Telaga Jonge – Antara Mistis dan Fakta

Warno HW

 

Mbah Jonge, adalah seorang prajurit Majapahit yang terdampar di daerah Jepitu Rongkop, Gunungkidul  dan akhirnya mukso di Telaga Jonge

Nama asli nya Ki Sidik Wacono, sementara nama Jonge singkatan  dari “jong Kerem” (perahu tenggelam), merupakan  kata sandi untuk menyelamatkan diri dari kejaran prajurit Raden Patah

 

Pengembaraan Sang Prajurit

Menurut cerita sejarah, kekalahan Kerajaan Majapahit oleh Kerajaan Demak tidak berhenti pada takluknya para raja  kecil di tanah Jawa bekas jajahan Majapahit kepada Kerajaan Demak. Kerajaan Majapahit dan jajahannya yang berfaham Hindu, Budha dan Animisme/Dinamisme,  terus mendapat tekanan dari Kerajaan Demak. Demak merupakan kerajaan Islam pertama di tanah Jawa menampakkan  agresivitasnya  dalam menyebarkan syiar Islam ke pelosok tanah Jawa. Raden Patah mengutus pasukannya melakukan penyerangan terhadap pasukan Majapahit dan antek-anteknya yang berada di Jawa Timur dan sekitarnya untuk menuntaskan penaklukannya. Sisa-sisa Laskar Majapahit yang sudah tidak terorganisir secara baik mulai kocar-kacir dan pelarian mereka sudah tidak berpola, ada yang ke pantai selatan, ke gunung-gunung, membaur dengan rakyat biasa, ada yang menjadi petani, pedagang, nelayan dan ada yang terus menggembara mennyelamatkan diri ke Pulau Bali.

 

Ki Sidiq Wacono dan Nama Jonge

Namanya Ki Sidiq Wacono, beliau adalah salah seorang prajurit pinilih, handal, dan setia kepada Kerajaan Majapahit yang masih tersisa dan terus melakukan pengembaraan  menyusuri  pantai selatan Jawa Timur , Jawa Tengah dan Yogyakarta. Disebut prajurit pinilih karena kelihaiannya dalam melakukan persembunyian hingg pasukan Demak tidak bisa menangkap meski sudah berbulan-bulan mengejarnya. Dalam pengembaraannya di Pantai tenggara kabupaten Gunung Kidul (sekitar Desa Cuwelo/Jepitu) Ki Sidiq Wacono yang didampingi oleh 6 prajurit  lainnya mengalami musibah perahu kecil (jong) yang dinaiki terbalik (kerem) menabrak karang.

Karena perahu hancur dan tidak mungkin untuk diperbaiki lagi maka 7 orang prajurit ini mendarat, masuk wilayah Desa Jepitu, Cuwelo, Wedi Ombo, Rongkop  dan sekitarnya. Semula 7 prajurit ini masih hidup menggerombol, tetapi lama kelamaan mereka sadar apabila terus menggerombol maka akan mudah ditemukan oleh pasukan dari Demak yang terus mengejarnya.  Setelah berunding dengan berbagai pertimbangan akhirnya semua sepakat untuk berpisah menjalani kehidupan masing-masing, membaur di dalam masyarakat biasa.

Sebagai seorang prajurit yang mengalami gemblengan mental spiritual,  kanuragan,  strategi perang dan “ telik sandi” (intelijen), dalam kondisi hidup dan mati mereka menggunakan apa yang telah diajarkan oleh seniornya.   Maka sebelum mereka melakukan perpisahan mereka telah bersepakat menggunakan “telik sandi” atau isyarat yang disepakati bersama sebagai pertanda bahwa jika kelak suatu hari ditemukan tanda-tanda yang dimaksud merupakan jajak perjalanan mereka bertujuh.

