Catatan Ichiyo – Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang

Dyah Hariyati “Retno” Puspitasari

 

Kau akan menjadi terkenal, mungkin wajahmu akan muncul dalam uang kertas Jepang suatu hari nanti, Ichiyo, dan kita tak akan miskin lagi”

Penggalan kalimat tersebut merupakan canda Kuniko, adik Ichiyo,  200 tahun lalu di suatu siang yang cerah. Ichiyo menanggapi dengan mengatakan pada adiknya untuk meneruskan mimpinya, karena itulah satu-satunya yang dapat dilakukan oleh keluarga mereka yang sangat miskin , karena mimpi itu gratis!! Siapa menyangka bahwa ratusan tahun kemudian, candaan tersebut merupakan mimpi yang berubah menjadi kenyataan?

 

Judul Asli : A Note From Ichiyo

Penulis : Rei Kimura

Penerbit : PT. Gramedia  Pustaka Utama

Alih Bahasa : Moch Murdwinanto

Cetakan 02: Mei 2012; 280 halaman

Catatan Ichiyo

 

Catatan Ichiyo, dengan judul asli A Note from Ichiyo merupakan novel karya Rei Kimura, seorang pengacara dengan ketertarikan kuat dibidang kepenulisan.  Novel ini merupaan kisah hidup yang penuh turbulensi, perjuangan panjang dan capaian seorang gadis Jepang miskin Ichiyo Higuchi untuk menjadi penulis perempuan, suatu hal yang muskil dapat terjadi dijaman Meiji.

Terlahir dengan nama Natsuko Higuchi, bakat cemerlangnya ditemukan oleh sang ayah Noriyoshi Higuchi. Ayahnya sejak kecil mengajarkan sajak-sajak klasik dan dapat diikuti dengan baik oleh Ichiyo. Ayahnya pula yang mendorong putrinya membawakan sajak-sajak dihadapan sekumpulan penyair, penulis dan bahkan aktor drama kabuki terkenal.  Pada usia enam tahun, Ichiyo sudah  tahu dan menetapkan bahwa menjadi penulis dan penyair adalah masa depannya. Dukungan tiada tara dari sang ayah ini mendapatkan tentangan dari kakak laki-laki Ichiyo, Sentaro dan ibunya. Mereka berpendapat tidak mungkin Ichiyo menjadi penulis, karena dia seorang perempuan dan tugas perempuan adalah menikah dan melahirkan anak. Berkat ayahnyalah, Ichiyo dapat terus bersekolah dan selalu dilimpahi dengan berbagai buku cerita karya sastra terbaru. Dikalangan anak-anak seusianya Ichiyo dianggap anak yang aneh, bahkan dianggap mempunyai kelainan, cenderung menyendiri dan hanya bergaul dengan buku.

Ketika Santaro terkena penyakit tuberculosis (TBC),  keluarga Higuchi harus mengeluarkan banyak uang untuk biaya pengobatan, yang ternyata tidak dapat menolong Santaro dan berujung pada kematian anak sulung keluarga Higuchi tersebut.  Kematian Santaro yang diharapkan sebagai penyangga kehidupan dimasa depan begitu memedihkan sang ayah, ditambah lagi dengan kegagalannya memulai bisnis baru yang justru membawa keluarganya jatuh dalam kemiskinan. Kesehatan Noriyoshi  juga terus memburuk karena penyakit TBC juga. Pada usia 17 tahun, Ichiyo harus merelakan kepergian ayahnya, pendukung terbaik dan terkuatnya.  Ichiyo harus mengambil alih peran kepala keluarga dan melakukan semua cara untuk dapat melanjutkan hidup. Pada waktu itu hasil dari menulis belum mampu mengangkat Ichiyo dan keluarganya dari kemiskinan. Perjuangannya untuk dapat diterima sebagai  penulis dijaman itu sangat tidak mudah. Pertama karena dia perempuan, kedua karena dia berasal dari keluarga miskin sehingga tidak ada yang dapat mempromosikan dia sebagai penulis.

