Hidup di Amrik harus ‘Keras Kepala’

Dian Nugraheni

 

Sekarang aku pergi pulang kerja lebih sering naik bus, karena kereta lagi lumayan ancur kondisinya, dan dalam perbaikan yang memakan waktu panjang, sehingga sering banget delay.

Ketika duduk di halte nunggu bus, aku banyak melihat hal-hal yang sebelumnya, enggak pernah terpikirkan olehku.

Di sini banyak food truck yang jual makanan aneka rupa, dari pop corn, ice cream, wafle, sampai makanan berat buat lunch, juga macam makanannya berasal dari banyak negara, India, Amrik sendiri, Spanish, dan lain-lain.

Yang sering aku liat, truk-truk itu tiba-tiba aja sudah berjejer rapi, dan siap melayani pembeli. Tapi kali ini aku sempat memergoki dengan mata sendiri, bagaimana mereka ketika sedang berproses memarkir truk-truknya.

Kalau di Indonesia, pedagang kaki lima seringnya sudah punya lokasi tertentu sendiri-sendiri ya, dengan bayar retribusi atau apa, maka hari ini, dan besok-besok, dia sudah nggak usah khawatir lokasinya itu dipakai orang, karena semua tau, itu milik tukang Empal Gentong, misalnya.

Ternyata lain dengan di Amrik, aku memang belom cek peraturannya gimana, tapi yang jelas, setiap hari mereka rebutan lokasi parkir. Dan mereka main trik juga, beberapa jam sebelumnya, mereka sudah parkir mobil pribadi dulu, biar lokasi parkir nggak dipakai parkir kendaraan lain, lalu ketika truknya datang, si mobil akan geser, untuk digantikan food truck miliknya.

Kemaren, salah satu yang markir mobil pribadi, perempuan, kayaknya Asia, agak putih sipit gitu. Dia dihardik oleh orang laki yang marah karena dia juga sedang akan parkir truknya, jelas mereka sedang rebutan lokasi. Detilnya gimana aku nggak tau, cuma si orang laki teriak, sambil melotot ke si perempuan, nuding-nuding, “Move..mooove..I said moveee..!”

foodtruck-america01 foodtruck-america02

Dan si perempuan cuek aja, sambil sedikit demi sedikit maju, untuk memberi ruang food trucknya yang sedikit demi sedikit memasuki lokasi parkir yang barusan di”tekin” sama si perempuan itu.

Aku lihat roman muka si perempuan cool aja, nggak sedih, nggak marah, nggak takut. Dia cuma fokus ke, gimana food trucknya bisa dapat lokasi jualan pagi itu. Pasti dia sudah “keras kepala” karena bertahun-tahun menghadapi hal-hal demikian…Oya, sopir food trucknya juga seorang perempuan…hehe….Heibatnya para perempuan ini…

 

 

15 Comments to "Hidup di Amrik harus ‘Keras Kepala’"

  1. Alvina VB  20 June, 2016 at 20:08

    Dian, saya ada di conference dari pagi sampe malem, masuk hotel langsung tidur terkapar…. ttp besok malem kl mau ketemuan bisa sblm concert TRAIN di Washington Convention Hall sekitar jam 7 malem. Cheers…

  2. Wiwit  19 June, 2016 at 10:11

    Bener mbak Dian….aslinya perempuan itu lebih memang hebat dari laki2 kok. hahaha….

  3. Lani  18 June, 2016 at 14:30

    Kang Monggo: halah haji kenthir kok ditanyain………..!

  4. james  18 June, 2016 at 07:22

    keras kepala atau kepala keras ?

  5. Sumonggo  18 June, 2016 at 04:04

    Hidup di Tanah Abang juga harus keras kepala, coba tanya Haji Lulung, ha ha ……

  6. Lani  18 June, 2016 at 00:20

    Dian: wah nampaknya Hawaii ketularan food truck dari tempatmu ya?

    Karena semakin banyak food truck bermunculan, yg aku tahu baru ada makanan ala local Hawaii yg telah dimodifikasi, Mexican dan salah satu tempat di Caribbean aku lupa nama tempatnya.

    Cara dagang mereka pindah2 tempat tdk tiap hari mangkal dilokasi yg sama. Walau nampaknya skrng ada satu lokasi utk tempat berjualan buat mereka akan ttp krn tempatnya spt lapangan bola tanpa pepohonan yg rindang tentunya orang malas utk mampir makan disana krn klu siang panas terik walau mrk memasang tenda sekalipun, sungguh tdk nyaman.

    Wah nampaknya kamu bs sempat ketemuan dgn Alvyna nih, klu mmg tdk jauh harus ketemu, kami saja ngomong utk ketemu belum kesampaian sampai hari ini.

    SLB: wakakakak……..begitulah dan betul adanya klu di Indonesia bikin ijin sendiri, mangkal sak karepe dewe……..oleh krn itu sll di opyak2

  7. Swan Liong Be  17 June, 2016 at 16:28

    Dijerman tidak bakal ada food trucks berjejeran jualan makanannya seperti diAmrik, apalagi dijalanan umum. jalanan umum adalah untuk umum dan tidak bisa diclaim oleh orang seenaknya dan kalo mau jualan makanan biasanya sudah ada tempat spesial yang ditunjuk untuk itu. dan membutuhkan izin buka kedai makanan. Tapi tentunya diAmrik juga butuh izin. Lha wong “ngecup” tempat parkir dijalanan umum saja tidak diperkenankan oleh UU Lalulintas.Juga kalo misalya mau main musik ditempat umum harus punya izin.
    Kalo diIndonesia izinnya diberi sendiri,hehehe…

  8. james  17 June, 2016 at 16:05

    ciri khas mobil makanan di Amrik

  9. Dian Nugraheni  17 June, 2016 at 14:34

    hai mbak Alvina, kan metronya lagi perbaikan besar2an, delay terus, tapi memang lebih cepet metro sih, cuma ini kan summer, warung sepi, jadi saya boleh santai, jam berapa aja datang terserah, tapi harus sampai tutup, karena saya harus closing deli bar setiap sore…Mbak, kalau lokasinya masih di NW, North West, berarti deket sama deli tempatku kerja, mampir mau ga mbaak..summer kami tutup jam 5…pleaseee…atau ntar aku samperin mbak Alvina kalau udah di hotel pas istirahat..

  10. Alvina VB  17 June, 2016 at 10:16

    Dian, apa gak lebih cepet naik metro aja, ketimbang bus di DC?
    Btw, saya akan ada di Washington DC dari tgl 19-22 Juni y.a.d. Dian tinggal di sekitar/ deket2 Washington Convention Centre gak?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.