Tiga tanda yang dimaksud adalah:

1). Untuk mengenang bahwa pendaratan mereka disebabkan oleh  musibah Jong yang Kerem (perahu tenggelam) maka mereka menyebut dirinya JONGKE (Jong Kerem), yang kemudian oleh masyarakat lebih mudah dilafal JONGE,

2). Untuk menandai 7 prajurit yang setia dan senasib sepananggungan maka apabila suatu kelak mereka meninggal dunia mereka minta agar kuburunnya “dikrapyak tundu pitu” (semacam kayu nisan yang disusun bertingkat  tujuh).

3). Sisa hidupnya dihabiskan untuk mengabdi kepada masyarakat dalam bentuk menyediakan sumber kehidupan berupa telaga. Hal ini menjadi sangat berarti karena kawasan pengembaraan mereka merupakan pegunungan kasrt yang tidak ada sumber air permukaan dan satu-satunya sumber air adalah tampungan air hujan. Mereka tidak boleh mengangkat anak buah/murid bela diri meskipun sesungguhnya mereka seorang pendekar.

“Telaga Jonge yang telah menopang kehidupan warga di sekitarnya”

“Telaga Jonge yang telah menopang kehidupan warga di sekitarnya”

 

Makna Telaga Bagi Anak Cucu

Menurut informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, kehidupan  Ki Sidiq Wacono dihabiskan untuk bertani mengolah lahan di kawasan hutan belantara, daerah yang sulit air maka dibuatlah “kedokan” semacam waduk kecil untuk menampung air hujan dan dirawat sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk minum dan bercocok tanam sepanjang tahun.

Ki Sidiq Wacono bekerja sama dengan warga sekitar dan anak-anak muda untuk mengolah lahan pertanian dan di sela-sela kesibukannya beliau juga memberikan “sesorah” semacam pesan-pesan bijak, nasehat kepada warga sekitar. Maka tak hayal warga setempat semakin mengagumi beliau dan wargapun berpikir kalau Mbah Jonge bukan orang sembarangan sehingga banyak warga sekitar yang memberanikan diri menyampaikan keinginananya untuk menyerap ilmu Mbah Jonge atau menjadi muridnya.

Beliau tetap merendah dan  tidak mengaku bahwa mempunyai ilmu “linuwih”. Beliau tetap melayani warga sekitar dan selalu menasehati agar masyarakat giat bekerja supaya nanti anak cucu disekitar sini akan mengenyam “tinggalanku”, apa lagi tentang jati dirinya sebagai prajurit Majapahit benar-benar disimpan rapat hingga wafat. Agar masyarakat  tidak kecewa atas permintaannya yang tidak dikabulkan, Mbah Jonge juga memberi wejangan kepada generasi muda tentang makna hidup, tujuan hidup, kebaikan dan pada hari-hari tertentu anak-anak muda ini juga diajak bergotong royong untuk membangun sarana-sarana yang sifatnya untuk kepentingan bersama. Apa yang disampaikan Mbah Jonge kepada generasi muda inilah sebetulnya yang disebut pembelajaran ilmu bela diri, tetapi karena hal ini dilakukan dengan cara tidak terang-terangan dan sambil melakukan pekerjaan bertani dan pada  waktu luang saja maka anak-anak muda tidak merasa bahwa sebetulnya mereka mendapat isian ilmu kanuragan/bela diri.

Hingga pada masa tuanya Mbah Jonge tetap bertani dan terus merawat air tadah hujan dengan harapan air ini dapat membantu keberlangsungan kehidupannya dan anak cucu kelak. Ladang garapannya selain ada di Pedukuhan Kuwangen Lor juga berada di Desa Menthel (+/- 5 km arah selatan) yang diolah dan diperlakukan sama seperti di Telaga Jonge/Kuwangen Lor.

Ketika Mbah Jonge wafat  timbul sedikit ketegangan antara  warga yang  tinggal di Pedukuhan  Kuwangen Lor dengan warga yang berada di Desa Menthel. Baik warga Kuwangen Lor maupun warga Menthel masing-masing mengklaim bahwa dialah yang berhak untuk menguburkan sesepuh  mereka. Murid-murid yang ada di Kuwangen Lor ingin mengubur Ki Sidiq Wacono di tanah pertaniannya, yaitu di wilayah Kuwangen Lor (sekarang Jonge) murid-murid yang di Menthel ingin menguburkan  di Menthel  dengan alasan di sana sebagai tanah yang baru dan lebih tersembunyi.

Perdebatan yang cukup seru ini nyaris menimbulkan adu fisik, untung ketika suasana semakin tegang munculah salah seorang usia senior yang  arif dan bijaksana berkata; “ Kalian nggak usah berebut adu benar untuk menguburkan Si Mbah. Siapapun berhak mengubur dan di manapun boleh asal bisa menjelaskan apa wasiat Ki Jonge ini”. Mendengar suara yang lirih tapi menggelegar itu warga yang tadinya berebut benar menjadi diam seribu bahasa.

Ditunggu sampai sekian lama tidak ada satu orangpun yang berani angkat bicara, maka orang tersebut berkata lagi; “Jonge asal dari kata Jong Kerem, Si Mbah pesan kalau meninggal minta di atasnya didirikan krapyak tundo pitu, lahan garapannya  diwariskan untuk anak-cucu, dijadikan sumber kehidupan bersama, yaitu air/telaga dan pategalan untuk oro-oro/ladang penggembalaan ternak”. Selesai menjelaskan wasiat Ki Jonge maka  orang tua ini langsung  meminta kepada 6 orang sahabatnya untuk mengangkat jasat Ki Sidik Wacono dan dibawa ke arah selatan menuju Menthel. Warga pelayat tidak bisa berkata-kata seolah terhipnotis oleh orang-orang asing yang membawa jenasah dan berjalan terburu-buru seolah tidak mau berkomunikasi dengan siapapun yang ada arena pelayatan.

 

Mbah Jonge Muksa?

Sepeninggal orang tua dan 6 orang sahabatnya yang membawa jasad Ki Sidik Wacono, terjadilah beribu tanya diantara mereka yang masih berada di pelayatan. Mereka saling bertanya siapa mereka dan mau dibawa kemana jasad tadi? Semua pertanyaan tidak ada jawabnya justru pada hari berikutnya terjadi kehebohan; sekelompok petani dari Kampung Menthel berdatangan dengan tujuan melayat karena berita tentang meninggalnya Ki Sidik Wacono baru mereka dengar tadi malam. Warga Kuwangen Lor menjadi bingung karena Jasad Ki Sidik Wacono sudah dibawa ke Menthel, mengapa justru warga Menthel tidak ada yang mengetaui akan hal ini? Maka bersepakatlah diantara warga untuk  menelusuri ke mana jasad Ki Sidiq Wacono dibawa?…Dan  sampai sekarang tentang meninggalnya Ki Sidik Wacono alian Mbah Jonge tetap menjadi misteri, apakah benar-benar mukso (menghadap Tuhan beserta jasadnya?) atau dimakamkam ditengah Telaga Jonge? Atau dibawa keman oleh 6 orang yang tak dikenal.

 

Fakta dan Cerita

Masyarakat sangat mempercayai bahwa Ki Sidiq Wacono yang lebih dikenal dengan Mbah Jonge bukan orang sembarangan, wasiat yang dipesankan adalah:

(1) Telaga Jonge untuk kemaslahatan anak cucu bukan untuk yang lain.

(2) Jangan menodai Telaga Jonge dengan  menggunakannya sebagai hal-hal yang melanggar norma hukum dan budaya masyarakat. Masyarakat sangat percaya akan hal ini, apabila ada yang berbuat tidak semestinya di Telaga Jonge maka akan mengalami karma yang tidak diduga dan kadang tidak masuk akal. Barang siapa menyalahgunakan Telaga Jonge untuk keuntungan pribadi atau golongan sendiri, mereka juga akan menanggung segala resikonya. Tidak ada yang tahu sebenarnya, karena hanya Allah lah penjaga wasiat yang sesungguhnya.

Berikut ini beberapa kejadian aneh yang dialami oleh warga terkait dengan Telaga Jonge.

 

Mbladak:  bagi masyarakat yang memilik tanah garapan berbatasan langsung  dengan oro-oro Telaga Jonge dan mencoba memperluas tanahnya dengan cara mendesak lahan ke arah oro-oro agar tanah miliknya lebih luas,  mereka akan menemui karma yang biasanya berupa sakit berkepanjangan dan tidak kunjung sembuh, sulit mendapat obat sebelum dia menyadari dan mengembalikan tanah tersebut seperti semula.

 

Menghilangkan fungsi sosial oro-oro sebagai ladang penggembalaan menjai milik pribadi: sekitar tahun 1970-an pemerintahan Desa Pacareja menerapkan kebijakan dengan membuat kapling-kapling oro-oro Telaga Jonge untuk dibagikan kepada warga sekitar, setiap KK mendapat satu kapling untuk diolah sebagai lahan pertanian. Namun ternyata tanaman jenis apapun yang ditanam tidak banyak yang hidup sebagaimana mestinya dan tentu saja tidak memberikan hasil yang baik. Bahkan banyak warga yang mengerjakan lahan kaplingan  mengalami penderitaan seperti kecelakaan ; kena sabit, cangkul, tunggak, disengat kalajengking, digigit ular dll. Berbeda dengan kejadian th. 2000-an, pemerintah desa menerapkan kebijakan pengerukan telaga dan tanah sisa pengerukan ditimbun di oro-oro seputara air telaga, kemudian lahan ditanami pepohonan menjadi hutan kecil seperti sekarang ini dapat berjalan lancar tidak ada halangan satu apapun bahkan pohon-pohon itu telah tumbuh subur semakin menambah keindahan Teloga Jonge yang daat kita nikmati seperti sekarang ini.

 

Telaga Jonge jangan dibisniskan; akhir-akhir ini telaga Jonge sering digunakan untuk bisnis pemancingan. Atas nama panitia pengurus telaga, berinisiatif  memelihara ikan di telaga dan setelah ikan besar ikan dipanen dengan cara pemancingan umum berbayar. Siapa saja boleh memancing ikan di telaga dengan cara membayar sejumlah uang kepada panitia. Hampir semua orang yang melihat keadaan ikan di teloaga pasti akan tertarik karena nampak banyak dan gemuk-gemuk. Namun pada saat hari pemancingan ditentukan dan pemancing berbondong-bondong untuk memancing ikan, nyaris tidak ada seorangpun pemancing yang mendapatkan ikan. Kemana ikan-ikan itu yang semenit yang lau dapat sama-sama dilihat para pemancing, ketika peluit panjang tanda pemancingan dimulai ikan yang bergerombol-gerombol itu hilang seperti ditelan bumi. Kejadian ini terus berulang dari tahun ke tahun hingga pemancingan terakhir pada tahun 2013 panitia sungguh merasa malu. Kejadian lomba pemancinba di Telaga Jonge tahun 2013 bisa jadi sebagai lomba pemancingan terakhir berbayar karena kejadian demi kejadian yang membuat panitia dan tokoh masyarakat semakin meyakini kalau Telaga Jonge tidak bisa dibisniskan.

“Seputan pinggiran telaga ini yang menjadi tempat warga biasa mancing”

“Seputan pinggiran telaga ini yang menjadi tempat warga biasa mancing”

 