Kemiskinan membuat keluarga Higuchi harus hidup berpindah-pindah dan bahkan sempat bermukim dikawasan hiburan Yoshiwara yang mempunyai reputasi buruk. Bermukim berdempetan dengan rumah bordil, yang hanya berjarak  sejangkauan tangan. Keluarganya hidup dengan melakukan banyak cara, berdagang, mencuci pakaian orang, menjahitkan kimono untuk wanita penghibur. Tidak ada pekerjaan lain yang dapat dilakukan. Meskipun demikian, pengalaman hidup berdampingan dengan kemiskinan justru memperkaya dan memperkuat karakter-karakter tokoh dalam tulisan Ichiyo. Salah satu novelnya yang menuai banyak pujian karena kuatnya karakter didalamnya adalah Child’s Play. Kemudian disusul dengan novel-novel lain yang sama berkualitasnya.

Ketika cerita-cerita Ichiyo diterbitkan,  sambutan positif  datang dari dari nama-nama besar di dunia sastra dimasa itu. Tulisan Ichiyo dipujikan sebagai analisis jujur tentang situasi kehidupan, perasaan, cinta, kebahagiaan, depresi dan apapun yang dapat dirasakan oleh hati manusia. Ichiyo ditahbiskan sebagai versi perempuan salah satu penulis Jepang terbesar yaitu Ihara Saikaku. Ichiyo menjadi penulis yang sangat dicari dan mulai mendapatkan kehidupan layak dan mampu membahagiakan ibu dan adiknya. Sayang, kebahagiaan tersebut hanya sebentar dinikmati. Penyakit tuberkulosis yang selama ini selalu disembunyika dari siapapun, termasuk dari adik dan ibunya, sudah semakin parah.  Penyakit itu jugalah yang merenggut hidupnya diusia masih sangat belia, 25 tahun. Penghormatan atas karya-karyanya baru diperoleh dipenghujung hidupnya. Beratus tahun kemudian, wajahnya diabadikan pada mata uang 5.000 yen Jepang.

Rei Kimura menuliskan buku ini dengan sangat indah. Ceritanya mengalir, begitu detil memberikan gambaran kehidupan Ichiyo dan keluarganya. Kita seperti menonton film tiga dimensi :  merasakan hiruk pikuk lingkungan di Yoshiwara,  ikut mencecap menu  keluarga miskin yang sama setiap hari yakni sup misho shiru dan acar,  merasakan  sakit kepala hebat yang dialami Ichiyo, merasakan pedihnya kelaparan yang dia tanggung karena memberikan jatah makan malamnya untuk ibu dan adiknya, bahkan kegantenga Nakarai Tosui, cinta pertama Ichiyo pun tergambarkan dengan jelas (aha…). Kemiskinan, kesulitan yang dihadapi tidak ditulis dengan mendayu-dayu, tapi dengan ketegaran seorang Ichiyo, gadis ramping berwajah seperti burung seperti yang selalu Ichiyo gambarkan tentang dirinya.  Kita semua akan diyakinkan bahwa setiap kerja keras pasti akan terbayar diujung, seberapapun jauhnya ujung itu.

Ichiyo ‘hanya’ hidup selama 25 tahun , tetapi karya-karyanya mampu melampaui waktu ratusan tahun sesudah kehidupannya.

 

Note Redaksi:

Dyah Hariyati “Retno” Puspitasari, selamat datang dan selamat bergabung. Semoga betah dan kerasa di rumah BALTYRA ini ya… Terima kasih pak Handoko Widagdo yang sudah mengajak Dyah Hariyati “Retno” Puspitasari menulis di BALTYRA ini. Ditunggu artikel-artikel lainnya ya…

 

 

14 Comments to "Catatan Ichiyo – Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang"

  1. Triyana  11 October, 2016 at 20:11

    saya suka kalimat penutupnya … “Kita semua akan diyakinkan bahwa setiap kerja keras pasti akan terbayar diujung, seberapapun jauhnya ujung itu.”

    …keep the faith.. Terima kasih bu Dyah telah megenalkan saya pada Ichiyo..

  2. J C  13 July, 2016 at 09:45

    Baru tau dan paham cerita ini…terima kasih dan selamat datang mbak Retno…

  3. FinaKhillah  9 June, 2016 at 12:50

    Saya meangkap satu nama Bu.. Nakarai Tosui..haha
    nice to read this article bu Dyah. ditunggu tulisan-tulisan berikutnya

  4. Handoko Widagdo  9 June, 2016 at 11:43

    Sama-sama Mbak Retno. Kami tunggu tulisan-tulisan berikutnya. Semoga suatu saat teman-teman bisa bertemu muka di Mojokerto sambil melihat petilasan Majapahit.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *