[Kisah Pembawa Risalah] Nuh

Kurnia Effendi

 

Kelima berhala itu memiliki nama:
Wadd
Suwa’
Yaghuts
Ya’uq
Nasr

Kelima patung itu dahulu kala adalah manusia. Orang-orang salih. Para pemuka kaum. Pemimpin yang dihormati. Bahkan ketika mereka mati dan menanggalkan nama untuk dipuja. Sosok mereka dipahat dari kayu yang tahan cuaca. Tubuh bisu mereka dipajang di tempat terpandang. Tempat bermukim mereka menjadi keramat bermusim-musim. Bahkan saat sang pemahat mangkat. Anak-anak dan cucu-cucu pematung tak terhitung, satu per satu meninggalkan dunia yang murung. Kelima tokoh masa silam itu tetap menjadi junjungan. Bertahun-tahun. Wajah, tangan, dan kaki mereka seolah memberikan petunjuk. Tentu atas prakarsa hantu-hantu. Iblis yang ejekannya sepedas ayam bututu.

noah ark

Dari ranggas jiwa manusia yang berlarut-larut, hadir Nuh yang teduh.
Ibarat seorang pendaki, mula-mula harus menyiangi perdu dan reranting perintang
Ia meraut ingatan hingga tajam menembus batas alam: andai setiap insan mengakui pernah berjanji kepada Pencipta mereka, niscaya menyembah satu-satunya Allah…

Nuh bersihadap dengan orang-orang congkak: mereka yang kaya dan berkuasa
Di antara yang jelata dan terlunta, ia terus melata, menyusun tangga menuju puncak mulia
Terbantun tahun-tahun kesabaran, dirundung beruntun pengkhianatan
Setia terhadap janji, ia tegak sebagai lelaki ulul azmi

“Aku manusia biasa seperti kata kalian, karena aku diutus untuk menyadarkan manusia.”
Jumlah kaum yang terbelah kian memisah: pengikutnya tak bertambah, penentangnya berlipat ganda. Mereka mengundang azab demi membuktikan kebenaran Nuh

Sembilan ratus lima puluh tahun usia Nuh bagai disiapkan untuk penciptaan sejarah baru
Iman menjadi tiket terusan:
Disayang Tuhan
Naik bahtera
Menjadi keluarga terpillih
Berlayar bertahun-tahun
Mencapai tanah harapan

“Wahai tunas pohon, tumbuhlah untuk kami. Bertaruh kesabaran kami menantimu menjulang kukuh, hingga kayumu sanggup menahan terpaan taufan dan gelombang laut laksana gunung. Melindungi manusia dan seluruh pasangan hewan yang kami angkut. Menjaga tumbuhan dan pangan mereka sepanjang pelayaran.”

Nuh berpisah dengan istri dan anaknya yang ingkar, seiring seluruh celah dan pori bumi memancarkan air. Langit gelap dan bocor, mencurahkan hujan tak sela ruang, embusan taufan, dan laut pasang tak tepermanai. Dunia tenggelam

Pada sebuah pagi, Nuh turun dari bahtera
Dilepasnya burung-burung ke buana baru
Dengan bukit dan sungai-sungai yang berbeda
Dengan iman yang utuh

 

Kurnia Effendi
Jakarta, 3 Ramadan 1437 H

 

 

6 Comments to "[Kisah Pembawa Risalah] Nuh"

  1. Itsmi  14 June, 2016 at 22:14

    Siapakah manusia . . . ? ? ?
    Sehingga merasa lebih pandai daripada penciptaNya .

    Dj : Tuhan itu kepercayaan, lebih tepatnya pikiran khayalan bukan fakta..

  2. Itsmi  14 June, 2016 at 22:10

    Aku manusia biasa seperti kata kalian, karena aku diutus untuk menyadarkan manusia

    Kalimat seperti di atas, jaman sekarang Orang yang mengatakannya langsung di kirim ke rumah sakit jiwa..

  3. Dj. 813  14 June, 2016 at 14:42

    Siapakah manusia . . . ? ? ?
    Sehingga merasa lebih pandai daripada penciptaNya .
    Umurnya sudah ditentukan dari awal dan tidiak bisa mempperpanjang
    umurnya , walau satu hari saja .
    Kalau saatnya tiba, maka semua miliknya, kepandaian nya , jabatan nya ,
    akan menjadi sia-sia saja .
    Berserahlah kepada TUHAN saja, karena disitulah tergantung nasibmu nanti .
    TUHAN MEMBERKATI .
    Paling banyak berkatnya, diterima para kenthir .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !

  4. Lani  14 June, 2016 at 10:40

    Nggak heran James

  5. James  14 June, 2016 at 09:55

    halo lagi ci Lani, ingat dong seluruh berita Nabi Nuh

  6. Lani  14 June, 2016 at 09:10

    Hello para kenthirs………tentunya yg diingat kapal nabi Nuh dgn banjir selama 40 harinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.