[AMNESIA – The Future Story] Sang Pencipta Memilih Diam

djas Merahputih

 

Titik Balik #3

 

Suasana rapat mendadak riuh saat kementerian pertahanan membeberkan informasi rahasia tentang pengembangan senjata rahasia berbahaya di Negeri Rasyie. Sekecil apapun potensi ancaman harus segera diantisipasi dengan cepat sebelum ia terlanjur menjadi besar. Sebahagian besar peserta rapat menekan Sang Presiden untuk secepatnya mengambil tindakan terhadap potensi ancaman tersebut. Rapat berakhir tanpa sebuah keputusan. Sang Presiden mengulur waktu untuk memutuskan langkah tepat yang akan diambil walaupun tekanan untuk segera mengambil langkah cepat begitu besar dari para petinggi militer.

img. 1 Terdiam Sendiri

img. 1 Terdiam Sendiri

Maysha nampak berdiri terdiam di beranda depan Istana Kepresidenan. Pikirannya masih melayang entah ke mana.

“Ternyata bukan hanya aku sendiri yang mengetahui informasi tersebut”, pikir Maysha.

Maysha tak menduga jika informasi itu sebenarnya berasal dari percakapan di dalam kafe yang telah tersadap oleh pihak intelijen negara. Pihak militer kini mempunyai alasan untuk mengobarkan perang baru. Sebuah tekanan kuat bagi kebijakan Sang Presiden. Padahal, dalam kampanye pencalonan tempo hari, Sang Presiden telah menjanjikan pengurangan kebijakan ofensif bagi negara Amorluxico. Maysha ikut tertekan dengan kenyataan pahit di depan mata.

*****

Sang Pangeran kembali ke istana di tepi Danau Saxoview. Pangeran Soka teringat cerita Ki Telaga Sukma saat mancing bersama di tepi dermaga, tempat favorit Beliau. Bangsa daratan memang gemar menunjukkan kehebatan dan keunggulan seperti halnya gunung membanggakan bentuknya yang menjulang ke angkasa. Ia bahkan lega dan bangga setelah melepaskan muntahan berupa cairan magma dan debu kering dari perut buncitnya. Tak peduli apakah orang sekitar menderita dan kesakitan oleh pertunjukan hebat itu.

Sedangkan bangsa bahari lebih senang menari dan mengejar harmoni serta keseimbangan, layaknya samudera menyapa pantai. Ia cenderung malas, bekerja adalah kegiatan rutin tanpa makna.

“Serahkan saja pada robot-robot berjiwa miskin di luar sana. Mencipta melodi dan harmoni gerak terbaik adalah persembahan mulia untuk para leluhur dan Sang Dewata”. Itulah prinsip bangsa Rasyie.

Penasehat kerajaan dari Langit Kelima yang bertugas di Negeri Rasyie rupanya telah menanti kedatangan Sang Pangeran. Penasehat II (Kedua) Ki Arwan melanjutkan kisah dan pemaparan rekannya tentang perjalanan bangsa Rasyie, sebuah negeri yang diwariskan kepada anak-anak Ratu Maava. Negeri indah dan cantik, namun ternodai oleh kerakusan para kaum pendatang dari negeri jauh.

Hal yang lebih menyakitkan bagi anak-anak bahari adalah terbatasnya ruang gerak mereka untuk mengadukan kepahitan dan kegetiran hidup mereka kepada Sang Pencipta dan para leluhur di samudera luas. Seluruh waktu telah habis untuk bekerja dan bekerja demi kerakusan para perusuh. Di lain pihak Sang Pencipta memilih tetap diam, para leluhurpun terlihat tak mengambil tindakan apa-apa. Penduduk negeri harus menjalani nasib sendiri tanpa perlindungan dan bantuan dari siapapun. Burung dan hewan yang biasanya berkeliaran kini terlihat muram tanpa semangat hidup. Alam ikut bersedih terlihat dari mendung yang terus menggelayut.

img. 2 Awan Gelap

img. 2 Awan Gelap

Semua bertanya, kapankah penderitaan ini akan berakhir? Sehari telah seperti seminggu, seminggu sudah terasa sebulan dan sebulan berjalan seakan berlangsung setahun. Seluruh penduduk negeri larut dalam kesedihan. Para leluhur di lautan lepas hanya mampu menghibur lewat deburan ombak yang lembut menyapa pantai berpasir. Namun tak satu keceriaanpun nampak pada wajah anak-anak bahari.

Setitik senyum seketika terhampar saat purnama kembar menampakkan wajah cerahnya. Tapi apa boleh buat, senyum itu harus segera lenyap seiring kedatangan sang awan yang kembali menutupi langit di malam itu. Harapan kembali menjauh dan waktu berjalan terasa semakin lambat saja.

Sang Pangeran menduga peristiwa yang sedang dialami anak-anak bahari adalah bentuk hukuman dari Sang Pencipta kepada mereka, namun hal tersebut segera dibantah oleh Ki Arwan. Beliau menuturkan bahwa penderitaan yang sedang mereka alami saat itu adalah sebuah ujian setelah selama ini mereka selalu hidup dalam suasana nyaman dan bahagia.

Sang Pencipta ingin menyaksikan sampai sejauh mana hamba-hambaNya ini mampu bertahan dalam suasana yang jauh berbeda dari kehidupan menyenangkan sebelumnya. Masihkah mereka mengingat dan berharap akan kehadiran Sang Pencipta.