Menghina, Merendahkan, Meremehkan: Pada musim kemarau hari-hari tertentu air Telaga Jonge ditumbuhi oleh ganggang halus semacam lumut, warga sekitar menyebut “tieng”. Ganggang  ini pada pagi hari permulaan kena sinar matahari biasanya mengeluarkan bau amis/anyir, warga sekitar sudah sangat memahami karena hal ini terjadi secara turun temurun sehingga tidak mengomentari kejadian alam ini. Meskipun air telaga tertutup “tieng” warga sekitar tetap mandi dan mencuci seperti biasa karena keterbatasan air dan air itu baunya akan hilang kalau “tieng” ini disingkap dengan tangan atau alat sehingga sinar matahari mengenai air secara langsung.  Pada suatu hari ada  seorang ibu dari tetangga desa yang belum memahami fenomena Telaga Jonge, berkomentar; “ walah banyu koyo ngono ambune amis kok do dienggo adus to yooo, njijiki!!! (walah air seperti itu, baunya amis kok pada dipakai mandi ya, menjijikan)”. Belum genap 10 langkah  perjalanannya ibu yang berkomentar ini kakinya tersandung batu dan jatuh seperti dihempaskan ke tanah dan sakit berkepanjangan.

 

Mengotori tempat tertentu; tahun 1995, kawanku yang sarjana Hubungan Internasional UGM terkena batunya. Dia melewati Telaga Jonge bermaksud mengirimkan laporan hasil peneletian kepada Pak Warto Wardiman, Kepala Dukuh Wilayu. Dia naik ojeg dari Kota Wonosari menuju Pedukuhan Wilayu, namun karena tergoda oleh indahnya pemandangan Telaga Jonge temanku ini tidak langsung turun di rumah P Warto, melainkan turun di penghujung masuk kawasan telaga. Dia berjalan kaki sambal menikmati indahnya air yang ditempa terik matahari, anak-anak gembala bermain-main di sekitar telaga sambil menjaga gembalaannya dan pemandangan di Telaga Jonge secara umum.

Karena asiknya kaki kanan teman saya ini menginjak kotoran sapi yang masih hangat dan bisa dibayangkan seperti apa perasaan kawan saya ini, mau bertamu malah kakunya tenggelam dalam kotoran sapi yang masih hangat. Dengan tujuan mengurangi kotornya sandal, teman ini  langsung  menggosok-gosokkan sandal yang penuh kotoran itu di sebuah giring (batu kapur berbentuk balok) bawah pohon bulu. Setelah merasa kotorannya bersih dia melanjutkan perjalanan ke Wilayu untuk menemui Pak Dukuh, tetapi belum ada sepuluh langkah sepatu sandal merk “Carvil” yang mahal dan terkenal handal itu solnya terlepas. Padahal sepatu sandal tersebut baru pertama kali itu dipakai sejak dia beli. Karena terlepas maka harus mencari tali agar sepatu sandal bisa mengantarkannya sampai ke rumah pak Warto. Pesan yang ingin disampaikan barangkali bahwa, “kotoran dicuci saja jangan dioles-olehkan di giring kalau ada yang mau nyekar apa nggak bau.” Teman saya juga tidak tahu kalau giring untuk yang untuk keset tadi biasa digunakan warga untuk membakar dupa/kemenyan.

“Air Telaga berwarna hijau ketika ditumbuhi tieng”

“Air Telaga berwarna hijau ketika ditumbuhi tieng”

mbahjonge04

 

Telaga Jonge sekarang

Telaga Jonge yang kita kenal sejak dulu sampai  sekarang selalu menjadi tumpuan kebutuhan air bagi masyarakat sekitarnya. Telaga Jonge menyediakan air sepanjang tahun, menyediakan ikan untuk tambahan gizi masyarakat sekitar, menyediakan padang rumput untuk tempat penggembalaan ternak, menyediakan pepohonan untuk kesejukan dan keperluan bahan bangunan dan kayu bakar. Telaga Jonge juga menjadi tempat perkemahan dan rekreasi.

Saat ini Telaga Jonge sudah menjadi salah satu objek wisata yang patut dikunjungi di daerah Gunungkidul. Terletak di Pedukuhan Jonge, Desa Pancarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terletak di sebelah timur kota Wonosari kurang lebih 7Km atau arah barat Kecamatan Semanu sekitar 5Km. Telaga Jonge dikelilingi hutan buatan sebagai perindang sehingga asri dengan luas seitar 5 hektar dan tidak pernah mengalami kekeringan sepanjang tahun. Jika musim kemarau panjang, sampai sekarang airnya masih dimanfaatkan untuk mandi warga sekitarnya.

