Sejarah, Suksesi dan Aqidah

Chandra Sasadara

 

Anda pasti setuju kalau aku katakan bahwa sejarah terbaik Umat Islam adalah pada era Nabi dan sahabat-sahabatnya. Sedangkan sejarah suksesi (paralihan kepemimpinan) terbaik terjadi pada masa sabahat, terutama pada era Khulafa’ Ar Rhasiddun (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali). Dalam rentang kepemimpinan mereka yang kurang dari 30 tahun, setidaknya kita bisa belajar empat model suksesi.

Suksesi pertama terjadi setelah Nabi wafat. Tsaqifah Bani Sa’idah menjadi saksi pertama perembutan kekuasaan pasca Nabi. Ada tiga faksi yang berebut memimpin umat. Faksi Abu Bakar+Umar, Faksi Saad bin Ubadah (Tetua Suku Khazraj) dan Faksi Ali. Meskipun akhirnya Abu Bakar yang terpilih sebagai Khalifah Nabi, dua faksi terakhir tidak mau memberikan baiat (pengakuan/legitimasi) kepada Abu Bakar. Saad bin Ubadah tidak berbaiat sampai wafatnya, sedangkan Ali tidak memberikan baiat sampai Fatimah binti Muhammad wafat.

Setelah Abu Bakar wafat, Umar bin Khattab adalah orang yang ditunjuk oleh Abu Bakar sebagai penggantinya dengan surat tertutup. Meskipun begitu Abu Bakar juga membentuk Ahl al-Halli wa al-Aqdi (tim ahli) untuk menyakinkan pendudukan Madinah agar bisa menerima Umar bin Khattab sebagainya.

Peralihan kepemimpinan dari Umar kepada Usman bin Affan dilakukan dengan cara yang berbedah sama sekali dengan sebelumnya. Umar menunjuk sahabat-sahabat utama seperti Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Thalha bin Ubaidillah, Zubair bin Awam, Abdurahman bin Auf dan Saad bin Abi Waqash untuk dipilih sebagai penggantikan dirinya. Secara aklamasi Usman bin Affan terpilih. Sedangkan penunjukan Ali sebagai khalifah terjadi setelah Usman bin Affan dibunuh oleh Umat Islam sendiri.

Pertanyaanya, kalau suksesi begitu penting dalam Islam. Bahkan terkait dengan aqidah seperti yang selama ini kalian katakan, mengapa Nabi tidak mengatur/menetapkan satu model suksesi saja sehingga tidak terjadi peristiwa seperti yang menimpah Usman dan Ali?

Usman bin Affan yang oleh Nabi dikatakan “calon penghuni surga” itu mati dibunuh oleh rakyatnya sendiri yang dimotori oleh sahabat-sahabat utama seperti Abdurahman bin Auf, Zubair bin Awwam dan Thalha bin Ubaidilah. Mereka tidak puas dengan kepimimpinan Usman karena khalifah ketiga itu tidak mau melepaskan jabatanya saat masyarakat Madinah sudah tidak menghendakinya.

Begitu bencinya mereka kepada Usman bin Affan sampai mayatnya pun tidak boleh dimakamkan di Baqi’ (Pemakaman Islam), terpaksa harus dimakamkan di Hisy al-Kaukab (Pemakaman Yahudi). Bahkan seorang Sahabat bernama Umair bin Dzabi’i tega meludahi dan mematahkan tulangnya persendihan mayat khalifah ketiga itu. Para pembawa jenazah pun dilempari batu oleh warga Madinah.

Ali bin Abi Thalib yang memerintah kurang dari 5 tahun (4 tahun + 7 bulan) lebih disibukkan dengan perang. Bukan perang melawan musuh-musuh di luar Islam tapi perang dengan sahabat-sahabat sendiri. Tercatat terjadi dua perang besar yang disebut dengan Perang Unta dan Perang Shiffin.

islamdanperdagangan

Perang pertama terjadi antara kubu Ali bin Abi Thalib melawan Aisyah (Janda Nabi) didukung oleh Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam. Perang kedua terjadi antara kubu Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abu Sofyan didukung oleh Ubaidillah bin Umar bin Khattab. Perang terkahir ini dimenangkan oleh Mu’waiyah dan menjadi cikal bakal imperium Umawi yang berpusat di Damaskus.

Jika suskesi adalah soal aqidah, maka beranikah anda meragukan akidah sahabat-sahabat Nabi di atas yang tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar. Mereka yang membunuh Usman bin Affan secarah kejam dan mereka yang mengangkat pedang melawan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang sah?

Bukankah sistem suksesi adalah “organ vital” dalam sebuah negara? Jika suksesi saja tidak diatur oleh Nabi secara rigid, masihkah kalian mengklaim bahwa Islam memiliki model pemerintahan yang definiti? Sebab tak ada sistem pemerintahan tanpa mekanisme sukses yang definitive. Mikirrr!!

 

 

12 Comments to "Sejarah, Suksesi dan Aqidah"

  1. J C  13 July, 2016 at 10:00

    Muantep tenan Kang Chandra!

  2. djasMerahputih  23 June, 2016 at 20:07

    Menurut djas, suksesi pemimpin negara dan daerah adalah urusan duniawi. Selama kebebasan beribadah dijamin, tak ada alasan menolak pemimpin beda keyakinan.Dalil agama cocoknya untuk pemimpin lembaga keagamaan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.