Para leluhur yakin anak cucu mereka akan mampu melewati masa-masa sulit tersebut. Leluhur bangsa bahari memilih untuk tak bereaksi apa-apa selain memanjatkan doa agar anak-anak keturunannya mampu melewati ujian yang  begitu sulit.

Sementara itu, akibat tekanan fisik dan psikhis yang begitu berat, segelintir orang akhirnya memilih untuk melupakan Sang Pencipta. Orang-orang ini berpendapat bahwa Sang Pencipta telah melupakan mereka, sehingga wajar kalau merekapun melupakanNya. Mereka lebih percaya kepada pertolongan manusia berwujud perusuh dari negeri seberang samudera. Situasi seperti ini telah lama ditunggu-tunggu oleh kaum pendatang berhati busuk tersebut.

Pengikut baru segera mendapat fasilitas terbaik, tentu saja agar ia betah dan semakin percaya bahwa pertolongan telah benar-benar datang. Hebatnya, pertolongan tersebut bukan berasal dari Sang Pencipta, melainkan dari sesuatu yang benar-benar nyata dan terlihat di depan mata. Segelintir orang sesat ini telah mengamini cara berpikir rasional dari sesuatu yang dianggapnya sebagai Dewa Penolong.

img. 3 Rasionalitas

img. 3 Rasionalitas

Ia lupa kearifan leluhur yang selama ini lebih dianggap irasional. Padahal, dalam sudut pandang leluhur di samudera luas sana, irasionalitas mereka mencakup kerasionalan yang lebih luas dan multi dimensi. Bukankah bentuk bulat Planet Ramnox dahulu dianggap sebagai hal yang tidak rasional..?!! Segelintir orang keliru dan tersesat kini telah memperlihatkan sebuah kepandaian berselimut kebodohan.

Para leluhur hanya termangu melihat tingkah laku sebagian anak-anaknya yang kini lupa diri itu. Merekapun berharap agar tidak lebih banyak lagi anak cucu mereka masuk ke dalam alam pikiran para penjarah tersebut. Walaupun sedikit geram, Sang Pencipta tetap terlihat tenang dan memilih untuk diam.

“Ada apa gerangan di balik diamnya Sang Pencipta?” Sang Pangeran terlihat bingung.

“Mmm…, bukankah tadi Ki Arwan telah memaparkan bahwa rakyat Rasyie sedang menjalani ujian dari Sang Pencipta?” Offo mengingatkan Sang Pangeran.

Sang Pangeran tiba-tiba teringat tentang informasi senjata rahasia dari para petinggi militer Amox. Beliau berusaha mengorek informasi dari Ki Arwan.

“Maaf, Ki. Ada informasi dari pihak militer Amorluxico bahwa negeri Rasyie sedang mengembangkan senjata mutakhir yang berbahaya. Apakah Ki Arwan juga mengetahuinya?” Sang Pangeran berharap akan ada informasi bermanfaat dari Penasehat Kerajaan ini.

“Betul, Pangeran. Bahkan lebih ampuh dari senjata terbaik milik negeri ini.”

Sang Pangeran nampak kaget dan khawatir dengan jawaban Ki Arwan. Sebetulnya Beliau berharap informasi dari petinggi militer tersebut keliru sehingga bisa mengelak dari tekanan mereka. Kini peluang tersebut nampak mustahil. Sang Pangeran harus memikirkan argumen yang lebih kuat untuk menyangkal fakta-fakta dari pihak militer.

Ki Arwan melanjutkan, “Tapi, Pangeran tak perlu khawatir. Senjata tersebut memiliki kelemahan. Daya jelajahnya sangat pendek. Mustahil untuk digunakan menyerang negara-negara di sekitar negeri Rasyie apalagi sampai mengancam bangsa Amox. Sepertinya senjata ini hanya untuk maksud-maksud defensif.”

Dugaan Maysha ternyata tak meleset. Sang Pangeran juga sedikit terhibur mendengar informasi ini. Namun segalanya baru akan jelas dan pasti setelah pertemuan lanjutan dengan para petinggi militer digelar. Masih akan terjadi perdebatan sengit dengan mereka. Opsi perang sepertinya telah menjadi agenda besar sebuah kekuatan di belakang pihak militer Amorluxico. Paling tidak, untuk sementara tekanan di benak Sang Pangeran akan sedikit berkurang. Beliau berharap pertemuan nanti bisa mencegah rencana aksi ofensif negeri Amox.

*****

Bersambung…

 

Masa-masa Tak Terlupakan  #5

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "[AMNESIA – The Future Story] Sang Pencipta Memilih Diam"

  1. J C  13 July, 2016 at 09:45

    Terus menyimak…

  2. djasMerahputih  9 June, 2016 at 20:49

    Hadir diam-diam…
    Thanks bang James, tji Lani & mba Avy.

    Mba Avy:
    #3 itu artinya anak judul ketiga. Yang #2 dan #1 judulnya lain lagi..

  3. Alvina VB  7 June, 2016 at 03:10

    Djas: hadew…ketinggalan sepur lagi ini dah titik balik#3, yg #2 dan #1nya mana ya?
    James: mana ada khentirs yg banyak diemnya? absen/bolos kale….

  4. James  6 June, 2016 at 15:28

    weee Ci Lani kagak mau dong disamain sama Burung, sama Monyet aja kagak mau

  5. Lani  6 June, 2016 at 11:10

    James: klu nggak boleh banyak diem……..maumu agar ngoceh trs bak cucak rowo??

  6. James  6 June, 2016 at 10:00

    1….para Kenthirs janga terlalu banyak diem ah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.