Sebagai tempat petilasan/peninggalan sejarah, telaga ini dikunjungi oleh banyak orang setiap harinya, mulai dari memohon doa maupun hanya sekadar menikmati kesegaran telaga. Mitos yang berkembang di masyarakat seperti yang sebagian kecil diceritakan di atas tadi, perlu diperhatikan, ketika berada ditelaga ini dilarang mengucapkan kata- kata kotor, dan melakukan hal-hal yang tidak baik.

Di bawah ini beberapa foto tentang keindahan Telaga Jonge yang bisa kita nikmati. Jika pagi menjelang, kita bisa menikmati dinginya sekitar telaga yang berkabut sambil menunggu indahnya mentari muncul dari balik dedaunan.

mbahjonge05

“Mentari Muncul dari Ufuk Timur”

“Mentari Muncul dari Ufuk Timur”

Kemudian kita masih bisa melanjutkan dengan jogging atau sekedar berjalan mengelilingi telaga sambal menikmati hangatnya mentari untuk menyerap vitamin D agar kulit tubuh kita lebih sehat. Kita tidak perlu kuatir karena Pemerintah Daerah melalui Dinas Pariwisata sudah membangun ‘”jogging track” keliling telaga sehingga memudahkan pengunjung.

Beberapa fasilitas lain juga sudah tersedia seperti beberapa gardu atau gazebo tempat kita istirahat setelah berkeliling telaga, atau sekedar berteduh dan duduk menikmati semilir angin dan indahnya telaga, ada juga warung makanan dan minuman. Setahun sekali warga setempat melaksanakan tradisi “Besik Tlogo Jonge”  untuk melestarikan budaya turun temurun sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas limpahan sumber alam terutama air telaga yang abadi dan tidak pernah surut sampai sekarang. Besik Tloga dikemas menjadi semakin meriah dengan kirab budaya start dari depan Pedukuhan Kuwangen Lor berjalan mengelilingi telagi dan finish di pendopo telaga. Sambil istirahat melepas rasa capek dari kirab, panitia sudah menyiapkan pertunjukkan reog dan jathilan disertai makanan khas besik Tlogo Jonge yaitu Gulai Kambing. Besik Telaga Jonge dilaksanakan pada Hari Jum’at Legi, tanggal dan bulannya tidak pasti, namun selalu saja mengambil Hari Jumat Legi penghujung akhir musim kemarau.

“Jogging Track keliling Telaga”

“Jogging Track keliling Telaga”

“Indahnya Telaga Jonge di Pagi Hari”

“Indahnya Telaga Jonge di Pagi Hari”

“Gardu/gazebo di Tepi Telaga untuk santai”

“Gardu/gazebo di Tepi Telaga untuk santai”

mbahjonge10

“Serombongan wisatawan menikmati kuliner khas Telaga Jonge: kupat tahu, trancam, belalang goreng, dan wedang teh gula batu sambil ngadem di tepi telaga”

“Serombongan wisatawan menikmati kuliner khas Telaga Jonge: kupat tahu, trancam, belalang goreng, dan wedang teh gula batu sambil ngadem di tepi telaga”

Bagi yang berminat menggali keanehan-keanehan  tentang Telaga Jonge silakan bersilaturahim dengan pinisepuh warga sekitar telaga maka anda akan kaya pengalaman dan cerita-crita aneh. Sebagian masih merasa tabu untuk menceritakan keanehan Telaga Jonge, namun apabila anda pandai dalam dialog dengan warga anda akan mendapatkan cerita yang selama ini belum tersebar secara umum. Tlogo Jonge juga menyimpan cerita tentang  Pesugihan, Besik Tlogo, Asum Dhahar, Panjang Ilang, Pati Geni dan lain sebagainya. Semoga suatu saat  dapat saya tulis lagi.

