[Oase Hidup Malaikat Kecil] Rumah Papi

Angela Januarti Kwee

 

“Aku tadi baru pulang dari rumah Papi,” ceritanya. Pertama kali mendengar kalimat yang ia utarakan, dalam pikiranku adalah ia pergi jalan-jalan bersama papinya (kebetulan sang papi sedang di rumah ketika aku berkunjung). Aku tidak berniat bertanya, namun terus mendengar sampai menemukan maksud ucapannya.

Ia mengajakku mengunjungi sebuah ruangan di pojok kiri Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak. Ruang Adorasi, begitu bunyi sebuah tulisan di dinding. Untuk masuk ke ruangan tersebut, kita melewati dua pintu. Alas kaki dilepas di depan pintu pertama. Terdapat tempat buku doa dan alkitab di depan pintu kedua. Suasana yang didapat pertama kali memasuki ruangan adalah keheningan. Cahaya diatur redup. Hanya cahaya dari monstrans (wadah yang digunakan untuk memajang Sakramen Maha Kudus) yang tampak bersinar terang. Ruangan sangat sejuk. Alunan musik lembut membantu kita untuk mencapai keheningan.

ohmk-rumahpapi (1)

Ini kunjunganku yang pertama. Tak membutuhkan waktu lama untuk jatuh cinta. Ini tempat ketiga yang membuatku jatuh hati setelah Biara Menyurai dan Pertapaan Shanti Buana, Bandol. Kami masuk ke dalam dan larut pada keheningan masing-masing. Sejenak, kami meninggalkan urusan duniawi dan berbincang dengan Tuhan. Ada banyak hal yang ingin diceritakan. Aku membayangkan Tuhan tengah tersenyum padaku. Ia dengan setia mendengar kisah-kisahku.

ohmk-rumahpapi (2)

Jika kita sudah merasakan cinta, ia pasti akan membawa kita untuk kembali ke sana. Aku mengalaminya. Sesekali rasa rindu itu muncul, kudengar hati kecil berbisik untuk kembali berkunjung. Aku tak bisa selalu pergi bersamanya. Terkadang ia sibuk dengan urusannya. Aku memilih pergi sendiri, menikmati waktu sendirian. Sesekali, aku bertemu pengunjung lain. Tak ada perbincangan, yang ada hanya keheningan.

Tempat ini dibuka 24 jam setiap hari. Kita bisa datang kapan saja, bisa tinggal lama untuk hening. Pernah, aku, dia dan seorang teman lainnya pergi bersama. Kami berada di sana selama dua jam. Ini pertama kalinya aku berada di tempat itu dalam jangka waktu lama.

ohmk-rumahpapi (3)

Di lain waktu, namun masih di tempat yang sama, aku berkata padanya dan seorang teman bahwa aku berharap di Katedral Sintang yang tengah dibangun akan dibuat ruangan adorasi seperti ini. Temannya menjawab : “Dulu, aku juga punya kerinduan yang sama. Aku berdoa agar di Pontianak ada ruang adorasi. Akhirnya terwujud di katedral ini.” Pernyataannya membuatku tersenyum. Kita tak tahu rencana Tuhan. Ia bisa mewujudkan apapun.

Kini, tempat ini menjadi tempat yang sangat kurindukan. Tiap kali aku membayangkannya, aku juga akan selalu ingat kata itu. Dulu, hanya aku dan dia yang tahu, tapi kali ini biarlah semua tahu.

ohmk-rumahpapi (4)

-AJ.020187-

 

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "[Oase Hidup Malaikat Kecil] Rumah Papi"

  1. Lani  4 June, 2016 at 12:43

    Setuju James memberikan kesempatan buat tubuh dan pikiran utk rejuvenate

  2. James  4 June, 2016 at 10:40

    waktu hening waktu meditasi menyehatkan tubuh

  3. Angela Januarti  3 June, 2016 at 14:05

    Kak Alvina : Kabarku baik kakak, semoga kakak juga gitu ya. Salam sayang dari Sintang, juga untuk Bu Lani

    Teres : salam kenal ya, terima kasih sudah mampir

  4. teres  3 June, 2016 at 12:05

    Berada d tempat keheningan akan selalu mengingatkan kita akan perjalanan hidup,,,,,

  5. Lani  3 June, 2016 at 12:02

    Al: Keheningan kdg mmg dibutuhkan, klu suasananya rame hiruk pikuk trs bikin lelah………membosankan

  6. Alvina VB  3 June, 2016 at 11:41

    Iya, apa khabar Angel?

  7. Angela Januarti  3 June, 2016 at 11:29

    Kak Alvina : Sudah lama ya kita nggak ngobrol dan komen-komen. Kangen

  8. Alvina VB  3 June, 2016 at 10:58

    Angel: Cuplikan cerita yg menarik. Memang, terkadang perlu waktu hening dan jauh dari kebingaran dan bicara dengan ‘papi’ heart to heart.
    Para khentirs suka sama keheningan gak?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *