Menemukan Kejutan di Derawan

Tatang Mahardika

 

TAK lama setelah menurunkan kecepatan, Yusuf mematikan mesin speed boat yang dia kendarai. Motoris berambut gondrong itu lalu mulai mengambil dayung dan menggunakannya untuk mengukur kedalaman air.

“Oke, aman, kita bisa merapat,” kata Yusuf kepada saya dan dua rekan seperjalanan pada akhir April lalu.
Yusuf pun mendayung mendekati tepi daratan di bagian utara Pulau Maratua itu. Tak ada dermaga di sana. Yang terhampar di depan mata adalah lebatnya pepohonan hutan salah satu pulau di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, tersebut.

Karang tajam memagari tepi daratan. Karena itulah, speed boat tak bisa benar-benar merapat. Berjarak sekitar 10 meter dari tepi, Yusuf harus turun dan segera menambatkan kapal.

Setelah menerabas jalan setapak di hutan sekitar 10 menit, akhirnya sampailah kami ke tempat yang sudah dipamerkan Yusuf sejak semalam sebelumnya melalui video yang tersimpan di telepon selulernya: Danau Mangkuk. Sebuah ceruk dengan lebar sekitar 6 sampai 7 meter, panjang kurang lebih 12 meter, dan kedalaman yang kemungkinan lebih dari 20 meter.

derawan01

Dipayungi rindangnya pepohonan, sepertinya akan sulit mencari orang yang tidak betah berlama-lama di sana. Apalagi, airnya yang sungguh bening sangat mengundang siapa saja untuk menceburinya.

Sayang, sedari awal Yusuf sudah mengingatkan, waktu bagi kami di sana tidak banyak. Sebab, dia harus berhitung dengan pasang surut air laut. Kalau sampai terlambat dan air kadung surut, kami bakal berjam-jam tertahan menunggu air pasang di tengah hutan yang masih jarang dijamah di pulau yang berbatasan dengan Malaysia tersebut.

“Tak semua motoris tahu tempat ini. Yang tahu pun tak semua mau memberitahukannya kepada tamu atau turis yang mereka antar karena menjangkaunya sulit. Mereka pasti memilih rute yang biasanya saja,” ujar Yusuf yang lahir dan besar di Pulau Derawan tersebut.

“Rute yang biasanya saja.” Itulah yang memang sedari awal saya hindari betul begitu berencana ke kepulauan yang bisa dijangkau lewat Tanjung Redeb, ibu kota Berau, lanjut Tanjung Batu atau via Tarakan, Kalimantan Utara, itu. Saya sadar, saya mengunjungi destinasi wisata yang terkenal akan keindahan wisata bawah lautnya dan telah ditetapkan Unesco sebagai situs warisan dunia pada 2005.

Cobalah ketik Derawan di mesin pencari Google dan Anda akan menemukan ribuan tulisan di media konvensional, situs wisata, atau blog pribadi tentang keindahan bawah laut tersebut. Tony Iskandar, seorang peselam asal Balikpapan yang saya temui di Pulau Derawan, juga menegaskan betapa ruginya orang yang ke Derawan tapi tak menyelam.

“Tadi saya menyelam tak terlalu dalam saja langsung ketemu sotong. Kalau tidak menyelam, Pulau Derawan ini ya biasa-biasa saja,” katanya.

Saya tak ragu sedikitpun bahwa kekayaan bawah laut Derawan menakjubkan. Tapi, saya juga percaya, dengan 31 pulau, kepulauan yang berbatasan dengan Malaysia dan Filipina itu pastilah juga punya banyak kejutan “di atas laut.”

Kekayaan “kasat mata” yang belum banyak dieksplorasi, tidak masuk jalur umum rute pengunjung di sana, atau belum diprofil buku panduan Lonely Planet. Lagi pula, apalah nikmatnya ber-traveling kalau hanya mencari yang mainstream?

“Guru terbaik adalah pengalaman dan tidak sekadar mengamini perspektif orang lain yang kemungkinan sudah terdistorsi,” tulis novelis dan penyair Jack Kerouac dalam buku perjalananya yang melegenda, On the Road.

Danau Mangkuk sungguh memenuhi kategori “kejutan” yang saya cari di Derawan. Di tengah hutan, jauh sekali dari perkampungan, dan belum disentuh arus besar turisme sehingga kecantikan alamiahnya terjaga.

Iseng saya mencoba mencarinya di Google dengan kata kunci “Danau Mangkuk+Maratua” dan saya tak menemukannya. Bukankah, konon, sesuatu yang tidak ada di Google itu berarti sesuatu itu memang tidak ada?

