introduction to this book is written by Budiarman Bahar, Indonesian Ambassador to the Holy See in Rome for 2012-2016. Mr Budiarman has become close friend with Stefano Romano due to their frequent collaboration when Stefano acted as photographer on events organized by Indonesian embassy at Vatican.

In his introduction, Mr Budiarman writes, “I like photographs taken in villages that shows the simplicity of the people and the environment, with results that look natural. Likewise, his portrait of cheerfulness of Indonesian children showing their innocence is very interesting.”

Scott Merrillees, author and historian about Jakarta, also  shows appreciation to this book, saying, “Stefano Romano’s sensitive camera lens captures in vivid colour aspects of Indonesian life that have barely changed in decades or even centuries but also aspects where the impact of modernity is encroaching on the tradtional. The photographs shine with warmth and humanity reflecting Stefano’s passion for Indonesia and its people.”

Foto 2-Stefano Romano dan Scott Merrillees

Kampungku Indonesia will be published by Penerbit Mizan in June 2016. To join in the pre-order program of this book, register by email to [email protected].  This program are only good until 10 June when the book will officially comes out in stores. For more information, follow Facebook fan page Kampungku Indonesia.

 

 

About Stefano Romano

An Italian-born, by faith and destiny embraced Islam and passionately love Indonesian rich culture. His shots are extra-ordinary, as people say: pictures worth thousands words.

My Facebook Arsip Artikel

18 Comments to "Mata Italia, Hati Indonesia: Potret Kehidupan Kampung dari Lensa Stefano Romano"

  1. triyudani  2 July, 2016 at 18:35

    Saluuut,smg sukses terus Stef.
    Ikut bangga negara Indonesia dipromosikandi luar negeri.

  2. Dj. 813  14 June, 2016 at 14:26

    Saluti . . . ! ! !
    Viele Länder lieben Indonesische kultur .
    Aber in Indoneseien, viele mänchen da denken an andere dinge .

    Grazie . . .Schöne Grüße aus Mainz .
    Chiao . . . ! ! !

  3. Stefano Romano  10 June, 2016 at 16:41

    Thanks to everyone for the comment

  4. Lani  10 June, 2016 at 12:29

    James, AL: masalah homeless pemalas mmg bikin gregetan/sebel klu bantuan tepat sasaran msh bs dimaklumi akan ttp klu salah sasaran kmd disalah gunakan itu yg membuat jengkel soale uang bantuan dr Negara itu diambilkan dr orang2 yg bayar tax lebih edan lagi bantuan itu disalah gunakan mrk malah menggantungkan bantuan trs dan tdk mau kerja dgn kata lain malasssss keterusan

  5. Linda Cheang  8 June, 2016 at 14:07

    Proficiat Stevano!

  6. Alvina VB  6 June, 2016 at 00:38

    James..ternyata di Aussie ada juga “Dole Bludgers” ya, herannya org males di negara maju kok malah dikasih duit/tunjangan dari pemerintah ya??? Jadi kampoengmu kaya banana republic aja donk….he..he…

  7. James  5 June, 2016 at 06:38

    mbak Lani, memang sekarang ini sistim sudah terus di update oleh Pemerintah agar Tunjangan itu tidak didapat dengan Mudah begitu saja, harus berjuang juga, jadi sekarang Tunjangan diberikan dengan Syarat harus tetap mendapatkan tanda tangan Manager Perusahaan lamaran sebanyak 10 dalam kurun waktu 2 minggu, kalau dalam 2 minggu tetap tidak mendapatkan kerjaan maka akan diberikan kerjaan menurut CenterLink (DepSos nya Ozi) dan bila bekerja lalu terjadi kemalasan mengundurkan diri karena kemauan sendiri maka paling sedikit selama 2 bulan Tunjangan di Stop sampai bekerja kembali, maka akhir2 ini sangat berkurang yang berkeliaran di luar di jalanan di mal2 maupun dimana saja hanya waktu day-off mereka saja bisa kumpul2 di jalan

  8. Lani  4 June, 2016 at 23:49

    James: Mahalo atas penjelasannya, jd banyak unemployment ya ditempat kamu tinggal problem itu ternyata dimana-mana ada, solusinya bagaimana? Menurutku kdg tunjangan dr pemerintah tdk mengenai tepat sasaran krn mrk abuse that system/disalah gunakan menjadi pemalas tdk mau kerja krn mrk pikir kaga kerja saja mendptkan tunjangan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.