[Kisah Pembawa Risalah] Idris

Kurnia Effendi

 

Belum lahir huruf paku, belum tercipta alfabetika, belum terekam pesan morse melalui telegram, belum tergagas aksara untuk kaum buta, belum terpikir bersurat digital yang melesat dari satu ke lain tempat demikian rikat, belum… belum… belum…

nabi-idris

Ketika seorang pengarang bertanya kepadaku: “Siapa penulis novel pertama kali di dunia?”
Kujawab: “Nabi Idris”
“Masa? Apa judulnya?”
“Percakapan Bintang.”
“Hebat! Kira-kira, masih adakah di toko buku?”
“Berhenti pada penulisan ulang keempat juta lima ratus ribu dua ratus tujuh puluh, dan habis di masa Nabi Ayyub.”
“Edan!”

Mungkin ia tak percaya, mungkin ia terpesona
Mungkin aku berdusta, mungkin kusampaikan cerita hampa
Pada undakan ketujuh setelah manusia pertama, Idris diminta menyampaikan risalah
Berbekal tiga puluh shafiyah
Maka ia membaca dan menulis sejumlah titah
Apakah itu hidayah, apakah itu hadiah, apakah itu perintah, apakah itu sekadar noktah, apakah sebuah ikhwal sumpah, apakah obat serupa tetes getah, apakah… apakah… apakah…

Diperkenalkannya cara menisik kulit hewan menjadi sebalut pakaian
Diminta umatnya tidak melampaui kesederhanaan
Dilatih kaumnya menunggang kuda sebagai kendaraan
Diajarkan cara bersabar untuk mencapai kemenangan
Darinya mulai diketahui alam falak, benda-benda di kejauhan

“Kali ini engkau yang memimpin munajat,” ujar Idris kepada Izrail.
“Engkau saja sebagai utusan di Bumi.”
“Sekarang giliranmu, aku ingin jadi makmum.”
“Tidak. Di awal sejarah aku bersujud kepada Adam.”
“Kalau begitu, jangan berjarak kita.”
Mereka begitu karib, sebagaimana gemintang yang selalu bersama berkisar mengucap istighfar dari zaman ke zaman tidak berhenti, bahkan untuk sekadar berkedip, sampai punah seperti jantung pecah

Asadul usud itu garang bagai singa namun pemaaf yang bersahaja
Ia masih semuda usia semesta sehingga terasa lekat kabar tentang surga dan neraka
Keinginannya mengunjungi dapur siksa itu dikabulkan Tuhan, meski ia jatuh pingsan
Tak sempat bersesapa dengan Malaikat Malik, raja api yang sepasang matanya menyala-nyala
Sebaliknya ia terlena pada keramahan Malaikat Ridwan, dengan keindahan surga yang menghabiskan perbendaharaan pujian
Saat diizinkan minum air yang lebih bening dari kaca, Idris tak ingin pulang ke dunia

Di langit keempat ia wafat
Dua tahun setelah dua puluh kabisat
Penyair kecil ini berutang jasa, namun tak pandai mencatat

 

Kurnia Effendi
Jakarta, 2 Ramadan 1437 H

 

 

5 Comments to "[Kisah Pembawa Risalah] Idris"

  1. Dj. 813  11 June, 2016 at 22:33

    Bung Kurnia Effendi . .
    Terimakasih untuk artikel nya .
    Kalau soal agama, sebenarnya baik Yahudi, Kristen pun Islam masih satu rumpun .
    Kita sama-sama percaya adanya penciptaan dan Adam dan Hawa adalah manusia yang pertama
    diciptakkan .
    Dan menurut sejarah agama, orang Yahudilah yang memiliki cerita ini .
    Orang Kristen mempercayainya , demikian juga orang Islam .( sebagai anak ragil , kalau boleh Dj. sebut demikian )
    Dan sudah menjadi kebiasaan,anak ragil selalu mencari perhatian .
    Padahal bagi sang ayah, semua anak itu sama, sama di cintainya .

    Sekali lagi, terimakasih dan salam ,

  2. Lani  11 June, 2016 at 07:45

    James: bertanya sendirikah???? Hahaha………

  3. James  11 June, 2016 at 06:38

    halo kembali Nabi Kenthirs ??? yang mana yah ?

  4. Alvina VB  11 June, 2016 at 02:30

    Ikutan nyimak aja….kl Ibrahim itu dlm Injil Abraham, Ayyub itu ya Ayub, Isa itu Yesus, nabi Idris, nabi yg mana ya dlm Injil? Kayanya mas Dj yg tahu nich…

  5. Lani  11 June, 2016 at 00:57

    Halo para kenthirs marilah menyimak puisi ini

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.