“Saya sudah tiga-empat kali ke Kepulauan Derawan, baik untuk liputan maupun liburan. Tapi, ya baru kali ini tahu soal Danau Mangkuk ini,” ujar Firman Wahyudi, jurnalis Berau Post (Jawa Pos Group) yang menemani saya ke Derawan.

Dari Maratua yang harus dicapai dari Derawan dengan speed boat selama satu jam itu, Yusuf membawa kami ke Kehe Daing. Inilah kejutan kedua yang terletak di Pulau Kakaban, sekitar 15 menit saja dari dermaga di Desa Payung-Payung, Maratua, tempat kami makan siang sembari ditemani penyu-penyu yang berseliweran di dalam air laut yang sungguh bening.

Kehe Daing memang tak “semisterius” Danau Mangkuk, tapi tetap saja bukan jalur utama tur antarpulau di kepulauan yang mayoritas dihuni Suku Bajo itu. Yang ke Kakaban biasanya tujuannya hanya satu, mengunjungi danau yang dipenuhi ubur-ubur yang tidak menyengat.

Ketika kami tiba di Kehe Daing pun, tak ada orang lain di sana. Kehe Daing adalah semacam segara anakan yang bisa pula Anda temukan di Pulau Sempu, Kabupaten Malang.

Air laut masuk melalui “lubang ikan (arti Kehe Daing dalam bahasa Bajo)”. Kebetulan, ketika itu, air agak surut. Jadi, saya bisa berjalan sampai jauh ke tengah telaga dan memandangi lalu lalang ikan yang sepertinya tak terlalu terganggu dengan kehadiran saya dan kedua rekan.

Saya agak menyesal mengapa kami tidak bersantap siang di tempat yang tenang dan elok itu sehingga bisa lebih berlama-lama di sana. Di Desa Payung-Payung, saya memang terhibur oleh kehadiran puluhan penyu ke tepian dermaga.

Tapi, dermaga itu terlalu ramai karena sekaligus menjadi tempat naik turunnya penumpang, baik wisatawan maupun warga desa. Apalagi tengah dibangun bandara di desa tersebut.

Apa boleh buat, di destinasi wisata sepopuler ini, yang ramai, yang menjadi arus utama, tak akan bisa sepenuhnya dihindari. Maka, kami juga ber-snorkeling di danau ubur-ubur, berenang di pantai, bersepeda mengelilingi Pulau Derawan, dan menjajal bermain voli di bekas venue voli pantai PON 2008.

Sayang, keterbatasan waktu membuat kami tak sempat mampir ke Goa Sembat di Pulau Maratua dan pusat pelestarian penyu di Pulau Sangalaki. Tapi, setidaknya, kejutan-kejutan yang kami alami, mengutip yang ditulis Kerouac, bisa sedikit “meluruskan” perspektif orang banyak bahwa Derawan hanya kaya di bawah laut.

 

 

About Tatang Mahardika

Seorang 'juru tulis berita' alias wartawan salah satu harian besar di Jawa Timur ini gemar melanglang buana melihat keindahan dunia dan membagi foto-foto dan tulisan perjalanannya melalui BALTYRA.com

Arsip Artikel

9 Comments to "Menemukan Kejutan di Derawan"

  1. Dj. 813  9 June, 2016 at 01:49

    Waaaaaw . . .
    Sangat indah . . .
    Pemandangan dengan air ( laut atau Danau ), selalu menarik.
    Apalagi kalau airnya jernih seperti foto diatas .
    Terimakasih dan salam

  2. Dewi Aichi  8 June, 2016 at 10:02

    Saya belum pernah ke sana….

  3. Ami  8 June, 2016 at 08:45

    Indah sekali. Suatu saat ingin ke sana.
    Terima kasih mas Mahardika.

  4. Alvina VB  8 June, 2016 at 06:27

    Wow..hebring euy…semoga transportasi ke sana semakin dipermudah.

  5. Lani  8 June, 2016 at 00:54

    James: jd melihat dr gambar/fotonya? Nah kamu curang donk krn ndak berani menampakkan dirimu…….blank spt kamu bilang

  6. James  7 June, 2016 at 15:22

    mbak Lani, ya tahu dari profilnya, kana profil saya sih blank ?

  7. Lani  7 June, 2016 at 11:42

    Walau belum pernah kesana krn perjalanannya yg sulit, nampaknya Derawan akan amat sangat diminati oleh wisatawan air.

    James: tahu darimana klu para kenthirs indah???

    Hand: di Hawaii ada tour feeding manta diadakan pd malam hari sgt menarik tp aku belum pernah mencobanya

  8. Handoko Widagdo  7 June, 2016 at 09:27

    Sempat berenang dengan Manta?

  9. James  7 June, 2016 at 09:17

    1…..indah……seindah para Kenthirs juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.