Akhirnya marilah kita jaga peninggalan leluhur yang nyata-nyata bermanfaat ini untuk anak cucu kita. Saya sudah mencoba menelusuri berbagai sumber untuk mencari kebenaran serpihan-serpihan cerita ini, namun tidak banyak informasi yang saya dapat  terutama tentang keluarga dan anak keturunan Ki Sidiq Wacono. Tempat dan waktu kejadian juga sangat sulit dibuktikan secara pasti karena nara sumber yang diwawancarai sebagian besar orang tua buta huruf dan mengandalkan daya ingatan, tutur tinular dari orang-orang terdahulu, tidak memiliki dokumentasi yang mewadahi secara akademik sebagai alat pembuktian ilmiah.  Saya mencoba merangkum mosaik sejarah ini  semata-mata bertujuan untuk mendokumentasikan tentang Telaga Jonge yang masih diingat oleh warga. Semoga dapat memberi informasi dan bermanfaat.

 

Sumber:

  1. Majalah Joyoboyo
  2. Majalah Penyebar Semangat
  3. Harian Kedaulatan Rakyat
  4. Wawancara beberapa tokoh
  5. Tutur Tinular Pini-Sepuh , Kuwangen, Wilayu, Jelok Jonge
  6. Observasi dan pengalaman pribadi.

 

Penulis:

Warga kelahiran Pedukuhan Wilayu yang aktif mengamati dinamika perubahan sosial budaya dan lingkungan Telaga Jonge

 

Note Redaksi:

Cak Warno, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA. Terima kasih sudah mengirimkan tulisan pertama ini, setelah sekian lama menjadi silent reader. Terima kasih pak Handoko Widagdo yang berhasil mengajak satu lagi kontributor bergabung di BALTYRA. Ditunggu artikel-artikel lainnya, Cak Warno…

 

 

About Warno HW

Warga kelahiran Pedukuhan Wilayu yang aktif mengamati dinamika perubahan sosial budaya dan lingkungan Telaga Jonge.

Arsip Artikel

9 Comments to "Telaga Jonge – Antara Mistis dan Fakta"

  1. Warsit  9 October, 2019 at 21:24

    Apresiasi positif.
    Soal patigeni, mbakyu Waginah pernah menjadi pelakunya sekitar th 1969

  2. wahyu  26 December, 2017 at 15:01

    terimakasih mas. artikelnya bagus. ijin nyomot. salam paseduluran saking jelok

  3. J C  13 July, 2016 at 09:58

    Cak Warno, selamat datang dan matur nuwun artikel ciamik ini!

  4. james  16 June, 2016 at 15:59

    halo mbak Lani, hadir nih

    suasana telaga selalu membawa ketenangan dan adem sunyi

  5. wae hadi  16 June, 2016 at 15:53

    Makasih Lani, Mas Han dan Ari, dukungannya. Semoga akan mencul tulisan2 yg lain.

  6. Wiwit  16 June, 2016 at 10:13

    Setuju dengan Mas Handoko, bisa dikemas jadi buku. Ayo nulis lagi tentang Pesugihan, Besik Tlogo, Asum Dhahar, Panjang Ilang, Pati Geni dan lain sebagainya yang ada di sekitar tlogo Jonge, pasti bisa jadi buku.

  7. Handoko Widagdo  16 June, 2016 at 07:51

    Selamat datang Mas Warno. Sepertinya bahan ini bisa dikembangkan menjadi buku. Apalagi kalau bisa menemukan foto-foto kuno tentang telaga ini.

  8. Lani  16 June, 2016 at 00:52

    Para kenthirs apakah kalian berminat mampir ke telaga Jonge? Nampaknya sgt wingit………

  9. Lani  16 June, 2016 at 00:52

    Salam kenal & selamat bergabung di Baltyra.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.